STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
KECURIGAAN HANA


__ADS_3

Ketiga wanita dewasa itu tidak merasa lelah menghabiskan waktu bermain dengan Yemima. Mereka justru terhibur, sudah sangat lama mereka tidak merasakan suasana seperti sekarang.


Tok...tok....tok.... Bunyi ketukan pintu kamar Hana. "Itu pasti ibu!!" tebak Yemima.


Benar saja. Stelah Melani membuka pintu, ibu Yemima berdiri di depan pintu. Dia memberikan senyuman ramah ke Melani setelah Melani membuka pintu.


"Mama....." teriak Yemima dan menghamburkan diri ke pelukan ibunya.


"Apa ibu membawanya?" tanya Hana.


"Ini ada di dalam tas!! Turun dulu ya sayang, mama mau ambil pakaian dulu dari tas!" suruh ibu Yemima dan diangguki Yemima. Melani mengajak Yemima bermain agar tidak mengganggu kesibukan Hana dan yang lainnya.


"Ini!!" menyerahkan pakaian yang ukurannya pas di badan Yemima.


Hana menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Hana memeriksa label pakaian. Hana sangat terkejut, di label tertulis merek pakaian perusahaan mereka. Tetapi Hana segera menyembunyikan ekspresinya. Hana tidak mau ibu Yemima salah paham. Hana harus memeriksanya terlebih dahulu sebelum membuat kesimpulan.


"Boleh aku membawa ini pulang bu? Aku ingin memeriksa sesuatu" pinta Hana.


"Tidak apa apa!! Bawa saja, dan tolong jika menemukan sesuatu beritahu aku" kata ibu Yemima dengan nada memohon.


Hana mengangguk setuju. Safira seperti tahu apa yang Hana pikirkan. Safira akhirnya memilih mengajak ibu Yemima mengobrol dan membiarkan Hana berpikir. Hana mungkin butuh ruang sendiri untuk berpikir.


Maxim, Remon dan Lexon datang bersamaan. Mereka bertemu di parkiran rumah sakit. Entah kenapa mereka harus datang beramai ramai menjemput Hana. Padahal sebenarnya Hana tidak menyukainya.


"Apa sudah berberes? Ini sudah malam, ayo pulang!!" ajak Lexon setelah masuk ke kamar Hana.


"Belum, papa gak sabaran. Ini kami lagi asyik ngobrol kok diganggu sih!!" cerewet Safira menyalahkan Lexon, suaminya.


"Kan papa gak tahu kalian sedang mengobrol. Yasudahlah! Kalau sudah siap katakan, aku mau ke administrasi dulu membayar biaya pengobatan Hana" kata Lexon sembari pamit.


"Tidak perlu om!!! Aku sudah menyelesaikannya tadi pagi" Maxim menghentikan Lexon.


"Aku akan membayarnya padamu!!" kata Lexon santai. Kata kata itu tidak Maxim sukai, tetapi dia harus bersabar.


"Tidak perlu om, Hana juga kekasihku. Tidak masalah kan kalau kekasih membayar tagihan rumah sakitkan?" jawab Maxim sopan tapi ada sedikit penekanan.


"Gak apa apa dong pah!!! Niat baik nak Maxim jangan di tolak!!" Safira langsung menengahi perbincangan suaminya dan Maxim.


"Bu, kalau begitu kami pamit pulang" pamit Safira setelah melihat barang barang Hana sudah di bereskan Melani dibantu Hana.

__ADS_1


"Yah..... Jadi Yemima gak bisa jumpa lagi dong!!!" Yemima sedih bahkan sudah hampir menangis setelah tahu Hana akan keluar rumah sakit.


"Jangan sedih sayang!!! Nanti kalau kakak ada waktu, kakak akan jenguk kamu. Oke!!! Lagi pula kakak masih harus kesini untuk melepas gips di kakiku, jadi kita akan jumpa lagi" jelas Hana dan berjanji akan menemui Yemima.


"Kakak juga" tambah Melani.


"Tante juga dong!!!" terakhir Safira juga berjanji.


"Jadi Yemima jangan sedih ya!! Nanti tante juga akan bawa baaaaanyaaaakkkk makanan untukmu, tapi janji jangan nakal ya!!" nasihat Safira. Dia ingin menenangkan Yemima agar tidak merasa sedih setelah mereka tinggalkan.


"Aku tidak akan menangis, tapi kakak sama tante janji ya!!" kata Yemima memastikan janji Hana, Melani dan Safira.


"Tenang sayang!! Nanti kalau tante Safira lupa, om akan ingatkan. Oke!!!" Lexon ikut menenangkan Yemima.


"Sama!!! abang Remon dan abang Maxim juga akan mengingatkan!!!" tambah Remon dan diangguki Maxim.


Yemima akhirnya memperbolehkan Hana pulang setelah mengikat janji dengan Hana dan yang lain. Yemima bahkan ingin ikut ke parkiran tapi di larang Hana. Hana menyuruh Yemima agar kembali ke kamarnya.


Yemima hanya bisa memilih untuk menurut. Hana masuk ke mobil Maxim, Melani dengan Remon serta Safira dengan Lexon. Ketiga mobil itu melucur meninggalkan rumah sakit.


Ketiga mobil itu mengarah ke kediaman Sunitra. Maxim harus mengantarkan Hana ke rumah keluarga Sunitra. Awalnya Lexon menolak agar Maxim tidak perlu ikut mengantar Hana dengan alasan malam. Tetapi Maxim menolak dan selalu mengatakan kalau tidak masalah jika dia pulang larut. Safira bahkan mendukungnya.


"Tidak perlu Honey!!! Aku balik saja, besok aku akan menemuimu lagi. Istirahatlah!! Jangan begadang" pinta Maxim dengan tulus. Dia tidak mau Hana jatuh sakit lagi.


"Sampaikan salamku ke mama dan ayahmu ya!!" tambah Maxim.


"Tenang saja!! Aku akan memberitahu mereka kalau aku langsung menyuruhmu balik. Lagipula ini sudah larut. Aku tidak mau kamu pulang larut. Pulanglah, hati hati saat mengemudi!!" nasihat Hana dan melambai ke Maxim yang sudah melajukan mobil.


"Dimana Maxim?" tanya Safira yang melihat Hana datang sendiri dari arah pintu.


"Aku sudah menyuruhnya pulang mah... Lagipula ini sudah larut" jawab Hana.


"Aku ke kamar dulu ya mah, badanku masih beraroma rumah sakit, aku tidak menyukainya"


"Bagaimana kamu mandi? Apa kamu butuh bantuan mama?" tanya Safira ingin menawarkan diri membantu putrinya mandi. Apalagi gips di kaki Hana membuat pergerakan Hana tidak bebas.


"Tidak perlu ma!! Melani saja yang bantu" tolak Hana dan malah meminta bantuan kakak ipar sekaligus sahabatnya itu.


"Iya mah, aku saja yang bantu Hana. Mama mandi saja lalu istirahat. Bi!!! Bantuin bereskan barang Hana ya" pinta Melani ke asisten rumah.

__ADS_1


"Yasudah kalau begitu, mama percayakan dia ke kamu yang sayang!!" kata Safira membiarkan menantunya membantu Hana.


"Oh iya bi, tunggu!!! Tolong berikan pakaian itu padaku!!" Hana teringat dengan pakaian yang dia terima dari ibu Yemima.


"Ini non?" tanya asisten rumah dan diangguki Hana.


Setelah menerima pakaiannya, Hana dibantu Melani menaiki setiap anak tangga menuju kamar Hana. "Apa kau tahu Han, baru pertama kalinya aku melihatmu memakai gips!!! Padahal kamu selalu balapan di jalan tidak pernah memakai gips, sekarang hanya karena jatuh dari tangga kamu harus memakai gips!!" ungkap Melani setelah mereka masuk ke kamar Hana.


"Tapi aku bingung Han, kenapa bisa lif di lantai kantormu tidak bekerja padahal lif lainnya bekerja? Apa menurutmu ada hal lain?" tanya Melani penasaran. Dia ragu ada sesuatu yang Hana sembunyikan.


"Tapi Mel, janji jangan beritahu siapa siapa dulu ya!! Cukup kita berdua yang tahu, aku masih harus memastikan" pinta Hana ke Melani.


"Janji!!" jawab Melani cepat. Dia membantu Hana duduk di sofa kamar Hana.


"Sebenarnya aku merasa seseorang menerorku!! Aku jatuh karena seseorang mengejutkanku!!" jujur Hana dan fakta itu membuat Melani terkejut.


"Siapa sih yang tega ngelakuin itu? Apa kamu mencurigai seseorang? Atau mungkin kamu melakukan kesalahan ke seseorang?" tanya Melani.


"Gue curiga ini orang yang sama Han, karena sebelum ini juga gue pernah di tampar sama Sandra karena gue dekat dengan Indra. Padahalkan bukan gue yang dekat dengan Indra, justru Indranya yang nempelin gue!!" kesal Hana.


"Dasar Sandra si mak lampir!!!! Kayaknya dia harus di kasih pelajaran, coba bayangkan kalau dia tahu siapa kamu sebenarnya? Apa menurutmu dia akan melakukan ini? Tidak bisa dibiarkan!!!" geram Melani.


"Heyyy...... Santai!!!! Gue akan mengatasinya. Yang penting kamu jangan beritahu siapapun dulu" pinta Hana dan diangguki Melani meskipun rasanya berat.


"Oh iya Mel, kau tahu kasus Yemima kan yang masalah pakaian?" tanya Hana tiba tiba teringat.


"Tahu. kenapa?" tanya Melani.


"Lihatlah merek pakaiannya, itu merek pakaian kita!" kata Hana memberitahu.


"Benarkah??" Melani langsung menyambar pakaian dari tangan Hana dan memeriksa label. Melani terkejut bahkan sampai menutup mulutnya karena terkejut.


"Apa menurutmu ini ada kaitannya dengan perusahaan utama atau cabang?" tanya Melani mencaritahu penilaian Hana.


"Aku belum bisa memastikan, tapi aku ragu ini berkaitan dengan cabang tempatku bekerja. Aku ragu ada kaitannya dengan perusahaan utama, jadi aku masih harus menyelidikinya" jelas Hana.


"Oh iya kak Remon di kamarnya? Aku tidak melihatnya tadi di ruang tamu" tanya Hana.


"Iya dia di kamar. Kalau kamu mau menemuinya, lebih baik kamu mandi dulu! Aku ragu perbincangan kalian akan lama" kata Melani menasihati Hana.

__ADS_1


Hana mengangguk setuju dan meminta bantuan Melani. Melani dengan lihai membantu Hana. Bukan hanya karena dia kakak ipar Hana, tetapi karena mereka memang sudah sejak lama bersahabat. Sudah saling melengkapi disetiap situasi.


__ADS_2