STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
AYAH EGOIS


__ADS_3

Bermain dengan Yemima sangat menyenangkan, Hana bahkan melupakan waktu. Mereka pulang sudang hampir sangat larut. Hana sedikit enggan meninggalkan Yemima, tetapi dia harus pulang karena keluarganya juga menunggunya.


Hana masuk rumah dengan wajah cerianya. Dia juga mendapati orang di rumah ada yang bahagia dan ada yang terdiam seribu bahasa. Hana melihat wajah ayahnya terlihat ceria, berbeda dengan Safira. Safira terlihat diam saja dengan majalah busana di tangannya. Remon dan Melani juga diam, memilih sibuk dengan ponsel mereka masing masing.


"Malam!!! Kok pada diam?? Ayah kok kelihatan bahagia, ada berita apa sih? Bagi bagi dong?" Hana duduk di samping Lexon sembari menanti cerita yang membuat ayahnya bahagia.


"Kebetulan kamu datang! Kamu tahu kenapa ayah bahagia? Ayah sudah bisa menghubungi kawan lama ayah! Kamu ingat yang ayah pernah ceritakan dulu kan?" tanya Lexon mencoba mengingatkan Hana.


"Iya ingat!! Si pria blasteran kan? Wah!! Selamat yah!! Apa kalian sudah saling menghubungi? Ayah harus melepas rindu! Itu pasti seru!" Hana ikut serta bahagia mendengar kabar bahagia dari ayahnya.


"Iya benar benar!! Setelah ayah menghubunginya, rasa rindu kami terobati. Oh iya kamu ingat tidak perjodohan yang pernah ayah ceritakan, dia juga punya seorang putra!! Menurut ceritanya, putranya sudah lumayan lama pulang ke tanah air, tapi belum pernah memberi kabar dimana dia tinggal" lanjut Lexon bercerita.


Dug!!! Seketika jantung Hana berdetak cepat hingga rasanya hampir meledak. Mulut Hana terdiam seribu bahasa. Matanya membulat sempurna, bodohnya dia melupakan hal sebesar itu. Bagaimana nantinya kisahnya dengan kekasihnya Maxim? Dia sudah jatuh cinta dengan Maxim, hatinya tidak bisa lagi diberikan kepada yang lain.


"Yah! Apa ayah serius dengan perjodohannya? Hana sudah punya Maxim loh yah!" Hana berusaha sekuat tenaga untuk berbicara meyakinkan Lexon.


"Lah!! Ayah kan sudah bilang sejak dulu! Masa ayah bercanda" kata Lexon seakan akan tidak berdosa.


"Yah!! Ayah dengar gak Hana ngomong apa? Hana sudah punya Maxim loh yah!! Hana juga sudah cinta dengan Maxim, Hana tidak mau dengan yang lain lagi!!" Hana mencoba menjelaskan dengan nada sedikit meninggi.


"Kamu belum bertemu dengan putra teman ayah, mungkin saja kamu juga nanti akan menyukainya. Jangan menolak dulu!" Lexon masih kokoh dengan pilihannya.


"Ayah pikir putrimu ini ayam betina yang gampang kawin dengan ayam jantan yang dia temui? Aku ini manusia yah!! Aku bukan wanita murahan!! " Hana semakin berteriak keras.


"Siapa bilang putri ayah murahan? Ayah yakin dengan pilihan ayah! Dia pasti baik untukmu. Ayah hanya perlu menunggu kabar dari sahabatnya ayah, dia katanya akan balik juga ke tanah air mencari putranya" jelas Lexon.


Hana dengan amarah yang memuncak pergi meninggalkan rumah. Hana keluar rumah, mengambil sepeda motor dan meninggalkan pekarangan rumah.


"Papa memang egois!" Safira juga sudah mulai marah. Dia kawatir dengan putrinya. Dia hanya bisa melihat kepergian Hana tapi tidak bisa menghentikannya. Remon dan Melani juga ikut menyusul kekuar rumah melihat kepergian Hana.


"Mon, cepat susul adikmu! Ibu takut terjadi apa apa dengannya!" Kata Safira dengan nada melemah. Melani mencoba menguatkan Safira.

__ADS_1


"Sudah sana bang, susul Hana!" suruh Melani menyuruh suaminya menyusul Hana adik ipar sekaligus sahabat karibnya.


Remon tidak bisa menyusul Hana, dia berinisiatif mencari ke rumah Rena, tetapi hasilnya kosong. Dia juga mencoba mencari ke tempat Maxim, hasil kosong juga. Maxim bahkan ikut panik dan sampai meninju tembok rumahnya. Maxim takut terjadi sesuatu dengan kekasihnya.


Maxim juga ikut mencari cari keberadaan Hana. Kedua pria itu memilih untuk berpencar dan akan saling memberi kabar jika Hana di temukan.


Remon mencoba mencari ke segala tempat yang kemungkinan Hana pernah kunjungi.Bahkan ke tempat Hana kerja. Tetapi hasil kosong.


Maxim juga mencari dengan wajah penuh kawatir. Sesekali dia menghentikan mobilnya, memukul mukul stir mobil dan mengacak rambutnya asal. Maxim mencoba untuk berpikir jernih.


Maxim teringat satu tempat, dia berharap Hana disana. Hanya itu tujuan terakhirnya.


Maxim tiba di parkiran rumah sakit, dia berjalan tergesa gesa ke ruangan Yemima. Mengetuk pintu pelan dan di bukakan ibu Yemima setelah mengintip dari keluar.


"Cari Hana? Sstt... Dia tertidur, apa ada masalah? Sepertinya dia sedang sedih" kata ibu Yemima pelan.


"Iya bu, apa dia menangis?" tanya Maxim penasaran.


Maxim semakin sedih melihat kekasihnya yang sudah tertidur menyamping. "Kamu sedih tetapi kenapa tidak menangis?" gumam Maxim pelan sembari merapikan anak rambut Hana yang menghalangi wajah imut Hana.


"Bu, kami pulang dulu ya! Maaf karena mengganggu malam malam!" pamit Maxim membawa Hana di gendongannya. Maxim pelan pelan membaringkan Hana di kursi mobil.


"Bro! Hana sudah ketemu" pesan singkat Maxim ke Remon.


"Thanks bro!! Tolong jaga adik gue ya! Gue percayakan adik gue ke loh! Gue yakin dia belum mau balik rumah!" balasan Remon.


"Oke! Dia aman!" jawab Maxim.


Maxim membawa Hana ke apartemennya. Hana benar benar tidur pulas. Dia bahkan tidak sadar tubuhnya sudah berpindah pindah tempat.


Maxim membaringkan Hana ke tempat tidur, mengambil lap basah dan membersihkan wajah Hana pelan. Hana sesekali membuka mata meskipun tidak benar benar sadar.

__ADS_1


"Honey!! papa mau menjodohkanku!! Apa yang harus kita lakukan!! Ayah gak sayang aku lagi!!" Hana merengek dalam tidurnya. Air matanya mengalir deras.


Maxim memeluk Hana erat, bahkan secara tidak sadar, air matanya sudah lolos dari kedua matanya. " Kita akan cari jalan keluarnya yah honey! Tapi jangan menyiksa dirimu! Jangan nekat membawa motor jika sedang marah. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? Apa yang harus aku lakukan?" gumam Maxim memeluk erat Hana.


"Hana yang setengah sadar melihat wajah Maxim dan mengusap air mata Maxim. " Kok nangis? Jangan nangis, nanti Hana jadi semakin sedih!!" rengek Hana. Hana mengeratkan pelukannya ke Maxim. Maxim mengusap lembut kepala Hana.


Berharap Hana tertidur lagi. Lebih baik melihat kekasihnya tertidur seperti tadi dia temui dari pada melihat Hana sadar dengan air mata membanjiri pipinya.


Hana perlahan kembali ke dunia mimpi. Dia memang sedang kelelahan, dan tidur merupakan jalan satu satunya agar dia bisa melupakan segala masalah untuk sejenak meskipun saat terbangun lagi dia akan teringat kembali.


Hana dan Maxim akhirnya tertidur pulas, mereka tidak membawa masalah mereka ke dunia mimpi. Meninggalkan masalah itu di dunia nyata, meskipun akan bertemu lagi dengan masalah itu di dunia nyata.


Hana terbangun, menatap wajah Maxim pertama kali dia bangun. Sedikit terkejut, tetapi dia mencoba mengingat lagi kejadian tadi malam yang dia kira mimpi.


"Ternyata tidak mimpi!" gumam Hana pelan dan menepuk wajah Maxim sedikit keras.


"Auh!!!! "Teriak Maxim karena mendapat tamparan dari Hana.


"Honey!! Kenapa aku di tampar?" oceh Maxim tidak terima.


"Aku hanya sedang memastikan kamu nyata atau tidak! Jangan marah! Ini masih pagi loh! Orang gampang marah itu cepat tua!!" balas Hana mengoceh, dia tidak mau kalah.


"Huftt.... Aku nyata Honey!! Bukan ilusi!!" jawab Maxim sembari duduk menghadap Hana.


"Apa ada masalah? Kenapa keluar rumah? Lain kali jangan naik motor ya! Lebih baik telpon aku kalau mau keluar rumah! Aku kawatir loh Honey!!!" Maxim mengoceh tidak suka dengan ulah Hana semalam.


"Maaf Honey!! Aku tidak bisa berpikir jernih!! Aku benci ayah!! Dia sudah tahu aku menyukaimu, dia masih saja mau menjodohkanku!! Aku benci dia!!" cerita Hana dengan penuh kekesalan.


"Kamu kan bisa cari aku, kita bisa cari cara untuk nyelesaikannya!! Ingat!! Lain kali jangan seperti tadi malam."


"Kita akan cari cara untuk meyakinkan ayahmu! Jangan sedih lagi ya! Kamu mau sarapan? Ayok, aku buatkan sarapan! Perutku juga sudah kelaparan" Ajak Maxim dan membantu Hana turun ke dapur. Maxim mulai memasak untuk mengisi perut sejengkal Hana. Hana hanya memperhatikan punggung Maxim, yang sedang sibuk memasak.

__ADS_1


"Pemandangan yang indah!" gumam Hana dan kembali menonton Maxim.


__ADS_2