STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
ANAK KEPALA ASISTEN RUMAH TANGGA


__ADS_3

Mata kuliah tambahan yang berlangsung selama setengah jam itu sama sekali tidak membosankan. Terutama untuk para mahasiswi yang ada di ruangan itu, terkecuali Hana yang memilih tidur disaat kedua pria di depan berusaha bercanda.


Hana keluar setelah kedua sahabatnya membangunkannya dari tidur. Melanie bahkan menyeret Hana agar bergerak cepat. Hana ingin mengejar Remon. Mahasiswi lain juga sedang berlomba lomba keluar ruangan untuk mengejar kedua pria tampan yang sudah terlebih dahulu keluar bersama pimpinan dan kepala jurusan kampus.


Hana hanya berjalan santai di belakang kerumunan. Melanie dan Rena sudah masuk ke kerumunan, Rena hanya pasrah saat Melanie menariknya masuk ke kerumunan. Hana memilih tidak mau melibatkan diri ke dalam kerumunan itu. Tidak ada yang menarik baginya, Remon? dia sudah sering bertemu dengannya. Bahkan Hana merasa jika sering bertemu dengan Remon, amarahnya sering tidak terkendali. Maxim? mungkin pria itu paling menyebalkan baginya.


Hana mulai meninggalkan kerumunan setelah mengirim pesan ke Rena. Hana menaiki tangga menuju atap. Itu adalah tempat ternyaman baginya, tidak ada kebisingan dan kehebohan wanita wanita yang sedang mengalami perubahan hormon. Hana menyandarkan tubuhnya di dinding pembatas.


"Kau memang wanita paling menyebalkan! Bagaimana bisa kau tertidur di kuliah tambahan? Mau kuberitahu sama mama?" ancam Remon yang juga naik atap gedung. Remon sempat memperhatikan Hana meski berada di kerumunan. Remon ingin sekali memberi pelajara pada saudarinya itu.


"Hahah........ coba saja jika kau tidak mau motor mu rusak!" jawab Hana balik mengancam Remon. Kunci motor kawasaki Remon kini tergoyang goyang di jari teluncuk Hana. Jangan lupakan tatapan mata menggoda Remon. Tapi bagi Remon itu bukan menggoda, tetapi tatapan meleceh.


"Hahah..... aku memang selalu kalah selangkah, suatu waktu aku pasti menang selangkah darimu! Ku akui darah keturunan Sunitra mengalir kuat di tubuhmu!" kata Remon ikut bersandar di samping Hana. Dia memegang pundak Hana kuat, membuat Hana meringis kesakitan.


"Yahhh!!! sakit brengs*k!!" menendang tuling kering Remon. Tendangan itu mampu membuat Remon meringis kesakitan sambil melompat lompat. Remon bahkan terduduk dan memeriksa kakinya yang barusan di tendang Hana.


"HANA!!!" teriak Remon dan menatap tajam Hana. Hana hanya membalas dengan senyuman mengejek dan menjauh sedikit dari Remon. Hana sedang melindungi dirinya.


Remon berdiri dan menarik rambut Hana yang terkucir. Dia menggerak gerakkan kuciran rambut Hana seperti sedang mengendalikan seekor kuda. "Hiak... hiah!!" kata Remon seperti sedang memaksa kuda bergerak.

__ADS_1


"REMON!!! Awas aku beritahu ayah!!" teriak Hana dan memberi pijakan keras ke kaki Remon dan sukses membuat Remon berteriak kesakitan. Begitulah kedua anak Lexon melakukan pertengkaran di atap. Hana yang kesal karena tidak diberitahu Remon bahwa dia akan ke kampus Hana. Remon yang kesal pada Hana mengejeknya di auditorium kampus.


"Apa kalian saling kenal?" tanya seseorang yang sukses membuat kedua orang yang bertengkar terdiam dan memandang ke sumber suara.


"Bro! Kau kenal gadis durian yang aneh ini? Kenal dimana? Apa dia juga mengganggumu?" tanya Maxim mendekati Hana dan Remon. Dia melepas cengkeraman Hana pada kerah baju Remon. Hana hendak memberi sundulan keras ke kepala Remon, tapi tidak jadi dilakukan karena kedatangan Maxim.


Remon segera berlari ke belakang Maxim seakan akan sedang bersembunyi. Hana memberi senyuman mengejek. Dia menatap Maxim dan Remon bergantian, ingin meninju kedua pria di depannya. Kedua pria itu sudah membuat hari sial.


"Sepertinya gadis itu sedang gila bro! Selamatin gue! Emang loh kenal dia?" tanya Remon pada Maxim setelah meminta Maxim menolongmya dari amukan Hana.


"Dia gadis durian yang kuceritakan di toko roti! Gadis aneh yang menyukai durian yang baunya busuk! Gadis yang membuat hari ulang tahunku sial!" jelas Maxim memberi tatapan mengejek ke Hana.


"Hahaha.... pantas saja ulang tahunku semakin sial! Ternyata aku memiliki ulang tahun yang sama denganmu!" Maxim tidak mau kalah dengan Hana. Pertengkaran semakin memanas membuat Remon memilih menjauh dari kedua orang itu. Remon tau amarah saudarinya itu kini tidak terbendung lagi.


"Sebaiknya saya duduk sebagai penonton! Sepertinya seru, aku rasa mereka akan berjodoh! Tapi bagaimana nasib anak dari pria blasteran yang diceritakan ayah ya?" gumam Remon yang sudah duduk dan menonton pertengkaran dari dua orang di depannya. Uniknya, kedua orang itu tidak bertengkaran secara fisik. Kedua orang itu bertengkar dengan adu mulut.


"Minum dulu! Biar ada tenaga!" kata Remon sembari menyodorkan dua botol aqua yang dia suruh dibawa sekretarisnya yang tadi datang ke kampus ingin menjemputnya ke perusahaan.


Lucunya, kedua orang yang sedang bertengkar menerima kedua aqua dan meneguknya. Saat tenggorokan sudah terasa dingin, kesadaran mereka kembali. Mereka malu sendiri dan memilih memalingkan muka. Itu sukses membuat Remon tertawa terbahak bahak.

__ADS_1


"Bro! Loh kenal darimana gadis aneh ini?" tanya Maxim pada Remon yang sedang tertawa puas.


"Dia? Dia itu-" ucapan itu putus karena Hana menjawabnya dengan cepat.


"Apa urusan loh kalau dia kenal? Gue anak kepala asisten rumah tangga mereka, kenapa? Ada yang salah?" bentak Hana menatap Remon agar Remon tidak memberitahu statusnya.


Remon sempat terkejut saat sedang minum, membuat air di mulutnya tersembur keluar. Bagaimana tidak terkejut, Hana mengatakan dirinya anak kepala pembatu di rumahnya. Remon yakin, kali ini Hana akan semakin di persulit Maxim. Maxim adalah orang yang tidak mau puas dengan kekalahan. Sama dengan Hana, maka bisa diyakini hari hari Maxim dan Hana akan berubah mulai jari ini.


"Apa itu benar bro? Wah anak kepala pembantu aja sombongnya minta ampun" ejek Maxim membuat Hana tersenyum mengejek Maxim. Dia tidak menyangka pria yang dia idolakan akan memandang Rendah seorang pembantu.


"Hah itu, itu benar. Tapi dia sudah dianggap anak sama mama. Makanya dia bisa bermanja manja sama mama, pembantu itu sudah sangat lama bekerja dengan kami. Itu sebabnya kami terlihat kompak" jawab Remon mencoba membuat Hana terlihat istimewa di keluarganya. Mungkin dengan begitu Hana tidak akan terlalu sulit menghadapi Maxim.


"Ohooo.... pantas saja! Ini namanya dikasih hati minta jantung!" ledek Maxim lagi membuat Hana semakin marah dan melayangkan tendangan pada perut Maxim.


"Tidak!!!" teriak Remon mencoba melerai, tapi sudah terlambat. Maxim kini sudah terbaring sambil berbatuk karena tendangan Hana.


"HANA!!!!!!!" teriak Remon tapi tidak diindahkan Hana dan berlalu meninggalkan kedua pria itu. Remon membantu Maxim berdiri, dia merasa bersalah karena adiknya sudah melukai sahabatnya. Bagaimana jadinya jika Maxim tau Hana adakah adik kandung Remon.


"Awas saja gadis gila!! Gadis aneh!! Hidupmu tidak akan lepas dariku!!!" teriak Maxim meneriaki Hana yang sudah pergi ke arah tangga untuk turun meninggalkan atap.

__ADS_1


"Gawat!!" batin Remon merasa bersalah sekaligus penasaran dengan akhir kisah sahabatnya dan saudarinya.


__ADS_2