STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
HARAPAN HANA


__ADS_3

Malam ini Hana yang sudah membersihkan diri berlari ke kamar Remon. Hana ingin bercerita dengan kakak laki lakinya. Karena hanya Remon yang selalu mendengar curhatannya selain ke dua sahabatnya.


"Ada apa?" tanya Remon yang sudah selesai berpakaian.


"Kak!! Tebakan kakak benar. Ternyata sahabatmu mencintaiku!! Hahahaha.... Aku sangat tersentuh!!" kata Hana memberitahu.


"Apa kau juga mencintainya?" tanya Remon.


"Kasih tau gak ya??? Kakak kepo yaaa" ledek Hana tidak menjawab pertanyaan Remon.


"Jangan menyakitinya. Karena jika dia mencintaimu, dia tulus. Dia pria yang sulit jatuh cinta, ini kali pertama kakak mendengarnya jatuh cinta. Jadi jangan menyakitinya! Jangan membuat dia tidak percaya dengan cinta" jelas Remon memberitahu kepribadian sahabatnya.


"Apa kakak yakin ini kali pertamanya?" tanya Hana penasaran.


"Iya!! Kakak yakin! Jadi apa kau juga mencintainya?" tanya Remon untuk kedua kalinya.


"Sejujurnya, aku sudah pernah menyukainya kak sebelum kami bertemu. Tapi aku sempat membencinya karena sikap kasarnya. Ternyata sikap kasar itu tidak yang sebenarnya. Jadi aku mencintainya, tapi tolong jangan memberitahunya. Aku akan memberitahunya saat upacara kelulusanku" jawab Hana jujur.


"Baiklah!! Kakak akan menghormati keputusanmu. Kakak percaya dengan sahabat kakak, dan kakak merestuimu dengannya. Kakak sangat mengenal dia , jadi kakak berani memberikan restu" jelas Remon.


"Kakak sangat membanggakan sahabatmu ya!! Kakak juga jangan main main dengan sahabatku!!" ancam Hana.


"Santai!! Buktinya kakak sudah memberikan dia kepastian, kakak tinggal menunggu kelulusan dan aku akan membopongnya ke apartemen kakak!" jelas Remon.


"What??? Jadi kakak akan meninggalkanku sendiri di rumah?" tanya Hana yang terkejut dengan niat Remon.


"Kakak ingin membangun rumah tangga sendiri" jawab Remon.


"Kakak kejam ya!" Kata Hana tidak terima dengan niat Remon.

__ADS_1


"Tapi jangan memberitahu mama sama papa dulu. Ini masih perencanaan kakak, kakak belum memutuskan. Kakak tidak mau mengecewakan mama sama papa" jelas Remon meminta Hana merahasiakan.


"Terserah kakak! Ayok makan!" ajak Hana keluar terlebih dahulu dari kamar Remon. Ada sedikit kecewa dalam hati. Tetapi jika di pikirkan, dia memang tidak bisa selamanya bersama Remon. Suatu saat dia juga akan membangun rumah tangga sendiri. Jadi harus berpisah dari Remon dan kedua orang tuanya. Hanya menunggu waktu saja.


"Bagaimana perkembangan projek akhirmu?" tanya Remon yang sudah menyelesaikan makan malamnya.


"Sempat terkendala dengan satu dosen kak, tapi sudah Hana selesaikan. Jadi Hana tinggal meminta penilaian dan menerima sertifikat magang dari tempat Hana magang" jelas Hana kemudian meneguk habis minumannya.


"Wahhh!!! Putri papa memang yang terbaik!! Semangat sayang!! Papa mendukungmu! Maaf papa gak selalu bertanya" Lexon ikut berbicara setelah selesai meneguk minumannya.


"Gak apa apa kok pah!! Kan papa udah percaya Hana, makanya papa gak nanya. Benar kan?" jawab Hana serta bertanya mencari tahu tentang kepercayaan Lexon untuknya.


"Benar sekali!!! Papa mempercayaimu! Papa mempercayai kedua anak Papa, dan papa mempercayai istri papa yang paling cantik!" jawab Lexon sembari memuji Safira yang membereskan meja makan.


"Ueeekkk!!!!" Hana justru meledek Lexon. Berbeda dengan Remon. Remon hanya menaikkan satu alis kanannya menanggapi Lexon.


"Hahahh.... Mama tau aja memang isi hati papa!!" jawab Lexon membenarkan.


"Hahahahahahaha........ Papa ada ada aja deh!!! To the point aja kenapa sih?? Ini pake acara muji muji lagi!!" ledek Hana tidak mau membuang kesempatan meledek Lexon.


"Suka suka papa dong!! Kan istrinya papa!! Nanti juga kamu digituin sama suamimu!!" Lexon tidak mau kalah dengan ledekan Hana.


"Tapi pah, papa ingat umur dong!! Lucu pah klo papa ngomong alay gitu sama mama!!" Remon menambahi ledekan Hana.


"Kamu juga nanti gitu sama Melani!! Papa berani taruhan!" balas Lexob membuat Remon seketika terdiam. Dia menyadari perubahan dirinya sejak bertemu dengan Melani.


"Hahahahaha..... Makanya jangan bucin!!!" ledek Hana.


"Siapa yang bucin?" jawab Lexon dan Remon serentak.

__ADS_1


"Kita itu hanya sangat mencintai istri? Gak apa apa kita di bilang bucin sama istri sendiri kok!! Papa juga takut suamimu nanti bucinnya minta ampun samamu!" balas Lexon membuat Hana terdiam.


Hana teringat Maxim. Sikap Maxim belakangan ini memang sedikit berlebihan. Apa Maxim juga akan sealay papa dan kakaknya? Pikir Hana.


"Udah udah!!! Mama diamin kok malah melonjak!! Papa mau apa? Bilang saja!" Safira mencoba melerai adegan ledek meledek yang terjadi antara suami dan anak anaknya.


" Hahahahah... Maaf mam!! Papa mau ngajak mama jalan jalan kok!!" jawab Lexon memberitahu niatnya.


"Dalam rangka?" tanya Safira memperjelas.


"Liburan dengan teman teman papa! Mereka juga bawa istri mereka kok mah! Jadi mama pasti ada teman!" jelas Lexon membuat Safira mengangguk.


Safira memang selalu siap sedia menemani suaminya. Mengingat jabatan suaminya sebagai orang penting. Safira juga harus turut serta mendukung suaminya. Kedua anaknya juga sudah besar, jadi Safira sudah memiliki lebih banyak waktu bersama suaminya.


"Thank you my Honey!!" jawab Lexon mencium pucuk kepala Safira dan segera berlari ke ruang tamu. Dia yakin kedua anaknya akan meledeknya kembali.


"Papahhhhhh!!!! Hana jijik!!!" teriak Hana dari ruang makan.


Lexon hanya tersenyum karena putrinya yang selalu meledeknya jika bersikap romantis. Berbeda dengan Remon, dia hanya sesekali meledek Lexon. Mengingat Lexon juga akan segera menikah dan akan menjadi seorang suami. Lexon juga punya senjata untuk meledek Remon. Safira hanya menggeleng melihat tingkah suaminya. Lexon memang selalu bersikap romantis sejak mereka menikah dan itu sudah menjadi kebiasaan di keluarga mereka.


Hana berbaring di kasurnya, pikirannya kembali melayang ke adegan siang tadi. Mulai dari Maxim mengutarakan perasaannya di restauran. Maxim bahkan membawanya jalan jalan ke taman kota. Maxim yang selalu menggandeng tangan Hana selama mengelilingi taman kota. Jika di pikirkan Hana sedikit malu, tapi juga bahagia.


"Itu seperti bukan diriku.... Apa aku semudah itu di tahlukkan? Wah Hana!!! Kau luar biasa!!!" gumam Hana merasa malu karena dengan polosnya dia menyambut tangan Maxim yang menggandengnya. Tetapi Hana tidak bisa membohongi perasaannya. Dirinya memang menyukai Maxim.


Hana seketika merasa sedih, waktu magangnya akan berakhir besok. Berarti Hana akan segera berpisah dengan Maxim. Apakah mereka akan selalu bertemu meskipun Hana tidak lagi di perusahaan? Apakah Maxim akan tetap menemuinya? Hana membatin. Hana sedikit takut, percintaan mereka masih awal tetapi mereka harus berpisah.


Hana bahkan tidak sadar kapan dirinya masuk kedunia mimpi. Hana lelah dengan pikirannya sendiri. Tetapi Hana masih berharap pagi segera tiba. Hana ingin menemui Maxim. Hana merasa dirinya kini bukan Hana yang dulu. Hana yang sekarang berbeda. Hana yang tidak pernah memikirkan siapapun sebelum tidur, sekarang Hana memikirkan seorang Maxim. Hana yang tidak malu dengan pria manapun kini Hana malu jika berhadapan dengan Maxim. Malu tetapi bukan berarti tidak ingin bertemu.


Hana yang tidak pernah merindukan seseorang kecuali keluarga dan kedua sahabatnya kini Hana sangat merindukan pria itu. Hana berharap cinta Maxim tulus untuknya, karena ini juga kali pertama untuk Hana. Hana takut di kali pertama dia menjalin hubungan akan mendapat luka berat. Hana sangat berharap cinta pertamanya akan tetap menjadi cinta terakhir.

__ADS_1


__ADS_2