STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
MENGERJAIN DAN DIKERJAI


__ADS_3

Siang ini begitu panas, sangat bagus jika di barengi makan ice cream. Tiga gadis di sudut kantin sedang duduk dengan ice cream di tangan masing masing. Hana rasa vanila dan durian, Rena rasa cokelat dan Melani rasa stroberi. Setelah menyendokkan ice cream di cup yang mereka genggam ke mulut, mereka mengamati suasana kantin.


Berulang kali mereka melakukan hal yang sama hingga tidak sadar isi cup ice cream sudah hampir habis. "Nanti main ke rumahku ya! Sekalian kita diskusi tempat magang" ide Hana mengajak kedua sahabatnya.


"Setuju!" jawab Melani cepat. Meskipun sebenarnya niat awalnya bukan untuk itu. Niat terbesarnya adalah bertemu Remon. Semenjak kejadian di kafe, Melani semakin ingin membuat Remon marah. Dengan marahnya Remon, pria itu bisa mengucapkan kata kata yang membuat jantung Melani semakin berdetak cepat.


Bodoh jika Melani berharap, tapi dia masih tetap berharap. Dia siap dengan konsekuensi akhir jika kenyataan tidak sesuai dengan yang dia harapkan. Setidaknya Melani akan mencoba.


"Ide bagus! Tapi pertama, aku harus kembali ke rumah dulu. Aku akan menyusul kalian!" kata Rena meminta pengertian kedua sahabatnya.


"Oke oke! Tidak masalah! Santai saja, aku tidak mematok waktunya kok! Kabari saja jika sudah menuju rumah" suruh Hana mengingatkan sahabatnya.


"Oke Han, aman!" jawab Rena dan segera menuangkan isi cup ice cream ke mulutnya. Dia sudah menyelesaikan makannya.


"Kalau gitu, gue juga balik ke rumah dulu. Gue harus ganti baju biar cantik. Gue gak mungkin ke rumah loh dengan pakaian yang bau keringat ini! Maklum dong!" Melani dengan gaya femininnya mengibaskan rambutnya dan memberi tatapan menggoda ke Hana.


"Aku paham calon kakak ipar!" jawab Hana mengerti maksud ucapan Melani.


Ketiga gadis itu segera bergerak meninggalkan kantin. Mereka memang sengaja ke kantin setelah menyelesaikan mata kuliah hari ini. Mereka terlalu malas pulang dengan cuaca yang begitu panas. Ketiga gadis itu teringat dengan produk ice cream yang baru keluar di kantin jurusan mereka. Sebelum pulang, ketiganya memutuskan untuk mencobanya. Mengingat waktu mereka di kampus sudah tidak terlalu lama lagi.


Mereka akan memulai magang untuk menyelesaikan projek akhir. Ketiga gadis itu sudah semakin betah di kantin karena senior yang selalu menjadi busuh bebuyutan sudah lulus. Sangat besar harapan mereka agar tidak bertemu dengan senior senior yang membuat hari pertama mereka di kampus tidak menyenangkan.

__ADS_1


"Sampai jumpa di rumahku!" pamit Hana berangkat terlebih dahulu dengan motor beatnya. Melani dan Rena membalas dengan anggukan serta senyuman.


Hana memakirkan motornya di garasi dan segera berlari ke rumah setelah membuka sepatunya di teras. "Aku pulang!!" teriak Hana, suaranya memenuhi seisi rumah.


"Selamat siang nona! Apa nona langsung makan siang? Saya akan segera menyiapkannya." tawar kepala pelayan yang menyambut kedatangan Hana.


"Aku ganti pakaian dulu bi! Oh iya bi, mobil kak Remon sudah di garasi, kok orangnya gak muncul?" tanya Hana yang sudah melihat sekeliling rumah setelah melangkahkan kakinya masuk dari pintu rumah.


"Oh den Remon ada di ruang kerjanya non! Ada sahabatnya juga non, melihat tampangnya sih bibi seperti familier dengan wajah itu. Tapi bibi agak lupa dimana bibi pernah melihatnya" jelas kepala asisten.


"Apakah dia menyeramkan?" tanya Hana membuat bibi harus berpikir lagi untuk mengingat tampilan pria sahabat Remon.


"What?? Kok dia bisa sampai di rumah?" kesal Hana dan segera menarik kepala asisten ke dapur. Dia ingin memberitahu kepala asisten tentang statusnya di rumah ini. Hana tidak mau usahanya selama ini sia-sia. Hana tidak mau menunjukkan identitas aslinya. Hana masih bertekad ingin bertemu sahabat dan suaminya dimasa dengan tidak melihat statusnya.


" Bi! ingatnya ya, aku ini putri bibi. Jadi seandainya saja aku membawakan teh untuk tamu, itu tidak masalah. Bibi tidak perlu sungkan padaku, yang penting mama gak ada di rumah. Jadi aman kan bi?" tanya Hana setelah menjelaskan detail rencananya.


Hana membawa baki yang berisi minuman ke ruang kerja Remon. Sebelum masuk tidak lupa mengetuk pintu. "Siang den! Saya mau mengantar minum!" kata Hana dan segera masuk setelah mendapat ijin masuk.


"Silahkan di nikmati tuan tuan! Saya membuat minuman rasa baru, semoga tuan senang dengan rasanya. Hati-hati sebelum meminumnya, mungkin masih panas!" kata Hana memberi peringatan. Sebenarnya dia tidak pernah membuat minuman rasa baru. Dia memang sengaja membuat minuman dengan pengetahuan yang dia miliki. Hana mengikuti ide yang terlintas di pikirannya.


"Terima kasih minumannya adik!" jawab Remon dengan berusaha memberi senyuman ramah. Dia habis pikir dengan pola pikir adiknya.

__ADS_1


"Kau yakin tidak memberi racun pada minumannya kan?" tuduh Maxim dengan tatapan curiga. Dia sempat melihat senyuman misterius terukir di bibir Hana. Jadi dia semakin yakin jika Hana akan mengerjainya.


"Tidak mungkin tuan! Saya tidak akan berani!" jawab Hana berusaha menghindar dari tuduhan Maxim. Dia memasang wajahnya sepolos mungkin, seakan akan dia adalah gadis yang berbeda dari sebelumnya.


"Aku tidak mudah percaya dengan orang, jadi saya akan menyuruh anda untuk meminumnya terlebih dahulu. Bisa kan nona?" pinta Maxim dengan senyuman misterius juga terukir di bibirnya. Dia senang melihat kegugupan di wajah Hana, dia merasa menang karena berhasil memutar balikkan keadaan.


Hana meminum minuman itu, dia berusaha menyembunyikan eskpresi keasinannya. Hana menaruh garam di minuman Maxim. Hana tidak menaruh gula, dia sengaja ingin mengerjai Maxim. Tetapi keberuntungan tidak berpihak padanya. Maxim malah menyadarinya, membuat Hana menjadi tidak beruntung.


Pepatah yang cocok untuk Hana saat ini adalah senjata makan tuan. Hana menuai apa yang dia buat. Ingin mengerjai Maxim, malah dikerjai balik Maxim. Maxim memang orang yang memiliki pengataman yang tinggi. Hal itulah yang membuatnya tidak pernah di tipu oleh rekan bisnis. Maxim cepat mengetahui niat tersembunyi seseorang yang menjadi lawan bicaranya.


"Hahah!! Ternyata minuman ini sangat enak tuan! Saya akan mengambil yang baru untuk tuan, tuan tidak bisa meminum bekas saya" tawar Hana dan segera pamit membawa baki dan secangkir minuman yang awalnya akan di serahkan ke Maxim.


"Tentu saja! Terima kasih atas perhatiannya nona!" balas Maxim dengan senyuman menang. Dia tidak menyangka gadis durian yang aneh akan nekat mengerjainya.


"Siapa suruh mengerjaiku? Kau tidak tahu bahwa aku pernah lulus dari sekolah psikolog?" batin Maxim dan tersenyum geli dengan ulah Hana. Tindakan Maxim benar benar membuat Remon hilang konsentrasi.


"Sudah kejar saja! Sayang ya bilang sayang! Jangan ngelak bro, awas diambil orang!" kata Remon akhirnya setelah meletakkan berkas yang di pegang tadi. Dia mencoba memberi peringatan pada Maxim dan memberitahu bahwa dirinya juga tengah sibuk mengejar cintanya. Dia selalu tersenyum jika sudah membicarakan Melani.


"Gila ya bro! Selera loh ternyata teman dari anak pembantu loh! gue kira loh suka wanita seksi!" ledek Maxim dan tertawa dengan ekspresi kesal Remon. Kedua pria itu tidak lagi fokus dengan pekerjaan mereka sejak Hana kembali ke rumah. Hana tidak lagi mau mengantar minuman, dia memilih menyuruh asisten yang lain mengantar minuman Maxim.


Hana masih menggerutu di dapur karena kesialannya. Hana yakin suatu saat nanti dia akan berhasil memberi pria menyebalkan itu. Kepala asisten bahkan mencoba menghentikan Hana yang tengah mengetuk ngetuk kepalanya ke meja.

__ADS_1


__ADS_2