STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
DRAMA JAM 12 MALAM DAN PAGI HARI


__ADS_3

Hana menghempaskan tubuhnya ke kasur empuknya setelah selesai mandi dan berpakaian. Dia merasa lelah, bukan karena bekerja tetapi karena bosan. Hana merasa harinya sia sia karena tidak ada pekerjaan yang berfaedah yang dia kerjakan.


Tok...tok... tok... "Hana! Apa kakak boleh masuk?" suara Remon terdengar dari luar kamar.


"Mm... pintu inggak di kunci!" sahut Hana tidak juga bangkit dari rebahannya.


"Bagaimana hari pertama magangmu?" tanya Remon yang sudah duduk di sofa kecil di kamar Hana.


"Membosankan!! Apa kakak tahu? Dia menjadikanku asisten pribadinya!! Jika bukan karena aku butuh nilai untuk projek akhir, mungkin aku akan membanting tubunnya ke lantai ruangannya tadi pagi" jujur Hana ke Remon membuat Remon berbatuk karena sedikit terkejut dengan ucapan Hana.


"Hahahahahah.....apa kau begitu membencinya? Awas jadi jatuh cinta!" peringatan Remon ke Hana. Remon sedikit merasa kasihan pada Remon dengan sikap adiknya. Bukan kasihan pada Hana, karena Remon yakin yang akan tertindas disini bukan Hana, tetapi Maxim.


'Sabar bro!! ini cobaan! Gue yakin loh akan melewati cobaan ini!' batin Remon untuk Maxim.


"Sangat!! Menyesal aku pernah menyukainya. Tahu dia memiliki sifat menyebalkan ini, aku tidak akan pernah menaruh rasa padanya!" Hana tidak sadar dengan pengakuan yang dia buat.


"Waooo..... ternyata Maxim tinggal butuh perjuangan sedikit lagi untuk menyembuhkan hatimu. Hahahahahaha....." kata Remon menanggapi ucapan Hana yang bahkan Hana tidak sadar dia baru saja memberitahukan tentang perasaannya kepada Maxim.


"Enak saja ngomong gitu! Emang ini luka tergores biar harus di sembuhkan?" Hana masih berpikir polos.


"Yah!! Sedikit mirip!" Jawab Remon dan tersenyum lebar. Dia senang Hana tidak terlalu mengerti dengan ucapannya. "Sudahlah! ayo turun untuk makan malam! Mama sama papa sudah menunggu". Remon keluar kamar terlebih dahulu sebelum Hana.


Benar saja, di ruang makan Lexon dan Safira sudah menunggu kedatangan Hana dan Remon. "Bagaimana harimu tuan putri ayah?" tanya Lexon berbasa basi dengan putrinya. Dia sangat merindukan putrinya. Baru malam ini dia bisa melihat putri tercinta. Sejak pagi hari mereka terlalu sibuk dengan urusan masing masing sehingga tidak saling menyapa di pagi hari.


"Baik pah! Bagaimana denganmu dady tercinta?" balas Hana dengan memberi sedikit rangkulan leher dari belakang ke Lexon.


"Dady tampan pun ini juga memiliki hari yang sangat baik. Apalagi melihat pemandangan unik di perusahaan, membuat umur ayah panjang" jelas Lexon tapi membuat Hana dan Safira bingung.


"Kenapa pah? Apa ada masalah?" tanya Safira penasaran.

__ADS_1


"Santai ma! Itu bukan masalah besar. Hana yakin ini berkaitan dengan kak Remon. Kalau Hana tidak salah tebak, pasti ayah melihat kobaran api cemburu dari salah satu pihak, benarkah yah?" tebak Hana dan di balas anggukan oleh Lexon.


"Good girl!! Hahahahaha....ayah sangat puas melihatnya, itu mengingatkan ayah masa muda saat jatuh cinta dengan gadis muda" Lexon merasa puas meledek Remon sampai terlupakan dengan ucapan sendiri yang sukses membuat seseorang mengeluarkan gigi taring.


"Ooouwww..... Pah!! Semangat!! Hana balik ke kamar dulu" pamit Hana segera setelah tahu hal yang akan terjadi.


"Remon juga pah! Kita sudah selesai makan! Remon mengantuk, semangat!! bye mom!" pamit Remon menyusul Hana yanh sudah melangkah ke lantai atas terlebih dahulu.


Kedua anak itu bukan langsung masuk ke kamar. Mereka justru menguping keributan di meja makan. Terkadang mereka ingin tertawa, tapi terkadang juga merasa kasihan dengan Lexon yang tertindas karena istrinya.


"Hebat kamu ya!! Sudah berapa gadis yang sudah kamu pacari?? Apa mereka sangat cantik dan menggoda?? Sudah sana!! kamu temui mereka! Jangan tidur di kamar, dan jangan pernah mengetuk pintu kamar. Aku ngantuk! terserah ayah mau kemana, mungkin ayah bisa menemui gadis gadis cantikmu! Good night!! " Suara Safira sangat keras. Lexon bahkan tidak bisa membela diri sedikitpun. Safira tidak memberi celah sedikitpun untuk Lexon.


Jam 12 malam....


Tok... tok... tok... terdengar suara ketukan di kamar Safira. Safira tahu itu suaminya, tapi dia tidak mengubris. Dia lebih memilih melanjutkan tidur daripada membuka pintu untuk Lexon.


"Papah boleh numpang tidur disini? di ruang tamu terlalu dingin, kamar tamu terlalu horor!! Ayah mohon!!" pinta Lexon memasang wajah bersedih meminta belas kasihan.


"Sudahlah yah! masuk saja!! Sudah tua pun masih saja sok imut!" ledek Remon yang merasa risih dengan sikap ayahnya yang bersikap manis.


"Terima kasih pangeranku! Tidak menyesal aku mewariskan ketampananku untukmu" balas Lexon dan segera melangkah ke kasur Remon.


"Hah.... aku tidak merasa mirip dia, aku merasa mirip mama. Tingkat kepedeaan ayah terlalu tinggi!" gumam Remon dan menutup pintu kembali.


"Yang punya kasur siapa? yang menguasai siapa?" Remon menggerutu sendiri. Lexon sudah tidur memenuhi kasur Remon. Remon sedikit kesulitan menggeser tubuh ayahnya.


"Selamat pagi ma!!" sapa Hana ke Safira yang sedang menata makanan di meja.


"Pagi! Apa ayahmu tidur di kamarmu?" tanya Safira.

__ADS_1


"Ayah? Tidak kok mah. Apa ibu menghukumnya dengan tidak boleh tidur di kamar? Wah mama terlalu kejam kepada ayah" Hana mendukung Lexon.


"Anak kecil tidak usah ikut campur, nanti saat sudaj dewasa kamu akan mengerti. Sudah cepat sarapan! Nanti kamu terlamba!" suruh Safira dan meninggalkan dapur ke lantai atas tepatnya ke kamar Remon.


"Hahahahahahahaha...... kalian sangat imut!" tawa Safira pecah saat melihat Remon dan Lexon tidur berpelukan. "Ayah sama anak sama saja!!" ledek Safira. "Turun makan!!" tambahnya dan keluar sambil tertawa.


"Ayah terlalu rindu memelukku ya? Bilang saja kalau ayah ingin memelukku, aku pasti akan memeluk ayah. Bukan seperti ini caranya! Buat malu saja" Remon malu dan keluar terlebih dahulu meninggalkan Lexon yang masih mengumpulkan nyawa.


"Waktu kecil kau yang hobby peluk ayah, sekarang sok jual mahal!!" Lexon bergumam dan menyusul Remon ke ruang makan.


"Maafkan Hana ya yah!! Hana gak bisa bantuin papa! Hana hanya bisa berdoa banyak banyak agar kak Remon membukakan pintu hatinya untuk ayah!" Hana membela diri meskipun sebenarnya dia tidak melakukannya. Hana bahkan tidak mengetahui Lexon masuk ke kamar Remon.


"Tidak apa apa sayang! Ayah sudah terbiasa! cepat makannya, jangan sampai terlambat" suruh Lexon yanh sadar akan jam dinding yang tertempel di sudur ruang makan.


"Untung papah mengingatkan! Hana pamit ya pah, mah, bye my brother!!" pamit Hana dan langsung pamit undur diri.


Hana tergesa gesa, mengingat hari ini adalah hari pertama dia berperan sebagai asisten pribadi Maxim. Hana membabat semua penghuni jalanan. Memasang klakson panjang di mobil dan motor yang sedang melaju di depan motornya. Hana layaknya seseorang yang berjabatan sebagai pemilik jalan raya.


Di tempat lain, Maxim sudah menunggu kedatangan Hana. Maxim sudah tiba di perusahaan sepuluh menit yang lalu dan tidak menemukan Hana di perusahaan. "Apa dia tidak butuh nilai A? Lihat saja bagaimana aku akan memberi penilaian untuk projek akhirmu. Aku adalah salah satu kunci kelulusanmu!" bangga Maxim yang sekaligus kesal karena Hana tidak juga tiba di ruangannya.


"Lima menit lagi belum tiba, nilaimu hancur!" gumam Maxim mengancam Hana yang tidak ada di ruangannya.


"Maaf pak! Saya terlambat. Ada sedikit kecelakaan di jalan tadi!" Hana tiba tiba mencul dari balik pintu. Ada bekas dari di lutut dan dahinya.


Maxim terkejut, dia ingin marah pun tidak bisa. Dia malah bersimpati dan mengambilkan kotak P3K. Maxim ingin mengobati Hana tetapi di tolak Hana. "Tidak perlu pak, nanti saya akan obati pak! Sekarang bapak harus meeting di hotel cantika, apa saya perlu menemani pak? atau saya panggilkan sekreris Raka?" tanya Hana.


"Panggilkan dia saja, kau obati dulu lukamu! Aku pergi dulu" pamit Maxim dan keluar dari ruangannya meninggalkan Hana sendiri.


Setelah merasa aman, Hana langsung merubah ekspresinya. "Hahahaha.... untung aku cerdik!! Bukan Hana namanya jika tidak bisa mengatasi masalah!" gumam Hana bangga.

__ADS_1


__ADS_2