STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
CALON KAKAK IPAR


__ADS_3

Pagi ini, penampilan Hana sedikit berubah. Rambut yang biasanya dia kucir ke atas kini tergerai indah. Hana bahkan mencatok rambutnya. Memberi pewarna bibir sedikit lebih cerah dari biasanya. Tetapi Hana tetap menghindari warna merah, Hana merasa seperti ibu ibu sosialita jika sudah menggunakan pewarna bibir yang merah.


Seluruh keluarga Hana lagi lagi menganga untuk kedua kalinya karena perubahan Hana. Pertama kali mereka terkejut dengan penampilan Hana yaitu saat tantangan Maxim. Kali ini Hana merubah penampilan bukan karena tantangan, tetapi karena keinginan Hana sendiri. Hana berubah karena sedang jatuh cinta.


"Pah!! Sepertinya calon mantu kedua mama sebentar lagi akan datang!!! Lihatlah putrimu, dia sangat cantik!!" Safira memuji Hana. Raut wajah Safira bahkan terlihat gembira. Dia senang putrinya berubah.


Lexon hanya menanggapi dengan senyuman. Dia sedikit tidak rela jika putrinya akan dimiliki pria lain. Dia takut putrinya akan tersakiti. Tetapi dia tidak memberitahu isi hatinya kepada Safira. Apalagi melihat Safira saat ini sangat bahagia.


Hana berangkat diantar Remon. Hana tidak ingin dandanannya rusak karena membawa motor. Hana meminta Remon mengantar dan segera diangguki Remon. Dia juga ingin bertemu sahabatnya. Mengingat mereka sudah lama tidak bertemu. Mereka terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan.


"Bagaimana kabarmu bro!! Kau sudah sangat lama tidak memberi kabar!!" sapa Remon dari pintu membuat Maxim kaget. Sedari tadi dia menanti Hana, tetapi wanita itu tidak juga terlihat, yang terlihat justru Remon.


"Baik!!" jawab Maxim singkat dan segera menunduk berpura pura sibuk dengan laptopnya.


"Wah aku kecewa!! Sepertinya bukan aku yang kau nantikan!! Sebaiknya aku pulang!!" kata Remon mencoba bercanda.


"Bukan begitu!! Duduk saja dulu, aku selesaikan ini sebentar. Oh iya dimana adikmu?" tanya Maxim.


"Tebakanku benar. Loh bukan nunggui gue, loh nungguin adik gue!! Wah!!! Tempat gue sudah digantikan Hana!!" jawab Remon meledek Maxim.


"Apa salahnya jika menanyakan keberadaan asisten gue?" tanya Maxim menyelamatkan diri dari ledekan Remon.


"Asisten atau calon pacar?" Remon langsung to the point. Maxim bahkan terdiam tidak percaya bahwa Remon mengetahui perasaannya.


"Hahahaha.... Loh tau dari mana bro?" tanya Maxim langsung mendekati Remon.


"Yah gue taulah!!! Loh kan sahabat gue, dan asisten loh adik gue. Jadi jika dia mengeluh tentang kepribadian loh, gue pasti tau apa masalahmu". Jelas Remon.


"Apa dia pernah berbicara buruk tentangku?" tanya Maxim penasaran.


"Sering sekali!! Loh jahat ya nyiksa adik gue!!" kata Remon mengerjai Maxim.

__ADS_1


"Gue tidak pernah nyiksa!! Jangan salah sangka Mon!! Tanya saja ke sekretaris Raka! Gue bahkan bersikap baik sama adikmu. Bahkan gue kalah setiap kali berdebat dengannya" jawab Maxim. Tanpa dia sadari dia memberitahu kekalahannya.


"What??" hahahahahahaha........ Kasihan loh bro!!! Gue kira hanya gue yang kalah!! Ternyata loh juga mengakuinya" ledek Remon.


"Tapi loh jatuh cintakan sama adik gue!!" tebak Remon.


Maxim mengangguk dengan senyuman ceria di wajahnya. "Loh harus restuin gue!!" ancam Maxim.


"Hahahah... Tergantung sikapmu!!" jawab Remon asal. Sedari awal dia memang sudah merestui hubungan Maxim dengan Hana. Tetapi Remon ingin mengerjai sahabat karib nya.


"Siap calon kakak ipar!!" jawab Maxim cepat.


Kedua pria itu tertawa bersama. Mereka bahkan tidak sadar kedatangan Hana keruangan itu. Hana sudah sedari tadi berdiri di belakang mereka. Hana mendengar celoteh mereka.


"Hm hm.... Sepertinya sangat seru!! Selamat pagi pak!!" Hana akhirnya berbicara. Membuat kedua pria itu seketika terdiam.


"Sejak kapan kamu disitu?" tanya Remon


"Sejak bapak berdua membicarakan saya!!" jawab Hana singkat.


Berarti sedari tadi dia berbicara, Maxim tidak memperdulikannya. Maxim termenung seperti orang bodoh.


"Bro!!! Adik gue cantik kan?" tanya Remon pelan.


"Sangat!!" jawab Maxim jujur. Dia masih belum sadar. Dia masih menatap Hana kagum.


"Woii!! Ingat loh disini atasan, jangan sampai orang orang salah menilaimu. Dimana Maxim yang dingin dan berkarisma??" Sadar bro!!!" kaget Remon menyadarkan Maxim.


"Hah.... Ahhh... Sorry sorry, adik loh terlalu cantik!!" puji Maxim membuat wajah Hana memerah. Hana segera ke arah mejanya. Membereskan mejanya karena ini adalah hari terakhir magang.


"Pak!! Nilai dan sertifikat saya bagaimana?" tanya Hana mencoba mencairkan suasana canggung.

__ADS_1


"Oh... Sudah saya kirimkan ke kampus!" jawab Maxim mencoba bersikap netral.


"Sudahlah!! Gue balik saja! Aku tidak mau jadi obat nyamuk! Gue juga rindu calon bini gue. Yang jelas gue selangkah lebih maju dari loh berdua!!" kata Remon membanggakan diri karena sudah bertunangan. "Gue cabut!! Jangan macam macam sama adik gue!! Ingat!! Restuku tergantung sikapmu" ancam Remon dan segera pergi meninggalkan Hana dan Remon.


Kepergian Remon membuat ruangan itu menjadi hening. Terjadi kecanggungan diantara kedua insan.


"Huffttt!!! Apa kau akan pergi ke kampus pagi ini??" tanya Maxim mencoba mencairkan suasana.


"Iya pak!! Saya harus menjumpai dosen pembimbing" jawab Hana memberitahu.


"Apa dia mempersulitmu?" tanya Maxim mencoba mencari tahu kesulitan Hana.


"Tidak kok pak!! Hanya saja beberapa hari ini, ibu itu sedang sakit. Jadi sulit di jumpai, tapi pagi ini ibu itu memberi kabar dia sudah masuk kampus" jelas Hana.


"Baguslah!! Semangat!! Apa siang ini kamu kosong?" tanya Maxim lagi.


"Siang ini aku akan bersama kedua sahabatku. Kami sudah lama tidak berkumpul, jadi kami sudah janjian!" jawab Hana jujur. Maxim sedikit kecewa karena dirinya akan sangat merindukan Hana.


Hana bisa melihat jelas kekecewaan di wajah Maxim. Hana menarik nafas mencoba mencari cara agar bisa memberi waktu untuk Maxim.


"Tapi sore, aku kosong. Apa bapak perlu sesuatu?" tanya Hana. Hana tidak langsung mengatakan keinginannya bertemu Maxim.


"Mmmm... Tidak tidak, ini tidak masalah pekerjaan. Apa aku bisa menjemputmu? Aku ingin membawamu merayakan hari selesai magang!" ajak Maxim.


"Hahah... Saya rasa itu tidak perlu pak! Tapi jika bapak ingin, saya tunggu di rumah!" jawab Hana menyetujui. Hana ingin tahu seberapa besar keberanian Maxim menjemputnya ke rumah. Apakah dia pria bertanggung jawab. Hana ingin menyelidiki kepribadian Maxim lebih jauh sebelum acara kelulusan datang.


"Mmm.... Aku akan menghubungimu jika sudah berangkat dari rumah!" jawab Maxim sambil tersenyum bahagia. Rasa kecewa kini sudah tergantikan dengan rasa bahagia.


"Baiklah pak!! Saya harus ke kampus sekarang. Terima kasih untuk waktunya dan ilmunya selama saya magang" pamit Hana. Sekarang dia lebih canggung berbicara dengan Maxim. Berbeda dengan pertama kali dia bertemu Maxim.


"Mm... Hati hati, tetap semangat!! Berpamitanlah dengan yang lain, aku memberi waktu untuk kalian!" suruh Maxim.

__ADS_1


"Terima kasih pak!! Saya pamit!" kata Hana dan segera keluar dari ruangan Maxim. Sebelum keluar, Hana memberi senyuman termanisnya untuk Maxim. Hana tidak tahu semenjak pintu tertutup, ada seseorang yang menggila karena senyumannya. Siapa lagi jika bukan Maxim.


Maxim jika sudah berurusan dengan Hana tidak lagi terlihat seperti Maxim yang berkarisma. Maxim kali ini terlihat seperti seorang anak kecil yang melompat kegirangan karena dibelikan mainan. Maxim sangat bahagia, sesekali dia meraba jantungnya. Berdetak kencang, menandakan dirinya jatuh cinta.


__ADS_2