STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
RENCANA PERNIKAHAN REMON


__ADS_3

Acara kelulusan di dalam ruangan telah selesai. Semua mahasiswa kini sudah terlihat sibuk mengabadikan momen. Ada yang bersama orang tua, ada yang bersama sahabat, dan ada juga yang bersama pasangan. Bahkan sekarang banyak gadis gadis yang terlihat mengantri ingin berfoto dengan Maxim dan Remon. Tentu saja itu membuat dua gadis di taman menatap tidak suka.


"Sabar Han, sabar Mel!! Jangan mempermalukan diri sendiri" kata Rena menenangkan kedua sahabatnya. Dia beruntung belum mengalami masa masa kedua sahabatnya. Rena masih merasakan kebebasan. Dia menyukai itu, tidak ada hal yang mengikatnya.


"Kakak ipar!!! Bagaimana kalau kita membalas mereka. Ingat!!! Kita juga banyak fans!" ajak Hana menarik Melanie dan Rena ke tengah lapangan.


Setiba ketiga gadis itu di tengah lapangan, beberapa gerombolan mahasiswa laki laki datang menemui ketiga gadis itu. Mereka ingin berswafoto dengan ketiga gadis itu. Hana dan Melani dengan senyuman ramah menerimanya. Berbeda dengan Rena yang merasa tidak nyaman.


Rena hanya melayani beberapa orang saja untuk berfoto dengannya. Rena tidak terlalu suka berfoto bersama orang orang yang tidak dekat dengannya. Sama halnya dengan Melani dan Hana, kedua gadis itu juga tidak suka berfoto dengan orang yang tidak dekat dengan mereka. Namun karena ingin balas dendam dengan pria mereka, kedua gadis itu terpaksa melakukan hal yang tidak mereka suka.


Saat salah seorang pria ingin merangkul tangan Hana ketika berfoto, Maxim langsung menarik Hana ke dekatnya.


"Maaf!!! Saya ingin membawa gadisku!!" kata Maxim sembari menarik Hana ke dekatnya.


Sama dengan Remon, dia juga menarik Melani yang masih meladeni orang orang yang jngin berfoto dengannya.


"Kenapa sih kalian melarang kami? Kami juga punya pengagum!" kata Melani melepas tangannya dari tangan Remon.


"Emang cuman kalian yang punya pengagum? Kalian lupa, kami bertiga termasuk deretan gadis cantik di kampus. Jadi jangan macam macam!!" kata Hana membantu Melani. Seketika kedua pria itu terdiam mendapat ancaman dari Hana dan Melani.


"Aku tidak ikut serta, lebih baik aku menemui ibuku. Ibu sedang menungguku!" kata Rena tidak mau ambil pusing dengan dua pasangan di depannya.


"Benarkah? Dimana bibi? Kita harus berfoto dengan bibi! " ajak Hana. Ketiga gadis itu berlari ke arah wanita paruh baya yang sedang melambai ke arah mereka.


Ketiga gadis itu bergantian memeluk ibu Rena. Mereka sudah sangat dekat, jadi tidak ada kecanggungan diantara mereka.


"Bi!! Ayo kita berfoto!!" ajak Melani merangkul ibu Rena.


"Mari saya ambil!" Remon menawarkan diri. Sepeninggal ketiga gadis itu menemui ibu Rena, Maxim dan Remon juga segera menyusul.

__ADS_1


"Gitu dong!!! Jadi pria itu harus peka!!" kata Melani meledek.


Ketiga gadis itu langsung mendekat ke arah ibu Rena. Mereka membuat banyak gaya gaya unik. Hana dan Melani juga membiarkan Rena dan Ibunya berfoto. Setelah puas berfoto, Rena pamit pulang lebih dulu mengajak ibunya. Rena tidak ingin ibunya terlalu lelah. Hana dan Melani bahkan menawarkan agar mengantar, tapi Rena menolak.


Hana dan Melani hanya bisa melambaikan tangan melihat kepergian Rena dan Ibunya. Sepeninggal Rena, Maxim dan Remon berusaha membujuk Hana dan Melani. Mereka juga ingin berfoto bersama. Mereka iri melihat pasangan pasangan lain yang berfoto dengan gaya gaya romantis.


"Bukankah kalian masih ingin berfoto dengan gadis gadis itu?? Pergilah!! Kami juga akan berfoto bersama pengagum kami!!" kata Hana dengan memasang wajah tidak suka karena gadis gadis di lapangan masih saja menatap pria mereka.


"Apa kalian cemburu??" kata Remon meledek.


"Hahah.... Siapa yang cemburu?? Kita juga mau berfoto dengan pengagum kami. Awas!!!" kata Hana dan akan meninggalkan Maxim dan Remon.


"Tidak bisa!!" kata Maxim menolak dan segera menarik Hana menjauh dari lapangan. Maxim tidak suka melihat pria lain melirik wanitanya.


Remon juga melakukan hal yang sama, dia juga menarik Melani ke tempat yang tidak banyak pria memandangi gadisnya.


"Dimana adikmu?" tanya Lexon ke Remon.


"Disana!" kata Remon menunjuk ke arah Hana.


"Sama siapa?" tanya Safira.


"Biasa mah, Maxim" jawab Remon singkat.


"What??? Apa mereka sudah pacaran?? wahhh.... Mama senang!!" kata Safira dengan senyum ceria di wajahnya. Tapi tidak dengan suaminya. Lexon tidak terlalu senang, entah apa yang sedang terjadi.


"Bro!!! Apa kau masih berharap jika anak pria blasteran laki laki? Kau masih berharap anakmu dan anaknya berjodoh?" bisik Raka ke Lexon. Raka dapat melihat jelas bagaimana ekspresi Lexon.


"Kau memang sahabat yang mengerti diriku. Tapi sampai sekarang aku belum bisa menghubungi, entah bagaimana kabarnya sekarang!" jawab Lexon.

__ADS_1


"Jangan pusingkan!! Jika berjodoh, mereka pasti bertemu! Aku juga akan membantu mencari kontak pria blasteran itu! Tapi setelah upacara pernikahan anak kita selesai, aku ingin membuat pria blasteran itu iri denganku karena kita sudah besan!" kata Raka mengangkat satu alis kanannya membuat Lexon tertawa lucu dengan eskpresi sahabat itu.


"Benar juga katamu, tinggal dirinya yang tidak berbesan denganku. Kita harus segera menetapkan tanggal pernikahan mereka. Lihatlah anakku, sepertinya dia sudah tidak bisa jauh dari putrimu!" jawab Lexon melihat ke arah Remon yang selalu menggandeng Melani. Lexon dan Raka lagi lagi tertawa bersama, mereka bahkan membuat istri istri mereka heran, tapi keduanya abaikan.


"Ma, pa!! Ayo berfoto bersama!" ajak Hana yang sudah melihat kedatangan orang tuanya.


"Papa kira kamu lupa karena terlalu asyik dengan priamu!" ledek Lexon.


"Hahahahaha.... Papa cemburu sama putri sendiri!!" ledek Hana.


"Gak apa apa cemburu sama putri sendiri!! Benar kan mah!!" kata Lexon meminta pendapat Safira.


"Udah Han, abaikan saja papamu. Papamu berlebihan, mama senang kok dengan kalian!! Semoga langgeng!! Mama bahkan terkejut saat Melani cerita kisah kalian tadi, Hahahahahaa..... Mama iri!" kata Safira mengabaikan suaminya.


Kedua keluarga itu akhirnya berfoto bersama. Hana dan Melani juga berfoto bersama pasangan mereka. Mereka bahkan lupa waktu. Hana bahkan lupa jika dia menyembunyikan identitasnya.


Terbukti dari tatapan tatapan bingung mahasiswa yang masih berada di area kampus. Mereka banyak bertanya perihal kedekatan Hana dengan keluarga Sunitra. Bahkan mereka juga heran dengan Melani yang berfoto dengan atasan kampus mereka. Adegan ini benar benar mengejutkan. Hana dan Melani tidak peduli, mereka hanyut dalam kebahagiaan mereka.


"Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" tanya Lexon ke Remon.


"Secepatnya pah!! Bagaimana menurutmu?" kata Remon balik bertanya.


"Papa tidak akan berkomentar, papa hanya akan memberimu saran. Jika kau sudah siap, maka lakukan!" kata Lexon sembari menepuk pundak putranya.


"Terima kasih pah!" kata Remon senang dengan dukungan Lexon.


Setelah acara kelulusan, Hana memilih untuk segera tidur karena merasa lelah. Safira sedang membaca majalah, Lexon dan Remon mengobrol sambil bermain ponsel.


"Mama juga setuju dengan kata papamu, jika kamu sudah siap, maka kami orang tuanya mendukungmu!" kata Safira menambahi saran suaminya. Safira menghentikan kegiatannya membaca majalah. Fokusnya teralihkan ke topik pembicaraan suami dan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2