STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
MENANG


__ADS_3

Hana kini sudah berada di departemennya setelah mengantarkan kopi Sandra. Dia masih sangat kesal dengan perlakuan Sandra. Terlihat dari ekspresi wajahnya yang kusut.


"Kamu kenapa? Muka kok seperti kain kusut gitu?Terus kenapa lama?" tanya karyawan senior di samping kursi Hana.


"Bu Sandra suruh aku beli kopi!" jawab Hana sedikit ketus.


"Kenapa nyuruh kamu??? Kamu ada OB?" tanya karyawan senior kebingungan.


"Memangnya dia tidak pernah menyuruh kalian??" tanya Hana penasaran.


"Tidak!! Karena itu tugas OB, karyawan sibuk dengan pekerjaan menumpuk. Jadi dia tidak bisa menyuruh nyuruh!" jawab Karyawan senior jujur.


"What???? Jadi,......" Hana menghentikan ucapannya tidak mau mengumpat.


"Aku juga bingung kenapa dia menyuruhmu!! Mungkin OB sibuk?? Atau mungkin dia sudah tahu kisah di lif??" tebak karyawan senior penasaran.


"Mungkin saja!" jawab Hana berbohong. Sebenarnya Hana tahu apa penyebab Sandra mengerjainya. Kejadian di lif tidak bisa di kategorikan karena memang Sandra tidak tahu bahwa wanita di lif ada dirinya.


"Kamu harua kuat, penderitaanmu dimulai. Aku ingat pernah kejadian sekali seperti ini. Apa kau tahu? Gadis itu akhirnya memilih resign" kata karyawan senior yang mengingat kejadian lalu.


"Waoooo... Ternyata dia semena mena!" batin Hana.


Setelah mengobrol panjang, Hana kembali fokus dengan pekerjaannya yang tertunda. Meskipun sedang kesal, Hana tidak mau suasana hatinya mempengaruhi pekerjaannya.


"Aku pulang!!!!" ucapan salam Hana sembari masuk ke rumah.


"Itu muka kenapa kusut lagi?? Apa tidak ada harimu yang menyenangkan? Sejak kau pindah wajahmu tidak pernah ceria!" jawab Melani menyambut Hana.


"Apa sebelumnya juga seperti ini?" tanya Safira. Baru kali ini dia di rumah melihat kedatangan Hana.


"Iya moms!! hari sebelumnya juga sama" jawab Melani jujur.


Hana kini menggeleng gelengkan tubuhnya di sofa karena masih kesal. Sesekali dia menjambak rambutnya karena dia tidak bisa melawan Sandra sekarang. Belum waktunya dia melawan, karena itu masih terlalu awal.


"Apa ada orang yang menindasmu?? Atau pekerjaanmu banyak?" tanya Safira penasaran.


"Tidak kok ma!! Gak apa apa! Aku bisa mengatasinya" jawab Hana berbohong.


"Baiklah!! Mama tidak akan ikut campur. Mama yakin denganmu!!"


Melani mendekat ke Hana, penasaran dengan cerita hari ini. Dengan tatapan mata saja, kedua gadis itu sudah saling memahami.


"Nanti saja di kamar. Mama masih disini" bisik Hana pelan. Melani hanya mengangguk setuju.


"Oh iya Rena juga akan kesini! Dia sudha mengabariku" kata Melani memberitahu.


"Aduhhhhh.....kepala mama bisa pusing kalau kalau kalian bertiga sudah bertemu. Lebih baik mama pergi shopping!!" Safira langsung mengeluhkan kegilaan ketiga bersahabat.


"Mama shopping sama siapa? Sendiri?? Gak bosan?" tanya Hana.

__ADS_1


"Enak saja!! Untuk apa suamiku? Mau dianggurin gitu?? Makanya sana nikah biar ada ngawani" ledek Safira dan bergegas ke kamar bersiap.


"Isshhh..... nikah juga gak bisa, papa belum ada ciri ciri merestui. Oh iya sekarang akhir pekan kan?? Berarti Maxim kesini!! Aku sangat merindukannya. Aku belum puas jika hanya melihat wajahnya dari ponsel" jujur Hana. Wajahnya seketika cerah setelah mengingat Maxim.


"Dasar bucin!!" ledek Melani.


"Suka gue dong!! Kan sama pacar sendiri!! Gak sadar diri loh!" jawab Hana juga meledek Melani yang juga sama dengan dirinya.


"Heheh....." Melani hanya cengingisan menyadari diri sendiri.


"Eh.... My husband udah pulang, gue tinggal ya!!! bye...." melani seketika meluncur ke arah garasi setelah mendengar suara mobil yang sudah sangat dia hafal.


"Peluk!!!!" manja Melani meminta pelukan Remon setelah turun dari mobil.


Remon hanya menggeleng lucu dengan istrinya. Dia memeluk Melani. Mendapat pelukan, Melani dengan gerakan kilat melompat dan menggantung seperti koala di tubuh Remon.


"Hm...hm...hm......, masih ada orang bro!!!" suara Maxim yang keluar dari mobil Remon.


"Sorry bro!!! Gue kalau sudah sama istri bisa lupa segalanya!!" jawab Remon dan berlalu meninggalkan Maxim yang mematung karena melihat adegan romantis Remon.


"Sabar kak!! Gue sudah biasa!!" kata Rena yang juga sudah tiba setelah mobil Remon masuk garasi. Dia juga segera masuk mengikuti Remon dan Melani meninggalkan Maxim.


"Pacar loh di luar!!!" kata Melani yang masih berada di gendongan Remon.


Mendengar pacarnya diluar, Hana seakan akan teleportasi dari ruang tamu ke garasi.


"Honey!!!!!! Aku merindukanmu!!!! Lihat kakakmu, dia pamer istri!!! Kita kapan??" manja Maxim dan berjalan cepat memeluk Hana.


"Auhh...... Sakit sakit!!!" rintih Maxim yang mendaoat cubitan di perut.


"Kenapa di cubit? Apalagi kesalahanku?" tanya Maxim masih merasakan sakit di perutnya.


"Darimana saja kamu hah???? Sudah lupa ya punya pacar?? Masa iya cuman video call kenapa gak jumpain???" Hana merepet.Dia menunjukkan wajah kesalnya.


"Maaf honey!! Aku juga rindu pengen jumpa, tapi itu kakakmu selalu saja mengajakku sibuk dengan projek baru kami" adu Maxim. Dia justru menyalahkan Remon.


"Berarti itu lebih penting dariku!! Malah melempar kesalahan lagi" tambah Hana masih tidak mau kalah. Dia menyilangkan tangannya di depan dada menatap Maxim tajam.


"Sorry honey!!! Gak akan ulang lagi, janji deh!!!" Maxim berusaha membujuk Hana yang sudah merajuk.


"Sudahlah!!! Aku akan memaafkanmu kalau kau bisa mengalahkan ayah bermain catur" tantang Hana.


"What??? Gak apa apa kalau aku mengalahkannya??" tanya Maxim memastikan.


"Dengarkan saja ucapanku, ayo masuk!! Ayah sama mama mungkin pulang agak malam, gak apa apa kan?" tanya Hana.


"It's okey" jawab Maxim singkat dan langsung menggandeng Hana masuk ke rumah.


"Kenapa numpang ke mobil kakak?" tanya Hana penasaran karena tidak melihat Maxim datang dengan mobilnya.

__ADS_1


"Malas nyetir!! Mobil aku titip ke sekretaris Raka" jawab Maxim jujur.


"Oh!!!" balasan singkat dari Hana.


Maxim hanya membelai lembut rambut Hana. Cuek tapi perhatian, itulah sifat pacarnya. Sembari menunggu kedatangan Lexon dan Safira, Kedua pasangan itu memilih bermain game dengan membagi anggota menjadi dua regu. Sedangkan Rena memilih menjadi penonton. Dia tidak mau mengganggu kesenangan dua pasangan yang sedang kasmaran.


"Kalian menikmati permainannya?" kejut Safira yang sudah tiba di rumah. Dia menyerahkan tas belanjaan ke asisten rumah.


"Mama sih lama!! Kan kasihan kak Maxim kelamaan pulang nanti!" rengek Hana.


"Sorry!!! Mama lupa kalau mau tanding, itu papa sudah datang kok" jawab Safira santai sambil menunjuk suaminya yang sudah menyusul.


"Papa sangat bersemangat!!! Kalian berdua yakin bisa mengalahkanku? Aku ahli bermain catur!" bangga Lexon dan segera menggulung lengan bajunya agar tidak mengganggu aktivitasnya.


"Kita tidak akan tahu hasilnya jika tidak dicoba!! Ayah jangan bangga dulu dong!!" balas Remon.


Permain babak pertama dimulai dari ayah dan anak, yaitu Lexon dan remon. Sesuai ucapan Lexon tentang keahliannya, Remon kini kalah.


"Max!!! Ingat, jangan kalah!!" bisik Hana.


Maxim membalas dengan senyuman. Dia mulai permainan. Lexon mulai beraksi, dia sangat bersemangat mengambil pion dan pengawal raja. Hana menatap Maxim tidak terlihat panik, Maxim justru terlihat santai.


"Skak!!!" Kata Maxim yang sudah mengakhiri permainan.


"Apa??? Apa sudah berakhir??" tanya Lexon terkejut.


"Sudah om!! Rajamu ada padaku!!" jawab Maxim menunjukkan caturnya.


"Waoooooo......" semua orang terkagum kecuali Remon.


Remon sudah tahu sejak awal kalau Maxim akan menang. Dia sudah mengenal Maxim lama, dia adalah pemain catur dunia.


"Hahahahaha.......ayah kalah!!!" ledek Hana dan langsung memeluk Maxim.


Lexon masih menatap papan catur, mengingat kembali bagaimana Maxim melangkah hingga tiba di tempat rajanya.


"Permainanmu sangat bagus!!! Lain kali aku akan melawanmu lagi, aku tidak akan kalah saat itu" kata Lexon tidak mau kalah.


"Saya dengan senang hati menunggu undanganmu om" jawab Maxim sopan.


"Apa karena ini kau menyuruhku menang?" bisik Maxim ke Hana yang duduk di sampingnya.


"Mmm...ayah gak akan terima kalah, jadi dia akan lebih sering bertemu denganmu. Kamu tahu kan apa yang kumaksud?" tanya Hana setelah menjelaskan niat awalnya.


"Apa mengerti, thank you honey!!" jawab Maxim dan mencium pipi Hana sekilas. Dia menciumnya setelah melihat perhatian orang masih tertuju ke papan catur.


Hana hanya tersenyum lucu. Mereka berdua seperti pencuri.bergerak dalam diam.


"Besok aku akan mengantarmu bekerja, bisa kan??" kata Maxim mengajukan niatnya.

__ADS_1


"Mm.... Tapi kita harus datang lebih awal, aku tidak mau orang lain melihat. Apalagi kalau melihat wajahmu, wah..... urusannya akan sangat rumit!!" jawab Hana menyetujui.


Maxim mengangguk setuju. Dia sebenarnya tidak ingin bersembunyi, dia sangat ingin mengatakan pada dunia bahwa Tasya Hana Sunitra adalah miliknya seorang. Tetapi Hana masih belum menginginkan. Madim hanya bisa menuruti keinginan Hana. Maxim tidak ingin egois, pria yang hanya peduli dengan keinginannya tidak dengan keinginan gadisnya.


__ADS_2