STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
DILAMAR


__ADS_3

Orang tua dari pihak Sunitra dan Maholtra menanti jawaban terucap dari bibir Melani. Hana bahkan sampai terlihat tidak sabar. Terbukti dari gerakan tangannya menyenggol lengan Melani membuat Melani terkejut.


"Jangam bengong!! Kasihan kakakku kelamaan jongkok! Dia punya rematik!" ledek Hana membuat seluruh keluarga tertawa bersama.


"Cepatan Mel!! Nanti tangan kak Remon pegal, gak bisa dong peluk erat kamu!!" tambah Rena meledek Melani. Lagi lagi ulah dua gadis sahabat Melani sukses membuat seisi rumah tertawa bersama.


"Hahahaha....kalian berdua gak bisa lihat gue senang!! Sabar!! Kan yang dilamar aku!" jawab Melani.


"Hahahaha..... Mereka benar Mel, lututku sudah lemas, tanganku juga!" Remon mencoba ikut bercanda meskipun sebenarnya ucapannya tidak sepenuhnya benar. Remon hanya merasa kakinya sudah mati rasa.


"Hahahaha... Gak ada usaha sih kamu! Itu aja sudah kalah" jawab Melani tidak mau kalah. Melani akhirnya mengangguk dan segera memeluk Remon yang sudah berdiri setelah menyematkan cincin di jari manis Melani.


"Terima kasih karena sudah mempercayaiku!" bisik Remon pelan di telinga Melani.


"Terima kasih juga karena sudah mencintaiku, love you calon suamiku!" balas Melani.


"Sudah jangan kelamaan!! Kakak mah keenakan!! Ingat kak, belum tunangan loh!! Masih nyematkan cincin aja loh!" ledek Hana ke Remon yang terlihat nyaman di pelukan Melani.


"Iya Remon, kamu tuh keenakan! Sudah jangan terlalu lama peluk calon mantuku! Mantuku kasihan, sesak! Kamu sih bau kambing!!" Safira ikut meledek Remon.


"Jangan meledek calon mantuku! Calon mantuku tampan, masa di bilang bau kambing!" Raka membela Remon.


"Kenapa jadi terbalik? Harusnya papah belain kak Remon dong! Aduh kasihan kak Remon udah gak dianggap. Hahahahahaha...." Hana meledek Lexon dan juga Remon sekaligus. Ledekan Hana tidak membuat pihak manapun sakit hati, tetapi tawa yang pecah di ruang tamu.


"Sudah sudah! Ayo makan, keburu dingin!" ajak Safira.


Pihak keluarga Maholtra maupun Sunitra dan juga Rena mengikuti langkah Safira yang menuntun mereka ke arah dapur. Sedangkan para asisten rumah tangga terlihat sudah sibuk menata makanan di meja makan.


Semua keluarga besar yang tengah berbahagia itu menikmati makanan mereka. Di sela sela makan, mereka terkadang berbincang. Safira tidak marah, karena sangat jarang mereka berkumpul seperti sekarang. Apalagi dengan adanya kabar baik yang membuat suasana hati menghangat.

__ADS_1


"Kami pamit pulang ya bro!! Udah tengah malam, besok masih harus bekerja" pamit Raka ke Lexon.


"Menginap saja! Besok pagi saja baru pulang!" pinta Lexon yang tidak rela di tinggalkan Raka disaat obrolan mereka sangat menyenangkan.


"Hahahahaha....jangan bro! Aku masih ada urusan dengan istriku! Lagian aku takut calon mantuku tidak akan bisa tidur jika putriku di rumah ini malam ini!" jawab Raka sambil melirik Remon yang sudah tersenyum malu.


"Yaudah deh! Rena saja yang menginap disini. Sorry Mel, malam ini gue gak ngajak loh nginap disini. Gue setuju dengan om Raka" tambah Hana meledek Remon.


Lagi lagi semua orang tertawa karena sedari tadi mereka selalu meledek Remon. Bagaimana tidak, Remon selalu mencari peluang agar bisa dekat dengan Melani. Meskipun yang lain tahu, tapi mereka berpura pura tidak sadar dengan tindakan Remon.


Keluarga Maholtra pamit undur diri, keluarga Sunitra mengantar kepergian mereka. Mereka kembali masuk kerumah ketika mobil yang di kendarai keluarga Maholtra sudah tidak terlihat lagi.


"Han! Ada apa dengan bosmu? Kenapa tiba tiba pergi ke AS? Aneh!" tanya Remon tiba tiba menyenggol lengan Hana ketika hendak mau masuk kamar.


"Tau ah kak! Kakak kepo banget! Lagian kakak kan sahabatnya, harusnya dia lebih dekat dengan kakak? Kok malah nanya aku!?" jawab Hana ketus.


"Masalahnya dia biasanya curhat ke kakak, kenapa sekarang gak curhat?" bingung Remon.


"Loh pikir barang! Nanya baik baik, jawabnya ngawur, aneh!!!" Remon kesal.


"Yah kakak sih lucu, nanyanya sama Hana. Kenapa gak nanya sekretarisnya saja sih?" tanya Hana.


"Soalnya sekretarisnya bilang tanya samamu? Bingung gue sama kalian!" lagi lagi Remon kesal. Dia memang sudah bertanya ke sekretaris Raka saat telepon Maxim tidak bisa di hubungi. Awalnya Remon berniat mengundang Maxim ke acara makan malam keluarga.


"Emang gue ibunya biar di tanya sama gue? Udah ah! Gue mau tidur, ngantuk! Selamat malam dan semoga kakak memimpikan calon istrimu" pamit Hana dan pergi begitu saja.


"Loh kan belum jawab pertanyaanku! Woi!!!! Hana!!!" teriak Remon dari balik pintu kamar Hana. Hana membanting pintu kamarnya keras ketika menutup.


"Kakak ribut bangat sih! Sepertinya sahabat tercintamu terkena virus cinta dan sedang putus asa karena cintanya di tolak!!!" teriak Hana dari dalam kamar.

__ADS_1


"Cinta? Di tolak? Sejak kapan aku tidak tahu perjalanan cintanya. Setahuku aku selalu mengetahui perjalanan cintanya, kenapa ini sangat aneh ya? Apa jangan jangan....?" Remon bergumam sendiri.


"Hahahaha... Lucu sih loh Max kalau loh pergi karena mau menghindari adik gue". Tebak Remon. Remon akhirnya masuk kamar setelah beberapa menit bergumam sendiri di depan pintu kamar Hana.


"Hana!!!!! Bangun!!! Ini sudah jam berapa? Kamu gak magang?" teriak Safira dari lantai bawah. Suaranya memenuhi seluruh rumah membuat semua orang yang masih tertidur harus bangun. Lexon masih tengkurap sambil memeluk guling yang diberikan Safira saat hendak turun dari tempat tidur. Remon masih masuk ke dunia mimpi, terlihat bibirnya melukiskan senyuman bahagia. Hana? Gadis itu sedang bermimpi menangis, Hana bermimpi di peluk Maxim hingga sesak dan sulit bernafas.


"Hana!!!!!!! Remon!!!!! Lexon!!!!! Bangun!!!!! Anak sama ayah sama saja!!" Safira lagi lagi berteriak untuk kedua kalinya karena belum melihat pergerakan dari lantai dua dan juga dari kamarnya.


Seketika ketiga orang yang di panggil langsung beranjak dari tempat tidur dan menyambut sumber suara.


"Kenapa sih mama ribut pagi pagi? Nanti cepat menua loh, harusnya pagi itu ceria!" Hana menjawab sambil menuruni anak tangga di belakang Remon.


"Ini sudah jam berapa? Apa kalian tidak mau bekerja lagi? Jika tidak mau, biar mama saja yang bekerja dan kalian mengurus rumah!" Safira menyerang ketiga orang yang sudah di dekatnya.


"Iya ma, iya! Ini Remon mau mandi" jawab Remon tidak mau melawan safira.


"Iya istriku tercinta! Suamimu ini akan segera mandi, jangan lupa siapkan setelanku!" Lexon mengikuti Remon.


"Hana gak magang ma! Perusahaan kak Maxim agak horor! Masa iya Hana mimpi di peluk sampai sulit bernafas! Yang benar saja! Itu bukan memeluk, tapi mencekik!" Hana memberitahu niatnya yang ingin cuti".


Remon yang sudah berada di tangga hendak ke atas seketika menghentikan langkahnya dan tertawa terbahak bahak karena mimpi yang Hana ceritakan.


"Kakak menyarankan agar kamu hati hati, itu akan segera menjadi kenyataan!" Remon memperingati Hana.


"Ih apaan sih!! Sibuk! Sana mandi biar ketemu calon istrimu!" usir Hana yang tidak mau di ledek Remon.


Mendengar itu, Remon langsung mempercepat langkahnya menaiki anak tangga. Dia sangat bersemangat saat Hana mengingatkan dirinya.


"Ma!! Plis!! Ijinkan Hana cuti ya! Hari ini saja!! Please!!!!" pinta Hana memohon.

__ADS_1


"Yaudah deh! Terserah kamu saja, asal kamu bisa mengatasinya!" Safira yang ingin menolak pun tak berdaya melihat ekspresi memohon Hana. Dia hanya bisa memberi ijin.


__ADS_2