
Hana mencoba mengembalikan kesadarannya. "Apa yang aku lakukan? Kenapa aku begitu penurut?" batin Hana. Beberapa kali dia mengedipkan matanya. "Sadar Hana!! Sadar!!" Hana berusaha untuk sadar.
"Pak!! Bapak kenapa sih? Main peluk peluk saja! Apa bapak barusan di tolak wanita itu? Tetapi kenapa malah memelukku?" cerewet Hana sambil melepas pelukan Maxim sekuat tenaga.
"Bukan! Saya tidak di tolak! Tetapi gadis itu berhasil membuatku gila karena sangat merindukannya" jelas Maxim mencoba mengaku.
"Tetapi kenapa aku yang bapak peluk? Datang datang dari AS bukannya kerja di perusahaan, kenapa jadi datang kerumahku? Bahkan sampai memeluk anak gadis orang!" Hana merasa tidak terima. Meskipun pelukan yang Maxim berikan membuatnya nyaman.
"Entahlah!! Gadis itu begitu polos sampai tidak mengerti setiap tingkahku!" lagi lagi Maxim menjawab seperti memberikan teka teki yang membuat Hana bingung.
"Bos aneh!! Tetapi lebih aneh gadis itu, kenapa sih gadis itu bodoh!!" Hana bahkan tidak sadar yang dia katakan bodoh adalah dirinya sendiri.
"Mm... Dia memang bodoh!! Tetapi aku sangat mencintainya!" Maxim malah meladeni Hana. Bahkan kini Maxim sudah duduk di kasur Hana dan Hana tidak sadar dengan itu.
"Wah bos!! Seharusnya wanita itu beruntung karena mendapatkan cinta yang begitu besar. Tetapi dia terlalu polos! Bos!! Aku berdoa untukmu agar gadis itu tersadar dengan cintamu dan menerimamu!! Aku juga akan mendukungmu agar bos bisa menggerakkan hatinya!!" Hana mencoba memberi dukung. Kakinya perlahan duduk di samping Maxim yang duduk di kasurnya .
"Apa menurutmu dia aka jatuh cinta padaku?" tanya Maxim menatap Hana penuh arti.
"Aku yakin bos! Dia akan mencintaimu! Bos harus berusaha, semangat bos!!!" jawab Hana sambil memberi semangat. Tidak lupa ekspresinya mendukung ucapannya.
__ADS_1
"Jika gadis itu dirimu, akankah kau mencintaiku?" Maxin tiba tiba memberi pertanyaan ke Hana yang seketika itu membuat mulut Hana terdiam. Dia bingung harus memberikan jawaban apa agar membuat Maxim semangat.
"Kenapa diam? Bukankah kau yakin gadis itu akan mencintaiku jika aku berusaha meyakinkan hatinya?" tanya Maxim lagi membuat Hana menatap keliling kamarnya untuk menghindari tatapan Maxim.
"Hahah.... Mungkin aku juga akan jatuh cinta pak. Tetapi bapak tidak mungkin mencintai gadis aneh sepertikukan? Apalagi bos tahu, aku hanya anak angkat keluarga Sunitra. Jadi tidak akan mungkin. Hahahaha....." Hana mencoba bercanda.
"Entahlah!!! Kita tidak pernah tahu masa depan. Mungkin saja besok aku bisa jatuh cinta padamu!" jawab Maxim. Dia belum ingin mengutarakan perasaannya. Dia hanya ingin mencoba menggerakkan hati gadis di depannya, karena Maxim yakin Hana sama sekali tidak menaruh hati padanya. Maxim tidak tahu bahwa Hana pernah menyukainya.
"Hahaha...bapak bercandanya gak lucu deh!!" jawab Hana sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bahkan saat menggaruk kepalanya, Hana tersadar bahwa dirinya dan Maxim tengah duduk dekat di kasurnya.
"Ahhh....pak!! Itu pak, gak enak kelamaan di kamar cewek. Jadi bapak pasti ngertikan maksud Hana!" kata Hana yang sudah berdiri.
"Yasudah!! Aku mau kembali ke kantor, jaga kesehatanmu! Sampai jumpa besok" pamit Maxim yang tidak ingin Hana sungkan.
"Hahah...terima kasih pak, hati hati di jalan! Maaf saya tidak mengantar!" Hana tidak ingin jadi objek penglihatan asisten asisten di rumahnya. Apalagi kepala asisten, Hana pasti akan di lempar banyak pertanyaan.
"Tidak apa apa! Istirahatlah" jawab Maxim dan segera keluar kamar Hana. Sebelum menutup kamar, dia menatap Hana dan memberikan senyum termanisnya.
"Hahhhh....." Hana mengelah nafas. "Gawat!! Kenapa senyumnya manis banget sih?!! Aduh, jantungku!!" Hana berbicara sendiri. Dia menatap dirinya di cermin. Hana menutup wajahnya yang memerah karena malu akan tindakannya sendiri. Senyuman Maxim masih terbayang bayang.
__ADS_1
Di sisi lain, Maxim yang sudah tiba di perusahaan masuk ke ruangan Raka. Dia duduk di sofa dengan bersilang kaki dan tangan di depan dada. Dia masih tersenyum sendiri membayang kegilaannya yang memeluk Hana. Raka bahkan merasa ngeri dengan tingkah bosnya. Raka yang berusaha fokus bekerja pun tidak mampu. Dia memutuskan mendekati Maxim dan duduk di samping Maxim sambil menatap Maxim serius, butuh penjelasan.
"Bos!! Apa ada hal yang membuatmu bahagia?? Wajahmu saat ini sangat tidak terkendali, lihat sendiri bagaimana wajahmu!" kata Raka sambil menyodorkan ponselnya. Raka memotret Maxim secara diam diam, dia ingin mengenang momen dimana Maxim sedang tergila gila karena cinta. Mungkin suatu saat nanti bisa dia gunakan sebagai senjata untuk melawan Maxim jika bosnya itu semena mena.
"Kau tidak akan mengerti karena kau tidak pernah jatuh cinta" jawab Maxin tidak peduli dengan foto dirinya. Dia bahkan mengembalikan ponsel Raka dan beranjak berdiri.
"Mulai besok Hana kembali ke ruanganku. Jadi, toong urus mejanya" kata Maxim memerintah dan segera berlalu meninggalkan ruangan Raka.
"Kasihan dirimu nona Hana. Aku berharap tidak akan ada kedua kalinya dirimu di pindahkan keruanganku. Cepatlah menyelesaikan magangmu!" gumam Raka. Raka yakin, Maxim tengah melancarkan aksinya. Aksinya mengambil hati gadis pujaannya.
Raka hanya bisa menghela nafas. Dia mengambil ponsel dan menghubungi OB kantor. Raka ingin segera mengerjakan pekerjaan yang Maxim perintahkan. Raka yakin, jika sampai siang ini pekerjaannya tidak di selesaikan, Maxim akan kembali ke ruangannya.
Krukk....krukkk.... Bunyi perut Raka. "Sial!! Aku bahkan melupakan makan siangku karena bos aneh itu" Raka menggerutu kesal sambil mendengar perutnya yang keroncongan minta diisi.
Raka memilih memesan grabfood daripada harus ke kantin perusahaan. Dia hanya akan menjadi bahan pandangan karena datang disaat orang orang sudah menyelesaikan makan. "Tidak tahu dia sudah makan apa belum, tapi pesan saja dua" Raka memilih dua menu makanan yang berbeda. Satu sesuai seleranya dan satu lagi sesuai selera bosnya.
Raka tidak ingin dirinya diganggu Maxim hanya karena tidak makan siang. Meskipun sebenarnya Raka yakin bosnya akan melupakan makan siang karena cinta. Cinta bisa mengenyangkan perut sejengkal bosnya. Tetapi tidak untuk Raka. Tidak ada halnya yang bisa mengenyangkannya.
Tebakan Raka benar, Maxim memang masih termenung di ruangannya. Dia berangan angan di sofa. Meletakkan kepalanya di sandaran sofa. Dia tidak sabar menanti hari esok, baru saja menemui Hana tetapi sudah sangat merindukan Hana. Aroma rambut Hana masih tercium di hidungnya. Maxin gila, sangat gila. Dia sudah terkena virus cinta. Bukan benih cinta yang masih harua bertumbuh, tetapi kini Maxim sudah terkena virus cinta. Virus yang sudah menyebar di seluruh tubuhnya, virus yang sudah menguasai otak, hati dan pikirannya.
__ADS_1
Maxim tidak peduli apa kata orang. Dia hanya ingin segera mendapatkan hati gadis itu. Maxim yakin dengan kemampuannya untuk mendapatkan Hana. Bukan Maxim namanya jika tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi.