STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
MAKAN MALAM ROMANTIS


__ADS_3

Hana mengambil penggaris besi di meja belajar. Dia kemudian perlahan mengendap endap menuju jendela. Hana membuka jendela kamar perlahan dan seketika ada balon merah terbang ke arahnya. Balon itu bukannya memberi kejutan, dengan gerakan kilat, Hana langsung mengayunkan penggaris di tangannya ke arah balon dan duarrrrr....... balon meletup.


Seisi rumah terkejut dengan suara letupan balon. Mereka tidak berpikir itu suara balon meletup. Mereka bahkan berpikir itu suara guntur yang menandakan hujan akan turun. Jadi mereka kembali mengabaikannya. Hana juga terkejut dengan bunyi balon itu, tapi rasa terkejutnya seketika hilang karena aroma yang keluar dari balon beraroma durian.


Itu adalah buah favorit Hana. Hana langsung mencium dalam dalam. Dia terlihat seperti anak anjing yang mengendus bau. "Durian?? Darimana ini??" gumam Hana.


Maxim sudah yakin bahwa Hana akan melakukan tidakan itu. Dia sudah mulai mengenal kegilaan Hana. Jadi Maxim sengaja memompa balon dengan aroma durian kesukaan Hana. Meskipun sebenarnya dibalik itu Maxim menderita pusing.


Hana akhirnya melihat keberadaan Maxim di luar rumah. Satpam sudah memberi ijin ketika sudah melihat wajah Maxim. Satpam sudah tahu kalau Maxim sahabat Remon. Tetapi tidak tahu kalau Maxim pacar Hana.


"Sedang apa di bawah sana??" Hana mengetik dengan ponselnya.


"Melepas rindu!!" balas Maxim.


Hana seketika sangat senang. Hana keluar kamar, menuruni tangga tergesa gesa.


"Mau kemana?? "Tanya Safira.


"Keluar ma!" jawab Hana singkat.


"Udah mau hujan!! Jangan keluar lagi!" kata Safira menolak keinginan Hana.


"Gak hujan kok mah" jawab Hana.


"Apa kau tidak dengar suara guntur tadi?" tanya Safira ingin meyakinkan putrinya.


"Heheheh..... Itu gak guntur mah!! Itu suara balon meledak karena ulah Hana!! Sorry!!" jujur Hana.


"Mau apa keluar??" tanya Safira lagi.


"Pacarnya nunggu ma!!" bukannya Hana menjawab, Remon malah menjawab ketika masuk kerumah.


"Malam tan!! Maaf mengganggu malam malam!! Hananya boleh Maxim bawa keluar? Maxim janji gak akan pulang larut" kata Maxim yang ikut masuk dengan Remon.


"Oh nak Maxim!! Ternyata kamu. Pantas saja gadis yang satu itu kesenangan!! Yasudah bawa saja, kalian hati hati!" Safira memberi ijin.


Kebetulan Lexon belum pulang ke rumah. Lexon memberitahu Safira kalau dia sedang rapat dengan klien, jadi agak telat pulang ke rumah.


"Makasih tan!! Hananya, Maxim pinjam dulu ya tan!! Kami pamit!!" kata Maxim dan menggenggam tangan Hana yang sudah mendekat dengannya.


"Iya!! Hati hati!!" jawab Safira.

__ADS_1


Di mobil selama di perjalanan, Maxim sama sekalu tidak melepas tangan Hana. Dia sangat rindu menggenggam tangan mungil itu.


"Kenapa aku tidak melihat ibumu disana?" tanya Maxim tiba tiba.


"Mmm.... Itu...." Hana gugup. Hana sebenarnya merasa bersalah dengan Maxim. Hana bingung ingin memberitahu atau tidak.


"Kenapa?? Apa ibumu baik baik saja? Atau kau sedang menyembunyikan sesuatu?" cecar Maxim.


"Yank!! Kalau aku jujur!! Kamu bakalan marah gak samaku??" tanya Hana sebelum dia mulai membicarakan sebuah kebenaran.


"Tergantung kejujuran itu apa? Kalau tentang perselingkuhan, aku akan sangat marah!" jelas Maxim membuat wajah Hana terheran.


"Bukann!!! Aku tidak gila. Harusnya yang aku takuti selingkuh kamu!! Aku kan sudah bilang, kalau aku sudah memilihmu, maka kau tidak akan lepas dariku!!" jelas Hana sedikit kesal.


"Iya iya!! Maaf bercanda!! Aku percaya kamu!! Tapi apa yang ingin kamu katakan? Katakan saja, aku tidak akan marah!!" kata Maxim membuat Hana percaya diri.


"Sebenarnya ibu kandungku Safira, ayahku Lexon dan kak Remon adalah kakak kandungku. Semua yang aku beritahu ke kamu tentang keluargaku bohong. Maaff!!!!" kata Hana menjelaskan. Hana langsung memegang telinga sebagai permintaan maaf.


"What??? Kenapa bisa begitu?" tanya Maxim terkejut. Dia bahkan menepikan mobilnya.


"Sebenarnya sedari kecil aku selalu menyembunyikan identitasku. Aku tidak mau disorot media, aku tidak mau orang lain dekat denganku hanya karena tahu statusku. Aku hanya ingin mereka dekat denganku tanpa mereka tahu kalau aku putri keluarga Sunitra." jelas Hana.


Hana mengangguk. Hana juga menunduk takut Maxim akan marah dengannya. Tetapi itu tidak terjadi. Maxim malah memeluknya, membelai kepalanya lembut. "Tidak apa!! Aku salut denganmu!!" gumam Maxim pelan di telinga Hana.


"Kau tidak marah???? Benar tidak marah???" tanya Hana menampakkan wajah gembira.


"Untuk apa? Keluargamu bahkan mendukungmu, kenapa aku tidak?? Aku akan sama dengan keluargamu, jika mereka mendukungmu, maka aku mendukungmu. Bahkan jika mereka tidak mendukung, aku akan tetap menjadi pendukungmu!!" kata kata itu sukses membuat Hana terharu. Dia bahkan semakin erat memeluk Maxim.


"Aku terhura tahu!!!! Tanggung jawab!!" kata Hana sambil melepas pelukan.


"Apa?? Terhura? Bahasa apa itu?" bingung Maxim.


"Terharu maksudnya!! Udah ah!! Cari makan!! Aku kelaparan!" kata Hana sambil memegang perut sejengkalnya.


"Oke!! Siap nyonya!!" jawab Maxim dan langsung melaju membelah jalanan kota.


"Kau mau makan apa?" tanya Maxim setelah memarkir mobilnya di restoran yang pengunjungnya cukup ramai.


"Apapun yang enak, jika dessert durian ada, aku juga mau!!" Jawab Hana.


"Sedang apa kau??" tanya Maxim terkejut mendapati Hana sudah lengkap dengan topi, masker dan kacamata hitam yang dia temukan di mobil Maxim.

__ADS_1


"Heheh.... Tentu saja senjata penyelamatan diri!!" jawab Hana santai dan segera keluar dari mobil.


Maxim hanya bisa menepuk jidat sambil tersenyum lucu. Dia menggandeng tangan Hana dan masuk ke ruangan private yang sudah Maxim pesan.


"Apa ini tertutup??" tanya Hana memandangi semua ruangan mereka.


"Tentu saya honey!! Kan ini private!!" jawab Maxim masih tidak habis pikir dengan ulah Hana.


"Yah kita kan gak tau, baguslah kalau private" kata Hana dan segera membuka semua senjata yang menutup wajahnya.


Hana tersenyum lebar dan langsung membaca menu. "Waoooo!!! Ternyata dessert durian ada!! Aku mau ini, ini, ini dan ini!!" pilih Hana.


Hana memilih dessert durian, rendang+nasi, capcay, dan jus terong belanda. Kemudian menyerahkan menu ke Maxim.


Maxim memilih seafood dan ikan laut, serta jus nenas menambahi pilihan Hana.


Pelayan menerima pesanan dan pergi meninggalkan keduanya.


"Bagaimana harimu di perusahaan keluarga sendiri?" tanya Maxim ingin mengetahui keseharian Hana.


"Huffttt, melelahkan tapi juga nenyenangkan!!" jawab Hana. Apa kau tahu, aku merasa sangat lucu ketika aku sadar kalau baru pertama kalinya aku menginjakkan kaki di perusahaan keluargaku sendiri!! Bahkan temanku yang menjadi pemanduku!!" jelas Hana. Hana terlihat sangat senang bercerita.


Maxim sangat antusias mendengar cerita Hana. Maxim bisa melihat berbagai macam ekspresi yang ditampilkan di wajah Hana ketika bercerita.


"Kamu sangat menggemaskan!!" kata Maxim tiba tiba sambil membelai kepala Hana lembut.


Hana terkejut, wajahnya sedikit memerah. Tetapi segera di netralkan.


"Apa kau mendengar cerita yank!! Kok jadi menggodaku!!" cerewet Hana.


"Aku mendengarnya Honey!!! Hanya saja aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menggodamu, kau terlalu menggemaskan!!" jawab Maxim semakin menggoda Hana.


"Ahhhhh!!!! Jangan bilang itu lagi!! Atau tidak, jantungku akan meledak!! Apa kamu mau jantungku meledak??" tanya Hana. Hana ingin menghentikan gombalan Maxim.


"Tentu saja tidak, jika jantungmu meledak, siapa yang akan aku ajak ke pelaminan??" kata Maxim masih menggoda Hana.


"Siapa yang mau ke pelaminan denganmu?? Kepedeannn!!! " jawab Hana sambil membuang muka.


Kedua saling bercanda gurau, saling menggoda hingga akhirnya makanan sudah tersaji di depan mereka. Hana terlihat begitu lahap. Bahkan makanan yang Maxim pesan untuk dirinya sendiri malah lebih banyak dimakan Hana. Maxim hanya makan sedikit, tetapi dia tidak mempermasalahkannya. Dia malah memilih memandangi Hana makan dan Hana tidak peduli dengan pandangan Maxim.


Maxim juga sudah pernah mengatakan kalau Hana makan harus seperti biasanya jika bersamanya. Tidak perlu jaga images atau apapun itu. Jadi inilah Hana sekarang. Makan begitu lahap tanpa peduli dengan pandangan Maxim yang menatapnya sambil senyum senyum sendiri. Entah apa yang lucu dari wajah Hana. Hana tidak peduli, yang terpenting perut sejengkalnya terisi penuh.

__ADS_1


__ADS_2