
Seperti perjanjian tadi malam, Hana memang diantar Maxim lebih awal dari biasanya Hana berangkat bekerja. Hana tidak langsung turun, dia masih menemani Maxim di mobil. Maxim masih tidak ingin melepas tangannya.
"Apa kamu yakin kita tidak terlihat dari luar?" tanya Hana memastikan.
"Mmmm......" jawab Maxim singkat. Dia masih setia menatap wajah Hana.
"Apa kau tidak bosan melihatnya?" tanya Hana yang sedikit risih dengan tatapan Maxim.
"Tidak akan pernah, semua tentangmu membuatku semakin bahagia. Jadi biarkan aku mengisi energiku dengan melihat wajahmu dan mencium aromamu, lima menit lagi" ungkap Maxim dengan kata kata sedikit menggoda
Hana hanya bisa menghela nafas kuat dan membiarkan Maxim memandanginya. "Sudah lima menit. Aku masuk dulu, bye!!" cup...... Ciuman mendarat di bibir Maxim.
Dengan gerak kilat, Maxim menahan tengkuk Hana. Dulu ciuman Hana hanya sekilas, kali ini dia menginginkan lebih.
"Auhhh......." lagi lagi Maxim merintih kesakitan. Dia memegangi bibirnya yang di gigit Hana.
"Sudah cukup!!! Aku hampir tidak bisa bernafas. Orang orang juga sudah mulai ramai, aku pergi" kata Hana pamit meninggalkan Maxim yang masih manyun karena bibirnya digigit Hana.
Wajah Hana sudah bersemu merah, karena itu dia segera melarikan diri dari mobil. Maxim hanya tersenyum bahagia sepeninggal Hana. "Semua tentangnya membuatku candu" gumam Maxim dan segera meluncur meninggalkan gedung perusahaan.
"Han!!!! Sama siapa?" kejut Indra yang melihat Hana turun dari mobil Maxim.
"Ehh..... Pak Indra. Itu...... mmmm.... ah....nyonya tempat ayahku bekerja. Kebetulan dia lewat sini, jadi mengajakku sekalian ikut" jawab Hana berbohong. Dia tidak tahu kalau Indra melihatnya turun dari mobil Maxim.
"Ohoo.... Aku ingat ayahmu supirkan?" tanya Indra mengingat kembali saat masih kuliah.
"Iya pak, maaf aku duluan sudah telat" pamit Hana dan segera berlari kecil meninggalkan Indra. Hana tidak mau Sandra melihatnya bersama Indra.
"Dia sangat lucu!! Tapi menggemaskan" gumam Indra dan melanjutkan langkahnya.
Sandra tiba tepat setelah Hana pergi. Tetapi Sandra masih bertemu Indra. Sandra berlari kecil mengejar Indra. "Dra!!! Tunggu!!" panggil Sandra memanggil Indra. Dia tidak memanggil formal layaknya bawahan memanggil atasan.
Indra yang melihat kedatangan Sandra hanya bisa menghentikan langkahnya menanti Sandra. Menghindar juga tidak ada gunanya. Apalagi setelah mengingat kejadian dahulu. Dia berada di jabatan sekarang karena permintaan Sandra ke ayahnya.
Awalnya Indra menolak, tetapi Sandra memaksa bahkan sampai meminta ayahnya memaksa Indra. Indra juga tidak bisa menolak lagi, apalagi ini juga sebuah kesempatan emas untuknya.
"Bagaimana malammu? Apa kamu tidur nyenyak?" tanya Sandra berbasa basi.
__ADS_1
Indra mengangguk, dia tidak membalas dengan mengeluarkan suara. Dia sedang malas. Awalnya dia senang karena bertemu Hana, tetapi setelah kehadiran Sandra, suasana hatinya cepat berubah.
"Apa terjadi sesuatu? Aku lihat wajahnya tidak senang" tebak Sandra.
"Itu karenamu" batin Indra.
"Tidak apa apa, aku hanya sedikit sibuk akhir akhir ini, jadi lelah" jawab Indra asal.
"Benarkah?? Kamu jangan memaksakan diri, nanti aku akan bilang ke ayah agar mengurangi bebanmu" kata Sandra mencoba bersikap baik.
"Tidak apa apa!! Jangan merepotkannya, ayahmu juga sudah banyak beban!!" tolak Indra lembut.
"Kamu perhatian!! Baiklah, tetapi kamu harus tetap menjaga kesehatanmu" kata Sandra menasihati.
Lagi lagi Indra mengangguk tanpa menjawab dengan mulutnya. Keduanya berpisah di depan ruangan Indra. Sandra juga kembali ke ruangannya yang berada tepat di samping ruangan Indra.
"Huffttt..... Aku sedikit bosan, oh iya ada Hana!!" gumam Sandra pelan. "Kali ini aku ingin menyuruhnya membeli apa ya?" Sandra berpikir sejenak dan kembali tersenyum senang.
Sandra menelepon departemen produksi dan meminta Hana datang ke ruangannya. Hana hanya bisa menurut mendapat perintah dari atasannya.
Begitulah Hana selalu menjalani hari harinya sebagai karyawan penuh tantangan. Dia dipaksa untuk berpikir kritis, terkadang harus mengalah, semua hal baru dia lalui sebagai karyawan. Susah beberapa bulan dia bekerja sebagai karyawan masih tidak menemukan masalah. Hana bahkan berpikir dia yang terlalu berlebihan berburuk sangka.
Tetapi bukan Hana namanya jika dia harus menyerah dia masih tetap setia menyelidiki. Dia yakin pasti akan menemukan masalah yang disembunyikan sedemikian rupa. Hana juga terkadang harus menerima tindasan Sandra. Meskipun terkadang Hana bisa menghindar.
Hana tidak ingin melawan karena masih ingin tetap bekerja sebagai karyawan biasa. Dia selalu menjauh dari Indra, tetapi justru sebaliknya. Indra yang selalu menempelinya.
"Kamu mau pulang?" tanya Indra yang mendapati Hana di depan gedung. Dia memarkir mobil tepat di depan Hana.
"Iya pak, saya sedang menunggu taksi" bohong Hana. Entah mengapa setiap kali Hana berbicara dengan Indra, ucapannya selalu penuh kebohongan.
"Barengan saja" ajak Indra.
"Hah.... Tidak perlu pak, saya tidak mau merepotkan" tolak Hana.
Hana tidak mau satu mobil dengan indra, selain itu Hana juga sudah menunggu Maxim. Bagaimana tanggapan Maxim kalau dia pergi dengan Indra.
"Tidak apa apa!!! Tidak merepotkan, ayo!!!" kokoh Indra tidak mau kalah. Dia bahkan sudah membuka pintu untuk Hana.
__ADS_1
"Tidak perlu pak, pesanan saya juga sudah dekat kok!! Gak enak jika di cancel pak, bisa bisa saya black list" Hana masih tetap menolak. Bahkan Hana kembali menutup pintu.
"Yasudahlah aku tidak akan memaksamu, mungkin lain kali kamu bisa naik ke mobilku" kata Indra mengalah. Meskipun perasaannya tidak senang karena di tolak Hana. Indra akhirnya melajukan mobilnya dan pergi meninggalkan Hana.
"Hm....hm..... Kamu masih mengindahkan ancamanku ya!!!" tamparan dari Sandra melayang ke wajah Hana.
Hana yang tiba tiba mendapat tamparan sangat terkejut. Dia memegangi pipinya yang memanas karena tamparan Sandra.
"Ingat!!! Sekali lagi kamu masih mendekatinya, lihat apa yang akan aku perbuat, tidak cukup hanya tamparan untukmu!" ancam Sandra dan segera pergi meninggalkan Hana yang masih mematung karena terkejut.
Di lain sisi, seorang pria yang menonton adegan itu mengepalkan tangan keras. Tatapannya penuh dengan aurah membunuh. Ingin rasanya dia segera membunuh orang orang yang menindas kekasihnya. Tetapi Maxim tetap berusaha menahan diri. Dia tidak mau memperumit masalah Hana. Apalagi Hana pasti tidak mau jika Maxim muncul.
Setelah Sandra pergi, Maxim berjalan mendekati Hana. " Apa kamu sudah menunggu lama?" tanya Maxim berpura pura baru tiba.
"Oh tidak juga!!! Kamu baru tiba?" tanya Hana memastikan. Dia tidak ingin Maxim mengetahui kejadian tadi.
"Iya! Maaf jalanan macet. Ayo masuk!!" ajak Maxim. Dia mengambil tas gandeng Hana dan menggandeng Hana masuk. Maxim membukakan pintu dan bahkan memasang sabuk pengaman untuk Hana.
"Wajahmu kenapa merah?" tanya Maxim masih pura pura tidak tahu.
"Aku juga tidak tahu kenapa? Apa mungkin merah saat aku memukul nyamuk yang mendarat ya??" bohong Hana.
"Kenapa kamu bodoh sih?? Main pukul diri sendiri dengan keras!" kata Maxim menoyor dahi Hana pelan.
"Bodoh tapi kamu cinta kan?" ledek Hana.
"Mmmm..... Aku lebih bodoh lagi karena mencintai gadis bodoh" balas Maxim dan segera menutup pintu untuk Hana. Dia masuk ke kursi kemudi dan melajukan mobil.
"Kenapa berhenti?" tanya Hana.
"Tunggu sebentar!" jawab Maxim dan turun dari mobil. Maxim masuk ke toko kelontong yang mereka lewati.
Tidak menghabiskan 5 menit dia kembali dengan sekantong es batu dan lap kecil di tangannya. Dia ingin mengompres wajah Hana yang di tampar Sandra. "Aku tidak akan melepas mereka" batin Maxim. Dia tidak akan bertindak terang terangan di depan Hana. Tetapi dia tetap akan membalas perbuatan Sandra ke Hana dan memperingati Indra.
Maxim mulai mengompres wajah Hana yang merah. Dia mengelus wajah Hana pelan, ada rasa kesedihan mendalam di hati. Tetapi dia harus tetap berpura pura di depan Hana. Maxim semakin ingin melindungi Hana. Dia salut dengan Hana yang masih kokoh menyembunyikan identitasnya.
Padahal jika itu gadis lain, mereka akan sangat bangga memberitahu dunia kalau dia adalah orang kaya. Tetapi tidak dengan gadisnya, dia justru memilih menyembunyikan identitas dan menerima penindasan. Entah apa yang gadisnya itu pikirkan.
__ADS_1