
Hana menggeleng, dia malu untuk mengucapkannya untuk kedua kalinya. Hana tidak pernah mengungkapkan perasaan, baru kali ini dia mengutarakan perasaannya yang sesungguhnya. Hana yang sedari awal berniat akan mengungkapkannya saat acara kelulusan. Tetapi niat itu berubah karena sikap Maxim yang membuat Hana semakin jatuh cinta.
Maxim tidak peduli jika Hana tidak mengucapkannya untuk kedua kalinya. Saat ini dia hanya ingin membawa gadis itu kedalam pelukannya. Dia tidak ingin melepas gadis itu dari pelukannya. Hana juga merasa nyaman dengan pelukan itu. Hana bahkan mendengar suara detak jantung Maxim yang berdetak cepat seakan akan Maxim baru saja melakukan lari cepat.
"Kenapa jantungmu berdetak cepat? Apa kamu sakit?" tanya Hana polos.
" Tidak!! Aku tidak sakit, aku sangat bahagia!!! Jantung ini berdetak seperti sekarang hanya saat aku bersamamu!!" jelas Maxim membuat Hana semakin mengeratkan pelukannya. Hana menenggelamkan wajahnya ke dada Maxim. Dia malu sekaligus senang.
Kruk.....kruk..... bunyi perut terdengar di telinga mereka. Menandakan perut itu ingin diisi. "Itu bukan perutku!" kata Hana.
"Apa itu perutku?" tanya Maxim.
"Mungkin!!!" jawab Hana sambil tersenyum. Dia mendongak menatap Maxim.
"Mungkin memang perutku!! Aku lupa mengisinya karena terlalu bahagia akan menemuimu!" lagi lagi Maxim berhasil membuat Hana malu. Wajahnya terasa panas. Mungkin saat ini Hana merasa wajahnya sudah seperti merahnya tomat. Hana menyembuyikan wajahnya di dada Maxim, Hana malu jika Maxim melihatnya.
Hana yang bersikap seperti itu membuat Maxim gemas dengan Hana. Dia mengelus rambut Hana lembut, memberikan kecupan di pucuk kepalanya. "Jika terus seperti ini, mungkin peliharaan di perut ini akan semakin marah karena tidak diberi makan!" kata Maxim berbisik.
"Apa kamu memelihara sesuatu di perut datarmu?" tanya Hana sembari menusuk perut rata Maxim membuat Maxim geli.
"Mm.... Peliharaanku sangat banyak!!" Jawab Maxim.
"Apa???" tanya Hana mencoba meladeni candaan Maxim.
"Cacing" jawab Maxim asal tapi sukses membuat Hana tertawa.
"Ayo!!" ajak Maxim. Maxim menggenggam telapak tangan Hana yang mungil. Maxim membawa Hana ke meja yang letaknya strategis untuk melihat semua pemandangan di luar.
Makanan laut sudah terhidang di hadapan. Hana sangat bersemangat melihat makanan yang tampak lezat tetapi seketika sedikit termenung. Bagaimanapun dia tidak bisa makan seperti biasanya.
"Ayok makan!!" ajak maxim setelah memotong motong udang agar berukuran lebih kecil dan memberikannya kepada Hana.
"Terima kasih!" Jawab Hana sembari menerima piring dari tangan Maxim.
__ADS_1
Hana mulai menikmati makanannya. Dia menyendokkan makanan dengan ukuran sedikit ke mulutnya. Hana malu jika dia membuka mulutnya lebar. Maxim pasti akan malu jika melihatnya seperti itu.
Hana mengunyah makanan perlahan, seakan akan dia menghitung berapa kali dia mengunyah makanan yang di mulutnya.
"Kenapa? Apa makanannya tidak enak? Jika tidak enak kita ganti dengan yang lain" Kata Maxim yang melihat cara makan Hana.
"Mmmm.... Gak kok, makanannya enak kok!" jawab Hana sembari tersenyum manis.
"Tapi kenapa makanmu seperti itu? Apa kau ada gejala sakit gigi?" tanya Maxim membuat Hana melotot.
"Sakit gigi darimana? Emang anak kecil biar sakit gigi" jawab Hana ceplos.
"Hahahahahaha..... Kau pikir anak kecil saja yang bisa sakit gigi, orang dewasa juga bisa!" kata Maxim mengajak Hana berdebat.
"Jika orang dewasa juga sakit gigi, hanya dua kemungkinannya. Satu karena gigi terakhir akan tumbuh, yang kedua karena orangnya jorok!" jawab Hana. Hana bahkan sampai menghentikan makannya karena meladeni Maxim berdebat.
"Apa maksudmu jorok?" tanya Maxim tidak habis pikir dengan jawaban Hana.
"Yah joroklah!!! Menurut bapak orang yang tidak gosok gigi tidak jorok??" jawab Hana dan menanyakan pendapat Maxim.
" Tapi saya sakit hati" tambah Maxim membuat Hana melotot lagi karena bingung. Hana yang sudah menyuapkan makanan ke mulutnya bahkan berhenti mengunyah karena Maxim mengatakan sakit hati.
"Apa Hana membuat kesalahan?" tanya Hana polos.
"Mmmm.... Kau membuat kesalahan" jawab Maxim mengerucutkan bibirnya. Maxim dalam mode manja.
"Apa pak?" tanya Hana penasaran. Sebenarnya dia ingin tertawa melihat ekspresi Maxim. Maxim terlihat seperti anak kecil yang akan menangis.
"Kenapa memanggilku bapak? Apa kau pikir aku bapakmu? Hufftttt..... Mungkin perasaanmu belum ada untukku!" jawab Maxim mengeluh.
"Heh....... Hahahahahahaha......." Hana justru tertawa keras membuat orang orang di sekitar mereka menatap mereka heran.
"Kenapa tertawa?" Maxim malah bertanya karena Hana justru menertawakannya.
__ADS_1
"Ekspresimu lucu pak!!!! Hana jadi pengen cubit!!!" ungkap Hana jujur membuat Maxim jadi malu.
"Baiklah!!! Aku akan memikirkan panggilan untukmu pak! Aku akan memberitahunya saat ujian kelulusan. Jika aku memberitahu nama panggilan untukmu, itu berarti hubungan kita sudah berbeda" tambah Hana menjelaskan.
"Apa maksudmu dengan hubungan berbeda? Bukankah sekarang ini hubungan kita sudah berbeda?" tanya Maxim lagi lagi terheran.
"Aku memang sudah mengungkapkan isi hatiku, tapi aku belum mengatakan kita berpacaran pak!!" jawab Hana santai membuat Maxim lagi lagi geram dengan Hana.
"Wah!!!!! Gadis ini!!! Kenapa dia sangat mengesalkan tapi aku tetap jatuh cinta dengannya!" batin Maxim geram.
"Terserah padamu, aku akan sabar menantimu! Aku juga akan mencoba melapangkan dada jika saja kau menolakku!" jawab Maxim sambil menunduk membuat Hana merasa bersalah.
"Maaf pak! Jangan marah!" kata Hana menenangkan Maxim.
"Tidak apa apa! Makan saja! Dan satu lagi, jangan sungkan makan di depanku. Makan saja seperti biasanya, aku menyukaimu bukan hanya karena penampilan. Aku menyukai semua hal tentangmu!" jelas Maxim.
"Wao.... Kata katanya sangat romantis. Bagaimana bisa aku menolaknya, di terlalu berlebihan berpikirnya" batin Hana sambil tersenyum lebar.
"Terima kasih!" jawab Hana tiba tiba. Lagi lagi Maxim dibuat kebingungan.
"Untuk apa?" tanya Maxim.
"Semuanya! Aku akan makan seperti biasanya" jawab Hana dan melanjutkan makannya dengan cepat. Hana memilih menikmati makanan di depannya sambil menikmati pemandangan bawah laut. Rasanya saat ini Hana ingin memeluk Maxim erat, tapi Hana malu melakukannya. Hana memilih fokus ke makanan dan pemandangan di depannya.
Setelah menghabiskan makanan, Hana mengajak Maxim untuk pulang. Mengingat sekarang sudah malam. Hana tidak ingin orang di rumah mengkawatirkannya. Meskipun orang tuanya sedang liburan, kedua orang tuanya pasti akan menanyakan keberadaannya ke Remon atau juga ke kepala asisten.
Maxim menurut, membawa Hana pulang. Mengantarkan Hana hingga sampai ke rumah menemui Remon. Maxim pamit setelah berbincang sebentar.
"Hati hati pak!" kata Hana mengingatkan Maxim. Maxim mengangguk sambil tersenyum dan meninggalkan rumah.
"Apa status kalian belum berubah?" tanya Remon penasaran.
"Maksud kakak? Apa kalian belum berpacaran? Kenapa panggilannya masih formal?" tanya Remon heran.
__ADS_1
"Ihhhh.... Kakak kepo, udah ah!!! Hana mau mandi lagi, selamat malam!" pamit Hana dan segera meninggalkan Remon yang masih penasaran dengan status kedua orang terdekatnya.
"Aneh!!!" gumam Remon dan memutuskan untuk mengikuti Hana ke lantai dua. Remon tetap di ruang tamu hanya karena menunggu kepulangan Hana. Meskipun dia mempercayai sahabatnya, Remon sebagai kakak Hana akan tetap mengkawatirkan adik satu satunya.