
"Pasti kamu mengulah lagi kan?" tebak Maxim dan dibalas senyuman oleh Hana.
"Lima, empat, tiga, dua, satu..... Surprise!!!!!!!" teriak Hana.
Maxim ikut melihat kearah pandangan Hana. "What?? ada apa dengannya? Kenapa dia terkejut gitu honey?? Hahh.... Kenapa dia keluar sambil histeris gitu?" bingung Maxim.
"Hahahahah....siapa suruh dia mengangguku?? Rasakan!!!" jawab Hana santai.
"Itu kok ada ular honey tergantung di tasnya??" tanya Maxim yang melihat ular tergantung di tas tenteng Sandra yang sudah terlempar keluar mobil.
"Yank...... Yang benar aja itu ular, itu ular mainan lah!! Aku gak sejahat itu ya ngasih ular asli. Lain kali kalau dia masih melukai ku dengan parah, aku bakalan buat ular asli. Lagipula dia kok takut sama kembarannya sih? Kan sama sama picik!!!" jawab Hana santai. "Udah yok Honey!! Kita pulang!! Aku gak sabar mau ketemu Yemima" ajak Hana dengan wajah bahagia. Dia puas sudah membalas dendamnya.
Entah kenapa ide itu bisa terlintas di pikirannya. Dia bahkan menyempatkan diri untuk belanja online ular mainan itu sampai sampai orang lain mengira dia membeli pembalut.
"Kita singgah ke rumah dulu atau langsung ke rumah sakit?" tanya Maxim.
"Kita langsung saja, aku tidak sabar ingin melepas gipsnya. Oh ya, nanti kita berhenti di supermarket, aku mau beli jajanan untuk Yemima" suruh Hana santai. Dia memerintah Maxim begitu mudah. Padahal di perusahaan Maxim lah yang punya kuasa untuk memerintah.
Namun itu semua hanya di dalam perusahaan, jika sudah menghadapi kekasihnya, Maxim hanya bisa tunduk. Tidak ingin membantah kekasihnya.
Maxim menghentikan mobil tepat di depan supermarket yang lumayan terkenal di kawasan yang mereka lalui. "Kamu tunggu disini, aku saja yang membelinya" Maxim mengajukan diri.
"Emang kamu tahu jajanan anak anak?" tanya Hana merasa tidak yakin.
"Tenang saja!! Yang pasti mereka menyukai makanan manis kan? Dan juga mainan berbie" jawab Maxim dengan bangga.
"Betul....sudah cocok jadi ayah!!" puji Hana.
"Nikah yok!!!" balas Maxim.
" Dapat restu dulu dong!!!" jawab Hana.
"Hufftttt..... Susah ya dapat restu dari calon ayah mertua!! Tapi aku pasti bisa, lihat saja!!" Maxim menyemangati diri.
"Sudah ah!! kamu pergi belinya. Nanti kelamaan!" usir Hana yang sebenarnya menyembunyikan rasa kecewa terhadap ayahnya.
Hana yakin ayahnya pasti masih menaruh harapan besar kepada teman blasterannya. Ayah seakan akan yakin jika teman blasterannya memiliki seorang putra. Tapi bagaimana jika benar benar ada? Apakah Hana harus berpisah dari Maxim kekasihnya? Itu pasti tidak ingin Hana lakukan. Bagaimana bisa dia berpisah dari pria yang sangat dia cintai.
Sepeninggal Maxim, Hana meneteskan air mata. Namun dia segera menghapusnya, tidak ingin membuat Maxim kawatir. Hana yakin, tidak menunggu lama, ayahnya pasti akan menemukan teman blasterannya. Tinggal menunggu waktu saja. Namun Hana tidak peduli apa yang akan terjadi di kemudian hari. Hana hanya ingin menghabiskan waktu bersama dengan kekasihnya.
__ADS_1
Maxim sudah menaruh belanjaannya di kursi penumpang. Hana tersenyum melihat keahlian Maxim dalam berbelanja.
"Hm... Tidak mengecewakan" puji Hana.
"Siapa dulu dong!!" bangga Maxim dan lanjut menempuh perjalanan menuju rumah sakit.
Maxim menopang Hana dengan lihai. Hana berulang kali menolak, tetapi Maxim tetap kokoh ingin memapah Hana. Mau tidak mau, Hana hanya bisa pasrah menerima bantuan Maxim.
Maxim membawa Hana ke ruangan dokter yang sudah mereka buat temu janji sebelumnya. "Malam dok!" sapa Maxim.
"Malam pak Maxim!! Mari pak duduk!!" sambut si dokter wanita. Maxim memilih dokter wanita yang menangani Hana. Dia tidak ingin dokter pria menyentuh wanitanya.
"Mari bu Hana saya bantu membuka gips nya!" tawar dokter.
"Tidak perlu panggil ibu, dok!! Aku kan masih muda!! Masa iya di panggil ibu ibu sih!" kesal Hana tidak suka dengan panggilan ibu ibu.
"Hahahaha..... Baiklah nona muda sunitra!!" balas dokter.
"Itu terlalu menyanjung!! Biasa saja, panggil kak saja!" pinta Hana.
Dokter hanya bisa menurut daripada harus berdebat dengan nona muda sunitra. Maxim juga hanya bisa tersenyum melihat perdebatan diantara kekasihnya dan dokternya.
"Baguslah!! Aku sudah sangat tidak nyaman dengan gipsnya, baiklah dok, terima kasih! Kami mau ke ruangan Yemima dulu!" pamit Hana.
Semua dokter sudah hampir kenal dengan Yemima karena kedekatan Yemima dengan keluarga Sunitra.
"Silahkan kak, silahkan pak!!" dokter mempersilahkan.
"Aku sudah bisa jalan, tidak perlu di topang lagi!! Kan kamu juga bawa barang barang untuk Yemima, nanti kamu kesulitan. Lagipula aku harus membiasakannya honey" tolak Hana lembut bantuan Maxim.
"Baiklah!!" jawab Maxim akhirnya menyerah. Namun meskipun melepas Hana, pandangannya tidak pernah berpaling sedikit pun dari Hana. Dia masih sangat was was memperhatikan Hana.
"Yemima!!!!" teriak Hana dari pintu.
"Kakak........." balas Yemima yang tengah melamun di ranjang.
"Kakak kok lama datangnya?? Aku kan rindu kakak? Yang lain kemana kak?" tanya Yemima yang sudah menghamburkan diri memeluk Hana.
"Maaf ya sayang, hanya kakak dan om Maxim saja yang datang! yang lain lagi sibuk!! Tapi nanti kalau mereka tidak sibuk lagi, mereka pasti datang menemui mu" Hana mencoba menjelaskan.
__ADS_1
"Huffttt.. Yasudah tidak apa apa!! Ayok duduk kak!" aja Yemima menarik pergelangan tangan Hana.
"Ini untukmu!" Maxim menyodorkan tentengan yang di tangannya.
Yemima menerimanya dengan bahagia. "Waoo cokelat!!! Ada mainan berbie juga!! Terima kasih om Maxim!!!" teriak Hana bahagia.
"Jangan panggil om, panggil abang saja!! Abang kan masih muda, masa di panggil om sih!!" Maxim menolak jika dirinya dipanggil om.
"Hm.... Sok muda!!" ejek Hana tapi diabaikan Maxim.
"Yasudah, abang Maxim juga tidak apa apa!!"
"Mama kerja?" tanya Hana.
"Iya kak! Mama harus kerja agar Yemima sembuh!" kata Yemima. Itu memang kata kata yang selalu ibunya katakan supaya Yemima mengijinkan ibunya bekerja.
"Oh iya ampun, adik kakak sangat baik dan penyayang!! kakak semakin sayang adik!!" Hana terharus.
"Yasudah, kakak dan abang Maxim akan menemani mu sampai mama kembali, oke!!!" kata Hana memutuskan untuk menemani Yemima bermain.
"Janji!! Promise!!" kata Yemima meyakinkan Hana.
"Mm. Promise!!" Hana memberikan jari kelingkingnya dan di lengkungan ke kelingking Yemima.
"Oke!!!" Yemima bahagia. Dia mulai bermain berbie yang Maxim belikan. Hana juga mulai mengikuti alur permainan Yemima. Hana merasa seperti kembali ke dunia anak kecil. Mereka tertawa bersama. Maxim lebih memilih jadi penonton. Dia juga bahagia melihat kedua wanita yang tertawa bahagia di depannya.
"Yemima!" kata seseorang dari luar pintu kamar Yemima.
Hana dan yang lainnya serentak melihat ke arah pintu. Pintu mulai terbuka dan tampak ibu Yemima.
"Eh... Adik Hana, kapan tibanya??" tanya ibu Yemima yang terkejut dengan kehadiran Hana dan Maxim.
"Belum lama kok bu, Hana juga barusan datang ke sini. Hana mau buka gipsnya, sudah sembuh!" Hana memberitahu niat mereka datang kerumah sakit selain ingin menjenguk Yemima.
"Terima kasih sudah menemani Yemima bermain. Aku terkadang merasa sangat bersalah karena selalu meninggalkannya, tapi bagaimana? Kami masih harus melanjutkan hidup" kata ibu Yemima. Dia tidak terlalu menunjukkan wajah sedihnya, dia tidak mau di kasihani orang.
Lagipula dia masih muda dan kuat, jadi tidak ingin bermanja manja.
"Tidak apa apa bu, lagipula Yemima anak yang pintar kok, pasti dia juga paham dengan keadaan ibu. Ibu jangan sedih, kasihan dia" Hana mencoba memberi pengertian agar ibu Yemima tidak bersedih. Hana yakin, ibu Yemima menyimpan luka besar. Tetapi dia pintar menyembunyikannya. Hanya Hana yang bisa membaca situasinya.
__ADS_1
"Memang benar , aku juga sangat bahagia memilikinya" jawab ibu Yemima bangga dengan putrinya.