
Hana terbangun di pagi hari setelah Safira mengetuk pintu kamar. Safira memang selalu menjadi alarm berjalan untuk Hana dan Remon. Tetapi sekarang tidak lagi untuk Remon karena kini yang menjadi alarm berjalannya adalah istrinya, Melani.
"Honey dengarkan mamamu!! Mamamu sudah meneriakimu, bahkan dia juga sudah membangunkanku!" kata Maxim dari balik telepon.
Hana mendengar suara Maxim segera beranjak dari berbaringnya. Dia awalnya masih bermalas malasan setelah di panggil Safira. Tetapi setelah mendengar suara Maxim, kesadarannya segera kembali utuh. Hana memandangi kamar, tidak ada Maxim di kamarnya.
"Jangan bilang..." Hana segera mencari ponselnya yang terletak di samping bantal.
"Max!!!! Apa ponselnya menyala semalaman??" tanya Hana setelah menemukan ponselnya dan mendapati panggilan video belum juga berakhir.
"Mmm.... " jawab Maxim malas. Dia juga masih belum sadar seutuhnya.
"Kau tidak begadangkan memandangiku?" tanya Hana penasaran.
"Menurutmu??" jawab Maxim singkat. Bukannya menjawab dia malah balik bertanya membuat Hana semakin penasaran.
"Kau tidak mungkin melihat gayaku tertidur kan?? Katakan tidak Max, kalau tidak aku akan sangat malu!!!" ujar Hana.
"Hahahahahahahaha..........aku bercanda Honey!!! Aku tidak mungkin begadang semalaman. Hari ini aku juga harus berangkat ke perusahaan lebih awal. Tapi.............. Aku masih melihat mulutmu menganga!! Hahahahahahahahaha........" tawa Maxim pecah setelah jujur ke Hana.
"Maximmmmmmmmmmm!!!!!!!! Aku malu!!!!!!!! Jangan menemuiku hari ini, aku tutup!!" jawab Hana malu dan segera mengakhiri panggilan.
Hana mengacak rambutnya kesal. Dia dengan polosnya menyuruh Maxim menyanyikan lagu tidur. Hana tidak berpikir matang sebelum menyuruh Maxim.
"HANA!!!! Bangun!!!!" teriak Safira mengejutkan Hana.
"Iya mamah!!!! Ini Hana sudah bangun kok, bahkan sudah mau mandi!" teriak Hana dari kamar.
"Cepat!! Jangan sampai kami menunggu lama di meja makan!!" kata Safira mengingatkan.
"Iya!!" jawab Hana singkat dan masuk ke kamar mandi.
"Pagi!!!" Hana memberi salam ke keluarganya yang sudah menunggunya di meja makan.
"Sorry, aku lama!!!" tambah Hana memohon maaf. Dia bahkan menunjukkan sederetan gigi putihnya.
__ADS_1
"Kami sudah biasa!!" jawab Remon.
Setelah Hana duduk, semua keluarga itu akhirnya memulai sarapan pagi. Tidak lupa untuk mengucap syukur terlebih dahulu ke Sang Pencipta.
"Bagaimana harimu di perusahaan cabang baby!!" tanya Lexon ke putri tunggalnya.
"Santai yah!!! Hana baik kok, siapa sih yang bisa mengganggu Hana?" jawab Hana berbohong.
"Hahahahaha........ Ayah tahu kok putri ayah kuat, tetapi tidak salah kan kalau ayah bertanya!?" kata Lexon penuh perhatian.
"Tidak masalah kok yah, Hana malah senang!! Aku sudah selesai makan, Hana berangkat duluan ya!!!" pamit Hana.
"Hati hati!!!!" serentak seisi meja makan memberi peringatan ke Hana.
"Okey!!!!" teriak Hana dan segera menyambar tasnya yang dia letakkan di sofa tadi sebelum ke ruang makan.
Hana langsung melajukan motornya ke arah perusahaan tempat dia bekerja sebagai karyawan. Tidam terasa dia sudah lumayan lama bekerja di perusahaan cabang. Meskioun dia belum sampai satu tahun, tetapi sudah banyak kenangan disana. Baik itu kenangan baik maupun kenangan buruk.
"Selamat pagi!!!" sapa Hana ke karyawan karyawan senior yang sudah terlebih dahulu sampai. Hana pagi ini memang sedikit lama tiba, tidak seperti biasanya.
"Apa ini perusahaan ayahmu sehingga kamu seenaknya tiba di perusahaan? Ini sudah jam berapa?" teriak Sandra yang melihat kedatangan Hana. Entah apa kesalahan Hana. Sandra selalu mencari celah untuk mengajak ribut dengan Hana.
"Tapi bu, masih ada lima menit lagi sampai jam masuk kantor!!" jawab Hana membela diri.
"Lagian ini memang perusahaan ayahku kok" batin Hana.
"Kamu membantahku?? Sudah diberitahu kamu malah membantah atasan. Tulis permintaan maaf hingga 1000 kalimat, itu adalah hukuman untukmu!!" titah Sandra dan langsung pergi meninggalkan Hana yang sudah siap untuk membantah.
"Huffttttt...... Tulis ya tulis saja, apa sulitnya menulis kata maaf 1000 kalimat!!! Tapi apa salahku? Kenapa aku harus meminta maaf??" tanya Hana kesal.
"Sudah Han, kerjakan saja! Membantah juga tidak akan membantu, itu malah akan mempersulitmu" nasihat karyawan senior di samping meja Hana.
"Tetapi aku juga masih punya kerjaan lain kak!!" balas Hana masih tidak terima dengan hukuman dari Sandra.
"Tidak apa apa, jika pekerjaanku sudah selesai, aku akan membantumu!" karyawan senior menawarkan diri.
__ADS_1
"Thank you kak, aku sangat terharu!!!" jawab Hana senang. Hana selalu senang dengan perbuatan baik semua karyawan di departemen produksi ke dirinya.
Hana mulai mengerjakan hukuman yang di berikan Sandra meskipun sebenarnya dia sendiri bingung kenapa dia harus menulisnya. Dia tidak bersalah tetapi harus menulis kata maaf 1000 kalimat. Tangannya pasti akan pegal menulis itu, tidak hanya tangan, hatinya juga pasti akan sakit akibat terlalu kesal.
Hana mengira dia akan menyelesaikan hukumannya dengan cepat dan lanjut mengerjakan pekerjaannya yang tertunda. Ternyata tebakannya salah. Bahkan kini jam kerja kantor sudah hampir selesai. Hana masih belum menyelesaikannya.
Sebenarnya Hana bisa menyelesaikannya sebelum jam pulang kantor, tetapi karena jam makan siang Hana juga ikut beristirahat, waktunya berkurang. Hana juga terkadang membantu pekerjaan seniornya yang lain karena Hana tidak tega membiarkan mereka mengerjakan semuanya. Apalagi itu juga pekerjaan yang biasa dia lakukan.
Jam pulang tiba, Hana sudah menyelesaikan hukuman tapi belum menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda karena harus menyelesaikan hukuman dari Sandra. Seperti janji karyawan senior yang duduk di samping Hana, dia ikut membantu Hana mengerjakan tugas Hana.
Meskipun sudah jam pulang kantor, keduanya masih berada di ruangan departemen produksi. Tiba tiba ponsel karyawan senior berbunyi. Fokus mereka untuk sementara teralihkan ke ponsel yang berbunyi.
"Apa?? Iya iya, aku akan pulang!!" kata karyawan senior panik.
"Kenapa kak?" tanya Hana setelah karyawan senior mengakhiri panggilan.
"Han.... Maaf banget!!! Gue harus pulang sekarang. Putri kecilku demam, ini aku sudah di hubungi ayahnya. Ayahnya sudah kebingungan harus bagaimana, putriku selalu mencariku!" jelas karyawan senior.
"Pergilah kak, aku tidak apa apa kok!! Putri lebih penting, pulanglah!!" suruh Hana yang merasa tidak enak karena sudah merepotkan.
"Tidak apa apa kan Han?? Maaf banget ya!! Aku tidak tahu akan terjadi seperti ini!" kata karyawan senior lagi minta maaf untuk kedua kalinya.
"Tidak apa apa kak, pergilah!! Bentar lagi aku juga sudah selesai kok!" jawab Hana sopan. Dia juga tidak mau karenanya kakak seniornya tidak menemui putrinya. Jika Hana juga di posisi itu, dia akan meninggalkan pekerjaannya dan segera menemui putrinya.
Setelah seniornya pulang, Hana kembali fokus dengan pekerjaannya. Hana tidak sadar ada seseorang yang mengintainya.
"Yesss!!! Akhirnya selesai juga!!" kata Hana lega.
Hana segera membereskan meja kerjanya yang sedikit berantakan karena tumpukan kertas dan file file. Hana segera keluar menuju lif, tapi sialnya lif sudah tidak bekerja. Hana tidak tahu memang jam sekarang lif sudah tidak bekerja atau ada masalah lain. Hana tidak peduli, dia memilih turun melalui tangga darurat. Hana ingin segera kembali.
Saat Hana sudah mulai menuruni anak tangga, tiba tiba sesuatu mengagetkannya dan membuat kaki Hana terpeleset dan jatuh dari tangga. Seperti ada bayangan seseorang melintas cepat. Beruntung sisa anak tangga yang dia harus turuni tidak lagi banyak. Tetapi meskipun demikian, kaki Hana terkilir dan kepalanya terbentur keras. Hana sedikit pusing dan kakinya sulit di gerakkan karena sakit.
Hana merintih kesakitan. Meminta tolong juga tidak ada yang mendengar karena dia berada di tangga darurat. Hana bersusah payah meraih tasnya yang jatuhnya sedikit jauh darinya. Setelah mendapatkan tas dengan susah payah, Hana mengambil ponsel dan memanggil seseorang.
Hana tidak takut dengan suara suara aneh itu, dia hanya merasa sakit. Hana yakin ada seseorang yang menerornya. Dia tidak percaya takhayul. Hana sesekali meminjat kakinya yang terkilir. Menggosok kepalanya yang terbentur dan sudah membengkak. Dia dengan sabar menunggu seseorang yang sudah dia hubungi. Sesekali dia memandangi setiap sudut, mencaritahu siapa yang bermain main dengannya.
__ADS_1
"Aku pasti akan menemukanmu!!" batin Hana dengan kuat. Dia sudah cukup bersabar. Permainan ini sudah melebihi batas.