STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
CINTA GILA


__ADS_3

Hana sudah duduk di kursinya. Kali ini Hana berseragam seperti biasanya, mengenakan celana keper panjang. Mengingat Maxim juga sudah melarangnya memakai rok. Hana memang lebih menyukai celana, tetapi karena tantangan Maxim, Hana harus merubah penampilannya.


Hana bertekad akan melihat kebenaran dari ucapan kakaknya, Remon. Hana masih tidak percaya diri, Hana tidak percaya seorang Maxim akan menyukainya. Hana tidak percaya pria yang dia anggap begitu menyebalkan akan menyukai dirinya yang juga sama menyebalkannya. Hana tidak bisa membayangkan akan seperti apa akhirnya cerita kisah cinta mereka.


"Ahhhh..... Pikiran gue terlalu dalam. Lagian gue kan gak suka dia, ngapain gue memikirkan hal yang inggak akan pernah terjadi sih?" Hana bergumam pelan.


Maxim masuk ke ruangannya dan di sambut ramah oleh Hana. Hana mulai memperhatikan setiap gerak gerik Maxim.


"Selamat pagi pak!! Bagaimana harinya??" tanya Hana penuh ramah. Dia mengikuti langkah Maxim dari belakang ke arah kursi kebesaran Maxim.


"Baik!!" jawab Maxim singkat tanpa menoleh ke arah Hana. Maxim mencoba sibuk dengan ponselnya.


"Saya sudah mengirim jadwal bapak hari ini ke surel" kata Hana memberitahu.


Maxim mengangguk, lagi lagi tidak menoleh ke Hana. Hana sedikit aneh dengan sikap Maxim, tidak biasanya Maxim bertindak demikian. Maxim pasti akan meladeni Hana, setidaknya akan ada sedikit perdebatan diantara mereka. Tetapi Hana tidak mau mengambil pusing, Hana memilih kembali ke tempat duduknya.


'Positif thinking saja!! Mungkin suasana hatinya sedang buruk!' batin Hana. Hana mencoba memikirkan hal positif.


Hana memilih sibuk dengan pekerjaannya. Berbeda dengan Maxim, tanpa sepengetahuan Hana dia mencoba mencuri pandang.


'Kenapa aku merasa semakin hari dia semakin imut sih!! Maxim!!!! Sadar woii.... sadar!!! Ingat, dia hanya anak ART. Jangan mempermalukan diri sendiri!' batin Maxim mencoba menolak kenyataan bahwa dirinya kini menyukai Hana.


Maxim kembali mencoba fokus dengan pekerjaan di laptopnya. Dia sedang mencoba mengendalikan dirinya. Entah mengapa matanya selalu tertarik untuk melirik gadis di ruangannya. Setelah berusaha mengendalikan dirinya, Maxim akhirnya hanyut kembali ke dalam dunianya sendiri.


Penyakit Maxim malah menular ke Hana. Hana selalu mencuri pandang ke arah Maxim. Hana memperhatikan setiap sudut wajah Maxim. Hana memperhatikan setiap perubahan di wajah Maxim. Hana bahkan mencoba menebak suasana hati Maxim dari ekspresi wajah Maxim yang berubah.


'Tampan sih!!! Tapi lebih tampan member BTS!!' batin Hana. Hana tersenyum tipis sambil menunduk. Hana kembali melirik Maxim, tetapi sialnya mata mereka bertemu tatap. Seketika udara di ruangan itu berubah, suhu terasa lebih panas.


Bukannya cepat menghindari tatapan itu, keduanya malah beradu tatap. Mereka bertatapan seakan akan ingin menghasilkan sebuah energi yang besar. Hana tidak mau mengalah. Dia malah semakin mempertajam matanya.


'Pak bos kira aku mau kalah darinya!!! Enak saja, aku tidak mau kalah' batin Hana. Dia mempertahankan tatapannya ke Maxim.

__ADS_1


'Sial!!! Lagi lagi jantungku bermasalah!! Aku tidak tahan lagi!!' batin Maxim dan memilih mengalah. Jantung kini sudah berdetak lebih cepat. Entah mantra apa yang Hana ucapkan sehingga Maxim terpesona. Maxim seakan akan tersihir dengan pandangan Hana.


"Hmm... hmm....hmm... Aku keluar dulu!!" kata Maxim dan bergegas meninggalkan ruangannya. Bisa kalian tebak kemana dia akan pergi mengadu. Pastinya ke ruangan Raka di sebelah.


"Hahahah.... Emang ini ajang lomba menatap?? Ngapain dia menatapku seperti orang bodoh!?" kesal Hana yang kesal saat Maxim menatapnya lama. Hana merasa ada sesuatu yang salah dengan dirinya karena tatapan Maxim.


"Apa ada masalah bos?? Kenapa bos kemari? Bos bisa memanggilku jika ada tugas untukku" kata Raka heran dengan kedatangan Maxim keruangannya.


"Raka!! Besok Hana pindahkan ke ruanganmu saja. Jangan biarkan dia di ruanganku, lama lama aku bisa mengidap penyakit jantung. Aku hampir tidak bisa mengendalikan diriku!" jujur Maxim membiat Raka ingin tertawa tapi berusaha dia tahan.


"Apa bos tidak masalah dia bersamaku?" tanya Raka mencoba memancing Maxim.


"Tidak masalah! Pokoknya setelah makan siang, kau pindahkan dia kemari. Katakan saja ada pekerjaan mendesak yang membutuhkan tenaganya sehingga dia harus berada di ruanganmu!" ide Maxim. Dia tidak ingin Hana tidak nyaman. Maxim juga mengingat hubungannya dengan Remon, dia tidak ingin Remon kecewa dengannya.


"Baik bos!! Akan segera saya lakukan!" jawab Raka mantap. Dia masih ingin tertawa, tetapi selalu tertahan. Raka tidak mau Maxim marah karena diejek.


"Huffttt... Aku bahkan enggan kembali ke ruanganku. Aku hampir tidak sanggup lagi. Aku bisa gila!!! Hahhhhhhh!!!!" kesal Maxim. Dia menjambak rambutnya sendiri sembari duduk di sofa.


Raka hanya bisa tertawa tanpa bersuara. Dia menahan suara tawanya, tidak mau merusak suasana hati Maxim. 'Bos akhirnya mendapat karma karena selalu menolak wanita' batin Raka sambil tersenyum lebar.


"Kembalilah bos!! Dia akan curiga. Coba bertahan sampai jam makan siang! Aku akan segera mengurusnya!" kata Raka mencoba mengusir Maxim dari ruangannya. Maxim hanya akan mengganggunya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk.


"Hah..... Aku bisa!!! Aku adalah Maxim!! Jadi aku pasti bisa mengendalikannya!" Maxim menyemangati diri sendiri sembari bangkit berdiri dari duduknya.


Raka pun memberinya semangat, memberi Maxim jempol. Hanya itu yang dapat dia lakukan saat ini agar Maxim keluar dari ruangannya.


"Dasar pak bos!!" kata Raka setelah Maxim keluar dari ruangannya dan terdengar suara pintu tertutup.


Maxim berulang kali menarik dan membuang nafas sebelum masuk ke ruangannya sendiri. Bahkan sekretarisnya wanita menatapnya bingung enggan bertanya. Dia memilih menonton adegan itu.


Maxim akhirnya masuk ke ruangannya, tapi lagi lagi sebelum membuka pintu, Hana sudah membukanya. Hana sudah melihat tingkah Maxim sedari tadi dari jendela kaca. Adrian tidak menyadarinya karena jendela kacanya hanya bisa melihat dari dalam keluar.

__ADS_1


Hana bahkan sudah menunggu Maxim di dekat pintu. Menghitung berapa kali Maxim menarik nafas dan menghembuskan nafas. Hana bahkan tertawa geli melihat ulah lucu Maxim.


"Apakah urusannya sudah selesai bos??" tanya Hana setelah membukakan pintu. Hana dapat melihat dengan jelas keterkejutan di wajah Maxim.


"Mmm" jawab maxim singkat dan melangkah ke mejanya. Tidak memperdulikan Hana.


"Pak!! Apakah bapak akan di tunangkan secara paksa??" tanya Hana tiba tiba. Maxim sontak membulatkan bola matanya menatap Hana. Tidak habis pikir dengan pertanyaan yang baru saja gadis itu lontarkan untuknya.


"Apa maksudmu?" tanya Maxim bingung. Dia masih menatap Hana tajam serta bingung.


"Menurut pengalaman saya menonton drama drama pak, orang yang di tunangkan secara paksa mukanya ke bapak. Kusut!!! Kek kain gak disetrika!!" ejek Hana dan langsung tertawa terbahak bahak. Seketika Hana lupa sedang berada dimana dana sedang menghadapi siapa.


"HANA!!!!" teriak Maxim membuat Hana seketikan tersadar. Hana langsung terdiam dan segera menunduk sembari melirik Maxim perlahan.


"Hufftt!!! Anak ART aja sudah tidak tahu aturan kamu!!! Sudahlah, tidak ada gunanya berbicara denganmu. Aku tidak mau merusak hubungan persahabatanku dengan Remon, kamu beruntung diangkat jadi bagian keluarga mereka" kata Maxim kasar. Dia bukannya marah kepada Hana yang mengatainya sedang ditunangkan.


Maxim marah karena tidak bisa mengendalikan perasaannya. Jantungnya lagi lagi berdegup kencang saat Hana tertawa puas tanpa dibuat buat. Hana sangat cantik.


"Mulai siang ini kamu pindah ke ruangan Raka, dia membutuhkanmu disana!! Bereskan barang barangmu!" tambah Maxim membuat Hana seketika membelalak bingung.


"Apa aku sedang diusir secara tidak langsung pak?" tanya Hana polos. Dia tidak percya dirinya akan diusir Maxim.


"Siapa yang mengusirmu?? Aku hanya mengatakan kau pindah ke ruangan Raka karena Raka sedang membutuhkan bantuanmu!" jelas Maxim mencoba membuat Hana mengerti. Maxim memang mengusir Hana dari ruangannya, itu dia lakukan karena Maxim membohongi diri sendiri. Dia mencintai Hana, tetapi kenyataan itu dia tolak karena mengetahui Hana hanya anak dari ART yang diangkat jadi bagian keluarga Sunitra.


"Baiklah pak! Saya akan pindah, tapi jangan mengacaukan nilai saya. Tolong!!!" jawab Hana memasang wajah memelas. Bukan terlihat wajah menyedihkan di wajahnya, wajahnya justru terlihat imut membuat Maxim menjambak rambutnya.


"Hana!!!!! Tolong sekarang kamu pindah ke ruangan Raka!!" suruh Maxim frustasi dengan dirinya sendiri.


"Sekarang pak??" tanya Hana lagi polos.


"IYA SEKARANG!!!" teriak Maxim kesal.

__ADS_1


Mendengar teriakan Maxim yang lumayan keras membuat Hana tergesa gesa berlari mengambil tas dan berkas yang di perlukan dari mejanya. Berlari keluar dari ruangan Maxim menutup pintu keras, membuat Maxim terkejut tetapi diam saja. Hanya bisa melihat kepergian Hana tanpa berucap sama sekali.


"Aku sudah gila!!" Maxim bergumam sendiri, lagi lagi dia menjambak rambutnya frustasi.


__ADS_2