STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
MALU DAN ROMANTIS


__ADS_3

Hana tertunduk malu, melemparkan ponselnya kesembarang arah di kasurnya. Dia tidak menyangka, kejadian yang disangka mimpi ternyata nyata. Apalagi melihat ekspresi wajahnya, Hana sangat malu, mengingat besok adalah awal dia akan melaksanakan magang di perusahaan Maxim. Hana berharap dia tidak bertemu Maxim.


Berbeda dengan Melani, dia sangat senang karena di gendong Remon. Hanya saja di malu melihat ekspresi wajahnya. Dia juga terlihat menganga. Membuat aurah kecantikannya seketika rusak. Tetapi itu tidak masalah baginya, dia lebih bahagia karena di gendong Remon.


"Pagi!!" sapa Hana setelah menapakkan kakinya di lantai bawah. Hana memilih untuk makan pagi, dia mencoba mengalihkan perhatiannya ke hal lain. Berharap dia bisa melupakan sebuah fakta memalukan yang baru dia ketahui.


"Selamat pagi tuan putri ayah! Bagaimana tidurnya?" balas Lexon yang duduk di ruang tamu dengan ponsel di tangannya tapi masih menyadari kedatangan Hana.


"Nyenyak Yah! Karena begitu nyenyak, Hana sampai terlalu banyak bermimpi" jawab Hana dengan nada sedikit menurun di akhir ucapannya.


Lexon hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan putrinya meskipun sebenarnya dia tidak terlalu memahami arti ucapan Hana mengarah kemana.


"Wah!! Tuan putri yang terhormat sudah bangun?" ledek Remon berlalu melewati Hana ke arah Lexon dengan segelas teh di tangannya.


"Iya dungs!! Tuan putri itu harus bangun tepat waktu, gak boleh kesiangan nanti kecantikannya kurang" puji Hana ke dirinya sendiri.


"Tuan putri kita memang sangat memperhatikan waktu ya!! Lihat jam berapa sekarang? status tuan putrimu di cabut sayang!!" kata Safira yang muncul dari dapur dengan sepiring roti di tangannya untuk Lexon dan Remon.


"Apa sih ma? Ini kan masih dini, enak aja main cabut status tuan putrinya. Lihat ini masih jam...." seketika Hana menganga dengan tangan menutup mulutnya agar tidak bersuara kencang.


"What?? Gue memang sudah gila!!! Hariku sangat sial!!" kesal Hana mengutuki diri sendiri.


"Bukan hari ini saja tuan putri!! Sedari tadi malam tuan putri juga sudah gila. Lihat tangan kakakmu jadi harus di topang karena ulahmu!!" kata Safira keras membuat Hana bingung.


"Apa hubungannya sama Hana? Hana kan gak banting kak Remon, enak saja nyalahin" elak Hana tidak mau disalahkan. Hana duduk di samping Lexon dan menggandeng lengannya. "Yah!! apa coba salah Hana?? Mama pilih kasih deh!" adu Hana mencoba mencari teman sepihak.

__ADS_1


"Awas ayah belain!! Nanti malam tidur di sofa!!" ancam Safira membuat nyali Lexon menciut. Dia hanya bisa tersenyum sebagai permintaan maaf kepada putrinya.


"Huhh!!! Mama buat mantra apa sih sampai buat kak Remon sama Ayah tunduk sama mama?" tanya Hana kesal lalu melepas ayahnya. Hana gagal total mencari teman sepihak.


"Rahasia!! Anak kecil pengen tahu aja!!" jawab Safira menolak untuk menjawab pertanyaan putrinya. "Sana pijitin tangan kakakmu!! Tanggung jawab kamu! Jangan nonton bioskop jika akhirnya tertidur, merepotin orang saja!" tambah Safira dengan memberi sedikit tatapan tajam pada Hana.


"Yah!! Tolongin Hana dong!! Ayah tega lihat putri ayah di siksa?" adu Hana dengan nada memohon. Ayahnya hanya membalas dengan ekspresi tidak mampu membantunya.


"Pijit saja sayang! Siapa suruh kamu dan kedua temanmu tertidur di bioskop? Kasihan kakakmu, besok dia harus bekerja" jawab Lexon mencoba menyembunyikan ketidakmampuannya. Lexon hanya bisa mencoba memberi pengertian kepada Hana agar Hana tidak mempersulit dirinya.


"Ayah kejam!!" rengek Hana dan mendekati Remon yang sudah menyerahkan tanggannya ke arah Hana. Remon tersenyum puas.


"Auhhh!! Ma......, Hana pijitnya pelan dong!!" rengek Remon. Dia ingin mengerjai Hana dan ingin mendapat perhatian Safira.


"Dasar manja!! Entah kenapa Melani suka samamu, gak ada menariknya sama sekali!" ejek Hana lalu beranjak menuju dapur untuk mengambil air hangat. Dia yakin ibunya akan marah jika dia meminta bantuan asisten rumah.


"Jangan keterlaluan Remon!! Kasihan adikmu! Kamu keenakan deh, cowo aja lemah" ejek Lexon yang tidak tega melihat putri kesayangannya di kerjai Remon.


"Ayah!!! Putrimu perlu di ajari agar jadi cewe normal! gak aneh!" bukan dijawab Remon, Safira malah menjawab terlebih dahulu.


"Mama lupa ya! Biarpun putriku aneh, dia gadis baik dan mandiri. Ayah yakin dia akan menemukan jodoh yang mengerti dirinya, aku yakin tidak akan lama lagi dia akan datang!" yakin Lexon, dia ingin membela putrinya.


"Terserah ayah deh! Mama pusing jika ayah sudah menyangkutpautkannya dengan jodoh anehnya!" jawab Safira mengalah. Dia tidak mau berdebat lagi dengan Lexon. Safira yakin Lexon tidak akan sanggup melihat putrinya di kerjai Remon.


"Bukan akan datang yah!! Tapi sudah, tinggal pendekatan saja!" jawab Remon asal.

__ADS_1


"Maksudnya apa? Jodohnya sudah terlihat? siapa?" tanya Safira dan Lexon bersamaan. Ucapan Remon adalah kejutan besar.


"Temanku yah! si Max" beritahu Remon. Remon yakin teman dekatnya itu akan jatuh cinta dengan ke anehan adiknya, Hana.


"Enak saja asal menjodohkan putri ayah!!" tolak Lexon tidak terima putrinya asal di jodohkan. Mengingat dia masih ada perjanjian dengan teman kuliahnya si pria blasteran.


"Gak apa apa kok yah! Mama setuju kok. Max baik, tampan! Tapi kasihan Maxim, dia pasti akan tersiksa dengan kelakuan aneh putrimu" kata Safira yang justru merasa kasihan pada Maxim bukan kasihan putrinya.


"Lihat saja yah! Maxim pasti akan jatuh cinta dengan Hana. Tapi sayang yah, Maxim belum tahu status Hana yang sebenarnya. Dia hanya tahu Hana putri kepala asisten kita yang sudah mama anggap sebagai putri mama. Hana gak mau ngasih tahu yang sebenarnya. Aku hanya bisa menghormati keputusannya" beritahu Remon kepada kedua orang tuanya.


"Kenapa begitu? Ayah gak setuju, ayah gak mau putri ayah di remehin" Lexon lagi lagi tidak setuju dengan ucapan Remon.


"Yah!! Jangan egois! Mama yakin kok sama putri mama, dia pasti bisa mengatasi masalahnya sendiri. Kita sebagai orang tua hanya perlu mendukungnya dari belakang. Suatu saat nanti jika dia terjatuh, kita akan selalu ada membantunya berdiri kembali. Jadi kita harus menghargai keputusannya. Bukankah selama ini juga seperti itu? Tapi lihat, sampai sekarang dia baik baik saja kok! Jadi mama percaya dengan Hana, jangan kawatir" Safira mencoba menasihati suaminya.


Safira tahu, suaminya bukan egois. Lexon hanya terlalu menyayangi putrinya. Tetapi Safira tahu, putrinya adalah tipikal gadis mandiri. Jadi putrinya pasti bisa berdiri sendiri. Dia yakin kemampuan putrinya.


"Ayah hanya kawatir dia akan terluka mah! Ayah kawatir dia akan sakit hati" Lexon mencoba memberitahu isi hatinya.


"Tenang saja yah! Remon juga yakin dengan Hana. Dia gadis yang kuat kok. Hana hanya ingin mencoba menjadi gadis dewasa kok pah, dia ingin menjadi gadis yang kuat. Gadis yang jika suatu saat nanti kita terjatuh dia bisa menolong kita pah! Jadi papa harus percaya kemampuan Putri tercinta ayah. Tenang saja, Aku juga akan mengawasi adikku kok!" Remon juga ikut membantu Safira untuk menenangkan Lexon.


"Kenapa pada masang muka sedih sih? Apa ada masalah? Jangan sedih! kan kucing yang sakit di televisi, bukan kucing kita! Lagian kita gak punya kucing kok" Hana tiba tiba muncul dari dapur dengan semangkok air hangat untuk mengompres tangan Remon.


"Ayah terlalu manja!! Nonton televisi aja menangis! Gak seru!!" Remon tidak menyia nyiakan peluang untuk mengejek Lexon. Remon juga sedang berusaha mengalihkan topik perbincangan mereka. Dia tidak ingin Hana tahu apa yang mereka bicarakan. Biarlah Hana menjadi gadis polos, gadis yang akan bersikap sesuai keinginannya.


"Yaelah ayah, kok nangis! udah ah... Hana matiin saja televisinya jika buat ayah menangis. Mama juga udah mulai ikut ikutan" Hana langsung meraih remote dan mematikan siaran televisi. "Selesai!! Masalah selesai" kata Hana bangga.

__ADS_1


__ADS_2