
Hari ini adalah hari bahagia untuk keluarga Sunitra dan keluarga Maholtra. Tentu saja bahagia. Hari ini adalah hari pernikahan Remon dan Melani. Berarti hari ini Melani dan Remon akan sah menjalin hubungan suami istri dan itu berarti Melani dan Remon sudah melepas masa lajang.
"Waooooooo..... Kau sangat cantik kakak ipar!!!!" puji Hana memandangi wajah sahabat sekaligus calon kakak iparnya.
"Belum sah Han, dia masih calon!!" Rena berkomentar.
"Biarkan saja! Anggap saja sudah sah!!" jawab Hana dan masih memandangi wajah cantik Melani.
"Apakah aku juga akan secantik ini jika menikah??" tanya Hana, membuat kedua sahabatnya menatap Hana curiga.
"Apa kau sudah berencana menikah?" tanya Rena.
"Kau menutupi sesuatu dari kami?" tanya Melani.
"Hahahahaha.... Kok pertanyaan kalian aneh sih?? Apa salah kalau aku tanyain itu?? Yakan kita juga bakalan nikah!!" jawab Hana mengelak. Dia juga tidak tahu jawabannya akan membuat kedua sahabatnya salah pengertian.
"Mungkin saja kan kak Maxim sudah lamar kamu, tapi kamu menutupinya dari kita berdua" kata Melani menatap Hana penuh selidik.
"Jawab jujur Han!" tambah Rena.
"Inggak kok!! Lagian jika sudah mau menikah, ayah masih belum memberi restu." jujur Hana
"What??? Kenapa bisa?? Memangnya seperti apa kriteria bokap loh??" tanya Rena.
"Benar benar Han. Gue jadi penasaran kriteria calon mertua, secara kan kak Maxim menurut gue sih sudah perfect!!! Pokoknya kak Maxim adalah idaman para wanita" tambah Melani penasaran.
"Ayah gak ada nentuin kriteria. Hanya saja, seingatku ayah pernah bilang kalau aku sudah ditunangkan dengan anak teman yang aku tidak tahu sama sekali" jelas Hana.
"Wahhh!!! Masih jaman yah sekarang di jodoh jodohkan?? Apa keluarga kalian sudah pernah bertemu? Atau mungkin kau sudah pernah bertemu calonnya?" tanya Melani.
"Gimana mau bertemu? Ayah saja belum pernah bertemu lagi dengan temannya itu semenjak mereka lulus kuliah!" jelas Hana.
"What!!!! Apa lagi cerita ini?? Gue semakin tidak mengerti. Jadi kapan loh di tunangkan?" tanya Rena penuh antusias.
"Sejak mereka masih kuliah, tepatnya sejak mereka belum menikah. Lucu bukan?? Dan sekarang gue yang jadi korbannya" jawab Hana dengan ekspresi sedih.
Jika diingat ingat kembali, Hana bahkan pernah bermimpi buruk dengan pria buruk rupa akibat rencana ayahnya menjodohkannya dengan anak sahabatnya.
__ADS_1
"Emang ayah loh udah yakin Hana kalau temannya itu punya anak laki laki??" tanya Rena.
"Gue juga bingung dengan ayah, tetapi melihat tingkah tingkah ayah, dia seperti yakin. Dan kalian tahu apa yang paling aku takuti dari pertunangan ini selain yang buruk rupa? Coba bayangin kalau saja anaknya yang laki laki masih bocah ingusan?? Kebayang gak sih gue menikah dengan bocah?? Kan gak lucu!!!" Hana membayangkannya dan segera menutup matanya menepis bayangan buruk itu.
"Hahahahaha...... Jangan aneh aneh Hana. Udah jangan bayangin yang aneh aneh, doain saja anaknya tampan plus baik!!" Rena menyemangati Hana.
"Enak saja!!! Mau anaknya tampan atau apapun itu, gue juga gak bakalan mau!!! Maksudmu kak Maxim mau dikemanain? Dijadiin cadangan? Gitu??" Hana tidak terima dengan nasihat Rena.
"Ya gak gitu juga sih konsepnya!! Sudah ah, gue juga bingung. Yang penting hari bahagia ini tidak bisa di anggurin. Masa kita bertiga jadi pusingin itu sih? Selagi masih bisa menikmati kebersamaan ini bukankah bagus? Jadi buang pikiran kotor dan fokus dengan hari pernikahan gue, oke!!!" Melani mencoba menghentikan perdebatan kecil yang terjadi antara kedua sahabatnya.
"Benar sih!! Tapi kalau di pikir pikir lagi, kita berdua sedikit sedih melihat loh bakalan nikah!" ungkap Hana dengan jujur. Meskipun Melani akan menikah dengan keluarganya, tetap saja hubungan persahabatan mereka lebih indah daripada Melani menjadi kakak iparnya.
"Melani nikah ke keluarga loh sendiri saja lohnya sudah sedih, jadi gimana aku?? Hana gak nikah sama keluargaku!" Rena juga mencurahkan isi hati.
"Kok jadi saling curhat sih?? Kan aku jadi ikutan sedih!! Gimana kalau aku batal nikah saja?" tanya Melani seketika membuat kedua sahabatnya menatap Melani tajam.
"Jangan!!!!! Gak boleh!! Kasihan bang Remon nanti jadi sedih. Jadinya kisahnya kak Remon mengerikan. Ditinggal pergi calon istri di hari bahagia!! Kan gue juga jadi mengsedih!!!" Hana menolak ide Melani.
"Ya makanya itu jangan sedih?? Kalian harus mendukungku!" kata Melani mencoba membuat kedua sahabatnya tenang.
Rena dan Hana menggandengan Melani. Mereka memasuki ruang pernikahan. Menyerahkan Melani ke Raka ayah Melani dan Raka akan mengantarkan Melani ke pengantin pria.
"Lihat kak Remon mah!! Tatapannya tidak mau berpindah dari Melani!!" bisik Hana ke Safira yang berdiri di sampingnya.
"Namanya juga sudah cinta mati!!" jawab Safira juga berbisik. Ibu dan anak itu akhirnya terkikik pelan dan segera diam ketika Raka sudah menyerahkan putrinya.
Kedua mempelai akan mengucapkan janji suci untuk tetap sehidup semati. Suasana seketika hening ketika pengucapan janji suci. Hana tidak mau tertinggal, dia mengabadikan momen ketika Remon menangis saat mengucapkan janji suci. Jarang dia melihat Remon menangis.
Setelah selesai mengucapkan janji suci, kedua nya dinyatakan sah sebagai suami istri. Para tamu mulai berbaris ingin memberi salam ke pengantin. Hana seketika teringat dengan Maxim. Dia bodoh karena melupakan kekasihnya. Dia lupa karena sedari tadi dia selalu bersama Rena dan juga Melani.
Hana memutuskan menemukan Maxim. Dan ternyata Maxim juga dijadikan sebagai pendamping mempelai pria. Hana mencari cari keberadaan Maxim di seluruh ruangan.
"Apa kau merindukanku?" suara khas Maxim terdengar di telinga Hana.
Hana berbalik dan menatap Maxim. Hana kemudian memeluk Maxim. "Maaf!!! Hana hampir melupakanmu tadi!! Hana sibuk bersama kedua sahabatku" ungkap Hana jujur.
"Aku sedih!! Padahal aku tidak bisa melupakanmu sedetik pun!!" jawab Maxim.
__ADS_1
Hana mendongak menatap Maxim. "Maafkan aku Max!!! Please!!! Katakan bagaimana aku menebusnya??" tanya Hana memasang wajah memelas meminta Maxim memaafkannya.
Maxim terdiam sejenak memikirkan ide untuk mengerjai Hana. Tetapi di tengah memikirkan ide, dia malah terkejut dengan ulah Hana. Hana mengecup bibirnya sekilas. Maxim seketika mematung.
"Kenapa diam?? Itu cukup kan?? Maafkan aku Max ku sayang!!!" kata Hana, dia menggoyang lengan Maxim yang masih mematung.
Bagaimana tidak mematung, ini adalah pertama kalinya dia di cium Hana semenjak mereka menjalin hubungan. Maxim selalu bersikap normal ke Hana. Dia tidak mau tergesa gesa. Dan kini Hana yang justru menyerangnya terlebih dahulu.
"Yankkk!!! Kamu kenapa sih?? Masih marah yah?? Gimana dong? Hana harus gimana?" Hana mulai merajuk.
"Gak kok!! Aku udah maafin kamu. Hanya saja tadi itu.... Aku sedikit terkejut!!" jujur Maxim. Dia menggaruk alisnya sekilas. Maxim sedikit salah tingkah.
"Heheh.... Hana juga bingung kenapa bisa Hana bisa melakukannya. Tapi Hana sudah gak bisa berpikir lagi, kamunya sih merajuk terus, masa iya gak mau maafin Hana sih!!" jawab Hana.
Maxim akhirnya memeluk Hana erat, dia membelai kepala Hana lembut. "Lagian aku tidak akan bisa marah denganmu! Aku hanya bercanda!!" gumam Maxim pelan.
"Auuuu..... Apa yang kamu lakukan???" Maxim merintih kesakitan. Dia mendapat cubitan kecil dari Hana.
"Siapa suruh mengerjaiku???" balas Hana dan segera meninggalkan Maxim yang mengelus perutnya yang di cubit Hana.
"Mau kemana???" tanya Maxim.
"Kepelaminan!!" jawab Hana asal.
"Hahhh!!! Sama siapa??? Kan pengantin prianya disini!!" jawab Maxim sambil mengejar langkah Hana.
"Kepedaan!!! Gue mau foto sama pengantinlah!!! Masa iya ke pelaminan!!" jelas Hana.
"Emang gak mau ke pelaminan??" tanya Maxim tiba tiba. Hana seketik terdiam, dia menatap Maxim lalu membuang muka dan melanjutkan langkahnya.
"Kenapa??" tanya Maxim bingung dengan Hana.
"Dapatin restu dulu dari ayah sana!!" ungkap Hana. Dia jujur ke Maxim kalau ayahnya belum merestui hubungan mereka.
"Udah ayo foto!! Nanti keburu ramai!!" ajak Hana langsung menggandeng lengan Maxim menuju pengantin.
Hana tidak mau Maxim terlalu berpikir keras karena kata katanya. Ini adalah hari bahagia untuk Remon dan Melani, jadi sebaiknya mereka juga harus ikut menikmati hari bahagia ini. Tidak peduli apa yang akan terjadi hari esok, hari ini maka harus dinikmati hari ini, hari esok, maka akan di jalani besok tidak sekarang.
__ADS_1