STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
MEMBAHAGIAKAN KEKASIH


__ADS_3

Mobil Maxim tengah melaju mengelilingi kota. Maxim sengaja mengajak Hana keliling kota. Maxim berharap dengan mengajak Hana jalan jalan bisa mengalihkan pikiran Hana. Maxim bahkan pasrah ketika Hana mengajaknya ke taman bermain yang di penuhi anak anak.


Rela di pasangkan bando couple, rela jadi tempat jajanan. Bahkan kalu ini, Maxim diajak masuk ke rumah hantu. "Apa kamu yakin?" tanya Maxim meyakinkan Hana.


"Kenapa? Apa kamu takut? " ledek Hana.


"Hahhhh..... Siapa takut? Kita lihat siapa yang nanti lari terbirit birit keluar!" tantang Maxim.


Kedua pasangan itu mulai melangkahkan kaku memasuki rumah hantu. Terlihat wajah Hana sangat antusias. Berbeda dengan wajah Maxim yang masih terlihat biasa saja, kedua tangannya masuk ke saku celana. Dia mengikuti jejak Hana.


"Uahhhhh........" teriak Hana terkejut saat hantu berbaju suster tiba tiba ngesot ke arah kakinya. Dengan gerak cepat Hana bahkan melayangkan tendangannya, membuat si tokoh hantu kesakitan dan pergi meninggalkan kedua orang itu.


Hana semakin menikmati keseruan di rumah hantu bahkan tidak sadar kalau Maxim sudah tertinggal.


"Huahhhhhh......" suara teriakan terdengar sampai ke telinga Hana. Hana tersadar setelah mendengar suara itu adalah suara orang yang sangat dia kenal.


Hana berbalik dan melihat Maxim tidak sedang bersamanya.


"Huahhhhh.............. Ada mba kunti!!!!!!!!" teriak Maxim berlari ke arah Hana.


Hana hanya pasrah saat Maxim menarik tangannya. Dia hanya berusaha menyesuaikan langkah kakinya dengan langkah kaki Maxim.


Tanpa terasa keduanya sudah keluar dari rumah hantu. Nafas keduanya masih terengah engah. Keduanya menunduk sambil memegang lutut masing masing. Ketika pernafasan sudah mulai teratur, keduanya tertawa bersama.


"Ternyata kamu penakut!!!" ledek Hana.


"Siapa yang tidak takut coba sama mba kunti!! Rambutnya gak beraturan gitu, coba aja rambutnya di tata rapi, muka gak pucat kan gak seram!!" jawab Maxim tidak mau kalah.


"Ya kalau rambutnya rapi, muka imut namanya bukan mba kunti!! Tapi mba gemoi tau!!!! " balas Hana masih mode meledek.


"Udah ah... Lapar!! Makan yok yank!!" ajak Maxim. Hanya makan satu satunya alasan agar dirinya terselamatkan dari ledekan Hana.


"Iya!!! Hana juga lapar!!" Hana merangkul lengan Maxim dan mengajaknya ke penjual bakso dengan gerobak biru.


"Apa kamu yakin makan ini?" tanya Maxim meyakinkan.


Hana hanya mengangguk. Dia sudah menelan ludah melihat pesanan pesanan orang orang.


"Lapar ya!!" tanya Maxim melihat ekspresi Hana.


"Mmm...." jawab Hana, matanya tidak bisa jaih dari tumpukan bakso di gerobak.


"Awas encesmu jatuh!" balas Maxim meledek.


Hana hanya menunjukkan deretan giginya. Tidak mau meladeni ledekan Maxim. Fokusnya sudah


ke bakso di dalam gerobak.

__ADS_1


Tiba giliran Hana, dia mulai memesan seporsi bakso dan langsung meninggalkan Maxim.


"Hah!!!! Punya pacar kok gini bangat ya!!" gumam Maxim sambil memesan pesanan yang sama dengan Hana. Tidak lupa, Maxim juga langsung membayar pesanannya dan juga pesanan Hana.


"Benar benar lapar ya?" tanya Maxim lagi sambil duduk di depan Hana.


"Hmmm...." jawab Hana singkat.


Maxim bisa melihat jelas Hana memang sangat kelaparan, terlihat jelas dari mangkok bakso sudah mulai habis.


"Masih kurang?" tanya Maxim.


"iya... Kurang!!!" rengek Hana dengan mode wajah manja.


Maxim hanya bisa menyodorkan mangkok berisi bakso ke depan Hana. "Makan saja! Aku tidak lapar" kata Maxim.


Hana dengan cepat merampas makanan Maxim. Hana kembali menyuapkannya ke mulutnya.


"Aaaaa......" Hana menyodorkan sendok dengan bakso bulat di atas sendok ke arah mulut Maxim.


Maxim membuka lebar mulutnya dan menerima suapan Hana. "Untung masih punya hati" gumam Maxim pelan tapi masih bisa di dengar jelas Hana.


Hana hanya terkekeh dan kembali menikmati bakso yang tersisa.


Hana menyandarkan tubuh di kursi yang terbuat dari plastik milih si penjual bakso. Hana memegang perutnya yang sudah membuncit karena kenyang.


"Kenapa? Mau ke toilet?" Maxim juga ikut panik melihat wajah Hana.


"Bukan!!! Hana kekenyangan, gimana mau jalab ke mobil? Kek nya kamu harus gendong aku deh" jawab Hana.


"Kamu kan berat yank!!! Mana bisa aku gendong!" jawab Maxim.meskipun nyatanya itu candaan.


"What!!! Jadi kamu bilang aku gemuk?" tanya Hana tidak terima.


"Bukan gitu yank!! Lihatlah perutmu udah buncit gitu, apa menurutmu aku masih sanggup angkat badanmu?" Maxim mencoba melakukan pembelaan diri.


"Terserah!!" Hana langsung beranjak pergi ke mobil Maxim.


Maxim lagi lagi geleng kepala dan berlari mengejar Hana.


"Yank!!! Jangan marah ya! Aku hanya bercanda!!" Maxim membujuk Hana.


"Yankkkkkk..... Jangan gitu!! Aku sedih!!" kali ini Maxim yang merengek memasang wajah imut.


"Mbuahhhahahahahaha......., yank!! Lain kali jangan pasang wajah itu lagi ya! Aku jijik liatnya" kata Hana sambil memegang perutnya yang sakit karena tertawa.


"Aku akan selalu membuatnya jika kamu selalu merengek kek sekarang" balas Maxim.

__ADS_1


"Tapi aku jijik tau!!" balas Hana.


"Makanya jangan suka merengek sayang!!" ceramah Maxim.


"Iya iya!" jawab Hana singkat.


"Udah yok pulang yah!!" ajak Maxim.


Hana masih terdiam, kemudian menghela nafas panjang lali akhirnya mengangguk.


Maxim sebenarnya masih belum ingin membawa Hana kembali. Tetapi biar bagaimanapun mereka tidak bisa selalu menghindari. Mereka harus menghadapinya langsung. Jika tidak di hadapi, masalah mereka tidak akan pernah selesai.


"Aku pulang!"Kata Hana singkat sembari melangkah masuk ke rumah. Dia langsung masuk ke kamar tanpa memperhatikan siapa saja yang duduk di ruang tamu.


Bahkan Hana tidak tahu kalau Maxim juga ikut masuk bersamanya. Hana mengira Maxim langsung pulang setelah mengantarnya.


"Terima kasih yang nak udah jagain Hana! Maaf sudah merepotkan" ucapan terima kasih Safira.


"Gak apa apa kok tan, tidak merepotkan. Aku hanya sedang menjaga diriku sendiri kok! " jawab Maxim sopan.


Kata kata Maxim benar benar sangat dalam. Safira bahkan semakin tidak tega jika harus memisahkan keduanya. Tetapi dia bingung harus bagaimana meyakinkan suaminya.


"Duduk lah nak! Tante buatkan minuman dulu" tawar Safira.


"Oh tidak perlu tan, aku mau langsung pulang. Aku masih ada urusan" tolak Maxim lembut.


"Oh gitu yah! Yasudah, hati hati di jalan!" nasihat Safira.


Maxim melajukan mobilnya ke arah perusahaan. Dia meninggalkan pekerjaannya karena ingin menenangkan kekasihnya. Beruntung dia memiliki sekretaris yang bisa di andalkan siapa lagi jika buka Raka.


Maxim masuk dan di kejutkan dengan kehadiran Remon di ruangannya. "Loh ngapain disini?" tanya Maxim terkejut.


"Gue mau minta bantuan loh!" kata Remon dengan raut wajah serius.


"Kenapa?" tanya Maxim bertanya kembali, wajahnya juga terlihat serius menanggapi ucapan sahabatnya.


"Bro, bisa periksa zat pewarna di pabrik loh? Karena gue sudah periksa pakaian yang di pakai Yemima. Zat pewarna di pakaian itu memang ada zat berbahaya!" jelas Remon.


"Jangan bilang loh curiga sama perusahaan gue?" tanya Maxim.


"Bukan bro!! Jangan salah paham! Gue mau cari tau, sumbernya darimana? Apa dari perusahaan gue atau dari perusahaan loh! Karena bahan mentah perusahaan keluargaku dari perusahaan loh" jelas Remon menjelaskan dengam baik tidak mau sahabatnya salah paham.


"Selama ini bahan bahan pewarna di perusahaan gue oke sih! Tapi beberapa bulan belakangan ini gue belum periksa karena gue udah percayakan ke orang kepercayaan gue" jawab Maxim.


"Sepertinya kita harus menyelidikinya bersama! Gue takut ada sesuatu yang di sembunyikan dari kita. Jangan bilang orang kepercayaan kita menjadi penghianat" jelas Remon.


Maxim hanya mengangguk angguk. "Tapi loh jangan langsung beritahukan ke Hana ya! Gue gak mau dia semakin pusing karena masalah ini" pinta Maxim ke Remon.

__ADS_1


"Gue gak gila bro!! Gue juga sayang adik gue" balas Remon. Keduanya kembali terdiam, sibuk dengam pikiran masing masing.


__ADS_2