
Dua hari sebelum magang....
Hana, Rena dan Melani tampak di sebuah tempat perbelanjaan terbesar di kota itu. Mereka bukan berbelanja, tetapi mereka hanya ingin menghibur diri dengan menonton dan bermain game. Ketiga gadis itu memutuskan untuk menyenang diri sebelum memulai magang, yakin bahwa waktu untuk bersenang senang semakin sedikit.
"Loh berdua harus doain gue agar tidak bertemu dengan pria narsis, dengan begitu mungkin gue akan betah." pinta Hana dengan harapan besar. Hana bisa membayangkan, hari harinya akan penuh di drama jika selalu bertemu dengan Maxim. Entah takdir apa membuat mereka harus bertemu, takdir apa yang membuat dia harus magang di perusahaan Maxim.
"Aman! Kita berdua selalu doain loh kok! Tetapi masalahnya, gue tidak yakin doa gue akan berhasil atau tidak. Gue takut ada doa seseorang yang lebih tulus dari doa kita berdua Han, trus gimana dong?" kata Melani. Dia tidak bisa berjanji dengan Hana.
"Dasar Loh Mel! Bukannya mendukung malah membuat kawatir orang saja!" Rena menjawab ucapan Melani yang membuat Hana tampak tidak bersemangat.
"Gak apa apa Ren, Melani benar juga sih. Jadi, loh berdua harus usahain berdoa dengan setulus tulusnya! Jangan bercanda! Kalau bisa loh berdua puasa makan satu kali agar doanya terkabul!" ide Hana dan di balas tatapan tajam dari Melani.
"Loh mau ngajak ribut ya? Loh tau gue gak bisa tahan lapar, enak aja ngomongnya ya! Gak kasihan sama kawan." Melani menolak ide Hana. Melani sudah bermasalah dengan pencernaan, jadi harus menjaga pola makan.
"sorry sorry!! gue gak ada rencana mau buat sakit kok, gue hanya bercanda Mel. Gue asal ngomongnya! Gue teringat film india istri berpuasa untuk suaminya, hahahahaha.... maafkan daku sayang!" memasang wajah lucu agar dimaafkan.
"Hahahahaha..... gue mau muntah lihat muka loh Han! Tolong, wajahnya di kondisikan!" tawa Melani sembari meledek Hana yang bergaya sok imut.
"Hahahahahaha.... benar Han, gue hampir pingsan lihat muka loh! Loh gak cocok tau!" tambah Rena meledek Hana. Hana hanya bisa memasang wajah datarnya.
"Kalian harusnya memuji karena gue imut! loh berdua kok jadi meledek sih!! Gak seru!!" jawab Hana dengan ekspresi berpura pura kecewa. Hana kembali sibuk memasukka bola ke ring. Ketiga gadis itu sedang berlomba lomba memasukkan bola ke ring, lebih tepatnya mereka sedang berlomba memperoleh nilai tinggi.
"Gue menang!!" teriak Hana sembari mengangkat tangannya ke atas. "Loh berdua bayarin karcis nonton sama cemilan gue, let's go!!" Hana menarik pergelangan tangan kedua sahabatnya ke arah mesin pembelian karcis. Hana juga memesan popcorn dan melimpahkan biayanya kepada dua sahabatnya. "Cepat! Movienya sudah hampir mulai!" lagi lagi Hana meneriaki kedua sahabatnya yang bergerak lambat.
__ADS_1
Hana terlalu bersemangat sehingga tidak tahu bahwa kedua sahabatnya sudah tertinggal jauh di belakang. Hana harus menunggu kedua sahabatnya di depan ruang tempat mereka akan menonton. Hana tidak memiliki tiket, tiketnya ada pada Melani.
"Kemajuan sih!! jadi nunggu kan? kayak anak hilang aja loh!" cerewet Melani dan langsung menyerahkan kertas tiket ke petugas.
Hana hanya acuh, tidak mau meladeni. Hana memilih masuk dan mengambil tempat duduk kosong. Tidak tahu itu tempat duduk siapa, Hana hanya duduk saja. Hana lupa melihat nomor kursinya, bahkan Hana tidak memperhatikan kemana kedua sahabatnya pergi.
"Kak! Maaf itu tempat duduk saya!" kata seorang gadis yang sepertinya usianya sama dengan Hana. Gadis itu juga menyodorkan kertas tiketnya.
"Oh maaf kak, sebentar ya kak!" Hana berdiri, mulai celengak celenguk mencari kedua sahabatnya. Tapi tidak terlihat karena terlalu gelap.
Hana akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi kosong sebelah kursi si gadis. Hana tersenyum pada gadis itu sembari mempersilahkan duduk. "Maaf ya kak!" permintaan maaf terucap dari mulutnya.
"Gak apa apa kak!" balas si gadis ramah. Dia duduk di samping Hana dan mulai menikmati film.
"L...loh!! kok disini?" kaget Hana melihat Maxim duduk di sampingnya. Hana merasa menyesal asal duduk di tempat orang.
"Lah pertanyaannya kok aneh mba? saya dari tadi disini! Heran ya! Putri kepala asisten rumah saja sudah kek Putri konglomerat saja!" ledek Maxim, membuat Hana menggeram kesal.
"Hey anak konglomerat!! Jika asisten rumah tidak ada, emang loh bisa selalu punya waktu untuk beberes rumah? ada waktu masak? Gue yakin anak konglomerat kayak loh harusnya tau seberapa penting ART!! Gue juga yakin, di rumah nyokap loh pasti ada ART! Ngaku loh!" balas Hana tidak mau kalah.
"Entah kenapa gue suka sama loh dulu!" batin Hana merasa menyesal karena menumbuhkan rasa suka pada pria yang tidak pernah dia temui sebelumnya.
"Maaf ya mba! Kawan saya sudah datang! Jadi tolong pindah ya!" kata Maxim mencoba bersikap lembut.
__ADS_1
Hana melirik ke arah orang yang Maxim maksud. Melihat Remon berdiri di samping. Hana membulatkan mata, tidak berpikir bahwa teman yang dimaksud Maxim itu adalah Remon. Hana langsung memberi tatapan tajam, mencoba mengendalikan Remon.
"Bro! gue di belakang saja. Biar saja adik itu duduk disana!" suruh Remon dan langsung berjalan ke arah kursi di belakang. Siapa lagi jika bukan barisan Rena dan melani. Kursi yang seharusnya tempat Hana.
"Makanya mba, jangan suka rebut milik orang! Kasihan teman saya jadi duduk di barisan wanita! mba sekalian modus ya!" ledek Maxim ingin mengganggu Hana yang terlihat santai menonton seakan akan tidak ada masalah.
Hana hanya diam tidak menggubris Maxim. Dia terlalu serius dengan film di layar besar di depannya. "Hiks...hiks....hikss...." tiba tiba terdengar suara sesenggukan dari samping Maxim,Siapa lagi jika bukan Hana. Hana terlalu menghayati film.
"haaaaaa...........haaaa............haaa......" suara tangis Hana semakin keras membuat orang di ruangan itu menatap ke arah mereka. Mereka mengira Hana menangis karena ocehan Maxim yang membuat sakit hati.
Maxim jadi merasa tidak nyaman. Terutama saat semua tatapan mengarah ke dia. "Bukan saya! bukan saya! Dia lagi menghayati film nya! bukan saya ya!" Maxim mencoba membuat penjelasan, berharap orang orang diruangan itu tidak salah sangka.
"Wuaaaa........haa.....ha.....hikss...hikssss" Hana semakin menjadi jadi, membuat semua orang lagi lagi menatap Maxim tajam.
Maxim akhirnya membuka jaketnya dan memasangkannya ke kepala Hana. Maxim mengarahkan kepala Hana perlahan ke bahunya dan menepuk nepuk lengannya pelan. Dia berusaha membuat Hana tenang. Maxim tidak mau disangka sebagai penyebab Hana menangis.
Semua orang di bioskop melihat tindakan Maxim. Sebagian wanita disana ada yang merasa iri dengan keromantisan itu. Ada juga yang biasa saja melihatnya, ada yang kagum dengan sikap Maxim. Mereka tidak lagi fokus dengan film di layar besar. Semua pengunjung bioskop lebih menikmati tontonan gratis yang dibuat Hana dan Maxim.
Remon dan dua sahabat Hana juga hanya tertawa kecil melihat keromantisan di kursi depan. Mereka sengaja tidak mengganggu keromantisan itu, mereka malah ikut menikmatinya. Remon bahkan mengabadikan momen itu, mungkin suatu saat nanti momen yang dia abadikan akan berguna.
"Sudah jangan menangis!! Orang orang akan salah sangka padaku, bukan aku yang membuatmu menangis! Jadi tolong diamlah! Aku sudah berbaik hati membagikan pundakku untukmu secara gratis, jadi setidaknya hargai itu dengan cara diam, oke!!" ancam Maxim pada Hana.
"Aku tahu! Jadi jangan mengoceh lagi, aku hanya malu di lihat orang orang! Jadi tunggu sampai film ini selesai dan pengnjung keluar. Mengertilah!" pinta Hana yang sadar sudah membuat kehebohan di dalam bioskop. Hana merasa malu, apalagi mengingat semua orang menatap ke arah mereka sekarang ini. Seketika genre film sudah berganti dari genre action berubah jadi genre romantis.
__ADS_1
Perubahan genre film ini dibuat Hana dan Maxim tanpa sengaja. Mereka juga tidak akan mau melakukannya dengan sengaja, mengingat mereka tidak berhubungan baik.