
Maxim yang mendapat telepon dari Hana segera meninggalkan rapat terburu buru. Dia bahkan menyuruh Raka sekretarisnya melanjutkan rapat dengan klien. Tidak lupa sebelum meninggalkan rapat, Maxim meminta maaf mengatakan ada hal mendesak.
Maxim berlarian disekita perusahaan. Masih ada satpam dia temui di perusahaan. Bahkan lif di lantai dasar masih hidup. Maxim masuk lif dan segera ke lantai yang sudah Hana beritahu. Setelah tiba, Maxim bergegas ke tangga darurat.
"Hanaaaa!!!!" teriak Maxim.
"Aku disini!!" sahut Hana dengan nada lemah.
Maxim segera berlari menaiki anak tangga ke arah Hana. Wajahnya terlihat sangat panik. "Kenapa bisa terjatuh?" tanya Maxim.
"Dan juga kenapa lewat tangga? Kan bisa naik lif" tambah Maxim. Dia sibuk memeriksa luka Hana.
"Tapi lif di lantai ruanganku sudah tidak bekerja! Aku hanya bisa lewat tangga dan terpeleset" jawab Hana. Dia belum mau memberitahu Maxim bahwa ada orang yang menerornya.
"Dibagian mana yang sakit?" tanya Maxim panik.
"Kepalaku terbentur, kakiku terkilir!!!" jawab Hana merengek manja.
Maxim segera meraba kepala Hana. Benar saja, kepalanya sudah membengkak. Maxim juga memeriksa kaki kiri Hana, matahari kakinya sudah memerah. Bahkan lutut Hana sudah membiru karena terbentur kuat. Hana memakai rok jadi Maxim bisa melihat lutut yang membiru.
Maxim dengan lihai menggendong Hana. Dia menggantung tas Hana di lehernya. Dia membawa Hana turun dan selanjutnya masuk ke lif untuk ke lantai dasar.
"Ada apa tuan dengan nona ini?" tanya satpam bingung.
"Terjatuh ditangga!!!" jawab Maxim ketus.
"Kenapa bisa tuan? Kan lif masih bekerja?" bingung satpam.
"Itulah tugasmu!! Kenapa lif tidak bekerja di lantai departemen produksi!!!" jelas Maxim dengan kesal.
"Baik tuan!! Saya akan segera mencaritahu masalahnya, maaf jika saya teledor" permintaan maaf dari satpam.
"Sudah pak tidak apa apa, bapak periksa saja kenapa lif tidak bekerja!" suruh Hana. Dia masih digendongan Maxim.
Maxim memasukkan Hana perlahan ke mobil. Dia masuk ke kursi kemudi dan melajukan mobil meninggalkan gedung perusahaan.
"Kita kemana?? Inikan tidak jalan pulang!!" tanya Hana.
"Rumah sakit!" jawab Maxim singkat, dia tetap fokus mengemudi.
__ADS_1
"Tapi lukaku tidak parah!! Di kompres di rumah juga sudah sembuh!" kata Hana menolak untuk pergi ke rumah sakit.
"TASYA HANA SUNITRA!!! Kamu duduklah tenang, jangan membantah!!" sahut Maxim. Wajahnya masih terlihat kesal. Tidak tahu dia harus kesal kepada siapa.
"Apa kamu marah Max? Tapi apa salahku? Kan aku tidak tahu bakalan terpeleset, lagian siapa yang mau terjatuh?!" sungut Hana. Dia tidak suka dengan sikap Maxim.
Maxim menepikan mobil. Dia memandang Hana dengan tatapan lembut. Dia melepas sabuknya dan memeluk Hana erat. Ada cairan bening meluncur dari sudut matanya. Entah kenapa dia terlihat lemah saat ini.
"Kenapa tiba tiba memelukku??" bingung Hana dan segera melepas pelukan Maxim.
"Maaf Honey!! Aku tidak bisa menjagamu! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika kamu terluka parah" gumam Maxim pelan di arah telinga Hana. Dia belum mau melepas pelukannya.
"Sudah Max, aku kepanasan karena dipeluk terlalu lama. Aku tidak apa apa kan? Lihat aku masih sehat, yah.... Meskipun kakiku terkilir" jawab Hana menenangkan Maxim.
Maxim melepas pelukannya dan menatap Hana. "Tapi aku tidak mau melihatmu terluka!! Apa kau tahu sepanik apa diriku ketika mendengar beritamu tadi?? Tolong Honey berhati hatilah!! Aku tidak mau kau terluka!!" kata Maxim lembut.
"Apa kau menangis Max??" tanya Hana setelah melihat mata Maxim yang berkaca kaca.
"Tentu saja aku menangis!!! Maksudmu aku harus tertawa? Bagaimana aku mau tertawa jika kamu terluka??" Maxim kesal dengan Hana yang masih bersikap biasa saja setelah terluka.
"Sudah Max jangan menangis lagi!! Aku akan merasa sangat bersalah!! Baiklah sebagai permintaan maaf, aku akan menurutimu ke rumah sakit" kata Hana mencoba membujuk Maxim agar berhenti merasa sedih.
Maxim memasang kembali sabuk dan meluncur ke arah rumah sakit besar di kota mereka. Setiba disana, beberap dokter dan perawat sudah menunggu kedatangan mereka.
"Mm...." jawab Maxim lagi lagi singkat.
Maxim membuka sabuk Hana dan menggendong Hana keluar mobil. Hana di letakkan di brankar rumah sakit yang sudah dibawa perawat.
"Periksa kepalanya!! Katanya kepalanya terbentur dan juga kaki kiri terkilir, lututnya juga biru!!" jelas Maxim ke dokter yang akan menangani Hana.
"Baik pak, segera kami periksa!" jawab dokter wanita yang umurnya tidak terlalu jauh dari umur Maxim.
Hana dimasukkan ke sebuah mesin, Hana yakin ini untuk memeriksa tubunya secara menyeluruh. Ini adalah mesin CT SCAN. Hana kembali keluar mendapati dokter dan beberapa perawat. Tidak tahu berapa lama Hana di dalam, Hana tidak menyadarinya.
Hana kembali dibawa ke ruang ICU. Maxim juga mengekor tapi langsung dihentikan dokter. Dokter meminta Maxim mengikutinya. Dokter menunjukkan hasil pemeriksaan Hana.
"Dia mengalami gegar otak ringan akibat benturan yang lumayan keras di kepalanya. Ligamen kakinya sedikit robek karena perputaran kakinya yang salah. Ini dirawat beberapa hari juga akan segera sembuh" jelas dokter.
"Itu tidak akan menimbulkan masalah lagi kan di kemudian hari?" tanya Maxim memastikan.
__ADS_1
"Tidak! Ini hanya cedera ringan, tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Pak Maxim tidak perlu takut!" tambah dokter menjelaskan.
"Baiklah!! Periksa dia dengan teliti, aku akan menemuinya dulu." pamit Maxim dan pergi meninggalkan dokter menuju ruangan Hana.
"Apakah parah?" tanya Hana.
"Tidak, tapi kamu akan dirawat beberapa hari disini!" jelas Maxim dan mendapat tatapan menolak dari Hana.
Maxim mendapat tatapan itu membalas tatapan Hana. Hana hanya bisa menurunkan tatapannya. Dia kalah, tidak ada gunannya melawan Maxim. Jika Maxim sudah kawatir dengan dirinya, maka akan seperti situasi sekarang.
"Tapi bagaimana keluargaku? Mereka akan mencariku!" Hana mencoba mencari jalan lain.
"Aku sudah menghubungi Remon. Mereka ingin kesini, tapi aku menolak. Biarkan mereka datang besok. Ini sudah larut malam" jelas Maxim dan diangguki Hana tanda paham.
"Jadi...... Jangan bilang aku akan sendirian disini malam ini?" tanya Hana penasaran.
"Aku tidak bodoh! Aku akan disini" jawab Maxim santai.
"Hahah..... Lebih baik kamu pulang saja!! Aku tidak apa apa di tinggal sendiri" Hana sedikit canggung. Dia mencoba menolak Maxim.
"Tidak ada penolakan!!" jawab Maxim tegas.
Maxim melepas jasnya yang masih melekat di tubuhnya. Itu membuatnya gerah. Dia melipat lengan kemejanya hingga ke siku. Kemudian mendekati Hana dan memperbaiki selimut Hana.
"Tidurlah!! Kamu tidur seperti anak kecil, selalu menurunkan selimut!!" kata Maxim sembari memperbaiki letak selimut Hana.
"Berarti kau melihat gayaku tidur kan???" tanya Hana setelah mendengar ucapan Maxim.
Maxim ketahuan. Dia memang lama memandangi Hana ketika Hana memintanya menyanyikan lagu pengantar tidur. Jadi disitu dia mengetahui kalau Hana tidur tidak pernah bagus. Selimutnya tidak pernah melekat di tubuhnya, selalu saja bergulungan dibawah kakinya.
"Aku hanya menebak!!" jawab Maxim mengelak. Dia memilih berpura pura daripada berdebat dengan Hana.
Maxim mengambil kursi dan meletakkannya di samping ranjang Hana. Maxim dengan setia menanti Hana tertidur. Sesekali dia membelai rambut Hana lembut.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Tidurlah!!" tanya Maxim yang melihat Hana termenung menatapi langit langit kamar rumah sakit.
"Tidak Max, aku hanya sedang memikirkan sesuatu. Max.... Bagaimana jika ada yang menerorku? Apa yang akan kau lakukan?" Hana mencoba mencaritahu tindakan Maxim. Hana tidak langsung memberitahu jika dirinya memang sedang di teror.
"Menurutmu? Tentu saja dia tidak akan lepas dari genggamanku!" jawab Maxim tegas. Dia memang tidak akan pernah melepas orang yang melukai kekasihnya.
__ADS_1
Hana hanya diam mendapat jawaban Maxim. Dia akhirnya memilih tidak memberitahu. Hana yakin salah satu orang yang dia kenal di kantornya yang menerornya. Tetapi Hana memilih diam karena tidak ingin Maxim memberi penyiksaan yang tidak pernah terpikirkan ke orang yang menerornya.
Hana bisa dengan jelas menilai dari tatapan Maxim sekarang. Maxim masih setia membelai rambut Hana. Dia seperti sedang menidurkan bayi.