
Hana masuk kerumah setelah diantar Melani. Tapi ada yang beda, rumah kelihatan ramai. "Eits!! Tunggu, itukan mobil on Raka? Kenapa parkirnya disini?? Kek gak ada aja parkiran lain aja!!" gumam Hana dan masuk perlahan kerumah.
Hana menemukan kedua orang tua Melani sedang duduk di sofa ruang tamu bersama kedua orang tuanya dan juga Remon. Hana yakin pertemuan itu dilakukan untuk membahas pernikahan Remon dan Melani, mengingat Melani juga sudah lulus kuliah.
"Selamat malam om, tante!" kata Hana memberi salam.
"Selamat malam Hana!! Melaninya udah balik?" balas Sera.
"Udah tan, barusan berangkat setelah mengantar Hana" jawab Hana sopan.
"Anak durhaka!! Mama, papa gak di sapa!" ledek Safira. Safira memang selalu ingin mencari masalah dengan putrinya itu. Tapi itu bukan berarti hubungan mereka jauh, tapi itu dilakukan karena kasih sayangnya yang begitu tulus ke putrinya. Safira ingin Hana merasa dekat dengannya, Safira bisa berubah menjadi sosok ibu, sosok kakak, dan sosok sahabat bagi Hana.
"Ihhh mama cemburuan deh!!!" balas Hana membuat semua orang tertawa bersama.
Hana akhirnya menyalim tangan Safira. Tetapi berbeda dengan Lexon. Hana tidak hanya menyalim, tapi juga memeluknya. "Pah!! Biarin mama cemburu lagi!" bisik Hana membuat Lexon tersenyum.
"Awas cemburu? Sama putri sendiri cemburu!" ledek Hana.
"Suka suka mama dong!!! Kan suami mama!! Sana cari suamimu!" balas Safira tidak mau kalah.
"Sorry moms!! Suami Hana belum ada, tapi calonnya ada kok!" Hana tidak mau kalah.
"Calon saja sudah bangga!!" Remon akhirnya buka bicara membantu Safira.
"Suka gue dong!! Om, tan!! Gak usah nikahin Melani sama kak Remon ya!!! Biar kak Remon gak ada istri. Entah jimat apa yang kak Remon pakai biar Melani jatuh cinta sama dia!!" Hana membalas sambil duduk di samping Lexon.
"Yang jelas jimatnya tidak akan bisa dimiliki sembarang pria. Jimatnya, gue hanya mengandalkan wajah tampan dan hati yang penuh perhatian!!" jawab Remon bangga. Dia menyugar rambutnya kebelakang.
"Hoeeekkkk!!!! Lihat itu om, tan!! Masa mau sih punya menantu yang narsisnya gak ketolongan!?" Hana tidak habis habisnya meledek Remon. Tadinya Hana hanya saling meledek dengan ibunya, tapi karena Remon membantu ibunya, akhirnya ledekan Hana merambat ke Remon.
Semua orang tua hanya bisa tertawa melihat tingkah dua bocah yang di tengah berdebat. Sebenarnya mereka tidak cocok dikatakan bocah, tetapi melihat tingkah mereka saat ini memang sangat mirip dengan dua bocah yang bertengkar memperebutkan mainan.
"Sudah sudah!!! gara gara kalian dua, kami jadi gak fokus membicarakan pernikahan kakakmu!!" Safira mencoba melerai perdebatan kedua anaknya.
"Hahahahaha...... Sorry moms!! Terbawa suasana!!" Remon meminta maaf.
__ADS_1
"Emang kak Remon kapan nikahnya?? Jangan cepat cepat ya!! Kan kasihan Melani nantinya gak single lagi kek kita?" tanya Hana.
"Sorry, gue ambil teman loh dulu ya!! Kita juga nikahnya bulan depan kok!!" jawab Remon.
"What!!!! Itu terlalu cepat!!!" Hana tidak terima.
"Ya mau nikah kan aku sama Melani, kok jadi Hana yang sewot sih ma!!" Remon sengaja membuat Hana semakin kesal.
"Hana!!!!! Yang mau nikah itu kakakmu!! Kenapa kamu yang ribut sih!? Kalau kau mau nyusul, ya nyusuk aja!! Kan udah ada calon juga!" Safira mencoba memberi pengertian ke Hana.
"Enak aja!!! Putriku belum bisa menikah!! Papa gak setuju, yang nikah Remon aja, kenapa malah ikut ke Hana!" Lexon langsung menolak.
Hana sedikit sedih, kata kata Lexon menunjukkan ketidak sukaannya pada hubungannya dengan Maxim. Tapi Hana tidak terlalu menunjukkan wajah sedihnya, ini harusnya hari bahagia untuk kakaknya. Jadi Hana berusaha tersenyum.
"Iya mama! Hana masih mau berkarir duku, jangan nikah dulu!" Hana mencoba menjawab dengan tenang. " Yaudah deh!! Hana mandi dulu, udah bau keringat tadi!" pamit Hana.
"Gak makan malam dulu Han?" tanya Safira. Safira sepertinya mengerti putrinya. Safira menebak Hana sedikit sakit hati. Tetapi Safira tidak bisa apa apa. Safira hanya berharap suaminya akan merestui hubungan Hana dan Maxim suatu saat nanti.
"Gak ma! Hana sudah makan diluar tadi sama Melani dan Rena" jawab Hana dan pergi meninggalkan orang yang di ruang tamu.
"Itu yang terbaik!! Kalian berhati hatilah!!" jawab Lexon dan memeluk sahabatnya.
Remon ikut mengantar kepergian Raka dan Sera. Setelah keduanya tak terlihat, ketiga orang itu kembali masuk ke rumah.
"Pah!!! Apa papa masih tidak merestui hubungan Hana sama Maxim ya?" tanya Remon tiba tiba setelah mereka kembali ke ruang tamu. Ternyata Remon juga menyadari kata kata Lexon tadi ke Hana.
Lexob tidak menjawab, dia hanya menatap Remon dan membuang muka.
"Apa jangan jangan ayah masih berharap sama anak teman ayah yang kita tidak tahu ada atau tidak?" Tanya Remon lagi.
"Ayah yakin, perasaan ayah mengatakan kalau dia punya putra!" jawab Lexon tetap kokoh dengan keputusannya.
"Jadi apa ayah memikirkan perasaan Hana?? Bagaimana jika Hana tidak menyukainya?? Kita jelas jelas tahu Hana menyukai Maxim, kenapa kita harus memisahkan mereka? Papah sebaiknya jangan gegabah!!" Safira menambahi ingin memberi pengertian ke suaminya.
"Lagian aku sudah tahu sifat Maxim pah, dia orang baik kok. Makanya aku merestui hubungan keduanya" kata Remon ingin meyakinkan ayahnya.
__ADS_1
"Sudah, sudah!! Ayah lelah, mau istirahat dulu!" kata Lexon mencoba menghindari dari kedua orang yang tengah berdebat dengannya.
Safira hanya bisa geleng kepala dengan sifat suaminya dan ikut masuk kamar dengan suaminya. "Sudahlah nak!! Berdoa saja ayah bisa berubah pikiran!" ucapan Safira sebelum masuk kamar.
Remon menaiki tangga menuju kamarnya. Ketika melewati pintu kamar Hana, Remon berhenti sejenak. "Han!! Sudah tidur?" tanya Remon mencoba mencaritahu keadaan si pemilik kamar.
"Belum!!" jawab Hana dan terdengar suara membuka kunci.
"Apa kakak butuh sesuatu?" tanya Hana setelah membuka pintu.
"Kakak boleh masuk?" tanya Remon.
"Masuk saja!" jawab Hana dan meninggalkan Remon di belakang.
"Kata kata ayah jangan terlalu dibawa ke hati!! Semoga Maxim bisa mengubah pandangan ayah!!" kata Remon mencoba menenangkan Hana.
"Santai saja kak!! Hana gak selemah itu kok!!" jawab Hana sambil menampilkan senyum lebarnya.
"Oh iya kak!! Hana mau minta sesuatu bisa?" tanya Hana yang tiba tiba teringat sesuatu.
"Kan mulai besok Hana sudah harus kerja, tapi Hana masih nyembunyiin identitas Hana, jadi jangan bersikap terlalu berlebihan dengan Hana ya!!" pinta Hana mencoba meminta pengertian Remon.
"Mmm.... Kakak sudah terbiasa, jadi santai!" jawab Remon.
"Satu lagi, masukin Rena juga dong kak!! Nanti Rena kerja tim denganku, kakak jangan kawatir, kami tidak akan membuatmu malu!" tambah Hana.
"Iya!!! Nanti kakak juga beritahukan ke ayah!! Jangan kawatir, bekerjalah semampumu, ingat jangan mau ditindas!" kata Remon mengingatkan Hana.
"Apa aku terlihat seperti orang yang mudah di tindas??" bukannya menjawab, Hana malah mengajukan pertanyaan.
"Tidak sih!! Yasudahlah, kakak percaya dengan kemampuanmu. Kakak pamit keluar, sudah ngantuk" pamit Remon dan segera keluar kamar Hana.
"Tutup pintunya!!" perintah Hana ke Remon dan diangguki Remon. Hana segera mengambil ponselnya dan mengabari Rena kalau mereka berdua akan bekerja bersama mulai besok. Hana yakin Rena akan senang.
"Benar saja, Rena memang senang. Dia memeluk ibunya dengan erat. Bukan ingin memanfaatkan kuasa teman sendiri, tapi selagi kuasa teman bisa menyelamatkan hidupnya, maka Rena akan pergunakan. Rena tidak merusak, tapi dia sedang menikmati kekuasaan dari sahabatnya. Lagipula dia ditawarkan bukan meminta.
__ADS_1