
Pagi pagi buta, Hana dan seluruh keluarga sudah bangun. Safira juga sangat bersemangat hari ini. Dia mempersiapkan pesta untuk makan malam bersama keluarga Raka maholtra. Hana seperti biasa berangkat magang. Dia tidak ikut andil dalam urusan rumah. Dia siap terima jadi. Dia hanya perlu mengajak Melani dan Rena ke rumahnya untuk makan malam besar.
Dalam satu hari penuh, di wajah Hana selalu terukir wajah bahagia. Sekretaris Raka bahkan sedikit ngeri dengan wajah ceria Hana.
"Apa ada hal membahagiakan?" tanya Raka penasaran.
"Kak Remon akan bertunangan! Tentu saja ini sangat membahagiakan!!" jawab Hana dengan wajah ceria.
"Apa kamu tidak takut calon kakak iparmu galak??"
"Apa yang perlu di takuti, calon kakak iparku sahabat karibku!! Pak sekretaris lucu deh!!" kata Hana bermanja manja. Dia sangat senang, Melani akan segera menjadi kakak iparnya.
'Hufttt.. Di satu sisi ada yang sedang berbahagia, disisi lain ada orang yang bermain petak umpet. Kasihan dia bos ku! Bos kudoakan kamu segera kembali karena tidak bisa menahan rindu!!' batin Raka. Tengah malam dia harus mengantar Maxim untuk penerbangan ke AS.
"Pak sekretaris!! Kenapa ruangan pak bos tertutup semua? Apa pak bos sakit karena habis diputuskan?" tanya Hana penasaran.
"Pak bos ke AS, ada urusan mendesak!" jawab Raka berbohong.
"Kenapa Hana gak diajak? Kan sekatang Hana asistennya? Hana jadi merasa tidak enak karena tidak menjalankan tugas Hana dengan baik" Hana justru curhat membuat sekretaris Raka merasa kasihan.
"Jangan kawatir!! Bos bisa mengatasinya sendiri, dia meninggalkanmu agar bisa membantuku menjaga perusahaan!" kata Raka mencoba menenangkan Hana.
"Kenapa harus di jaga pak? Kan gedungnya gak mungkin pindah kecuali di hancurkan!" jawab Hana asal tapi sukses membuat Raka tertawa kecil.
"Anggap saja begitu. Coba bayangkan seseorang merobohkan gedung kita tercinta ini saat kita sedang bepergian bersama bos?" Raka justru meladeni kegilaan Hana.
Hana menggeleng kepala ngeri setelah membayangkannya. "Kasihan bos kita pak! Sudah tersakiti karena wanita, tersakiti lagi karena gedung perusahaannya roboh. Baiklah pak mari kita sama sama menjaga gedung kita!" kata Hana bersemangat dan dianggukkan Raka.
Raka tetap fokus dengan pekerjaan yang di tinggalkan Maxim. Memang menyebalkan jika Maxim sudah bepergian, pekerjaan Raka akan bertambah dua kali lipat. Apalagi Raka harus menggantikan Maxim mengikuti meeting atau pertemuan pertemuan lainnya yang menyangkut bisnis.
"Pak! Apa bapak mau ikut makan malam di rumahku? Hitung hitung menggantikan pak bos, andaikan pak bos disini, bang Remon pasti mengundangnya" Hana menawarkan dengan niat baik.
"Hahahahaha....kamu sangat baik, tetapi sepertinya saya harus menolaknya dengan terpaksa Hana, saya harus mrngikuti pertemuan lain malam ini. Mungkin lain kali saja ya! Maaf!" tolak Raka lembut tidak mau menyinggung Hana.
"Tidak perlu sungkan pak, saya mengerti bapak! saya tidak memaksa kok, mungkin suatu hari nanti bapak bisa ikut berkumpul bersama kami" jawab Hana sopan.
Hana kembali sibuk dengan pekerjaannya. Hana tidak sabar ingin jam pulang kantor tiba. Hana akan menemui kedua sahabatnya dan mengajak Rena dan Melani ke rumah untuk makan malam. Pasti akan sangat menyenangkan. Hana merindukan kebersamaannya dengan kedua sahabatnya. Waktu mereka bertemu sudah tidak seperti masa sekolah dan masa awal awal perkuliahan. Mereka jarang bertemu karena harus sibuk mengurus projek akhir.
__ADS_1
Raka hanya bisa menggeleng kepala melihat Hana yang selalu melirik jam tangan abu abu yang melekat di pergelangan tangannya. "Hana fokus!" kata Raka mengingatkan Hana. Raka tidak mau Hana melakukan kesalahan karena buru buru pulang.
Hana hanya membalas dengan senyuman lalu berusaha untuk fokus. Hana dengam telaten memeriksa kembali pekerjaan yang sempat dia kerjakan dengan tidak fokus.
Hana beristirahat sejenak, meregangkan otot otot yang terasa kaku. Tidak terasa dia sudah menghabiskan setengah jam bekerja dengan fokus tanpa bergerak rusuh. Seluruh ototnya terasa kaku dan sedikit terasa panas di area leher. Hana mencoba melakukan gerakan gerakan yang bisa mengurangi rasa kaku pada otot ototnya.
"Gaesss, nanti kita bertemu di tempat makan bakso biasa! Ada info penting!" Hana menyempatkan diri untuk menginformasikan kedua sahabatnya di grup chat mereka.
"Oke" balasan Rena dan Melani cepat. Hana tidak perlu menunggu lama.
"Pak! Saya mau pantry buat kopi, apa bapak mau dibuatkan juga?" Hana mencoba menawarkan jasa. Hana merasa ngantuk, dia terlalu lama menatap huruf dan angka di laptop dan kertas secara bergantian. Bahkan kepalanya sudah hampir terasa pusing.
"Jika nona Hana berkenan, saya akan sangat berterima kasih!" jawab Raka enggan. Dirinya bukan Maxim si bos besar yang bebas saja memberi perintah. Raka enggan karena mengingat Hana sudah bagian dari keluarga Sunitra. Berarti Hana berada di level lebih tinggi dari dirinya di luar sana.
"Tidak perlu sungkan!! Saya buat dulu kopinya ya pak, mohon bersabar sebentar.
Kopi untuk minuman sore penghilang rasa kantuk. Hana selesai membuat 2 cangkir kopi, membawanya dengan nampan. Meletakkan kopi buatannya di meja Raka.
"Silahkan Pak dinikmati kopinya, kalau pahit itu ciri khas kopinya pak, soalnya kalau manis itu aku!!!" canda Hana setelah meletakkan kopi di meja Raka.
Hana duduk dengan kopi yang tersisa di nampan. Dia menyeruput kopinya pelan, menikmati rasa dengan lidahnya. Hana membulatkan mata, memutar bola matanya. Itu dia lakukan agar otot otot di sekitaran mata tidak terasa kaku.
"Kopinya sangat nikmat!! Terima kasih Hana" kata Raka setelah menyeruput kopi buatan Hana.
"Terima kasih atas pujiannya pak!" jawab Hana.
Hana kembali fokus mengerjakan pekerjaan yang tertunda setelah fokusnya kembali. Sesekali Hana mengelus dagunya pertanda dia sudah mengerti dan bisa memecahkan masalah yang sedang dia alami.
"Selesai!! Pak saat pamit pulang!" tiba tiba Hana meminta ijin untuk pulang.
Raka sedikit terkejut, Raka melirik jam tangannya dan semakin terkejut saat jarum jam di lengannya sudah menenjuk ke jam 5, jam pulang kantor mereka.
"Silahkan nona Hana!" jawab Raka mempersilahkan.
Hana yang sudah selesai membenahi barang barangnya segera keluar dari ruangan Raka. Hana terlihat buru buru di setiap langkahnya. Hana segera melajukan sepeda motor meninggalkan gedung perusahaan.
Di sebuah kedai bakso, Melani dan Rena sudah menunggu kedatangan Hana. Kedua gadis itu sudah menikmati bakso yang sudah dipesan dari bibi pemilik kedai.
__ADS_1
"Sorry!!! Gue kelamaan gaes!!" Hana tiba tiba mengejutkan kedua sahabatnya yang sedang menikmati dua mangkuk bakso.
"Keenakan kencan sih luh!!" ledek Melani.
"Hahah...kencan dengan tumpukan kertas" jawab Hana singkat sembari meletakkan tasnya di kursi.
Hana memesan mie ayam komplit. Tidak menunggu lama mie ayam kini sudah Hana nikmati. "Ada acara apaan sih Hana di rumah kalian. Kok ngundang makan malam sih?? Jangan jangan loh mau dijodohin ya?" tanya Melani penasaran. Kedua sahabat Hana tidak tahu sama sekali penyebab Hana mengundang mereka makan malam di rumah keluarga Sunitra. Kedua sahabat Hana tidak tahu acara apa yang sedang di selenggarakan keluarga Hana.
"Ada deh!! Pokok datang kita harus gerak sekarang!" jawab Hana lebih mempercepat makannya.
"Yaudah deh, yang penting acaranya jangan aneh aneh! Udah cepetin makannya" jawab Rena.
Hana tersenyum kecil, mulutnya sudah penuh dengan mie ayam yang tersisa sedikit. "Loh boayarin sana!! Biar kita cabut!" suruh Hana memerintah Rena.
"Yaudah, tungguin gue!" jawab Rena dan bangkit dari duduknya menemui bibi pemilik kedai.
Ketiga gadis itu kini sudah memasuki kawasan kerajaan Sunitra. Satpam membuka gerbang setelah melihat dua sepeda motor yang dia kenali.
"Terima kasih bapak tampan!" goda Melani dan menjawab senyum malu malu dari bapak satpam.
Hana dan Rena sudah terbiasa dengan sikap Melani. Jadi keduanya hanya tersenyum dan mengabaikannya.
"Selamat malam!!!" teriak Hana dari balik pintu dan diikuti kedua sahabatnya.
Pintu terbuka, Melani seketika membulatkan mata. Kedua orang tuanya sudah ada di rumah Hana. "Acara apa sih Han? Kok bokap, nyokap gue kesini?" tanya Melani penasaran.
"Udah masuk aja!" suruh Hana.
Melani masuk, dan lagi lagi dia terkejut. Remoj tiba tiba datang dan berjongkok di depannya. Melani sampai mundur beberapa langkah karena terkejut.
"Wao!!!! Ini apa? Bikin kaget aja!!" kata Melani asal setelah mundur beberapa langkah.
"Aku tau kau mencintaiku, dan kau juga harus tau bahwa aku juga sangat sangat mencintaimu. Aku tidak mau milikku di lirik apalagi diambil orang lain. Jadi aku akan mengikatmu dengan sebuah ikatan perjodohan. Mau kah kau menyerahkan dirimu padaku? Aku berjanji aku akan menjagamu, mendukungmu, selalu berjalan beriringan denganmu. Jadi kumohon terima aku dan jangan buat aku merasakan cemburu tidak menentu. Aku tidak suka berpacaran, karena aku menganggap itu hanya akan dilakukan mereka yang tidak memiliki komitmen. Aku berbeda, aku yakin dengan pilihanku dan aku berkomitmen. Terima aku!" Remon mengungkapkan seluruh isi hatinya yang selama ini terpendam. Selama ini dia hanya merasakan kecemburuan yang tidak jelas karena melihat Melani selalu di kelilingi pria.
Terntu saja seorang Remon tidak menyukainya. Dia bahkan sampai melakukan hal gila demi membawa gadis yang dia sukai semakin dekat dengannya. Remon sudah mengikatnya dengan bertunangan. Artinya dia sudah berada sedikit lebih dekat dengan kata memiliki Melani sepenuhnya.
Melani bahkan tidak bisa berkata kata. Mulut pelu, hanya air mata yang mengalir di kedua pipinya.
__ADS_1