STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
PEMANDANGAN LAUT


__ADS_3

Sore ini Hana sudah terlihat rapi dan memoles sedikit wajahnya. Hana sudah bersih dan terlihat rapi. Dia duduk di kasurnya sambil bermain ponsel. Bukan hanya iseng bermain ponsel, Hana sedang menanti panggilan dari seseorang. Siapa lagi jika bukan Maxim.


Maxim berjanji akan menjemputnya sore ini untuk merayakan telah selesainya Hana magang. Hana belum berpamitan ke orang tuanya. "Mana sih orangnya?? Katanya datang!!" gumam Hana sedikit kesal. Hana takut penantiannya akan sia sia.


"Nona!!! Di bawah ada yang nungguin!" panggil salah satu asisten rumah tangga.


"Siapa bi?? Perasaan Hana gak ada janjian!" tanya Hana yang sudah membuka pintu kamar.


"Sepertinya dia teman tuan Remon. Mereka terlihat kompak mengobrol di bawah non sama kepala asisten juga" jelas asisten.


Hana berpikir sejenak, lalu dia teringat dengan Maxim. "Apa mungkin kak Maxim udah di bawah? Tapi kenapa gak ngabari sih?" batin Hana dan segera kembali ke kamar mengambil tas samping mininya.


Asisten itu sudah kembali bekerja setelah Hana masuk kembali ke kamar. Hana menuruni anak tangga perlahan. Matanya menyelidiki seluruh ruang tanu dan langsung menemukan seseorang yang sudah dia nantikan kehadirannya.


"Maaf kak, lama menunggu!!" Kata Hana sopan membuat Remon menatapnya heran. Mengingat Hana tidak pernah sesopan ini dengannya. Bukan Hana namanya jika bersikap sopan dengannya. Hana hobby meledeknya, bahkan meledek ayahnya.


"Gak apa apa, aku juga belum lama. Maaf juga tidak mengabarimu!!" jawab Maxim sembari tersenyum ramah.


"Hm....." deheman suara Remon mengejutkan kedua orang itu.


"Ingat bro!!! Disini masih ada orang!!" kata Remon yang tidak terima dirinya di abaikan.


"Sorry bro!! Gue kira loh pembawa acaranya!!" jawab Maxim asal.


"Enak saja ngomong!! Loh kira ini ajang pencari jodoh biar pakai pembawa acara?? Lama lama loh makin gak waras!!" kata Remon kesal dengan jawaban Maxim yang mengatainya pembawa acara.


Berbeda dengan kepala asisten yang ikut duduk bersama mereka. Dia justru tertawa lucu karena Maxim dan Remon yang saling meledek. Kepala asisten juga bahagia Hana berubah karena menemukan tambatan hati. Hanya saja kepala asisten merasa canggung berada diantara ketiga orang itu. Mengingat posisinya hanya kepala asisten rumah tangga.


Hanya saja kepala asisten mengingat statusnya saat ini dijadikan orang tua oleh Hana demi menutupi status Hana. Hana masih kukuh ingin menyembunyikan identitasnya. Entah kapan gadis itu menunjukkan dirinya ke dunia bahwa dirinya adalah putri tunggal dari keluarga Sunitra.

__ADS_1


Maxim juga terlihat sangat sopan berbicara dengan kepala asisten karena dirinya tahu kepala asisten adalah ibu Hana.


Lexon dan Safira sedang tidak ada di rumah. Kedua orang tua Hana sedang bepergian bersama rekan kerja Lexon untuk liburan. Jadi hanya ada Hana dan Remon di rumah bersama asisten rumah tangga.


"Bu!! Saya ijin bawa Hana keluar ya!! Nanti saya akan antar pulang!" pamit Maxim ke Kepala asisten.


"Iya nak hati hati!! Tolong jaga anak gadis kami!" ijin kepala asisten sembari meminta agar Maxim menjaga Hana.


"Pasti bu!!" kata Maxim dengan mantap.


"Bro!!! Ijin keluar ya!! Adik loh gue pinjam!" kata Maxim pamit ke Remon.


"Enak saja main pinjam!! Loh kira adik gue barang!! " jawab Remon bercanda.


"Canda!!! Adik loh sangat berharga, jadi dia tidak bisa dikatakan barang!! Adik loh gak bisa dinilai!!" kata Maxim membuat Hana yang mendengar menjadi malu. Kepala asisten juga menggeleng gelengkan kepala dengan sikap romantis Maxim.


"Wah!!! Sepertinya loh perlu mengonsumsi obat penenang cinta bro!!! Loh sudah gak waras!!" berbeda dengan Remon yang merasa geli mendengar ucapan Maxim. Ini kali pertama dia mendengar Maxim berkata manis untuk seorang wanita dan itupun ternyata untuk adiknya.


"Jaga adik gue, dia gak ternilai harganya!!" ijin Remon tapi sembari meledek Maxim.


"Hahahaha.... Aman!!! Gue akan menjaganya dengan sepenuh hati, jiwa dan ragaku!!" jawab Maxim semakin membuat Remon memanas.


"Keluar gak sekarang?? Telinga gue panas!!" usir Remon yang geli dengan sikap romantis Maxim. Dia tidak pernah membayangkan Maxim akan sangat gila jika sudah jatuh cinta.


Maxim hanya bisa tertawa dengan sikap sahabatnya. Dia sekali lagi pamit ke kepala asisten sebelum akhirnya melangkahkan kakinya keluar. Hana hanya bisa menahan malu karena selalu di puji Maxim. Hatinya kegirangan. Hana mengikuti langkah Maxim dari belakang.


Bahkan Maxim membukakan pintu untuk dirinya masuk ke mobil. Maxim ingun memasang sabuk pengamannya tapi di tolak Hana karena Hana akan sangat canggung dengan tindakan Maxim yang terlalu berlebihan.


Maxim membawa Hana ke sebuah restoran yang menyediakan pemandangan bawah laut. Sangat indah!! Terlihat jelas dari ekspresi Hana. Hana melebarkan pandangannya keseluruh ruangan itu. Sesekali Hana berlari ketika melihat hal yang menarik. Sikap Hana itu bukan membuat Maxim malu, Maxim bahkan sangat senang bisa membuat Hana bahagia.

__ADS_1


Maxim bahkan merasa Hana semakin menggemaskan. Maxim bahkan berlari mengikuti kemana Hana pergi. Saat ini dia terlihat seperti seorang ayah yang menjaga putrinya agar tidak hilang di keramaian.


"Apa kamu senang?" tanya Maxim yang meraih tangan Hana.


"Sangat!! Aku sudah lama tinggal di negara ini, tapi tidak pernah tahu tempat ini!!" kata Hana jujur. Hana memang sama sekali tidak mengetahui tempat yang indah ini. Hana hanya akan berjalan jalan mall dan ke pantai bersama kedua sahabatnya.


"Aku senang kau tidak pernah kesini!" kata Maxim membuat Hana menatapnya heran.


"Berarti aku tidak sia sia membawamu kesini!! Coba bayangkan jika kau sudah kesini, pastinya ini tidak lagi semenyenangkan ini!!" jelas Maxim tidak mau Hana salah paham dengannya.


Hana mengangguk setuju dengan penjelasan Maxim. Dia kembali ingin berlari saat melihat segerombolan ikan, tapi Maxim menahannya. "Kenapa?" tanya Hana yang tidak ingin di tahan.


"Tolong jangan asal berlarian!" pinta Maxim.


"Apa kamu malu?" tanya Hana penuh curiga.


"Untuk apa aku malu!! Hanya saja, aku tidak ingin kau terluka. Bagaimana jika kau tidak memperhatikan orang sekitarmu, kakimu mungkin tersandung? Atau mungkin kau hilang di keramaian ini? Aku tidak mau hal buruk terjadi!" jelas Maxim dengan tatapan tulus perhatian ke Hana.


"Apa kamu takut ke kak Remon jika terjadi sesuatu denganku?" tanya Hana lagi ingin meledek Maxim.


"Aku tidak takut dengan mereka. Aku hanya takut jika hal buruk menimpamu, aku takut kamu hilang dari pandanganku. Itu saja, tidak ada ketakutan yang lain!" jawab Maxim. Tatapannya benar benar tulus mencintai Hana.


Hana hanya bisa menunduk malu karena salah mengartikan perhatian Maxim. Niat awal ingin meledek Maxim berubah menjadi perasaan cinta yang semakin dalam.


"Ada apa? Apa ada yang salah?" tanya Maxim ke Hana yang terlihat menunduk.


Hana menggeleng. Dia belum juga mau menatap Maxim membuat Maxim semakin bingung. "Ada apa? Jangan membuatku takut?" kata Maxim semakin mendesak.


"Bukan apa apa!!! Aku hanya semakin jatuh cinta!!!" kata Hana dengan sedikit lebih keras membuat pandangan orang teralihkan ke arah mereka.

__ADS_1


"Apa? Coba ulangi sekali lagi?" kata Maxim yang merasa dirinya berada dalam alam mimpi. Maxim mendengar, tapi dirinya seakan akan tidak percaya.


__ADS_2