STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
HADIAH DARI RENA


__ADS_3

Akhirnya film berakhir, penonton sudah mulai keluar meninggalkan ruangan. Maxim mencoba memberitahu Hana bahwa film sudah berakhir dan pengunjung bioskop sudah keluar. Tapi gadis yang bersandar di pundaknya dengan kepala tertutup menggunakan jaket Maxim tidak berguming. Maxim sedikit menggoyang tubuh Hana, gadis itu tidak juga menyahut.


Maxim memutuskan membuka penutup kepala Hana dan mendapati Hana sudah tertidur pulas dengan mulut menganga. Melihat itu, Maxim tersenyum lucu dan kembali menutup kepala Hana dengan jaketnya. Maxim bingung bagaimana mau bertindak. Maxim mencoba melihat kebelakang, berharap kedua teman Hana masih disana.


"Orangnya tidur" beritahu Maxim dengan nada berbisik. Rena menghampiri Maxim dan meninggalkan Melani yang juga sudah terkapar di pundak Remon.


"Kak! Maaf ya, Rena minta tolong untuk gendong Hana keluar. Hana sulit dibanguni, padahal teman saya yang satunya juga sudah tertidur. Jadinya diangkat sama kak Remon, jadi tolong ya kak! bantuin Rena, Rena gak kuat menggendongnya!" pinta Rena dengan membuat wajah memelas.


Maxim kembali melihat ke belakang, mencari kebenaran dalam ucapan Rena. Benar saja, Remon sudah berjalan ke arah mereka dengan menggedong Melani gaya bridal style. "Bro! Tolong ya adik gue! Gue bukan Hercules, dianya yang Hercules!" menunjuk ke arah Hana. Maxim sedikit bingung dengan perkataan Remon, tapi diabaikan.


Rena melihat ekspresi kebingung di wajah Maxim. "Gelar wanita yang kakak gendong memang Hercules, soalnya orangnya kuat kak. Abaikan saja kak! Makasih ya kak udah mau menggendong teman saya" kata Rena mengikuti langkah Maxim, sedangkan Remon sudah berjalan di depan dengan Melani yang masih tertidur pulas.


"Thanks bro! Loh duluan saja, gue masih harus ngurus para gadis manja ini!" kata Remon, tidak bermaksud mengusir Maxim. Hanya saja Remon tidak mau Maxim melihat kedekatannya dengan Hana. Remon masih ingin menyembunyikan rahasia yang Hana simpan sejak lama, yaitu menyembunyikan identitasnya.


"Yasudah, aku duluan! Becareful!! " pamit Maxim dan segera berlalu meninggalkan Remon. Sesekali Maxim masih melihat ke belakang. Terkadang dia juga tersenyum karena mengingat gaya tidur Hana. "Ternyata kalau orangnya sudah tidur sangat kalem, tidak menyebalkan! Imutnya!!" gumam Maxim sembari membuka pintu mobilnya.


"Kenapa aku mengatainya imut!! Gue sudah bermasalah! Hahah.... aneh! Tapi memang imut sih" lagi lagi Maxim bergumam sendiri sambil tersenyum lucu dengan dirinya sendiri. Maxim segera meninggalkan parkiran. Dia tidak lagi menemukan mobil Remon di parkiran. Dipastikan Remon sudah meninggalkan parkiran terlebih dahulu. "Katanya gue duluan! Eh malah orangnya yang pergi duluan!"


Di rumah, Safira sudah menanti kedatangan kedua anaknya. Jam sudah menunjukkan pukul 10.35, tapi kedua anaknya belum juga tiba di rumah. Dia mondar mandir di ruang tamu, Lexon yang menonton televisi pun merasa terganggu dengan tingkah istrinya. "Sudahlah ma, kan Remon tadi bilang dia sama Hana. Jadi mama gak perlu kawatir! Mungkin saja mereka sudah di jalan, bentar lagi juga tiba" kata Lexon mencoba menenangkan istrinya.


Bel berbunyi, Safira segera berlari ke pintu dan membukakan pintu. Dia yakin itu kedua anaknya. Benar saja, Remon tampak bersusah payah menggendong Hana karena harus membawa barang barang Hana. Hana juga sedari tadi selalu bergerak gerak, membuat Remon semakin kewalahan. "Ma bantuin Remon, ambilin tas sama sepatunya Hana ma!" pinta Remon dan segera di ambil Safira.


"Yah!! Bantuin Remon, ambilin putri tercinta ayah ini!! Tangan Remon sudah pegal, kemungkinan besar Hana bisa jatuh" teriak Remon sambil mempercepat langkahnya.

__ADS_1


"Enak saja kau mau menjatuhkan putri cantikku! Jika kau menjatuhkannya, ayah yang akan membantingmu! Awas, dasar lemah!" ejek Lexon dan mengambil putrinya dari tangan Remon.


"Dasar ayah pilih kasih!! Ayah pikir gue cuman gendong dia! Gue harus menggendong 3 gadis yah!! Apanya yang lemah!! Justru ayah bersyukur anakmu ini kuat, jadi masih bisa membawa putri tercintamu ini masuk rumah, dasar!" jawab Remon tidak terima dikatai lemah oleh ayahnya.


"Tiga gadis? Kamu sudah mulai nakal ya!!" kata Safira sambil menjewer telinga Remon.


"Jewer saja ma! Biar gak menjadi jadi!" dukung Lexon tidak membela Remon.


"Bukan begitu ma, maksudnya Remon itu Hana dan kedua temannya!!" teriak Remon menjelaskan. Dia memegang telinganya yang sudah merah karena di jewer Safira.


"Hahahahahahaha...... kok bisa?" tanya Safira tertawa. Lexon juga ikut tertawa, dia juga penasaran kenapa Remon bisa menggendong ketiga gadis itu. Lexon memilih duduk di sofa, mengingat dia masih menggendong Hana. Dia membaringkan Hana di sofa, tidak lupa membuat bantal sebagai pembatas agar Hana tidak terjatuh.


Dua puluh menit yang lalu....


Setelah mengantar Rena, Remon melanjutkan perjalanan pulang. Sesekali dia memijat tangannya yang terasa pegal. Remon berharap tiba di rumah lebih cepat. Dia tidak sanggup untuk menyetir lebih lama lagi karena rasa pegal di tangannya. Remon menambah kecepatan mobil. Ketika mobil masuk ke kawasan rumah, perasaan Remon sangat lega. Mengingat dirinya harus menekan bel, Remon menghela nafas kuat karena bingung bagaimana menekan bel sedangkan dirinya menggendong Hana.Terpaksa Remon menekan bel mengandalkan kepalanya. Beruntung letak bel setara dengan tingginya.


"Hahahahahaha......... kasihan putra mama!!" Safira tertawa keras setelah mendengar cerita Remon.


"Apanya yang kasihan ma! Cowok sejati memang harus melakukan itu!" kata Lexon dengan memberikan sedikit pujian untuk Remon, membuat Remon tersenyum bangga.


"Tetapi dia masih belum cukup kuat ma! Buktinya dia sudah merasa pegal, berarti ayah masih yang lebih kuat darinya!" setelah memuji, Lexon langsung menjatuhkan. Remon hanya bisa menatap Lexon tajam.


Remon heran dengan sifat ayahnya. Tetapi sifat menyebalkan itu sama sekali tidak terlihat sudah di kantor. Ayahnya bahkan sangat berkarisma saat di perusahaan. Membuat Remon kadang merasa dirinya menemui orang yang berbeda.

__ADS_1


"Sudah sudah, ayo tidur! ini sudah larut" Safira memilih mengakhiri obrolan karena tidak ingin kedua pria itu semakin memojokkan.


Lexon terlebih dahulu mengantar Hana ke kamar diikuti Safira. Remon juga segera masuk ke kamarnya. Matanya juga sudah sayu karena mengantuk.


"Huah......" Hana menguap sambil meregangkan seluruh otot tubuhnya.


"Kenapa gue bermimpi di gendong Maxim ya? Tapi gue kok udah di kamar? Jangan jangan gue memang di gendong? Gak mimpi? Ah...gak gak, pasti kak Remon yang gendong aku!" Hana bergumam sambil mengingat ingat kejadian tadi malam.


Ponsel Hana berbunyi. Hana langsung meraih tasnya dan mengambil ponsel. Membuka kunci dengan sidik jari dan masuk ke pesan yang WA. Hana menerima pesan dari kedua sahabatnya.


"Han? Gue kok udah di kamar ya? Siapa yang bawa?" pertanyaan Melani dan Rena di grup.


"Mana gur tahu? Gue juga sudah di kamar" jawab Hana jujur.


"Mel, loh di gendong sama kak Remon tadi malam mulai dari ruang bioskop! Kalau loh Han, loh di gendong kak Maxim dari ruang bioskop, nyampe kamar juga pasti loh di bawa kak Remon. Masalahnya gue di gendong sama siapa? seingat gue, aku masih di mobil?" jelas Rena memberitahu tapi juga bertanya.


"What?? Loh bohongkan Ren?" pertanya Hana dan Melani sama.


Rena yang kesal tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya memilih mengirim foto kedua sahabatnya saat di gendong Remon dan Maxim.Dia memang sengaja mengambil gambar itu sebagai kenangan.


"What!!!!" kata Hana.


"Rena!!!!" kata Melani.

__ADS_1


Sedangkan Rena hanya tersenyum puas. Dia yakin kedua sahabatnya sangat tidak menyukai hadiah darinya.


__ADS_2