
Rena bertepuk tangan karena kagum dengan pemandangan di depan mereka. Tampak disana Remon sudah bergabung dengan kedua pasangan sebelumnya. Bahkan sekarang Melani sudah enggan untuk tertawa saat pria di depannya mencoba bersikap humoris. Bagaimana tidak enggan, Melani mendapat tatapan tajam dari Remon.
Tatapan Remon benar benar sukses membuat jantung Melani berdegup kencang. Tidak pernah dia segugup ini. Dia bahkan selalu bersikap sesuka hati pada Remon karena dia tahu Remon tidak akan marah. Tetapi kali ini, tatapan Remon tidak seperti tatapan sebelumnya. "Aku merasa aku akan pingsan, gais selamatin gue!" batin Melani melirik Hana dan Rena.
"Mel! aku antar pulang ya!" tawar pria teman kencan Melani.
"Tidak perlu, aku akan mengantarnya! Kami masih ada rencana lain. Kami pergi dulu!" kata Remon tegas dan segera menarik tangan Melani. Melani hanya bisa menatap berbalik dan memberi senyuman ucapan maaf kepada pria yang sudah dia tinggalkan dengan wajah bingung.
"Kak sakit tahu! Pelan pelan dong jalannya! Kayak narik sapi aja!" kesal Melani dan melepas tangannya dari cengkeraman Remon.
"Siapa suruh kencan? Kau masih kuliah, tidak boleh kencan!" kata Remon tegas dan dengan raut wajah datar.
"Enak saja! Emang apa salahnya jika aku kencan? Ibu saja tidak melarang kok! Lagipula kencan di usia sekarang itu hal biasa!! Kak Remon aja yang kuno!" ejek Melani dan menatap tajam Remon.
"Kau berani melawanku?" bentak Remon membuat Melani seketika terdiam.
"Apa sih masalahmu? Dengar ya kak Remon yang tampan, meskipun aku menyukaimu, bukan berarti aku tidak bisa berkencan dengan pria lain!! Toh kakak juga tidak menyukaiku, jadi untuk apa aku selalu berharap." kata Melani dengan nada sedikit rendah tetapi masih terdengar di telinga Remon.
"Dasar gadis ini!!! Pokoknya jangan berkencan!! Ayo makan!" ajak Remon dan menarik tangan Melani ke arah mobil.
__ADS_1
Melani hanya menurut, dia lupa dengan kedua sahabatnya yang tertinggal di kafe. Remon melajukan mobil ke sebuah restoran dan mengajak Melani masuk. Melani dan Remon duduk di ruangan VIP, Remon tidak mau orang orang melihat mereka.
Disaat sedang sibuk makan, Melani tiba tiba teringat kedua sahabatnya. Dia mengambil ponsel dan menghubungi kedua sahabatnya. Panggilan terhubung dan disambut dari seberang.
"Baru ingat kawan yah setelah puas kencan dengan calon suamimu!" teriak Hana dari seberang. Dia sudah tahu Melani pergi dengan Remon. Rena awalnya ingin menyusul, tapi ditahan Hana. Hana ingin kakaknya menghabiskan waktu dengan Melani. Rena juga hanya bisa menurut dan mengangguk setuju dengan ide Hana. Hana dan Rena memilih keluar kafe.
Tetapi sebelum keluar, mereka menemui pria teman kencan Melani. "Maaf ya kak, suami kawan kita sepertinya sudah tidak marah lagi sama kawan kita. Makanya itu Melaninya di bawa kabur! Maaf ya kak, sekali lagi maaf!" kata Rena meminta maaf. Dia disuruh Hana untuk meminta maaf, Hana malas berurusan dengan pria asing. Apalagi jika dia harus bersikap sok ramah. Hana lebih memilih berdiri di samping Rena dengan tangan melipat di dada.
"Oh tidak perlu sungkan, lagian ini pertemuan pertama kami. Ibu hanya menyuruhku untuk menemuinya. Ternyata dia asyik kok! Aku tidak menyesal menemuinya, katakan padanya agar tidak melupakanku! Aku akan menjadi temannya jika tidak bisa menjadi pacarnya!" pinta pria itu dengan senyum ramahnya.
Rena membalas senyuman pria itu dan segera pamit pergi mengejar Hana yang terlebih dahulu keluar. "Han, senyuman pria itu benar benar membuatku meleyot!" kata Rena membuat Hana tersenyum geli.
"Siap bos! Aku akan mendengarkan perintah kakak ahli cinta yang tidak pernah jatuh cinta!" ledek Rena dan segera berlari menjauhi Hana. Dia tahu Hana akan mengejarnya. Hana dan Rena memutuskan untuk berkeliling kota sebelum kembali ke rumah.
Tetapi hari kebahagiaan Hana tidak bertahan lama. Dia lagi-lagi bertemu pria masker yang dia temui di toko roti. Hana mengacak acak rambutnya dan menghembuskan nafasnya kasar. "Dasar pria mesum! Pria narsis!" gumam Hana dengan nada kesal.
Berbeda dengan Rena, dia sedang meminta foto dengan Maxim. Rena sangat senang bertemu Maxim. Siapa sih wanita yang tidak senang bertemu pria tampan dan juga kaya raya? semua wanita pasti senang, hanya satu wanita ini yang aneh. Dia sama sekali tidak tertarik dengan Maxim. Tidak! Salah! Bukan sama sekali tidak tertarik, diawal dia susah pernah tertarik dengan Maxim. Tegapi setelah bertemu Maxim, rasa suka itu mulai pudar.
Maxim yang dia temui sangat menyebalkan. Hana sama sekali tidak senang dengan kepribadian Maxim. Mungkin di luar sana, orang orang tidak tahu sifat asli Maxim. Mereka hanya tahu Maxim sebagai pria tampan kaya raya yang sopan dan manis. Berbeda di depan Hana, pria itu sangat berbanding terbalik dengan berita baik tentang Maxim. Bagi Hana, Maxim tetaplah pria paling menyebalkan dan pria paling narsis.
__ADS_1
"Kak, kapan datang ke kampus lagi?" tanya Rena berbasa basi.
"Mungkin lain waktu saat Tuhan mengijinkan kita untuk bertemu!" jawab Maxim lembut.
Uhuk...uhuk...uhuk.... batu Hana dan segera menjilat ice cream yang di tangannya. Hana berjumpa dengan Maxim di taman kota. Entah apa yang Maxim lakukan di taman kota. Bagi seorang gadis, hal biasa jika datang ke taman kota. Apalagi Hana datang bersama sahabatnya, jadi itu hal biasa. Berbeda dengan Maxim, tidak ada seorang pun yang datang bersamanya.
"Apa kau mesum? Kau kesini hanya untuk melihat gadis gadis cantik berolahraga?" tuduh Hana pada Maxim. Maxim geram dengan tuduhan Hana. Padahal dia sama sekali tidak ada niat seperti itu. Dia hanya datang ke taman kota untuk menenangkan diri sembari mencoba mencari inspirasi.
" Tentu saja! Lihatlah gadis itu, bodinya sangat mengagumkan! Tidak seperti seseorang!" jawab Maxim asal. Dia mencoba menggoda Hana. Untung saja Rena sedang pergi keluar menerima telepon, jika tidak Rena pasti melihat sikap Maxim.
"Apa kamu pikir bodimu juga menganggumkan? Aku juga tidak tertatik dengan bodimu! Tidak berotot seperti suami suamiku!" Hana membalas, dia tidak mau kalah.
"What? Kau masih muda tapi sudah banyak suami? Kau juga menyepelekan bodiku? Lihat kalau tidqk percaya!" tantang Maxim membuat Hana langsung menatap tajam ke Maxim. Dia tidak mau Maxim berbuat nekat.
"Bukankah kau ingin menjaga harga dirimu? Jika kau masih ingin menjaganya, jaga sikapmu!" bisik Hana dan segera pergi meninggalkan Maxim yang terdiam berbisu. Detak jantung sedikit berubah karena Hana begitu dengan dengannya saat Hana berbisik padanya.
"Tidak... tidak.... ini kesalahan!" batin Maxim dan segera pergi menyusul kedua gadis yang sudah menjauh dari taman kota. "Awas saja kau gadis aneh! Hidupmu tidak akan tenang! Kau itu hanya anak seorang kepala pelayan, bisa bisanya kau bertingkah seperti seorang tuan putri!" kata Maxim kesal dari pergi meninggalkan taman dengan mobilnya.
Dia tidak lagi melihat dua gadis yang dia temui di tengah taman. Hana dan Rena memang sudah pergi meninggalkan taman. Hari sudah semakin gelap, Hana tidak mau keluyuran lama. apalagi dia belum kembali ke rumah semenjak pulang sekolah. Dia hanya mengirimkan pesan pada ibunya.
__ADS_1