STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
HANA VS MAXIM


__ADS_3

Hana langsung membersihkan obat merah di lututnya. Dia sengaja meneteskan obat merah di lutut dan dahinya untuk menghindari amarah Maxim karena dia terlambat. Hana kembali memasang obat merah dan menempelkan perban di lutut dan dahinya. Itu dia lakukan agar tampilannya benar benar seperti luka.


"Aku memang terlalu cerdik!! Bagaimana bisa aku terpikir dengan ide ini? Aku bahkan terheran dengan kemampuanku, kita lihat siapa disini yang akan tertindas?" Hana lagi lagi bergumam sambil menyelesaikan pekerjaan menempel perban di lutut dan dahinya.


Ponselnyabtiba tiba bergetar, itu panggilan dari Maxim yang diberi nama makhluk luar angkasa oleh Hana. "Untuk apa lagi dia menghubungiku? Bukankah harusnya dia meeting? Ganggu orang senang saja!" kesal Hana lalu segera menghubungkan panggilan.


"Selamat pagi pak! Ada yang bisa saya bantu?" sapa Hana ramah, dia sangat pintar menyembunyikan kekesalannya.


"Saya sudah mengirimkan dokter untuk memeriksa lukamu, mungkin sebentar lagi dia tiba. Dia dokter langgananku!" kata Maxim memberitahu Hana.


"What!! untuk apa pak? Bapak terlalu berlebihan!" balas Hana yang terkejut mendapat info dari Maxim.


"Jangan terlalu bangga diri, aku hanya tidak ingin kau kesulitan bekerja. Itu akan merugikanku, mungkin dia sudah tiba. Sudah dulu, aku mau melanjut meeting" kata Maxim mengakhiri panggilan.


Tok... tok... tok... ketukan pintu terdengar di telinga Hana. Hana yakin itu adalah sekretaris di luar yang ingin memberitahu kedatangan dokter yang Maxim pesankan. "Masuk!" sahut Hana.


"Kak! Dokter ini ingin menemui anda!" kata sekretaris itu memberitahu Hana. Dia memanggil Hana kakak meskipun sebenarnya usia mereka berbeda.


"Oh... masuk pak! Terima kasih kak" sambut Hana. Hana sedikit senang, dia tidak menduga bahwa dokter yang datang adalah dokter keluarganya. Hana terselamatkan.


"Nona!! Kok nona bisa ada disini?" tanya dokter itu setelah sekretaris Maxim keluar dan menutup pintu.


"Hahah....beruntung bapak yang datang. Itu tidak penting pak, yang terpenting bapak harus bantuin saya. Saya sebenarnya tidak terluka, ini hanya obat merah untuk menyelamatkan nyawaku dari amarah si makhluk luar angkasa" jujur Hana ke dokter.


"Jadi maksud nona kedatanganku sia sia? Nona berbohon ke tuan Maxim?" tanya dokter terkejut dengan ulah Hana yang terlalu nekat.


"Heheh... sudahlah pak, kalau bapak membantu aku akan selamat. Jadi bilang saja lukanya tidak serius, satu hari lagi lukanya akan kering oke!!" kata Hana memberitahu niatnya.

__ADS_1


"Nona, mana bisa luka sembuh dalam sehari? Itu diluar kendali dokter, setidaknya 2 sampai 3 hari" jawab dokter menolak ide Hana.


"Benarkah? Yasudah 2 hari saja, 3 hari terlalu lama untukku berpura pura. Lagipula 1 hari juga tidak masalah, dia tidak paham kedokteran" Hana yakin bahwa Maxim tidak paham dunia kedokteran.


"saya buat 2 hari saja nona, agar suatu tidak ketahuan" dokter itu segera menulis resep dan memberi obat ke Hana. Itu sebenarnya vitamin C karena Hana tidak butuh obat lainnya.


"Saya pamit non, semoga harimu menyenangkan! Jangan terlalu sering berpura pura ya nona, dosa!" kata dokter memperingati Hana.


"Siap!! Tidak akan ada panggilan kedua untukmu!" kata Hana yakin dengan ucapannya. "Hati hati di jalan!" Hana mengantar dokter ke pintu. Dia berpura pura pincang untuk menghindari kecurigaan sekretaris yang di luar. Dia yakin sekretaris itu masuk ke kubu Maxim.


Hana kembali masuk dan berpura pura fokus dengan komputer di depannya. Hana yakin cctv di ruangan Maxim sangat ketat pengawasannya. Jadi Hana sedang menyelamatkan diri sendiri.


Maxim masuk ke ruangannya, membuat Hana yang terlihat fokus dengan ponselnya terperanjat berdiri. "Selamat datang pak! Bagaimana meetingnya? Apakah berjalan baik?" tanya Hana berbasa basi untuk menyembunyikan keterkejutannya.


"Baik karena ketidakhadiranmu. Bagaimana lukamu? Sudah baikan?" tanya Maxim sembari duduk di kursinya.


"Saya tidak kawatir, aku hanya menghargai sahabatku karena kamu sangat dia sayangi. Jika bukan karena itu, aku tidak peduli denganmu! Jangan terlalu pede! Bagaimana jadwalku selanjutnya?" tanya Maxim tidak mau lebih lama berbasa basi. Dia tahu Hana akan memiliki banyak ide untuk menjawabnya.


"Hari ini pak bos hanya perlu menemani pemilik grup sunitra bermain golf, itu saja! Apa saya perlu ikut?" tanya Hana, sebenarnya dia berharap Maxim menolak. Hana tidak mau ayahnya atau kakaknya kawatir karena perban di lutut kakinya.


" Tidak perlu! Aku tidak mau keluarga angkatmu kawatir!" jawab Maxim cepat.


"Terima kasih! Pak bos dan aku sehati! Aku juga memikirkan itu pak! Ternyata telepati kita kuat ya pak? Padahal saya masih baru sehari jadi asisten pak bos, bagaimana jika sudah berbulan bulan? Mungkin aku akan tahu apa isi hati pak bos" oceh Hana membuat Maxim menggeleng gelengkan kepala.


"Terserah! Jaga kantor! bersantailah dulu sampai lukamu mengering!" kata Maxim dan segera keluar. Raka sudah menunggunya di luar.


"Sia sia dia menjadi asisten, bukannya mempermudah pekerjaanku aku malah semakin sibuk" Maxim menggerutu, Raka yang mengikutinya hanya menjadi pendengar sejati. Baru pertama kalinya dia melihat Maxim selalu menggerutu kesal. Biasanya wajah Maxim akan sama dengannya. Sangat datar.

__ADS_1


"Hahahaha.... lagi lagi aku menang!! Hana sih di lawan! Bukan keluarga Sunitra jika tidak bisa membuat orang kesal dan mengaku kalah!" Hana selalu membanggakan diri. Dia bermain ponsel, membuka aplikasi chat. Hana penasaran dengan keadaan kedua sahabatnya. Tadi malam mereka tidak berhubungan karena terlalu lelah.


"Helloo gaiss!!! Bagaimana kabar disana? kalian melupakanku!" pesan suara Hana.


"Sorry Han, kita bukan melupakanmu! Kak Remon hanya sedang terbakar api cemburu jadinya dia cuek sama Melani. Melani malah membuatnya semakin cemburu! Sudah tahu kak Remon cemburu bukannya menjaga jarak sama senior, dia malah mau memanasi kak Remon!" adu Rena ke Hana.


"Hahahahaha..... biarin! Aku mendukungmu Mel! Biar tahu rasa, siapa suruh hati Melani masih di gantung!" balas Hana mendukung Melani.


"Benar sayangku!! Kau memang sahabat terhebatku! Aku tidak menyangka kau satu pemikiran denganku. Love you honey!! " Melani akhirnya menjawab.


"Hufftt... sia sia aku mengadu! Calon adik ipar sama kakak ipar sama saja!" Rena mengalah.


"Hahahaha.... wanita di keluarga sunitra tidak boleh kalah sayang!! Maaf ya sayang! Andai aku masih ounya saudara satu lagi untukmu, aku akan menyerahkannya untukmu!" Hana membalas Rena.


" Mel, sebenarnya kak Remon bukannya tidak mau memberimu status. Hanya saja kak Remon tidak suka berpacaran, dia ingin langsung menikah denganmu. Dia bahkan sudah minta persetujuan papah dan mamah!! Hahahaha...." Hana akhirnya mau memberitahu Melani. Dia tidak ingin Melani sakit hati.


"Tapi lanjutkan kinerjamu Mel, biarkan dia cemburu. Tetapi hati hati ya, nanti dia membalasmu. Aku yakin kau juga sudah jatuh cinta setengah mati untuknya" tebak Hana membuat Melani membalas dengan emoticon malu.


"Hahahahahaha.... mampus loh!" balas Rena.


"Sudah dulu ya, gue yakin si makhluk luar angkasa memperhatikan saya dari luar. Dia sudah cukup kesal dengan ulahku. Cukup untuk hari ini, aku tidak mau dia berumur pendek karenaku. Kasihan calon istrinya dimasa depan kalau rambutnya membontak!" kata Hana mengakhiri percakapan mereka. Melani dan Rena hanya membalas dengan emoticon tertawa dengan perkataan Hana.


"Aku malah merasa yang akan menjadi calon istrinya adalah Hana, Hahahahaha......" tebak Melani dan disetujui Rena. Kedua bersahabat itu tertawa bersama karena Hana. Hari ini pekerjaan mereka tidak terlalu banyak karena Remon dan Lexon keluar untuk bermain golf bersama Maxim.


"Kasihan kak Maxim jika jatuh cinta dengan Hana. Kak Maxim harus memiliki mental baja dan kesabaran yang tinggi! hahahahahah....." kata Rena membayangkan bagaimana jadinya Hana dan Maxim jika membangun sebuah keluarga.


"Aku yakin, kak Maxim akan terbiasa selama Hana bersamanya. Hanya saja, wanita keluarga sunitra akan semakin ganas saat sudah berumah tangga!!" balas Melani yang tahu selak beluk keluarga sunitra.

__ADS_1


Huacim.... " Siapa yang membicarakanku di siang bolong? Siang hari saja menggosip" gumam Hana sembari menutup hidung dengan tisu.


__ADS_2