STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
PILIHAN HANA


__ADS_3

Hana tampak gelisah selama mata perkuliahan berlangsung. Hana penasaran apa yang akan di tempel di mading. Hana jadi penasaran kemana dia akan di tujukan pihak kampus. Kemana kedua sahabatnya? Apakah mereka akan benar benar berpisah? Banyak hal yang tidak menyenangkan di hati Hana. Hana hanya berharap dia tidak akan masuk ke perusahaan keluarganya.


Jam istirahat akhirnya tiba, waktu yang dinanti mahasiswa. Semua mahasiwa sudah berhuyung huyung menuju mading di lantai satu gedung jurusan Hana. Hana dan kedua sahabatnya bahkan harus mengantri karena kalah cepat dari mahasiswa lain.


Akhirnya giliran Hana dan kedua sahabatnya tiba, Hana dan langsung merapat ke mading diikuti kedua sahabatnya. Hana mulai mencari sesuai abjad, mulai mencari Melani, Rena dan dirinya sendiri.


"What? Gue ke perusahaan keluarga - " teriak Melani yang sontak mendapat bekapan di mulutnya. Rena membekap mulut sahabatnya itu. Hana bahkan menatap Melani tajam, mengode Melani agar sadar tentang ucapannya.


"Oups! Mulut gue ini kebablasan!" respon Melani cepat dan memukul mukul bibirnya pelan dan meminta maaf pada Hana.


"Gue terlalu bahagia! Loh juga Ren, loh ke perusahaan yang sama kek gue!" kata Melani yang segera mencari nama Rena di daftar nama.


"Lah!! Hana.... gimana ini? Loh masuk ke perusahaan dia!" tambah Melani memberitahu membuat Hana seketika membulatkan mata dan segera melihat ke arah telunjuk Melani.


"Apa apaan ini!! Ini atas aturan siapa sih? Gue curiga ada campur tangan seseorang yang gue kenal ini!!" kesal Hana dan segera meninggalkan kerumunan dan raut wajah penuh kekesalan. Rena dan Melani saling memandang, mereka tidak tahu harus membuat ekspresi seperti apa.


Ekspresi senang, sedih atau lucu. Kedua sahabat Hana bingung ingin mengekspresikan wajah seperti apa. Apakah mereka harus bersedih? tapi kenapa bersedih? Mereka kan masuk ke perusahaan keluarga Hana, perusahaan yang banyak diincar mahasiswa. Jika mereka senang, bagaimana dengan sahabatnya Hana?


Lucu? mungkin itu yang lebih cocok. Rena dan Melani yakin hidup Hana akan semakin berubah drastis mulai bulan depan yang hanya tinggal 2 minggu lagi. "Sepertinya kisah cinta diantara mereka akan dimulai Ren!" gumam Hana pelan pada Rena.


"Kisah cinta?" tanya Rena yang sedikit polos tentang cinta. Rena adalah orang yang kurang berpengalaman dalam hal cinta. Dia hanya tau kata suka, tapi kurang paham dengan arti cinta sesungguhnya.

__ADS_1


"Susah ngomong sama loh, sama aja kek Hana! Udah ah.... lihat saja nanti, kau akan melihat perubahan drastis dalam kehidupan sahabat kita itu. Ayo!" jelas Melani dan mengajak Rena menyusul Hana yang sudah hilang dari kerumunan.


"Gue yakin ada campur tangan seseorang dalam keluarga gue ini!" batin Hana. Dia teringat Remon, tadi malam Remon bertanya tentang magangnya. Apakah mungkin Remon yang melakukannya?


"Awas saja jika sampai ketahuan!" kesal Hana sambil memukul mejanya sedikit keras. Beruntung tidak ada dosen di kelas. Hanya ada beberapa orang mahasiswa teman sekelas Hana. Mereka hanya melihat ke Hana sekilas dan kembali sibuk dengan kegiatan mereka. Mereka adalah mahasiswa yang IPK nya tidak memenuhi persyaratan. Mereka harus mencari sendiri tempat magang mereka, tidak ada rekomendasi dari pihak kampus.


"Lebih baik seperti mereka, langsung memilih jalan mereka sendiri." kata Hana pelan dan kembali menidurkan kepalanya di atas meja.


"Hoi!! Jangan sedih gitu dong! Kita jadi bingung mau senang atau sedih ini?" kejut Melani setelah tiba di meja Hana.


"Iya Han, jangan sedih gitu! Mungkin saja ada hal baik yang akan kau dapati disana. Lagian tidak mungkin kan kau akan bertemu dia setiap saat. Dia itu bos perusahaannya, jadi pasti sibuk dong! Tidak mungkin dia punya waktu bertemu loh!" kata Rena mencoba memberi semangat pada Hana.


"Benar benar tuh! positif thinking saja Hana! Loh fokus saja menambah pengalaman disana! kan loh mau di perusahaan besar, jadi doa loh kan sudah terkabul. Jadi semangat!" tambah Melani membantu Rena menyemangati Hana.


"Ada juga sih benarnya omongan loh berdua, gue tidak mungkin bertemu dengan dia kan? Dia kan atasan perusahaannya, jadi pasti sibuk dong!" kata Hana sudah mulai menerima kenyataan.


"Lagian Han, bukan mau merendahkan perusahaan keluarga loh ya! Gue dengar dengar, katanya perusahaan kak Maxim sudah sangat terkenal di luar negeri. So, pasti lebih besar dari perusahaan keluarga loh. Mungkin ini jalan terbaik untukmu, dengan begini pengetahuan mu akan semakin luas kan? Loh bisa mengembangkan perusahaan keluarga loh suatu saat nanti!" kata Rena pelan memberi pengertian pada Hana.


Hana mengangguk tanda setuju, tidak ada sakit hati. Dia setuju dengan ucapan Rena. Hana memang tahu bahwa perusahaan keluarga Maxim adalah nomor satu. Perusahaan keluarganya urutan kedua. Hana sama sekali tidak sakit hati dengan ucapan Rena, dia bahkan semakin semangat karena ucapan Rena.


"Thanks ya! loh berdua sudah semangatin gue, jadi gue gak perlu bersedih lagi. Untuk merayakan hari ini, gimana kalau pulang kampus kita makan bakso tempat biasa? Soalnya kalau main ke mall, kita bakalan lupa waktu. Padahalkan besok masih ngampus, bukan akhir pekan!" usul Hana ingin mentraktir kedua sahabatnya karena sudah memberi pengertian padanya.

__ADS_1


"Setuju! Semoga pak botak gak lama ngajarnya, mudah mudahan dia gak lagi PMS ya!" kata Melani dengan raut lucu.


"Omongan loh memang selalu ada benarnya ya! Hahahaha...." tawa Rena dan disambut tawa Hana yang setuju dengan pendapat Rena tentang Melani.


"Udah diam! Pak Botak udah datang!" kata Hana menyuruh kedua sahabatnya diam dan kembali ke tempat duduk.


Hana, Melani dan Rena tidak terlalu fokus dengan arahan dosen di depan. Mereka memilih membuat rekaman suara untuk merekam arahan dari dosen di depan. Melihat wajah dosen di depan justru membuat Melani mulai mengantuk. Melani mendirikan dia buku di depan meja sebagai benteng pertahanan untuk menutupi wajahnya. Matanya sudah mulai berair karena menahan rasa kantuk.


Ren bahkan sudah memberi Melani beberapa permen, berharap itu akan menghilangkan rasa kantuk Melani. Tetapi tindakan itu sia-sia, kantuk Melani bahkan semakin menjadi jadi dan akhirnya tertidur pulas.


"Dia kalau sudah tidur seperti pig china!! "ejek Rena. Hana malah ingin tertawa karena ejekan Rena pada Melani. Memang benar, Melani jika sudah tertidur, kadang lupa dengan lingkungan sekitar dia tertidur.


"Bapak akhiri pelajarannya, sepertinya sudaj ada yang bosan dengan bapak di kelas ini. Sepertinya suara bapak seperti sedang membawakan lagu pengantar tidur." kata dosen di depan. Lebih tepatnya gelar yang diberikan mahasiwa adalah Pak Botak.


"Hahahahahaha......." tawa semua mahasiswa pecah saat melihat ke arah siswa yang dimaksud dosen. Hana dan Rena bahkan bingung harus bagaimana bertindak. Suara mereka tidak di dengar Melani. Dosen botam bahkan sudah berdiri di depan meja Melani dan mengangkat buku yang Melani gunakan sebagai benteng pertahanan.


"Entah apa yang dia mimpikan! Melani!!!" teriak dosen dan membuat Melani terperanjat dari tidur. "Dasar pelakor!!" teriak Melani dengan posisi berdiri dan mengepal telapak tangan ingin meninju, beruntung dosen cepat menghindar.


Hana dan Rena hanya bisa menepuk jidat, tidak tahu harus membuat apa pada Melani. Melani memang selalu susah di bangunkan jika sudah tertidur. Hal itu yang membuat Hana dan Rena berusaha membuat hal lucu untuk membuat Melani tertawa dan lupa dengan rasa kantuknya.


"Ikut keruangan bapak sekarang!" perintah dosen kepada Melani dan segera meninggalkan kelas. Melani menatap kedua sahabatnya dengan tatapan intimidasi. "Kenapa sih loh berdua inggak banguni gue!" Kesal Melani pada kedua sahabatnya.

__ADS_1


"Loh gak sadar ya tidur ke pig china!!" balas Rena tidak mau disalahlan Melani. "Gue dan Hana udah banguni loh, lohnya aja yang keenakan tidur" tambah Rena dan diangguki Hana. Melani hanya bisa tersenyum merasa bersalah. Dia salah telah menuduh kedua sahabatnya.


"Sorry ya!" Gue nemui Pak Botak dulu, tenang gue akan buat jurus merayu!" kata Melani dan pamit mengikuti jejak dosen pak botak. Dia meninggalkan kedua sahabatnya yang hanya memberi senyuman pada dirinya tanpa mengantar ke pintu kelas.


__ADS_2