
Bercerita dengan kedua sahabatnya membuat suasana hati Hana semakin baik. Dia semakin ingin was was dalam bertindak karena mendapat nasihat dari kedua sahabatnya tadi malam.
Hana sibuk merapikan berkas berkas yang dia terima dari para senior untuk diserahkan ke bagian keuangan agar bagian keuangan bisa mencairkan dana untuk produksi bulan ini.
"Kak aku ke bagian keuangan dulu yah!! Aku akan menyerahkan berkas berkas ini!!" pamit Hana ke senior di samping kursinya.
"Mm.... Hati hati!!! Jangan buru buru!! Ingat meminta tanda terima ya!!" kata karyawan senior dan dianggukan Hana menyatakan dia paham.
Hana langsung menuju lif untuk ke lantai atas. Departemennya ada di lantai dua dan bagian keuangan ada di lantai empat. Hana menekan lif, ketika akan masuk di dalam lif sudah ada Indra dan Sandra.
"Sial!!! Lagi lagi ketemu mereka!!" batin Hana.
"Pagi pak!! Pagi bu!!" sapa Hana tapi tidak juga mau melangkah masuk ke lif.
"Mau masuk??" tanya Indra.
"Oh tidak perlu pak! Duluan saja, saya juga tidak terlalu buru buru!! Kebetulan saya juga melupakan sesuatu pak" jawab Hana menolak dengan lembut.
"Pak!!! Kita harus segera berangkat!! Manajer sudah menunggu di ruang rapat!!" Sandra langsung menghentikan Indra yang ingin mengajak Hana masuk.
"Tapi Hana bisa sekalian masuk kan, lagipula hanya beda beberapa lantai saja! Apa barangnya perlu mendesak? Jika tidak masuklah!" jawab Indra masih bersikokoh untuk memaksa Hana masuk.
"Oh tidak perlu pak!! Saya juga butuh olahraga, jadi saya dari tangga saja. Saya pamit!!" kata Hana dan langsung pergi ke arah tangga darurat. Hana juga tidak mau masuk bersama kedua orang itu. Apalagi melihat wajah Sandra, Sandra seakan akan ingin menerkam Hana saat itu juga.
Hana sengaja memperlambat langkahnya, tidak mau bertemu Indra dan Sandra di lantai berikutnya. Setelah merasa yakin kedua orang di lif sudah tidak akan dia temukan di dua lantai menuju bagian keuangan, Hana langsung mempercepat langkahnya.
Hana tiba di lantai bagian keuangan dan disambut ramah oleh Hera. Hana berhenti sejenak untuk menetralkan pernapasannya. Hera hanya menatap Hana bingung, kenapa naik dari tangga sedangkan kantor punya lif? Hana memang sudah memberitahu Hera kalau dia akan ke bagian keuangan.
"Kenapa tidak naik lif?" tanya Hera yang penasaran.
"Ada mak lampir tadi di lif" jawab Hana asal dan dibalas tawa oleh Hera.
"Sudah baikan?? Kalau sudah ayo!!" ajak Hera.
Hera mengantar Hana ke kepala bagian keuangan untuk menyerahkan berkas berkas yang dia bawa dari departemen produksi.
__ADS_1
"Pagi pak!! Kenalkan saya Hana dari departemen produksi. Ini berkas berkas dari departemen produksi. Kami berharap berkasnya segera di proses agar bagian produksi segera melanjutkan pekerjaan yang tertunda!" kata Hana meminta dengan ramah.
"Baiklah!!! Kepala kalian juga sudah menghubungiku. Kami akan segera mengurusnya!!" Jawab kepala departemen keuangan.
"Kalau begitu apa saya bisa menerima tanda terima pak?" tanya Hana lagi lembut.
"Oh tentu saja!!" kepala departemen langsung mengode sekretaris yang baru saja datang ke ruangannya.
"Minta dari sekretarisku!" suruhnya mengarahkan Hana agar meminta dari sekretarisnya.
Hana mengangguk dan segera pamit undur diri mengikuti langkah sekretaris. Setelah menerima surat tanda terima Hana pamit untuk kembali ke departemennya.
Saat Hana sedang menunggu lif, Sandra menghampirinya diikuti dengan karyawan bawahannya. "Heh kamu karyawan baru!!!" kata Sandra menghentikan Hana.
"Saya??" tanya Hana memastikan.
"Iya kamu!!! Memang siapa lagi disini karyawan baru jika bukan kamu!!!" teriak Sandra tidak suka dengan pertanyaan Hana.
Hana menghela nafas. "Ya bu!! Ada yang bisa saya bantu??" tanya Hana lembut meskipun dalam hati kesal.
"Dasar mak lampir!!! mana ada kopi yang tidak pahit??? Cuman mulut loh yang pahit!!! Bilang saja dibuat hangat hangat kuku!! Itu saja sulit!!!" gumam Hana pelan.
"Kamu baru mengumpatku??" tebak sandra melihat mulut Hana berkomat kamit.
"Oh tidak bu!! Saya tidak berani. Saya hanya mengulang untuk mengucapkan pesanan ibu agar tidak lupa!!" jawab Hana mengelak dari tuduhan Sandra.
"Baiklah!!! cepat pergi jangan sampai telat lebih dari 5 menit. Itu akan mempengaruhi rasa kopinya. Saya tidak senang dengan kata terlambat dan kata maaf, camkan itu!!" ancam Sandra dan pergi begitu saja.
"Iiiiihhhhh.....dasar mak lampir, mana ada terlambat 5 menit bisa mempengaruhi rasa kopi!!! Yang ada 5 menit itu bisa mempengaruhi suasana hatimu!!! Memang iblis selalu sulit di tebak!!" kata Hana sambil memasuki lif yang sudah terbuka.
Hana langsung berlari menyebrangi jalan. Beruntung jalanan tidak terlalu ramai, jadi Hana tidak lama untuk menyebrang.
"Pak!! Tolong buatkan kopi yang pak, jangan terlalu pahit, dan suhu kopinya hangat kuku!" pinta Hana.
"Baik kak, segera disiapkan! Apa masih ada pesanan lain?" tanya pelayan.
__ADS_1
"Tidak pak, itu saja! Terima kasih! Tolong cepat ya pak! Saya sedang buru buru!!" pinta Hana dengan sopan dan diangguki oleh pelayan.
"Ini kopinya!! Selamat menikmati!" kata si pelayan sambil menyerahkan cup kopi.
"Terima kasih" balas Hana menerina cup kopi dan segera meluncur kembali ke perusahaan.
Hana sudah membayar kopi terlebih dahulu di kasir ketika pelayan mempersiapkan kopi. Jadi Hana tidak perlu lagi haru membayar setelah menerima kopi, itu hanya menghabiskan waktu.
Hana berlari memasuki perusahaan. Tetapi seketika Hana terdiam mematung. Hana teringat sesuatu.
"Aku harus mengantar kopi kemana? Dia tidak memberitahuku tadi" gumam Hana yang teringat kalau dirinya tidak bertanya kemana dia harus mengantar kopi.
"Sudahlah!! Aku ke kantornya dulu!" kata Hana menebak. Hana kembali berlari sesekali Hana naik lif jika lif cepat terbuka. Tetapi terkadang Hana juga naik tangga jika lif terbuka lama dan bahkan kepenuhan.
"Permisi bu!!" sapa Hana dari balik pintu sambil mengetuk pintu. Tetapi tidak ada sahutan dari si empunya ruangan.
Hana memutuskan untuk membuka pintu, Hasilnya kosong. Tidak ada siapapun di dalam ruangan Sandra.
"Permisi pak!!" sapa Hana.
"Masuk!!" jawab Indra si pemilik ruangan.
"Maaf pak!! Apakah bu Sandranya ada?" tanya Hana sopan.
"Tidak ada! Sandra tidak disini. Ada urusan mendesak?" tanya Indra penasaran.
"Ohhh tidak pak, kalau begitu saya pamit undur diri" pamit Hana dan segera meninggalkan ruangan Indra sebelum Indra menahannya.
Hana memutuskan kembali ke ruangan Sandra. Niat hati ingin meletakkan kopi di meja Hana. Tidak kesalahannya jika Sandra telat minum kopi, Sandra sendiri yang tidak ada di ruangan.
Hana membuka pintu perlahan. Dia kembali menutupnya pelan. " Kamu sudah terlambat 10 menit, aku tidak menyukainya lagi!! Aku mau kamu ganti kopinya!!!" suruh Sandra seenaknya.
"Tapi bu!! Ibu sendiri yang tidak memberitahu kemana saya harus mengantarkan kopinya!! Jadinya saya bingung harus kemana. Saya bahkan sudah mencari cari ke kantor wakil manager, tapi ibu tidak ada" jujur Hana
"Apa?? Kamu ke kantor Indra?? Kamu jangan ke gatalan ya sama Indra!! Aku akan menyiksamu jika kamu berhubungan dengan Indra!! Kamu tahu kan apa yang bisa aku lakukan!!" ancam Sandra yang tidak suka Hana dekat dengan Indra.
__ADS_1
"Maaf bu jika perilaku saya menyinggungmu . Saya pamit dulu beli kopinya lagi. Permisi bu!!" pamit Hana cepat cepat ingin meninggalkan. Ruangan Sandra. Tidak ada yang menarik di ruangan itu, termasuk si pemilik ruangan.