
Hana justru duduk di samping Remon dan segera mengabadikan momen itu. Mungkin suatu saat Melani harus tahu momen ini. Melani pasti sangat bahagia jika melihat ekspresi Remon sekarang. Seperti suami yang rindu istrinya.
"Hm hm... kakak!! Jantungnya masih aman?? Masih waras kan?" tanya Hana menyadarkan Remon yang masih berangan angan karena merasa senang. Dia senang hanya karena Melani pamit padanya dan menyalim tangannya.
"Siapa sih? Ganggu aja! Awas, gue mau makan. Sana mandi, loh bau amis!" ejek Remon dan pergi meninggalkan Hana yang terkejut dikatai bau amis. Hana malah mencium sekitar tubuhnya, mencari kebenaran dari ucapan Remon.
"Tidak bau kok! wangi!" kata Hana bangga dan pergi kembali ke kamar untuk mandi. Jika tidak, ibunya akan menganggapnya anak terlantar yang salah masuk rumah. Sebelum ibunya tiba di rumah, Hana harus sudah selesai mandi. Entah mengapa ibunya selalu saja tidak Hana dapati di rumah. Hana bahkan berpikir dia akan memiliki adik karena ayah dan ibunya selalu pergi berdua. Hana memang selalu berpikir di luar nalar orang lain.
"Selamat malam mah, pah! Gimana kencan hari ini? Lancar? Udah pada lupa umur yah, udah tua masih aja tau kencan. Lupa anak di rumah ini namanya! Anaknya aja belum ada yang kencan!" ledek Hana setelah duduk di kursi ruang makan. Hana melihat kedua orang tuanya sudah menunggu untuk makan malam.
"Anakmu memang suka iri dan dengki ya pah! Mama kencan di ledekin. Mau gimana dong, anak mama udah pada tua tapi lupa sama kencan! Mending mama sama papa aja yang kencan gantiin kalian berdua!" balas Safira meledek Hana dan malah lebih mengena ke Remon yang baru duduk di samping Hana dekat ayahnya.
"Tadi katanya mau makan, nyuruh orang mandi juga! Kakak aja baru siap mandi, dasar tua! Dengarin tuh mama, cepat sana halalin tuh teman gue! Awas di tikung orang!" kata Hana meledek Remon dan segera mendapat tatapan tajam Remon serta tatapan penasaran dari kedua orang tua mereka.
"Hm hm hm... mama benaran akan dapat calon mantu ini? Mama setuju kok sama Melani, biar mama sama mamanya Melani jadi besan. Kan udah sahabatan, jadi lebih enak klo jadi besan, iya kan pah?" tanya Safira dengan senyum semangat membayangkan dirinya akan berbesan dengan ibu Melani. Tidak perlu sulit lagi untuk melakukan penyesuaian diri karena sudah bersahabat lama.
"Iya ma! papa juga setuju, biar ikatan keluarga kita semakin erat. Hahahahaha.... Apalagi jika Hana nanti jodoh lagi sama anak teman ayah yang blasteran, wah!! pasti sangat menyenangkan mah!" jawab Lexon semangat. Dia sangat senang jika dia dan kedua teman kuliahnya dulu kembali bersama. Mereka bahkan akan menjadi besan, akan sangat menyenangkan.
"Kenapa jadi kena aku sih! Ya kan aku masih kuliah mama! ayah juga ikut ikutan ini! Emang kalian mau aku nikah muda?" Hana mengkritik kedua orang tuanya yang terlihat begitu bersemangat menjodoh jodohkan dirinya dan kakaknya. Berbeda dengan Remon yang justru jadi merasa malu dan sekaligus senang karena orang tuanya merestui hubungannya dengan Melani. Sekarang tinggal usaha untuk mendapatkan Melani.
__ADS_1
Remon tahu Melani sudah menyukainya, tapi entah mengapa hatinya merasa waktunya belum tepat untuk mengungkapkan perasaannya pada Melani. Remon tidak ingin kuliah Melani terganggu. Mungkin Remon harus bersabar sampai Melani lulus kuliah. Tetapi itu akan menjadi tantangan buat Remon untuk menjaga gadis muda itu. Melani gadis cantik yang mungkin akan diminati pria lain yang seumuran dengan Melani.
Remon memikirkan hal itu tiba tiba teringat sesuatu. "Han! loh udah dapat tempat magang gak sama teman-temanmu?" tanya Remon pada Hana. Remon tahu bulan depan Hana akan memulai magang untuk projek akhir di perkuliahan.
"Tumben perhatian! Gue jadi curiga, kakak perhatian sama gue atau sama Melani? Hayo ngaku!!" ledek Hana dengan tatapan selidik. Hana mencoba menggoda Remon, godaan itu memang sukses membuat Remon salah tingkah tapi segera menyelamatkan diri.
"Kamu serius tidak akan ke perusahaan? Bagaimana dengan kedua sahabatmu?" tanya Remon menyelidiki rencana ketiga bersahabat itu.
Hana tersenyum tipis, ada rencana buruk terlintas di otaknya. "Kami bertiga itu tidak bisa dipisahkan kakak sayang!! Jadi kalau aku tidak di perusahaan, maka kedua sahabatku juga tidak! Kami akan bertemu dengan teman baru dong!" kata Hana mencoba memancing Remon.
"Oh! Aku selesai, aku ke kamar dulu, ada file yang mau di kirim" pamit Remon dan langsung di respon tawa oleh Hana. Lexon hanya mengangguk menganggap serius obrolan Remon. Safira hanya tersenyum sambil menggeleng geleng kepala karena melihat tingkah anaknya yang aneh.
Malam ini, malam yang penuh cahaya bintang yang menerangi malam. Langit terlihat indah dengan ribuan bintang tersusun tidak beraturan. Ada bintang yang memancarkan cahaya terang, ada juga yang sekilas bercahaya. Begitu indah malam ini, tidak ada tanda-tanda kedatangan hujan.
Remon memutuskan tidur di temani malam yang indah ini. Berbeda dengan gadis yang ada di ruang samping kamar Remon. Hana masih sibuk dengan laptopnya. Ada selembar kertas di atas meja, lengkap dengan pulpen di tangannya. Hana sedang menulis daftar nama perusahaan di kotanya. Mungkin akan ada perusahaan besar kedua atau ketiga di kotanya yang mau menerimanya.
Hana tidak tahu bahwa malam ini sangat bagus tidur di temani cahaya bintang yang bertebaran di atas sana. Hana lebih menyukai keindahan di depannya, yaitu laptop dan kertas. Hana bahkan lupa waktu hanya karena membuka website dari setiap perusahaan yang dia list di kertas selembar.
"Hana!! Bangun!!" teriak Safira dari depan. Hana terbangun dengan posisi duduk. Dia tertidur saat sibuk dengan laptopnya. Hana mengangkat lehernya berat karena posisi tidur yang tidak baik. "Iya mah! Sabar! 2 menit lagi ya, Hana ngumpulin nyawa dulu" jawab Hana dengan mode nada serak sambil menahan rasa sakit di lehernya.
__ADS_1
Hana perlahan mengangkat lehernya dan menggerakkannya perlahan. Hana sedang berusaha memperbaiki saraf saraf yang tegang karena salah posisi tidur. "Au!! Bagaimana aku bisa sampai tertidur?" gumam Hana setelah memutar mutar kepalanya perlahan.
Hana berjalan perlahan ke arah kamar mandi. Wajah itu masih terlihat muram karenaasih merasakan pegal di tulang leher. Matanya sesekali menutup karena merasa ngantuk. Hana lupa jam berapa dia tertidur, yang pasti dia tertidur sudah mau pagi hari.
Hana bersiap dengan sangat malas, tidak ada semangat di wajahnya. wajahnya masih terlihat kusut, tidak kencang karena semangat. "Pagi!" sapa Hana dan duduk di kursi ruang makan.
"Kenapa itu muka? Tadi malam masih semangat meledek? kenapa tiba tiba kusut gitu? Seperti baru diputusin saja! Padahal pacaran saja belum!" ledek Remon membalas Hana yang sudah meledeknya kemarin malam. Wajah Remon terlihat cerah pagi ini, dia sangat jelas sedang bahagia.
"Tumben bahagia? Udah punya gebetan ya?" balas Hana dan segera menyantap sarapannya. Hana malas meladeni Remon. Hana hanya ingin cepat tiba di kampus agar tidak terlambat. "Aku berangkat!" pamit Hana tanpa menyalim ataupjn menatap Remon. Dia hanya pamit sambil berjalan lurus ke ruang tamu dan masuk ke garasi melalui pintu samping.
Hana memakai motor beatnya, tubuhnya sedang malas membawa beban berat. Hal itu yang membuatnya malas mengendarai motor kawasaki Remon. Tubuh itu masih menginginkan tidur, Hana berharap ada mata kuliah yang tidak masuk. Jadi itu akan menjadi kesempatan emas untuknya tidur.
"Kenapa wajah loh? Kek bantal kusut aja! Baru putus?" ledek Melani yang terkejut melihat wajah muram Hana. Dia mendekati Hana dan menempelkan telapaknya di dahi Hana.
"Aman kok! Apa loh serius tidak semangat karena putus? Ayo Han, siapa yang berani lakuin ini samamu?" tanya Melani mencoba menggoda Hana.
"Loh sama Remon sama aja ya! Sama-sama menyebalkan! kalian memang cocok dijodohkan" kata Hana dan kembali menelungkupkan kepalanya ke meja dengan menggunakan alas telapak tangan.
"Iya dong! Itu namanya jodoh! Sirik aja! Oh iya, tadi aku dengar ada pembagian tempat magang untuk mahasiswa yang ipknya di atas 3,5. Katanya nanti siang bakalan di tempel di mading" jelas Melani dan dianggukkan Rena tanda perkataan Melani benar.
__ADS_1
"Kok bisa? gak biasanya! Apa ada aturan baru ya?" tanya Hana pada kedua sahabatnya. Wajah itu seketika cerah tidak terlihat ngantuk. Hana penasaran apa yang membuat aturan kampus berubah dalam semalam.