STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
SABAR


__ADS_3

Remon dan Maxim yang tertinggal di cafe hanya bisa pasrah sambil menyeruput kopi yang sudah diantar karyawan cafe. Mereka merasa malu karena kalah berdebat dengan ketiga gadis yang baru saja meninggalkan mereka.


"Bro!! keluarga kaliak tidak menyesal mengangkat dia jadi putri keluarga Sunitra? Aku takut dia yang manusia luar angkasa, akalnya terlalu banyak, aku bahkan kewalahan saat menjawabnya!!" jujur Maxim ke Remon.


"Gue juga heran kenapa otak adikku terlalu jenius. Tapi itulah keunikannya, dia bisa memutar balikkan keadaan. Jadi loh harus hati hati bro! Jangan membuatnya marah atau kesal!" kata Remon mengingatkan Maxim. Remon yakin Maxim sangat suka mengerjai Hana.


"Hahaha....loh seharusnya menyemangati, bukan memperingati bro!! Gue juga sudah hampir kewalahan menghadapi adikmu, idenya selalu di luar kendali gue!!" Maxim mengeluh setelah beberapa hari ini hampir kalah berdebat dengan Hana.


"Hahahahaha.... Sabar bro! Anggap saja latihan sebelum nanti jadi istri, hahahahahaha....." tawa Remon pecah melihat ketidakberdayaan Maxim terhadap Hana.


"Loh gila ya!! siapa yang jadi istri? Gue bahkan tidak pernah membayangkannya untuk menjadikannya jadi istri. Mengingat keanehannya dan juga statusnya. Meskipun keluarga loh mengangkat dia jadi putri keluarga sunitra, statusnya tetaplah anak seorang ART. Gue tidak mau keluarga gue mencoret gue dari Kartu Keluarga" jawab Maxim merendahkan. Remon tidak suka dengan jawaban Maxim. Tetapi dia harus menyembunyikan ketidaksukaannya.


Hana saja bertahan meski dirinya di rendahkan. Remon hanya berharap suatu hari nanti Maxim akan menyesali setiap ucapannya ke Hana. Remon yakin Maxim sudah mulai menaruh perhatian pada Hana, hanya saja Maxim malu menunjukkannya karena mengingat status Hana di mata saat ini hanya anak seorang kepala ART keluarga Sunitra.


"Bro!!! Cinta itu buta, cinta itu tidak memandang fisik, tidak memandang siapa yang sedang kita cintai. Cintaloh terlalu dangkal jika melihat status daru wanita yang akan loh jadikan sebagai istri. Gue saranin loh harus mengubah pola pikirmu, aku takut kamu akan menyesal!" kata Remon menasihati. Remon tidak bisa bertengkar dengan Maxim karena telah merendahkan adiknya. Tetapi Remon setidaknya bisa memberi nasihat kepada Maxim.


"Kayak orang tua aja loh, emang loh udah berpengalaman? Jangan jangan loh diam diam sudah bermain di belakang gue ya!! Bahaya loh! Hahahahahaha.....siapa wanita itu?" tanya Maxim penasaran dengan wanita yang berhasil meluluhkan seorang Remon.


"Diantara ketiga gadis yang tadi bersama kita" jawab Remon tidak memberitahu lebih pasti.


"Hahahahahaha....... mudah mudahan loh tidak menyukai adik loh, secara kalian bukan saudara sedarah. Jadi bisa saja cinta tumbuh karena kalian selalu bersama!" Maxim berbicara santai, tidak memikirkan kalimat yang baru saja dia ucapkan.


"Gila loh bro!! Gue bukan orang gila kayak loh! Gue masih waras, sudahlah aku mau balik ke rumah. Gue duluan ya!" pamit Remon undur diri lebih dahulu.


"Oke!! Hati hati!! Gue juga sebentar lagi mau balik, gue tunggi supir sedang di toilet" jawab Maxim mempersilahkan Remon pulang lebih dulu.

__ADS_1


Remon masuk ke mobilnya, dia tidak menggunakan supir karena supir sudah pulang bersama ayahnya sore tadi setelah selesai bermain golf.


"Perasaan gue mengatakan dia akan tersakiti oleh Hana karena sikap angkuhnya. Mudah mudahan dia tidak akan merepotkanku saat sudah tersakiti, dia tidak tahu kekuatan wanita keluarga sunitra yang dalam membuat orang menderita karena cinta" Remon bergumam sendiri sembari mengemudikan mobil menuju perumahan keluarganya.


"Malam ma!! Hana dimana?" tanya Remon setelah tiba di rumah. Dia langsung mencari keberadaan Hana setelah mengingat kejadian tadi siang tentang perban di kakinya.


"Tumben pulang pulang langsung mencari Hana, Apa Hana membuat ulah?" tanya Safira heran. Remon dan Hana akan saling mencari jika sudah memiliki kesalahan. Jika bukan Hana yang bermasalah, maka Remon yang bermasalah.


"Gak masalah besar kok ma! Jadi mana orangnya?" jawab Remon jujur. Remon tidak memberitahu perihal kaki Hana.


"Di kamar! Sudah sana mandi dulu baru jumpai adikmu. Mama yakin waktu berdebat kalian akan lama. Cepat, sebentar lagi sudah jam makan malam" suruh Safira mengusir Remon dari ruang tamu.


"Oke ma, aman!! Ayah dimana?" Remon bertanya karena tidak melihat keberadaan Lexon di ruang. Biasanya Lexon akan selalu bersama Safira jika sudah di rumah. Lexon akan selalu menempel ke istrinya seperti sudah bertahun tahun tidak bertemu. Remon terkadang iri melihat kemesraan itu, Remon berharap dia juga akan mencintai istrinya di masa depan seperti ayahnya mencintai ibunya.


"Huuftt mama sama anak sama saja penyuka drakor. Kalau sudah menonton drakor lupa sama sekeliling" sungut Remon dan segera melangkah ke lantai atas meninggalkan Safira yang terhanyut dalam drama yang disiarkan di bedah pipih panjang di ruang tamu.


Remon menururi perintah Safira untuk mandi terlebih dahulu sebelum ke kamar Hana. Sebenya niatnya ke kamar Hana bukan untuk berdebat, tetapi ingin melihat keadaan Hana.


"Han! Boleh masuk?" tanya Remon dari balik pintu.


"Masuk saja!" jawab Hana singkat. Hana juga terhanyut dalam dunia drama. Matanya fokus ke laptop di meja.


"Wah!!!! Kalian anak sama ibu sama saja. Entah apa yang kalian dapatkan dari dramanya" kata Remon duduk di sofa menanti Hana menanggapinya.


"Kalau mau mengejekku, keluar saja aku tidak ada waktu meladenimu. Aku sama mama beda, kutebak mama pasti nonton drama korea kerajaan, kalau aku beda, aku nonton drama cina. Jadi beda oke!!" jelas Hana tanpa memandang Remon sama sekali.

__ADS_1


"Bagaimana kakimu? Apakah parah?" tanya Remon ingin mengetahui kondisi adik yang sangat dia sayangi. Meskipun mereka sering saling meledek, mereka tidak bisa melihat salah satu dari mereka terluka.


"Aku baik baik saja, tidak terluka" jawab Hana santai tanpa memikirkan kalimatnya.


"Ihhh Xukai!!! kenapa dia sangat tampan sih? kenapa tidak sekalian masuk member bts sih? biar kumpulan orang tampan komplit!" gumam Hana. Hana sibuk dengan dunianya sendiri, mengabaikan Remon yang keherananan dengan jawaban Hana. Remon bahkan sudah ada di dekat Hana ingin memeriksa lutut Hana yang tadi di perban.


Perban sudah tidak ada, di dahinya juga tidak ada perban. Remon melihat lebih detail, tidak ada bekas luka. "Han, jangan bilang kamu berbohong??" tebak Remon membuat Hana akhirnya tersadar.


"Hehehehe..... Sisstttt, jangan bilang bilang kak. Adikmu ini hanya sedang menyelamatkan diri dari amarah makhluk luar angkasa. Soalnya Hana tadi pagi hampir terlambar. Hehehehehe...... sorry sudah membuat kakak kawatir" jelas Hana merasa bersalah karena membuat Remon kawatir.


"Wah!!! loh nekat benar ya Han!!! Hahah..... gue gak percaya ide itu berasal dari otak kecilmu. Bisa bisanya loh terpikir untuk melakukan tindakan bodoh itu?" Remon masih tidak bisa percaya dengan kekonyolan yang di ciptakan Hana.


"Yah!! mau gimana kak? Hanya itu ide yang terlintas di kepalaku. Hana harus menyelamatkan nilai Hana, jadi Hana harus banyak akal! Intinya kakak jangan banyak bicara, oke!!" ancam Hana.


" Bayar berapa?" tantang Remon menaikkan satu alisnya.


"Masih mau memperjuang teman gue gak?" tanya Hana balik membuat Remon tidak berani lagi menantang Hana.


"Hahaha...... okelah!! tapi loh harus bisa memenuhi kepala dan hati Melani tentang gue yang baik, bisa?" tanya Remon.


"Gampang!!! itu tergantung sikap kakak" ancam Hana dan tersenyum puas.


"Hahhhh, aku kalah! Ayo makan malam" ajak Remon dan segera keluar dari kamar Hana. Remon harus selalu sabar menghadapi Hana karena Remon selalu tidak bisa menang melawan Hana. Bukan berarti Remon lemah, tetapi dia terlalu menyayangi adiknya. Jadi Remon harus selalu bisa mengendalikan diri, harus selalu sabar menghadapi setiap tingkah aneh adiknya.


Hal itu juga berlaku bagi seluruh keluarganya. Mereka sudah terbiasa sabar menghadapi sikap Hana. Mereka saling menyayangi, mereka saling melindungi. Itulah kehebatan dari keluarga sunitra. Kehebatan Safira dalam mendidik anak anaknya.

__ADS_1


__ADS_2