STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
ASISTEN YANG BAIK


__ADS_3

Pagi ini Hana tidak terlihat buru buru dari rumah. Hana bangun lebih awal dan bersiap lebih awal dari biasanya. Hana bahkan sudah selesai makan dan hendak berangkat ke perusahaan Maxim, Kalian grup.


"Mah! Hana berangkat ya! Titip salam buat ayah!" teriak Hana dari ruang tamu dan segera menuju garasi mengambil sepeda motornya. Hana tampak begitu bersemangat. Hana tidak melupakan lutut dan dahinya, dia menempelkan perban yang selalu dia bawa di tas. Hana menempel perban tidak di rumah, tapi di garasi. Hana tidak ingin Safira melihatnya dan membuat Safira kawatir, padahal itu hanya kebohongan semata.


Hana melaju ke jalan arah Kalia grup. Hana menyapa seluruh karyawan yang berpapasan dengannya, tidak lupa senyum di lebar di bibirnya. Tingkah Hana bahkan membuat seseorang di belakang merasa aneh bahkan merasa was was akan ada sesuatu yang terjadi. "Aneh!! Raka!! Hari ini kau akan bekerja di ruanganku" titah Maxim ke raka yang berjalan di belakang.


"Kenapa bos? Apa ada masalah besar?" tanya Raka yang tidak pernah mendapat perintah seperti itu di hari hari sebelumnya.


"Bukan hanya besar, tapi sangat besar! Ini menyangkut nyawa bos mu, jadi turuti saja" tambah Maxim memberi penekanan pada nyawa.


"Baik bos!! Jika ini menyangkut nyawa, saya harus berjaga ketat" jawab Raka penuh antusias.


Maxim sudah berada tepat di depan ruangannya, dia menarik nafas sejenak hendak masuk ke ruangannya. Raka sudah bersiap untuk membuka pintu tapi gagal karena kini pintu sudah terbuka lebar. Maxim terkejut, Raka bahkan ikut terkejut.


"Selamat pagi bos!! Bagaimana paginya? Saya harap harinya baik. Silahkan masuk!" mempersilahkan Maxim masu ke ruangan. Maxim tidak menjawab, dia hanya mengangguk sambil menggeleng geleng kepala. Raka yang ikut terkejut tidak masuk, dia masih mematung di depan pintu.


"Silahkan masuk sekretaris Raka! Oh iya saya baru ingat, saya juga punya kenalan namanya Raka. Hanya saja versi Rakanya berbeda dengan versi Raka disini!! Pak Raka mau masuk atau langsung ke ruangannya?" tanya Hana.


"Masuk!" jawab Raka singkat.


"Silahkan masuk!! Tangan saya sudah pegal menahan pintunya" kata Hana membuat Raka cepat cepat masuk ke ruangan bosnya.


'Pantas saja si bos menyuruhkan kesini, kini saya mengerti siapa yang menjadi ancaman' batin Raka setelah masuk ke ruangan dan berdiri di samping Maxim. Sedangkan Hana, Hana masih sibuk menutup pintu dan menuju ke mejanya untuk mengambil tab.


"Bos! kini aku mengerti kenapa bos menyuruhkan kemari?" bisik Raka ke Maxim.


"Baguslah kau paham, ini masih tergolong biasa. Sebentar lagi akan ada ancaman yang lebih membahayakan, persiapkan dirimu!" jawab Maxim ikut berbisik. Keduanya langsung berhenti berbisik setelah Hana mendekati meja Maxim dengan tab di tangannya.

__ADS_1


"Pagi pak! Berikut jadwal kegiatan bapak hari ini. Silahkan di periksa dulu, mungkin ada yang perlu di rubah" kata Hana menyerahkan tab di tangannya ke Maxim


"Harimu sepertinya sangat bagus ya! Bagaimana lukamu? Sudah sembuh?" tanya Maxim penasaran karena melihat Hana hari ini begitu bersemangat.


"Ohhh kaki saya pak? Hanya sakit sedikit lagi pak, mungkin besok sudah sembuh tinggal menghilangkan bekas luka saja, terima kasih atas perhatiannya" jawab Hana


"Jadi Bapak tidak perlu lagi kawatir, saya akan bersama bapak sampai jadwal bapak selesai" tambah Hana bersemangat. "Sekretaris Raka bersantai lah! Saya akan mengurus bosmu" kata Hana menenangkan Raka.


Padahal Raka kawatir karena Hana akan selalu bersama bosnya, yang berarti ancaman besar sudah mendekati bosnya. "Tidak perlu sungkan nona, saya akan menjadi supir anda dan bos jika bepergian. Jadi nona pekerjaan nona akan lebih ringan" jawab Raka tidak ingin meninggalkan bosnya. Mengingat Maxim juga sudah memberi lirikan tajam ke arahnya.


"Baiklah pak sekretaris, saya merasa terhormat dengan bantuannya. Mengingat kita di undang makan siang oleh wakil presiden Sunitra Grup, jadi saya tidak perlu repot mencari supir" terus terang Hana.


"Oh iya pak, apa bapak butuh kopi? mungkin teh? atau mungkin minuman herbal agar tetap sehat" tawar Hana. "Pak sekretaris juga boleh memilih, saya sudah buat menunya, tunggu sebentar!" tambah Hana berjalan menuju mejanya dan mengambil lembaran kertas yang di dalamnya ada menu minuman.


"Silahkan di pilih pak, maaf ini saya bukan jualan. Tetapi saya melakukannya untuk mempermudah pekerjaan saya" jelas Hana sembari melempar senyum lebar.


"Sama dengan bos!" pesan Raka menambahi pesanan.


"Siap laksanakan! Saya akan segera buatkan" jawab Hana segera keluar ruangan menuju pentri.


"Bos!! Apakah kita harus meminum kopinya? Aku takut ada sesuatu di dalam kopinya" kata Raka setelah Hana keluar ruangan.


"Berdoa saja! Biar bagaimanapun kita harus menghargai kebaikannya. Baru kali ini dia menjadi asisten yang baik, meskipun perasaanky tidak nyaman" jawab Maxim. Matanya masih menatap ke arah pintu, menanti kapan Hana akan muncul dari balik pintu itu.


"Bos!! Aku merasa ruanganmu terlalu dingin bos? Mungkin saya akan demam!" tutur Raka. "Apa saya bisa duduk di sofa bos? Kakiku seperti akan patah karena berdiri lama serta karena merasa tidak nyaman" tambah Raka.


"Duduk saja! Aku juga merasa kasihan padamu. Berapa jam lagi supaya jam makan siang? Aku ingin bernafas lega" tanya Maxim.

__ADS_1


"Sekita 1 setengah jam lagi bos! Kita harus bersabar, semoga Yang Maha Kuasa memudahkan kita untuk melewati sisa waktu sebelum makan siang" harap Raka.


"Benar katamu!" Maxim membenarkan ucapab Raka. Seketika perbincangan mereka terputus. Seorang gadis muncul dengan nampan di tangannya serta di dalam nampan ada 3 gelas cangkir.


"Silahkan dinikmati!" tawar Hana sembari meletakkan gelas di meja Maxim dan Raka.


"Pak bos, ijinkan saya untun minum!" kata Hana meminta ijin sebelum menikmati minuman rasa cokelat.


"Silahkan, tidak masalah!" ijin Maxim mempersilahkan Hana.


Hana tersenyum cerah dan segera menyeruput minuman cokelat. "Sangat nikmat!!" gumam Hana tetapi masih terdengar di telinga Maxim dan Raka.


"Pak! Saya heran, kenapa bapak berdua menikmati teh di tengah banyaknya pekerjaan? Seharusnya pak bos dan pak sekretaris meminum yang manis supaya beban terasa ringan!" nasihat Hana sambil menikmati minumannya.


"Minuman kami bisa menjernihkan otak dan menghilangkan kantuk. Berbeda dengan minumanmu yang manis, bisa membuat gemuk dan mengantuk karena kebanyakan gula" jawab Maxim. Di dalam kata katanya ada maksud untuk menyindir Hana.


"Hahahaha.... jangan salah pak, orang dengan suasana hati buruk bisa sembuh jika mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung gula. Jadi saran saya jika bapak berdua sedang dihadapkan dengan masalah, maka coba konsumsi makanan dan miunan manis" tambah Hana menjelaskan.


"Terima kasih atas sarannya, silahkan kembali bekerja" titah Maxim mengusir Hana. Maxim yakin Hana akan memperpanjang obrolan jika tidak segera di selesaikan.


"Baik pak! Saya juga sedang memiliki pekerjaan yang tertunda karena di tahan olehmu" jawab Hana dan segera meninggalkan meja Maxim dan duduk di kursinya.


"Jangan lupa jam 12 kurang kita akan makan siang di restaurat baraton. Pak sekretaris, tolong saling mengingatkan, saya cenderung lupa jika sudah bekerja" jujur Hana meminta bantuan sekretaris Raka.


"Sudah waktunya makan siang! Ayok berangkat!" ajak Raka yang tersadar akan jam yang melekat di pergelangan tangannya.


"Baik pak, mari berangkat!! mari saya bawa barangmu yang perlu di bawa" Hana menawarkan bantuan dan di balas anggukan oleh Maxim.

__ADS_1


__ADS_2