
Hana sama sekali tidak mengganggu Maxim selama 2 jam lebih sampai tiba waktunya makan siang. "Pak! Sudah jam makan siang, silahkan menikmati makan siangnya!" titah hana dari tempat duduknya tanpa mendekati Maxim. Hana memode sleepkan komputernya lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Pak! Saya mau ke kantin, ada makanan atau minuman yang bapak perlukan??" tanya Hana sembari berjalan ke arah Maxim.
"Tidak!! Kau pergi saja, nikmati makan siangmu!" usir Maxim sebelum Hana semakin mendekat.
Entah mengapa, mencium aroma parfum Hana saja sudah membuat jantungnya berdetak tak karuan. Ada rasa aneh dalam dirinya yang tidak bisa di jelaskan. Apalagi mengingat pakaian Hana hari ini, sungguh membuat Maxim tidak bisa berkutik. Maxim lebih memilih menjauh dari Hana selama satu hari penuh.
"Baiklah pak! Saya keluar dulu, silahkan menikmati makan siang anda!" pamit Hana.
"Tungg!!" panggil Maxim menghentikan langkah Hana. "Gunakan ini!!" melemparkan jas ke arah Hana. Hana dengan sigap menangkapnya sebelum terjatuh ke lantai.
"Tidak perlu pak, saya tidak kedinginan!" kata Hana mencoba menolak dengan lembut. Aneh rasanya jika dia menggunakan pakaian bosnya, Hana bisa menebak semua mata akan memandang ke arahnya.
"Pakai saja!! Jangan membantah!" kata Maxim membuat Hana menurut. Hana menggunakan jas Maxim, pakaian itu lumayan besar di tubuh Hana. Hana tidak mempermasalahkannya, dia tetap menggunakannya karena mata Maxim menatapnya tajam.
Setelah Hana keluar, Maxim tersenyum lebar. Dia sangat lucu melihat Hana dalam balutan jasnya yang besar. Seperti anak kecil dengan pakaian yang besar. "Imutnya!!" gumamnya pelan.
"Aku memang menyukainya, dia pergi sebentar saja rasanya aku sudah rindu melihatnya!" gumam Maxim merasa malu dengan ucapannya sendiri.
Maxim lalu beranjak dari tempat duduknya, hendak ke ruangan Raka. Saat ingin membuka pintu, Raka sudah terlebih dahulu membuka pintu ruangannya. Pintu itu bahkan mengenai kepala Maxim.
"Raka!!!!!!" teriak Maxim kesal.
Raka terkejut dan segera melihat kondisi bosnya. Dahi Maxim kini memerah. Raka berlari ke arah meja Hana, mengambil kotak P3K dan mengobati dahi Maxim dengan obat merah, tidak lupa menempelkan plester biru di dahinya. "Maaf bos!!" kata Raka pelan.
"Huffttt gak sekretaris, gak asisten! Sama sama menyusahkan!" kesal Maxim dan segera beranjak dari duduknya.
"Ayo ke kantin!" ajak Maxim setelah melontarkan kekekasalannya dengan kata kata.
"Kita tidak keluar bos?" tanya Raka, tidak biasanya Maxim makan siang di kantin perusahaan.
"Tidak! Kita sekalian memeriksa kondisi makanan kantin. Aku tidak mau kesehatan karyawanku terganggu" jawab Maxim mencoba menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1
"Baik bos! Silahkan!" Raka mempersilahkan Maxim berjalan terlebih dahulu, kemudian menyusul dari belakang.
Raka memperhatikan seluruh karyawan yang sedang makan siang di kantin. Sebagian karyawan merasa terganggu dengan ke datangan Maxim dan Raka.
"Nikmati makan siang kalian! Abaikan kami!" kata Raka tegas, dia tahu ketidaknyamanan yang dialami karyawannya.
"Bos!! Bukankah itu jasmu? Kenapa ada pada nona Hana?" tanya Raka penasaran. Mata tertuju ke arah Hana yang sedang fokus menikmati makan siangnya. Banyak makanan di meja Hana. Hana duduk bersama karyawan senior yang dulu sering dia ajak mengobrol saat pertama kali masuk magang.
"Mmm" jawab Maxim singkat melirik ke arah Hana.
"Kenapa dia memakainya bos? Bukankah itu akan membuat karyawan lain membencinya?" kata Raka mencoba memberi pengertian ke Maxim.
"Kau akan mengerti saat kau nanti ke ruanganku" jawab Maxim tidak memberi jawaban pasti.
Raka hanya mengangguk. Sedangkan Maxim, dia sangat tidak suka melihat tatapan karyawan pria mengarah ke Hana. "Bos! Sepertinya nona Hana agak berbeda hari ini!" kata Raka sedikit sadar dengan penampilan Hana.
"Diamlah!! Lepaskan jasmu!" jawab Maxim dan melepas paksa jas Raka yang masih tampak bingung dengan permintaannya.
Maxim tidak menjawab, dia malah sudah di tinggal Maxim. Maxim berjalan ke arah Hana. Semua mata karyawan menatap ke arah Hana. Hana yang fokus dengan makananannya tidak menyadari kedatangan Maxim. Dia tersadar saat Maxim mengenakan jas Raka ke kakinya.
"Gunakan ini!!" kata Maxim tegas. "Mulai besok, kau dilarang menggunaka rok. Pakailah celana!" Titah Maxim. Senior di depan Hana melihat kedua orang yang sedang saling menatap. "Pak sebaiknya saya pindah meja!" kata karyawan senior lembut dan meninggalkan meja.
"Kenapa saya harus pakai celana pak? Lihat karyawam lain juga semua pakai rok!" tolak Hana tidak terima dengan aturan Maxim.
"Tidak aturan untuk mereka, mereka bebas menggunakan apapun asalkan masih memenuhi aturan berpakaian yang rapi. Tetapi aturan untukmu berbeda, mulai besok gunakan celana. Jangan pernah menggunakan rok ke kantor. Jangan membantah atau nilai magangmu akan..."
"Baik bos!! Saya mengerti!" Jawab Hana cepat tanpa menunggu Maxim menyelesaikan ucapannya. Jika sudah menyangkut nilai magang, Hana akan menjadi gadis penurut.
"Bos!! Tolong pergilah dari sini! Aku merasa semua karyawan wanita menatapku tajam!!" bisik Hana ke Maxim. Maxim menatap sekeliling, benar saja apa yang dikatakan Hana.
'Habislah aku!!' batin Hana kesal. Dia kesal sekaligus marah ke Maxim. Perbuatan Maxim membuat Hana banyak musuh. Hana yang awalnya tidak memiliki lawan di perusahaan Maxim, kini Hana memiliki lawan.
Maxim dan Raka sudah meninggalkan kantin. Hana segera menghabiskan makanannya. Hana beranjak dari tempat duduknya, menggantung jas Raka di lengannya. Hana berjalan ke arah meja tempat menyimpan piring kotor.
__ADS_1
Brukkk..... Hana terjatuh, pakaiannya kini kotor karena terkena tumpahan sisa makanan dari piringanya. "Auhh!!" ringis Hana pelan.
Hana beranjak berdiri dan menatap ke arah karyawan wanita yang di sampingnya. Hana memperkirakan umurnya hanya satu tahun lebih tua dari Hana.
"Maaf dek, kakak tidal tahu kamu lewat! Lain kali perhatikan langkahmu saat berjalan!" kata karyawan itu merasa tidak bersalah.
Hana hanya menarik nafas dalam. Jika bukan sedang di perusahaan dan dirinya tidak sedang magang, mungkin Hana sudah membanting kepala karyawan itu dengan piringnya. Tetapi Hana berusaha menahan amarahnya. Hana berusaha tersenyum.
"Tidak apa apa kak! Mungkin saya juga tidak memperhatikan langkahku! Sini kak, aku bersihkan sepatumu. Sepatumu jadi kotor!" Jawab Hana memasang wajah ramahnya.
Karyawan itu dengan tidak tahu malu menyodorkan sepatunya. Dia sangat bangga saat Hana membersihkan sepatu ketsnya. Dia melihat Hana dengan gaya merendahkan. Dia tersenyum bangga.
"Sudah kak! Maaf ya kak! Sekali lagi Hana minta maaf!" kata Hana meminta maaf untuk kedua kalinya.
"Tidak apa apa!! Aku memaafkanmu! Pergilah!" jawab karyawan memandang Hana. Berusaha memasang wajah ramah.
Hana sudah meninggalkan kantin, dia tidak langsung ke ruangannya. Dia pergi ke toilet membersihkan kotoran yang mengenai pakaiannya. Pakaian Maxim juga ikut terkena, tetapi tidak terlihat karena berwarna hitam. Berbeda dengan pakaian Hana, dia memakai atasan berwarna putih. Hana akhirnya memakai jas Maxim, mengancingnya dengan rapi.
Hanya itu satu satu cara agar pakaian kotor Hana tertutupi. Hana menatap dirinya di kaca, tersenyum tipis dan keluar meninggalkan toilet.
Di kantin, kehebohan terjadi. Seorang karyawan jatuh saat beranjak dari tempat duduknya. Siapa lagi jika bukan karyawan yang membuat Hana terjatuh. Hana tidak bisa melepaskannya begitu saja. Saat membersihkan sepatunya, Hana mengikat kedua tali sepatu membuat karyawan itu terjatuh saat hendak melangkahkan kakinya.
"HANA!!!!!!" teriak karyawan itu, dia berusaha menutupi wajahnya karena malu.
Hacim....hacim.... Hana bersin saat duduk di tempat duduknya. Hana yakin karyawan itu sedang memakinya.
Hana melangkah mendekati Maxim membuat jantung Maxim berdekat lebih cepat. Tetapi Maxim berusaha menyembunyikannya. Dia berusaha mengendalikan detak jantungnya. "Pak! Jasnya besok saya kembalikan! Sudah kotor, saya harus mencucinya terlebih dahulu!" kata Hana dengan suara lembutnya.
"Mm" jawab Maxim tanpa menoleh. Hana hendak kembali ke tempat duduknya, tetapi dia urungkan. "Pak! Apa saya bisa pulang lebih awal? Saya ada urusan mendesak" tambah Hana mencoba membujuk Maxim.
Hana merasa tubuhnya sangat lengket karena tumpahan minyak makanan. Hana ingin segera mandi. Dia tidak akan bisa bekerja fokus jika tubunnya merasa kotor.
"Baiklah!! Berhati hati saat di perjalanan!" jawab Maxim ramah. Mungkin dengan begitu dia tidak akan terlaku dekat dengan Hana selama satu hari ini. Maxim berharap besok tidak akan terjadi hal yang sama. Mungkin hanya hari ini jantungnya berdetak tidak karuan, Maxim yakin besok dia akan kembali normal.
__ADS_1