
Di kamar atas kediaman keluarga Sunitra masih terdengar suara tawa anak gadis. Mereka adalah Hana, Rena dan Melani. Ketiga gadis itu belum juga mengakhiri perbincangan mereka. Meskipun lebih sering terdengar suara tawa, tetapi kamar itu juga terkadang sepi.
"Jadi gimana Han? Loh memang gak mau magang di perusahaan keluarga loh?" tanya Rena ingij memastikan niat Hana.
"Mmm... gue gak mau nanti ayah gak enakan karena lihat gue bekerja keras disana. Apalagi gue kan belum pernah mau nunjukkan jati diri gue sebenarnya ke publik. Publik masih mencari cari tahu tentang gue, jadi lebih baik untuk saat ini gue menghindar saja. Gue yakin, pasti ada waktu yang tepat gue kembali ke perusahaan ayah. Jadi loh harus bantuin gue cari perusahaan yang cocok untuk gue" pinta Hana kepada kedua sahabatnya.
"Gimana kalau loh ke perusahaan kak Maxim saja, soalnya perusahaan luar negeri mereka udah buka cabang juga di negara kita. Gimana niat tidak?" tantang Melani yang tau jika Hana tidak akur dengan Maxim.
"Gila loh ya!! Loh terniat gak sih bantuin gue!! Yang ada kalau gue kesana gak bakalan serius magang! perusahaannya jadi ajang adu tinju sama adu mulut!! Jadi tolong Mel, loh ngasih ide yang normal ya!" pinta Hana meminta pengertian Melani yang malah ingin menantang Hana.
"Hahahahaha..... loh memang gila Mel, ngasih ide selalu aja ngaur! Enak loh udah langsung pilih perusahaan keluarga Hana, bisa jumpa sama ayang beb loh! Lah dia?" tambah Rena memberi penjelasan pada Melani sekaligus ingin memihak Hana.
Hana malah menatap kedua sahabatnya dengan tatapan penuh selidik. Dia curiga kedua sahabatnya akan meninggalkannya sendiri. "Jangan bilang loh berdua mau magang di perusahaan keluargaku?" tebak Hana.
Rena dan Melani langsung saling menatap. Mereka sedang berusaha menghindar tatapan Hana, membuat Hana yakin jika tebakannya benar. Ekspresi wajah Hana seketika berubah menjadi geram. "Loh berdua tega ya! Hahah.... tega benar loh berdua! Loh berdua sahabat gue apa bukan sih?" Hana menatap kedua sahabatnya bergantian. Dia bukan marah, tapi dia heran saja kenapa kedua sahabatnya lebih memilih perusahaannya.
"Loh juga Mel, kenapa loh gak ke perusahaan Maxim saja? Loh malah tega jual sahabat loh kesana ya!" geram Hana ingin mengacak acak rambut Melani.
"Tolong!!! Han, bukan gitu! Hahahahahaha.... kan loh tau, disana ada ayang beb gue!! Jadi gue harus jaga dia takut di lirik gadis lain! Loh mau?" kata Melani mencoba menyelamatkan diri dari amukan Hana.
__ADS_1
"Trus loh Ren? Kenapa loh lebih memilih ke perusahaan keluargaku? Loh kan bisa sama gue?" tanya Hana menyelidiki Rena.
"Sekarang gue mau tanya loh, Loh udah dapat perusahaan yang mau tempat magang?" tanya Rena pada Hana, tatapan Rena seperti sedang memaksa Hana agar mengerti sendiri dengan apa yang dia maksud.
"Jangan bilang loh juga mau menyelamatkan diri? Loh berdua kejam ya!" kata Hana dan menjauh dari kedua sahabatnya.
Rena dan melani mendekati Hana, bukan niat mereka ingin menyelematkan diri. Tetapi sahabatnya itu yang tidak bisa mereka mengerti. Hana yang terlalu senang mempersulit diri sendiri. Berbeda dengan Rena dan Melani, bisa magang di perusahaan keluarga Hana adalah sebuah anugerah. Sulit bisa masuk ke perusahaan itu, apalagi menjadi karyawan di perusahaannya.
Hana memang gampang masuk ke perusahaan keluarganya, hanya saja Hana tidak ingin selalu berada di lingkup keluarnya. Hana ingin mencoba sesuatu yang baru, yang jauh dari lingkungan keluarganya. Hana juga penasaran dengan sistem manajemen perusahaan lain.
"Jangan marah dong Han!! kita berdua tuh merasa bisa masuk ke perusahaan keluarga loh udah sebuah mujizat! Jadi loh pasti paham kan maksud kita berdua. Lagian loh kan tau, kita berdua belum tentu bisa magang disana karena harus tes dulu. Ayah loh sih yang terlalu ketat, siapa suruh buat syarat magang harus ujian dulu!" kata Melani mencoba memberi pengertian pada Hana.
Hana hanya bisa melihat kedua sahabatnya secara bergantian. Hana mengerti dengan maksud kedua sahabatnya. Banyak mahasiswa yang ingin magang di perusahaan keluarga mereka, tidak terkecuali Rena dan Melani. Hana merasa dirinya egois, egois karena menahan kedua sahabatnya. Hana menarik nafas dalam "Gue akan coba bilang ke ayah, tapi kalian berdua jangan buat aku malu! Baik baik disana!" kata Hana dengan senyuman terukir di bibirnya.
Hana ingin memberitahu kedua sahabatnya bahwa dia mendukung keinginan kedua sahabatnya. Hana akan membantu kedua sahabatnya. "Loh berdua juga harus doain gue biar bisa magang di perusahaan besar juga ya!" pinta Hana dan memeluk kedua sahabatnya. Ketiga gadis itu saling merangkul satu sama lain.
"Gawat! ini sudah jam berapa? Gue gak boleh lama pulang, ibu pasti menungguku" kata Rena tiba-tiba di sela sela pelukan mereka. Rena melepas pelukannya dan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Gue balik duluan ya! ini sudah gelap, takut ibu kawatir! Mel, loh gak balik?" tanya Rena pada Melani. Mungkin mereka bisa sama-sama keluar dari rumah Hana.
__ADS_1
"Gue juga balik saja, toh kak Remon gak nyariin gue. Capek gue dandan tadi!" kesal Melani yang mengingat Remon sama sekali belum bertemu dengannya.
"Hahahahaha... aneh loh Mel, loh rela dandan seperti itu hanya untuk kak Remon?" tanya Hana tidak habis pikir dengan sahabatnya Melani.
"Loh juga pasti nanti bakalan rasain gimana dandan untuk orang yang kita cintai. Gue doain loh gak akan lama, loh akan menemukan pria yang membuatmu berubah dari biasanya" kata Melani seperti seseorang yang meramalkan masa depan bagi orang lain.
"Gila loh, ngawur aja. Udah sana pulang! loh berdua hanya akan membuat kepala gue pusing! Mending loh berdua pulang sana!" usir Hana pada kedua sahabatnya
"Loh memang teman gak ada akhlak! loh tega tega ngusir sahabat loh! Dasar!" kata Rena dan pergi keluar kamar Hana.
"Hahahaha.... jangan marah sayang! Hati hati di jalan ya, jangan ngebut di jalan! Bye sayang!! Jangan lupa pamit sama kak Remon, Melani sayang! nanti kak Remon rindu!" goda Hana sembari menyenggol lengan Melani.
"Kakak tampannya gak terlihat, gimana mau pamit?" kesal Melani yang memang ingin melihat Remon.
"Tenang, itu dia!" menunjuk ke arah ruang tamu, Remon terlihat sibuk dengan remote kontrol hitam di tangannya. Remon sedang bermain game.
"Hm hm hm.... hay kak, kita berdua pamit pulang ya! Sampai jumpa besok! Jangan rindukan aku di tidurmu, bye!!" Melani menyalim tangan Remon dan melambaikan tangannya setelah akan keluar dari pintu rumah Hana.
"Cie di salamin sama sayang!!" gugup pasti kan? Jantungnya pasti sakit tuh?" tebak Hana menggoda Remon yang sudah terlihat salah tingkah karena di goda Melani tadi. Remon terkadang senyum, terkadang juga berwajah datar. Tetapi dia tidak menunjukkan senyuman itu pada saat Melani dan Rena di rumah,Remon menahannya hingga saat kedua sahabat Hana pulang.
__ADS_1
Remon bahagia karena Melani pamit padanya. "Udah serasa istri pamit suami saja!" gumam Remon berangan angan membuat Hana melihatnya dengan mata melotot. Remon bahkan tidak sadar dia sedang di tatap Hana dengan tatapan tajam setajam pisau yang baru di asah, mematikan.