
Ting!!! suara pesan yang datang dari ponsel Hana. Hana segera membuka ponsel, mencari tahu siapa yang mengirim pesan. Hana menebak pesan itu dari sahabatnya yang akan berkunjung ke rumahnya. Benar saja, pesan itu dari grup mereka. Rena dan Melani sedang diperjalanan ke rumahnya.
"Kalian ke rumah jangan berisik ya! Nanti langsung masuk kamarku saja. Ada tamu di rumah, tamu kak Remon!" pesan suara Hana terkirim. Hana sengaja tidak memberitahu siapa yang menjadi tamu Remon. Hana yakin kedua sahabatnya akan bertingkah heboh. Apalagi mengingat Hana belum memberitahu kedua sahabatnya tentang statusnya saat ini di mata Maxim.
Kedua sahabat Hana membalas pesan dengan emotikon tangan "oke" dan pesan mereka terhenti disitu. "Bi! Nanti Rena sama Melani datang ke rumah, udah di jalan. Nanti mereka langsung suruh ke kamarku aja ya bi! Takut nanti rahasiaku terbongkar sama pria menyebalkan itu. Dua orang itu belum kuberitahu. Nanti antarkan sekalian cemilan sore ya bi! Terima kasih!" setelah ucapan terima kasih itu keluar dari mulut Hana, Hana berlari ke kamarnya.
Hana berharap kedua sahabatnya tidak bertemu Maxim. Hana sesekali mengintip ke arah ruang kerja Remon, berharap Maxim dan Remon belum keluar dari sana sebelum Rena dan Melani tiba di kamarnya. "Mereka bekerja atau bergosip sih?" tanya Hana ke diri sendiri. Dia sedari tadi mendengar tawa dari ruang kerja Remon.
"Di luar sok dingin! Tiba di rumah, gayanya udah melebihi mama mama di perkumpulan arisan!" tambah Hana kesal karena tidak suka mendengar suara tawa dari ruangan ketiga setelah kamar Remon.
"Sesekali saya berpikir bro, menikah itu menyenangkan apa bukan? Gue takut istri gue ngindamnya aneh! Ngidam minta mobil atau beli tas sih masih oke oke! Tapi coba bayangkan jika istri gue ngidamnya gue harus makan durian, jengkol sama pete? Hilang sudah harga diriku!" kata Maxim membuat Remon seketika tertawa terbahak bahak.
Remon tidak menyangka pikiran Maxim akan sampai kesana. "Pantas saja loh masih single sampai sekarang bro!" ejek Remon dan kembali tertawa. Dia benar benar puas tertawa sambil mengejek Maxim.
"Gak sadar diri loh!" balas Maxim, membuat Remon seketika terdiam. Maxim kini mengganti posisi Remon untuk tertawa. Maxim tertawa puas karena berhasil memutar balikkan keadaan.
Kedua pria itu bukan lagi membicarakan bisnis. Mereka memang sudah seperti perkumpulan ibu ibu di arisan. Tebakan Hana benar. Maxim dan Remon bergantian memberi humoris dan juga ledekan ke sesama mereka. Itulah mengapa Hana selalu mendengar suara tawa dari ruang kerja Remon.
Tok....tok....tok... terdengar ketukan dari luar tepat di pintu kamar Hana. Hana yang awalnya berbaring kini sudah berdiri dan berjalan membukakan pintu. "Selamat datang di dunia privasiku!" sambutan Hana untuk kedua sahabanya.
__ADS_1
Rena dan Melani segera berlari ke kasur Hana. Mereka tidak lagi peduli pada Hana yang tengah sibuk menerima cemilan dari kepala pelayan. Rena dan Melani seakan akan sedang menikmati liburan di villa.
"Kalian sahabat gue atau bukan sih? Seharusnya loh berdua itu peluk gue saat sudah tiba di kamar dan berkata "Aku merindukanmu beb!" kata Hana mempraktekkan.
"Cup cup cup! Jangan menangis sayang! Kita berdua minta maaf ya! Tapi kita gak ada niat untuk lupahin loh kok!" Kata Melani dan memberi tatapan yang begitu lembut dan gaya imut ke Hana.
"Oekkk!! Gaya imut itu udah basi. Ganti!" jawab Hana sembari tersenyum. Dia tidak benar benar marah pada kedua sahabatnya. Dia hanya sedang bercanda.
"Oh iya Han, siapa tamu kak Remon? Apa dia wanita?" tanya Melani penasaran. Dia tidak mau Remon berduaan di ruang kerja.
"Gak kok! dia pria menyebalkan! Kalian berdua sudah pernah bertemu kok!" jelas Hana mencoba membuat kedua sahabatnya menebak.
"Heheh!! sorry! gue lupa otak teman gue gak mirip Albert Enstein" ledek Hana tapi tidak membuat Rena sakit hati.
"Tamunya Maxim, pria yang menjadi tamu di kuliah tambahan kemarin. Teman kak Remon!" Jelas Hana. Hana juga segera bercerita tentang pertemuan awalnya dengan Maxim hingga sampai kejadian hari ini. Hana sedang memberi hiburan pada kedua sahabatnya. Kesengsaraan Hana menjadi hiburan untuk kedua sahabatnya.
"Loh memang gadis aneh Han! Orang pasti lomba lomba menjadi orang kaya, lah loh! Masa iya loh bilang jadi anak seorang kepala pembantu sih! Yang normal aja Hana sayang! Jangan mempersulit dirimu sendiri!" kata Rena memberi peringatan.
"Yah mau gimana! Gue itu mau cari orang yang benar benar tulus sama gue! Bukan cinta di mulut saja dan juga cinta karena tahu statusku saja! Jadi kalian berdoa harus membantuku dalam penyamaranku!"
__ADS_1
Rena dan Melani mengangguk pertanda dia mau membantu Hana. "Tapi loh harus bantuin gue juga untuk semakin dekat dengan kak Remon" kata Melani kepada Hana, dia pintar mengambil peluang disaat musuhnya lemah.
Hana mengangguk, syarat dari Melani tidak terlalu sulit untuk dia jalankan. Mengingat Remon juga sudah menaruh rasa pada Melani. Jadi Hana yakin dia mampu mewujudkan keinginan Melani. Ketiga gadis itu mulai lupa dengan tujuan awal mereka berkumpul di rumah Hana. Mereka sudah mengikuti jejak Remon dan Maxim. Menciptakan grup arisan baru di rumah keluarga Sunitra.
Beruntung Maxim dan Remon sudah mengakhiri kegiatan mereka. Jika tidak, mungkin suara tawa akan penuh di rumah Hana. Otak Hana mulai bertraveling membayangkan seisi rumahnya penuh dengan suara orang tertawa. Rumah seakan akan berubah berubah menjadi tempat syuting adegan horor.
"Dimana gadis itu? Bukankah seharusnya dia di dapur? aku tidak melihatnya!" kata Maxim yang baru keluar dari dapur karena merasa haus.
"Kenapa? Apa kau penasaran dengannya sekarang? Apa sekarang kau sudah bosan menyendiri? Hahahahaha......." ledek Remon membuat Maxim segera mengelak.
"Gue masih betah menyendiri bro!! Loh gila ya! Gue hanya heran saja sama keluarga Sunitra yang memiliki rasa kasih sayang yang tinggi hingga menganggap anak pembantu seperti putri sendiri!" jawab Maxim masih menganggap rendah Hana.
"Hati-hati bro!! Jaga hatimu, jangan sampai kau terkena karma karena terlalu merendahkan pembantu! Gue rasa ibu loh juga menghargai pembantu, gue ingat saat ke rumah loh! Kok bisa beda sih loh? Kamu yakin anak mereka?" pertanyaan yang membuat Maxim memukul lengan Remon.
"Gila loh! Sudahlah, gue pulang! Ada urusan di rumah!" Maxim undur diri untuk pulang. Jika semakin lama di rumah Sunitra, dia akan di ledek habis habisan oleh Remon. Lebih baik menyelamatkan diri.
Saat akan melangkahkan kaki keluar rumah Sunitra, Maxim sekilas mendengar suara tawa gadis dari kamar atas. Suara itu tidak suara 1 gadis saja, itu beberapa gadis. Faktanya itu suara Hana dan kedua sahabatnya. Maxim menuju halaman dan sekilas melihat ke garasi yang terbuka, Maxim melihat motor kawasaki yang di pakai Hana.
"Mereka memang menganggapnya seperti putri, dan gadis itu juga sudah merasa seperti tuan putri saja!" gumam Maxim dan menginjak gas meninggalkan kediaman Sunitra. "Untuk apa aku peduli dengan keluarga mereka hanya karena gadis aneh itu!" lagi lagi Maxim bergumam sendiri selama di perjalanan menuju apartemennya.
__ADS_1
Dia lagi lagi teringat dengan niat gadis itu yang ingin mengerjainya. Untung dia cepat tanggap. Jika tidak, maka Hana akan menang di pertempuran mereka.