
Keesokan harinya, Hana melajukan motornya ke arah perusahaan. Sama halnya dengan Rena, dia juga tengah melajukan motornya ke perusahaan Sunitra.
Hana tiba terlebih dahulu, dia akhirnya memutuskan menunggu sahabatnya di parkiran motor. Hana melambai ke arah sepeda motor yang baru datang, tentu saja itu Rena. Hana tidak akan gila melambai ke orang yang dia tidak kenal.
Rena memarkir motornya serta membuka helmetnya. "Selamat pagi rekan kerja!!" sapa Rena sembari tersenyum senang.
"Selamat pagi juga rekan kerjaku!!" sambut Hana, keduanya berpelukan sejenak seakan akan sudah bertahun tahun tidak pernah bertemu. Tingkah kedua gadis itu menjadi bahan pandangan orang yang berlalu lalang di sekitar parkiran. Bukan geng Hana namanya jika peduli dengan pandangan orang lain.
"Semoga perjalanan duni kerja kita sukses!!! Semangat!!" kata Hana memberi semangat.
"Semangat!!" balas Rena memberi tanda semangat dengan tangan serta eskpresi yang meyakinkan untuk semangat.
Kedua gadis itu melangkah masuk ke perusahaan sambil bergandengan tangan. Hari ini seakan akan mimpi untuk keduanya. Hari ini seakan tidak nyata. kedua gadis itu tidak menyangka akan ada di fase ini. Hanya saja ada yang kurang, tentu saja keberadaan Melani. Grup mereka tidak lengkap tanpa kehadiran Melani.
Meskipun begitu, kedua gadis itu harus terbiasa dengan suasana sekarang. Melani tidak akan sama lagi dengan mereka. Melani akan mulai sibuk dengan keluarga kecilnya.
"Selamat pagi bu!!! Selamat pagi pak!!" Hana dan Rena secara bersamaan memberi salam ke rekan kerja senior.
"Selamat pagi!!" sambut beberapa karyawan yang menyadari keberadaan mereka. Ada juga beberapa karyawan yang acuh tidak acuh dengan keberadaan mereka. Tetapi Hana dan Rena tidak peduli.
"Kalian??" tanya salah satu karyawan.
"Perkenalkan pak, bu!! Nama saya Hana dan ini teman saya Rena. Mulai hari ini kami akan mulai bekerja sebagai karyawan magang di sini, mohon bantuannya bapak, ibu!!" kata Hana memperkenalkan dirinya dan juga Rena. Kedua memberi membungkuk sedikit pertanda hormat.
"Jangan terlalu tegang, santai saja!! dan satu lagi, tidak perlu panggil bapak atau ibu, kami merasa sangat tua jika di panggil demikian. Panggil saja kakak sama abang, biar kita lebih akrab!" kata salah satu karyawan wanita yang umurnya sekitar 30-an.
"Siap kak, bang!!" jawab Hana dan Rena serentak.
"Jadi, hari pertama kami sebagai karyawan magang, apa yang bisa kami bantu kak, bang?" tanya Rena mencaritahu.
"Mmmm.... Untuk hari pertama, kalian tidak perlu bekerja keras dulu. Kalian berdua sebaiknya membiasakan diri dulu dengan suasana lingkungan kerja. Kalian juga bisa berkenalan dengan karyawan di departemen ini serta fungsi mereka sebagai apa! Dengan kalian sudah mengetahuinya, kalian akan lebih mudah bekerja. Kalian juga perlu berkenalan dengan karyawan lain yang hubungan kerja sangat dekat dengan departemen pemasaran, mungkin seperti departemen produksi dan percetakan!" jelas ketua departemen. Dari wajah dan postur tubuhnya, Hana dan Rena bisa menebak bahwa umurnya sekitar 40 an.
"Baik, pak!" jawab Hana.
__ADS_1
"Apa bapak keberatan kami panggil bapak?" tanya Hana tiba tiba membuat semua karyawan departemen pemasaran menahan tawa.
"Apa alasanmu?" balas ketua departemen.
"Alasan saya hanya satu pak, yaitu saya sangat menghargai bapak sebagai orang yang lebih tua dari saya dan juga sebagai atasan saya!" jelas Hana, sontak ketua departemen dan karyawan lainnya kagum dengan jawaban Hana.
"Baiklah, senyaman kalian berdua saja!" jawab ketua departemen dan di balas senyuman oleh Hana dan Rena.
Sebenarnya Rena sudah menyikut lengan Hana ketika Hana mengajukan pertanyaan itu. Tetapi Hana menatapnya Rena yang mengatakan santai!! Jangan gugup!!.
"Tetapi ngomong ngomong, kamu bukan pertama kalinya kan disini? Wajahmu terlihat tidak asing!" kata ketua departemen tiba tiba.
"Maksudnya saya pak?" tanya Rena.
Ketua departemen mengangguk menandakan yang dia ajukan pertanyaan adalah Rena.
"Iya pak sesuai dugaan bapak! Saya sudah pernah magang di perusahaan ini. Hanya saja ketika magang saya dibagian percetakan. Sekarang sebagai karyawan magang, saya mengambil bagian pemasaran!" jelas Rena di balas anggukan ketua departemen tanda paham.
"Iya pak benar, saya pertama kalinya disini, tapi saya sudah mengetahui banyak hal tentang perusahaan ini. Sebelumnya saya di putuskan pihak kampus untuk magang di perusahaan Kaliya grup pak!" jelas Hana.
"Wah!! Bukankah itu perusahaan Maxim? perusahaan itu alah perusahaan tektil nomor satu. Perusahaan itu juga sudah menjalin kerjasama dengan kita. Makanya pakaian pakaian yang kita hasilkan juga berkualitas. Kenapa tidak kembali kesana?" tanyanya lanjut.
"Saya tertarik ke perusahaan ini pak!" jawab Hana singkat. Hana ingin segera mengakhiri sesi tanya jawab. Itu terlalu menyebalkan untuk Hana.
Benar saja, setelah jawaban Hana ya terakhir, ketua departemen hanya tersenyum mengangguk dan membiarkan Hana Rena memulai kegiatan pengenalan lingkungan perusahaan. Rena bertugas sebagai pemandu karena Rena sudah lebih mengenal perusahaan.
Dalam satu hari full, Hana dan Rena memang melakukan pengenalan lingkungan. Meskipun Hana sebagai putri pemilik perusahaan, Hana tidak pernah memasuki perusahaan mereka. Itu dikarenakan Hana tidak ingin statusnya di ketahuu orang lain. Jadi pada kesempatan ini, Hana akan mengenal lebih banyak tentang perusahaan mereka. Hana yakin suatu waktu, ilmu yang dia peroleh hari ini akan berguna.
"Han!! Selama bertahun tahun gue kenalan sama loh sebagai putri pemilik perusahaan ini, gue baru bisa menginjakkan kaki disini ketika magang, itupun karena koneksi loh, gue beruntung punya teman kaya!!" bisik Rena pelan, takut orang lain akan mendengar.
"Gue aja sebagai putri pemilik perusahaan ini baru tahu situasi lingkungan perusahaan keluarga gue hari ini Ren!!" balas Hana pelan.
"Sumpah?? Seriusan?? Gila loh Han!!" Rena sangat terkejut mendengar fakta yang baru saja terucap dari mulut Hana.
__ADS_1
"yah mau gimana lagi, kan gue gak mau status gue terungkap!" jelas Hana.
"Salut gue sama loh sister!!!" bisik Rena memberi jempol.
Kedua akhirnya terkikik karena kekonyolan mereka. Tingkah kedua gadis itu tentu saja di perhatikan seseorang. Dia adalah Remon. Sejak mendengar adiknya sudah mulai bekerja, dia diam diam memperhatikan Hana. Apalagi mengingat Hana pertama kali menginjakkan kaki di perusahaan keluarga.
Tidak terasa waktu sudah berlalu begitu cepat. Hana sudah membaringkan tubuhnya di kasur setelah dia membersihkan diri.
"Apa dia sudah lupa kalau dia punya pacar? Gue seakan akan masih single aja" gumam Hana karena tidak mendapat kabar dari Maxim.
Baru saja Hana bergumam kesal, ponselnya sudah berdering panggilan video. Itu adalah Maxim.
Hana mungkin tidak tahu, satu hari full Maxim uring uringan sendiri karena menanti kabar Hana. Tetapi Hana tidak juga memberi kabar. Jadi Maxim berpikir Hana sibuk karena Maxim tahu Hana mulai bekerja di perusahaan Remon. Jadi Maxim hanya bisa menahan rindu, tidak ingin mengganggu aktivitas kekasihnya. Sebenarnya rasa rindunya sudah menggila, jika sudah menggila, tentu saja kalian akan tau siapa yang tertindas. Tentu saja Pak sekretaris, Raka kedua.
"Baru ingat kalau punya pacar??" Hana langsung mengomeli Maxim membuat Maxim tersenyum senang. Itu artinya Hana sangat menanti kabar darinya.
"Maafkan aku Honey!! Aku takut mengganggumu di hari pertama kerja!" ungkap Maxim jujur.
"Kau yakin begitu? Kau tidak berbohong?" Hana ingin membuat Maxin merasa bersalah.
"Aku tidak berbohong Honey!!" jujur Maxim.
"Tetapi meskipun begitu, kau harusnya mengirimiku setidaknya satu saja pesan?? Huhhhh aku sangat kesal!!! Bisa bisanya kau mengabaikan wanita cantik?!!" sungut Hana masih tidak terima.
Maxim sudah tahu akan berasa di situasi ini. Kenapa?? Karena sebelum mereka berpacaran, Hana sudah memberitahu, jika dia sudah menyukai Maxim maka Maxim akan menjadi miliknya. Hana sangat suka cemburu. Tetapi Maxim suka dengan itu, Maxim senang jika Hana mengekangnya. Itu karena Maxim juga tulus menyukai Hana.
"Maafkan aku honey!! Baiklah sebagai permintaan maafku, lihat jendelamu!" suruh Maxim.
"Jendela?? Untuk apa?? Ahh gak mau, seram!! nanti monster tak kasat mata masuk kamarku!!" jawaban yang sama sekali diluar nalar. Jawaban itu membuat Maxim tertawa. Hana semakin menggemaskan.
"Lihat saja!! Tidak akan ada monster menyeramkan, yang ada monster tampan" kata Maxim membujuk Hana.
Hana masih berpikir, tidak langsung menuju jendela. Entah apa yang gadis itu pikirkan lagi sekarang
__ADS_1