
"Ma!!! Hana berangkat ya!!" pamit Hana setelah selesai menikmati sepotong roti dan susu. Pagi ini dia sangat berbeda, wajahnya ceria. Tidak seperti kemarin yang merasakan takut hanya karena sebuah mimpi.
"Sudah baikan? Tidak bermimpi buruk?" tanya Safira melihat wajah Hana sudah tidak terlihat panik seperti hari kemarin.
"Heheh.... Sudah baikan kok mah!! Hana tidak mimpi buruk, Hana tidur nyenyak kok!!" jawab Hana sambil menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Oh iya!! Kemarin kepala asisten bilang calon mantu mama datang ke rumah, kok inggak kabari mama?" kata Safira, penasaran dengan ekspresi putrinya.
"Siapa yang calon mantu sih ma? Mama ada ada aja deh!! Udah ahh.... Hana berangkat dulu, kalau ladenin mama, bisa bisa Hana telat" Hana mencoba menghindar. Mengingat kejadian kemarin, Hana merasa malu, marah, senang. Hana tidak tahu bagaimana mengekspresikannya.
"Selamat pagi sekretaris Raka? Bagaimana harimu? Sudah ada tambatan hati?" sapa Hana yang sudah memasuki ruangan Raka. Hana tidak menyia nyiakan peluang untuk meledek Raka.
"Lumayan baik, belum menemukannya. Bagaimana denganmu? Apakah masih single?" jawab Raka membalas ledekan Hana.
"Hahahaha.... masih sama pak!! Kita masih sama sama belum memiliki tambatan hati, hanya bos kita yang sedang terkena virus cinta saat ini" kata Hana sembari berjalan ke arah tempat duduknya biasanya.
"Pak sekretaris!! Dimana mejaku? Apa aku sudah di keluarkan dari perusahaan ini? Apa aku melakukan kesalahan?" Hana bingung saat melihat meja dan kursinya tidak lagi ada di tempat biasanya.
"Pikirkan saja apa kesalahanmu, kenapa bos menyuruhku memindahkannya" jawab Raka. Dia sebenarnya tahu alasan Maxim menyuruhnya memindahkan Hana kembali ke ruangannya.
"Saya merasa tidak melakukan kesalahan pak! Pak bos sendiri kok yang peluk Hana kemarin!! Tetapi kenapa Hana yang di hukum? Kan bos sendiri yang peluk Hana sembarangan" Hana tanpa sadar membongkar kejadian yang dia harus sembunyikan ke Raka.
Tentu saja itu menjadi berita hangat untuk Raka. Dia langsung menghampiri Hana, penasaran dengan cerita Hana.
"Benarkah dia memelukmu?" Apa dia mengatakan sesuatu yang membuatmu berdebar?" tanya Raka penasaran.
"Pak!!! Suaranya pelan pelan!! Nanti bos dengar, bisa bisa dia membuat nilai magangku rendah!" kata Hana sedikit berbisik ke arah Raka.
__ADS_1
"Oh maaf!! Jadi bagaimana?" Raka bertanya untuk kedua kalinya. Kali ini dia sedikit menurunkan volume suaranya.
"Iya pak!! Tiba tiba pak bos masuk kamarku sembarangan dan langsung memelukku! Bahkan dia memelukku sangat lama pak!! Aku semakin yakin, wanita itu sudah memenuhi hati, jiwa dan pikirannya" Hana memberitahu pendapatnya, membuat Raka menepuk jidat sendiri.
Meskipun Raka tidak pernah merasakan cinta sebenarnya, tetapi Raka paham akan cinta. Bagaimana tidak paham, Raka hobby membaca novel bergenre romansa.
"Apakah kau belum mengetahui siapa gadis itu?" Raka mencoba memancing Hana.
"Tentu saja tidak tahu!! Diakan tidak pernah cerita. Bahkan kak Remon saja penasaran siapa wanita itu" jawab Hana polos.
"Hahah..... Sebaiknya nikmati saja masa singelmu dan satu lagi, siapkan hatimu! Aku mau bekerja, kembalilah ke ruangan pak bos! Dia memintamu kembali!" selesai memberi peringatan, Raka menyuruh Hana kembali ke ruangan Maxim seperti yang Maxim inginkan.
"Hah!!!! Apalagi ini? Aku seperti barang saja, di pindahkan sesuka hati" rengek Hana sambil berlalu meninggalkan ruangan Raka. Hana melangkahkan kakinya malas. Dia sebenarnya masih enggan bertemu Maxim karena kejadian kemarin. Tetapi takdir berkata lain, Hana diharuskan bertemu Maxim.
"Selamat pagi pak!! Sehat?" Hana masuk setelah mengetuk pintu dua kali.
"Pak!!! Apakah bapak demam? Kenapa wajahmu memerah?" tanya Hana mendekatkan diri ke tubuh Maxim.
"Ah!!!! Tidak. Aku baik baik saja! Kembalilah ke kursimu!" perintah Maxim ingin menghindari Hana. Maxim tidak ingin detak jantungnya terdengar ke telinga Hana. Maxim yakin detak jantung saat ini sangat nyaring bunyinya.
"Benarkah bapak baik baik saja? Tetapi kenapa wajahmu memerah?" tanya Hana lagi tidak percaya. Kali ini dia meraba dahi Maxim membuat Maxim semakin canggung. Jantungnya berdetak semakin tidak terkendali.
"Aku baik baik saja! Kamu kembalilah! Aku keluar sebentar!" Maxim segera berdiri dan menjauh dari Hana. Maxim keluar ingin menenangkan diri.
"Ada apa dengannya? Bukankah kemarin dia masih baik baik saja? Bahkan dia masih memiliki tenaga untuk memelukku" Hana bingung dengan setiap tingkah laku Maxim.
"Hah!!! Aku bisa gila!! Apakah aku selemah ini? Kenapa aku bisa di taklukkan gadis aneh sepertinya?" Maxim berbicara sendiri. Lagi lagi Raka bertugas sebagai pendengar saja. Raka bahkan ingin melemparkan tumpukan dokumen yang sedang dia periksa ke arah Maxim.
__ADS_1
Raka sangat kesal dengan kedatangan Maxim. Masuk tanpa mengetuk pintu, membuat Raka yang serius bekerja terkejut. Bahkan setelah masuk, masih saja merengek. Raka benar benar tidak bisa fokus. Padahal jika pekerjaannya tidak selesai, dia juga akan terkena repetan si bos aneh. Tetapi bosnya itu tidak sadar dengan tingkah lakunya sendiri.
"Ada apa lagi bos?" tanya Raka yang sudah sangat kesal.
"Apa kamu melihat di sekitar kepala Hana ada bunga bunga beterbangan?" tanya Maxim seperti orang bodoh.
"What??? Wahhh!! Sepertinya tingkat level kebucinanmu sudah di luar kendali bos! Kau harus segera mendapatkannya. Karena jika tidak mendapatkannya, kau akan gila sendiri" jelas Raka yang juga merasa tidak percaya dengan kegilaan bosnya.
Raka pernah berpikir jika bosnya sudah menemukan cintanya, maka bosnya tidak akan terlalu merepotkannya. Ternyata itu hanya angan angan semata. Raka justru harus menanggung beban yang lebih berat. Bosnya sangat menyebalkan.
"Ucapanmu benar!! Aku harus segera mendapatkan hatinya. Jika tidak, maka aku akan tersiksa sendirian. Perasaanku harus segera tersalurkan" tekad Maxim penuh pecaya diri.
"Aku pamit!! Tolong gantikan aku di rapat bersama karyawan! Aku mau keluar bersama Hana" dengan santainya Maxim menyuruh Raka dan keluar.
Raka sudah mengangkat tumpukan dokumen di mejanya. Raka sangat ingin melemparkan tumpukan itu ke wajah Maxim dan berucap "Enyahlah dari hadapanku, lebih baik aku di bebani tumpuman dokumen daripada di bebani kisah percintaanmu".
Tetapi Raka tidak akan pernah mengucapkannya. Dia tidak ingin menurunkan tingkat kepercayaan diri Maxim yang sangat diuar kendali.
"Kamu ikut aku!!" Maxim langsung menyuruh Hana mengikutinya setelah masuk ke ruangannya.
"Kemana pak?" tanya Hana penasaran. Ini masih terlalu pagi jika ingin bepergian.
"Ikut saja! Sebagai asisten, kau harus mengikutiku kemanapun juga" jawab Maxim santai.
"Jadi, haruskah aku mengikutimu ke toilet bos?" tanya Hana sembarang. Maxim hanya bisa menatap Hana tidak percaya. Bagaimana bisa gadis di depannya memikirkan hal seperti itu. Sangat aneh, tetapi kenapa dia masih mencintainya?
"Jauhkan pikiran kotormu!! Ikut saja, cepat!" jawab Maxim tidak habis pikir dengan pola pikiran Hana. Dia yang terlalu ceroboh, tidak memikirkan akibat dari ucapannya. Dia tidak berpikir siapa yang sedang diajak berbicara. Dia adalah Hana, si gadis aneh. Gadis yang selalu memiliki banyak tingkah aneh, lucu dan juga menyebalkan.
__ADS_1