
Hana sebagai asisten hanya bisa menurut. Dia terlihat tergesa gesa karena mengejar langkah kaki Maxim yang besar. Sesekali dia menatap tajam punggung Maxim. Sesekali mengumpat dalam hati karena langkah Maxim yang begitu besar.
Hana memilih mengikuti langkah Maxim. Sesekali Hana melompat karena langkah Maxim yang terlalu lebar. Maxim bahkan tersadar dengan suara lompatan kaki Hana. Dia sengaja membuat langkah kakinya semakin lebar membuat Hana harus melompat lebih tinggi. Hana sangat menikmati kegiatannya, dia merasa itu bisa menghilangkan kebosanannya.
Bughhh..... "Auh!!!!!" Hana merintih kesakitan karena dahinya menabrak punggu Maxim. "Kalau berhenti buat peringatan pak!!!" tanpa sadar dengan ucapannya, Hana sedikit membentak Maxim yang tiba tiba menghentikan langkah kakinya.
Maxim tidak marah, dia tersenyum dengan wajah kesakitan Hana. Sangat menggemaskan. Ingin rasanya dia mencium pipi Hana yang dia rasa sangat imut. Tetapi Maxim menahan keinginan itu. "Maaf!! Saya tidak punya lampu spion, jadi tidak bisa melihat kebelakang!" jawab Maxim santai, tetapi senyuman diwajahnya tidak bisa dia hilangkan.
"Tapi bapak bisa pasang lampu sen!" Hana masih melawan. Dia mendongakkan kepala memandang wajah Maxim.
Kali ini Maxim benar benar tidak bisa menahan tawa. Maxim langsung tertawa terbahak bahak. "Apa kamu pikir ini mobil biar pakai lampu sen!!? Kamu sangat imut!!" tanpa sadar Maxim mengakuinya. Maxim bahkan mengacak rambut Hana lembut. Hana seketika mematung.
Tawa lepas Maxim yang tidak pernah dia lihat kali ini dia melihatnya. Itu sangat tampan. Wajah Hana kali ini memerah, dia canggung karena ucapan Maxim dan tangan Maxim yang mengacak rambutnya lembut.
"Ya kan bapak sendiri yang mulai, bapak sendiri yang bilang kaca spion. Hanakan hanya lanjutin aja!" jawab Hana sambil tersenyum. Keduanya saling menatap dan akhirnya tertawa bersama.
"Sudah pak tertawanya! Kita mau kemana? Ini sudah hampir waktunya makan siang!" kata Hana mengingatkan.
"Oh iya! Ayo! Sekalian carikan restaurant tempat kita makan siang!" perintah Maxim sambil membukakan pintu untuk Hana.
Lagi lagi Hana termenung sejenak karena perlakuan Maxim. Dia termenung tak juga masuk ke mobil, dia menggaruk kepala karena bingung.
"Kenapa? Cepat masuk! Sebentar lagi jam makan siang!" suruh Maxim yang melihat Hana enggan masuk ke mobil karena dibukakan pintu.
"Ahhh!!! Maaf pak!" Hana segera masuk dan memasang sabuk pengaman. Dia membayangkan Maxim akan memasang sabuk pengamannya. Jadi untuk menghindari itu, Hana segera memasang sabuk pengaman dan membuka tab nya setelah melihat Maxim masuk ke mobil. Hana sengaja melakukan itu karena merasa canggung dengan semua perlakuan Maxim.
Hana tidak pernah berhenti memikirkan tindakan tindakan Maxim akhir akhir ini. "Apa dia sedang latihan?" Hana bahkan berpikir Maxim sedang latihan sebelum dia kencan dengan gadis pujaannya. Hana hanya mengabaikan saja untuk kali ini.
__ADS_1
"Pak! Kita ke restoran ini? Bagaimana pendapatmu pak?" tanya Hana meminta pendapat Maxim.
"Terserahmu saja! Saya ikut kamu!" jawab Maxim santai sambil tersenyum.
"Ahhhhh!!!!!!! Senyumannya!!!! Tolong pak jangan buat aku salah pengertian dengan tingkahmu!! Aku wanita biasa! Bisa jatuh cinta!!!" Hana berteriak keras dalam hati. Dia benar benar bisa jatuh cinta jika Maxim memperlakukannya sangat lembut.
"Hahah!!! Apa bapak yakin dengan pilihanku?" tanya Hana mencoba mengurangi rasa gugupnya.
"Mmmm!!! Sangat!" jawab Maxim lagi santai. Kali ini dia tidak menatap Hana. Dia hanya menatap jalanan ke arah restoran yang Hana rekomendasikan.
"Oh!!!" jawab Hana singkat sambil mengerucutkan bibir. Sesekali Hana mengerutkan kening karena berpikir keras dengan sifat Maxim yang berubah.
"Ini bukan?" tanya Maxim menanyakan restoran yang Hana maksud.
"Iya pak! Aku turun saja pak. Bapak bisa parkir dulu, saya akan memesankan meja untuk kita" Hana menawarkan.
"Baiklah pak!" Hana hanya menurut. Tidak banya bertanya karena dirinya pun tidak akan mampu memikirkan jawaban untuk setiap pertanyaan yang terlintas di otaknya.
Setelah Maxim menarik rem tangan, Hana segera membuka selbet dan membuka pintu cepat. Dia tidak mau Maxim membukakan pintu untuk. Dia bukan seorang putri. Saat ini dirinya hanya seorang asisten Maxim. Dia tidak mau orang lain salah menilai mereka.
Benar saja tebakan Hana. Maxim memang berniat akan membukakan pintu untuk Hana. Tetapi melihat Hana yang sudah turun, dia batal berbuat romantis. Padahal dia berbuat demikian ingin merebut hati gadis itu. Tetapi adegan romantis itu harus terhalang.
"Jangan berjalan di belakangku! Berjalanlah disampingku! Aku tidak mau orang orang beranggapan aneh padaku!" kata Maxim yang tidak ingin Hana berjalan di belakang. Maxim ingin Hana berjalan beriringan dengannya. Bahkan langkah kakinya dia sesuaikan dengan langkah kaki Hana.
"Pak! Kenapa tadi di parkiran langkah kaki bapak sangat panjang? Kenapa sekarang jadi pendek?" tamya Hana hntuk menghilangkan keheningan diantara mereka.
"Saya lapar! Jadi tidak ada tenaga untuk membuat langkah panjang!" jawab Maxim asal. Sebenarnya dia hanya ingin mengimbangi langkah kaki Hana.
__ADS_1
"Ohh!" jawab Hana singkat.
"Selamat datang pak! Mari saya antar!" sambut karyawan restaurant ke Maxim. Karyawan mengarahkan Maxim dan Hana ke ruangan VIP. Ruangan yang sudah Maxim pesan.
Saat di meja, Maxim segera menarik kursi untuk Hana. Mempersilahkan Hana duduk. Hana lagi lagi merasa aneh tetapi dia duduk saja karena tidak mau jadi bahan pandangan karyawan restauran.
Setelah Hana duduk, Maxim duduk di kursi depan Hana. Karyawan restauran menyajikan makanan yang sudah Maxim pesan ke meja. Mulai dari makanan pembuka. Mata Hana berbinar saat melihat dessert dengan cokelat lumer. Itu kesukaan Hana. Hana terlihat menelan air liurnya ingin segera menyantapnya, Maxim bisa melihat itu dengan jelas. Maxim sangat senang Hana menyukainya.
"Terima kasih!" kata Maxim mempersilahkan karyawan agar meninggalkan ruangan itu. Hana melihat lihat karyawan. Hana tidak mau menyantap makanan itu karena di lihat karyawan dan Maxim belum menyantap makanannya.
"Makanlah!" suruh Maxim yang sadar akan kecanggungan Hana.
"Terima kasih pak! Saya tidak akan segan segan!" jawab Hana dengan mata berbinar.
Maxim tersenyum bahagia melihat itu. Dia sangat senang gadis itu bahagia. "Apa kamu sangat menyukai makanan manis?" tanya Maxim penasaran.
"Mmm.... Sangat!" jawab Hana sambil menikmati dessertnya.
"Jangan belepotan!" kata Maxim sambil membersihkan cokelat di samping bibir Hana dan memasukkan sisa cokelat ke mulutnya. "Manis!!" gumam Maxim. Dia tidak sadar tingkahnya membuat jantung gadis di depannya sudah tidak terkendali.
"Kenapa?" tanya Maxim seakan akan tidak bersalah.
"Pak!! Saya penasaran dengan sesuatu, saya sudah berpikir keras untuk mencari jawaban tapi tidak terpecahkan" kata Hana mencoba memberanikan diri.
"Apa? Tanyakan saja!" suruh Maxim.
"Apa bapak sedang latihan sebelum kencan?" tanya Hana.
__ADS_1
Maxim menganga mendengar pertanyaan Hana. Bagaimana mungkin semua perbuatan lembutnya dianggap seperti itu oleh Hana. Apa sebenarnya isi kepala gadis di depannya? Apa Hana sepolos itu? Dia tidak habis pikir dengan Hana. Benar benar gadis aneh.