STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
PAK BOS JATUH CINTA???


__ADS_3

Raka terkejut saat Hana tiba tiba membuka pintu ruangannya. Dia bingung melihat Hana lengkap dengan barang barangnya di tangannya.


"Sedang apa disini?" tanya Raka bingung. Dia mengingat, Maxim menyuruhnya memindahkan Hana setelah jam makan siang.Tetapi ini belum jam makan siang.


"Maaf pak sekretaris!! Sepertinya pak bos memang sedang di tunangkan secara paksa ya?? Aku diusir dari ruangannya setelah aku mrngatainya di tunangkan!" jelas Hana sembari mendekati meja Raka.


"Hahahahahahah....... Pantas saja kamu di usir, apa kamu menertawainya?" tanya Raka penasaran.


"Tentu saja tertawa pak! Kan lucu!!! Pak ada ada saja deh, ada yang lucu di tertawa!" jawab Hana polos.


"Pantas dia diusir, aku yakin kondisi jantung bos saat ini sedang bermasalah" gumam Raka pelan.


"Apa pak sekretaris sedabg berbicara denganku?" tanya Hana yang mendengar Raka berbicara tetapi tidak terdengar jelas apa yang Raka ucapkan.


"Oh lupakan saja!! Kamu duduk disana saja untuk sementara, saya akan menyuruh OB untuk memindahkan meja mu!" suruh Raka mempersilahkan Hana duduk.


"Baik pak, terima kasih!!" jawab Hana membalikkan badan menuju tempat yang Raka maksud. "Oh iya pak! Tolong jangan usir saya ya!! Saya tidak punya tempat lagi nanti!" kata Hana tiba tiba menghentikan langkahnya.


"Tidak akan!! Kecuali atas perintah yang berkuasa!! Kamu paham maksudku!" jawab Raka dengan tersenyum. 'Pantas saja pak bos menggila, ternyata Hana sepolos dan semenyebalkan ini' batin Raka tersenyum tipis.


"Benar juga katamu pak!! Berarti kunci sekarang, saya harus berdoa agar aku terselamatkan!" jawab Hana dan melanjutkan langkahnya ke sofa.


'Semoga aku bisa menyelamatkan diriku pak bos!! Kau mengirimkan singa betina ke ruanganku, doakan saya bos agar bisa bertahan!' batin Raka memutar pena di tangannya.


Hana tidak bekerja, dia hanya melamun. Sesekali dia menggaruk dagunya yang tidak gatal. Dia bingung dengan tingkah Maxim. Hana seketika teringat ucapan Remon.


" AKU TAU!!!" Hana tiba tiba berbicara keras dan berdiri dari duduknya. Mendengar suaranya saja membuat Raka terkejut saat sedang fokus. Raka hanya bisa mengelus dada sembari menatap ke sumber suara.


"Apa yang kamu tahu?" tanya Raka penasaran karena ekspresi wajah Hana sangat cerah.

__ADS_1


"Pak sekretaris! Sepertinya pak bos sedang jatuh cinta!! Kata kak Remon, orang yang sedang jatuh cinta moodnya berubah ubah!! Jadi aku yakin pak bos kita sedang jatuh cinta, sekarang aku punya misi!!" jelas Hana dengan nada penuh semangat.


"Apa lagi misimu?" tanya Raka yang terkejut saat Hana mengatakan Maxim sedang jatuh cinta. Memang benar kenyataannya Maxim jatuh cinta pada Hana.


"Saya harus mencaritahu siapa wanita yang membuat pak bos menggila!! Mungkin cinta pak bos digantung, makanya pak bos suka marah marah tidak jelas. Kalau aku bisa tahu siapa wanita itu dan membawanya ke hadapan pak bos, mungkin nilai magangku akan aman! Bagaimana menurutmu pak sekretaris??" tanya Hana setelah mengungkap ide gilanya.


'Gadis bodoh!! Dia menggila karena mencintaimu gadis bodoh!!' batin Raka kencang tapi tidak bisa mengatakannya secara langsung. "Terserahmu saja!! Lakukan sesukamu, asal kamu senang!! Tetapi hati hati!! Aku merasa gadis itu gadis polos tapi bodoh dan juga menyebalkan!! Kau mungkin akan sulit mengendalikannya" jawab Raka pasrah. Dia tidak bisa membayangkan kalau Hana tahu gadis yang dia cari adalah dirinya sendiri.


"Baik pak sekretaris!! Saya Hana pasti bisa mengendalikan gadis itu, itu pasti sangat menantang!" kata Hana dengan penuh semangat. Dia mengibarkan bendera misi dimulai.


'Goblok!!' batin Raka lagi. Dia ingin menertawai kisah bosnya dan gadis di depannya. Tetapi Raka tidak bisa tertawa langsung di depan keduanya. Raka akan di singkirkan jika Maxim tahu dia di tertawai. Raka meyakinkan dirinya bahwa dia akan tertawa puas saat sudah berada di apartemennya.


"Baik pak!! Saya mau lanjut bekerja, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Hana, senyuman bahagia masih terukir di bibirnya.


'Ternyata senyuman gadis ini berbahaya!! Dia sangat manis!! Semoga imanku tetap kuat, atau aku akan hilang dari muka bumi ini jika aku bersaing dengan pak bos!!' batin Raka melihat wajah Hana. Dia langsung menoleh ke arah lain saat Hana menatapnya menunggu jawaban.


"Siap laksanakan!" jawab Hana cepat dan segera berbalik melangkah ke arah meja di sudut ruangan.


Di ruangan lain, Maxim sedang menonton rekaman. Lebih tepatnya menonton rekaman CCTV di ruangan Raka. Rasa cemburu memenuhi dirinya saat melihat Hana tersenyum bahagia saat berada di ruangan Raka. Tetapi Maxim lagi lagi menahan diri. Dia tidak mau salah mengambil tindakan. Dia selalu meyakinkan dirinya agar tidak menyukai Hana.


"Kalau aku menyukainya dan berpacaran dengannya, orang tuanku pasti tidak merestui. Keluargaku akan mengataiku telah mencoreng nama baik keluarga dengan menikahi anak seorang ART! Aku juga tidak mau dirinya dalam bahaya!" Maxim bergumam.


Maxim mencoba mencari ide agar dirinya tidak bertemu Hana sementara. Mungkin jika tidak bertemu, rasa suka ini akan hilang. Dia sudah menyuruh Hana pindah ke ruangan Raka, tetapi rasa penasarannya tidak bisa dia kalahkan. Dia malah memilih menonton Hana dari kamera CCTV.


"Sebaiknya saya kembali dulu AS!!" Maxim berbicara sendiri.


Maxim menghubungi Raka yang sedang makan siang bersama Hana di kantin. "Siapkan penerbangan untukku ke AS malam ini juga!" titah Maxim.


"Baik pak, segera saya lakukan setelah selesai makan siang!" jawab Raka sambil meneguk minumannya.

__ADS_1


"Kau sedang dikantin dengannya?" tanya Maxim penasaran.


"Bos! Jangan salah paham! Dia memaksaku untuk ikut dengannya, kau tahu kan bos jika dia sudah memaksa dengan memasang wajah memelas!? Aku tidak bisa menolaknya!" jawab Raka jujur tetapi sukses membuat kobaran api cemburu menyala nyala di hati seseorang.


"Nikmati makan siangmu!" Maxim mengakhiri panggilan dengan ketus.


"Huft... Aku harus sabar!! Mungkin mulai besok aku akan bisa menghilangkan wajahnya dari pikiranku!" kata Maxim meyakinkan diri.


Raka dan Hana sudah kembali ke ruangan. Hana kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda dan Raka mengurus penerbangan Maxim. Raka yakin bahwa Maxim sedang berusaha menghindari Hana.


'Malangnya nasibmu bos! Apa salahnya sih jika kamu mengakui cintamu saja daripada harus bermain petak umpet!' batin Raka merasa kasihan sekaligus kesal ke Maxim.


Hana sudah menyelesaikan pekerjaan tepat setelah jam pulang kantor. Hana pamit pulang terlebih dahulu ke Raka, mengingat dia masih ada janji dengan Remon.


Remon sudah menunggu di tempat yang sudah di janjikan tadi malam. Remon juga datang dengan mobil yang Hana inginkan, tidak dengan mobil mewah.


"Apa kakak sudah memikirkan cincin yang akan dibeli seperti apa?" tanya Hana.


"Belum!! Kita akan melihat nanti!!" jawab Remon sambil fokus menyetir mobil. Ada rasa tidak sabar ingin segera mengikat Melani dengan cincin yang akan dia beli. Tetapi ada juga rasa takut Melani akan menolak. Semua perasaan itu bercampur dalam dirinya.


"Tenang saja kak! Aku yakin Melani akan menerimamu!" Hana mencoba menenangkan Remon. Hana bisa melihat rasa senang sekaligus rasa kawatir di wajah Remon.


"Mudah mudahan saja!! Tetapi kapan waktu yang tepat untuk membicarakannya?" tanya Remon mencoba meminta ide Hana.


"Menurut Hana sih semua waktunya baik. Kakak hanya perlu merangkai kata kata yang baik untuk orang tua Melani dan juga ke orang tua kita. Ayah dan Ibu, Hana rasa tidak terlalu sulit. Tinggal om Raka saja sama istrinya. Kakak harus memiliki kata kata indah yang bisa meyakinkan mereka" jelas Hana mencoba memberikan ide terbaiknya membantu Remon.


"Benar katamu! Kakak semakin takut gagal! Kakak gugup!" kata Remon. Tidak biasanya Remon berbicara demikian. Remon terkenal dengan kepercayaan dirinya, Remon terkenal tegas dan berani. Tetapi entah mengapa hari ini dia berbeda. Hana hanya bisa menenangkan, meskipun sebenarnya dia tidak terlalu mengerti dengan situasi yang di alami Remon.


"Mau nikah saja susah ya? Jatuh cinta juga merepotkan!! Serba salah!!" gumam Hana tetapi masih terdengar di telinga Remon membuat Remon tersenyum menyetujui.

__ADS_1


__ADS_2