
Hana berlari menuruni tangga dari lantai kamarnya ke lantai ruang tamu. Dia segera menuju pintu rumah, membukakan pintu dan menyambut kedua sahabatnya dengan senyum bahagia.
"Silahkan masuk! Anggap seperti rumah sendiri" canda Hana, membuat kedua sahabatnya tertawa bersama. Hana seakan akan mempersilahkan dua tamu yang baru pertama kalinya menginjakkan kaki di rumahnya.
"Makasih nona muda atas undangannnya, kami sangat tersanjung bisa di undang nona muda Sunitra ke rumahnya" lanjut Melani menambah candaan diantara mereka.
"Benar nona muda Sunitra, kami sangat terharu bisa menginap di rumah keluarga besar ini" tambah Rena. Kedua gadis itu langsung membungkuk sedikit memberi salam layaknya budaya korea.
Setelah adegan singkat itu, ketiga gadis itu saling memandang dan seketika gelak tawa pecah diantara mereka. Entah apa yang lucu, hanya ketiga gadis itu yang mengerti dengan suasana lucu yang barusan mereka lakukan.
Berbeda dengan Remon yang sudah selesai makan malam. Remon duduk di ruang tamu sambil menonton pertandingan bola kaki di televisi. Tetapi saat melihat Hana berlari ke arah pintu, fokus Remon sudah beralih ke Hana. Remon yang melihat tingkah ketiga gadis itu seketika bergidik ngeri. Heran kenapa ketiga gadis itu bertingkah aneh, menakutkan.
"Eh kak Remon tampan!! sedang apa? mau Melani temani tidak?" goda Melani sambil berjalan mendekat ke arah Remon yang justru semakin menjauh kesudut kursi.
"Gak perlu! mending kalian makan dulu sana! Biar otak kali refresh, gak ngelag!" suruh Remon yang mencoba menghindar dari tingkah tingkah aneh ketiga gadis itu.
"Heheh.... maaf ya kak, maklum kawan gue ini kebanyakan makan seblak pedas, jadi terkadang sikapnya aneh bin ajaib! maklumin aja deh bang, nanti juga terbiasa di rumah tangga" tambah Rena membuat Remon semakin ngeri.
Berbeda dengan Melani yang tersenyum senang karena dibantu Rena. "Memang bebeb aku yang terbaik" puji Melanie memeluk Rena.
"Ih....mulai deh, tolong ya! jangan bertingkah manja di rumah gue, gue gak mau ketularan penyakit loh berdua!" protes Hana yang merasa geli dengan tingkah tingkah lucu kedua sahabatnya.
"Heheheh... maaf! bukan tidak menular, tapi memasang sudah menular kali!!" celoteh Melanie.
"Hahahahahaha......." lagi lagi gelak tawa pecah diantara ketiga gadis itu, membuat Remon semakin ngeri dan segera memakai earphonenya.
Hana dan kedua sahabatnya berjalan ke arah dapur, disambut hangat para asisten di dapur. Ketiga gadis itu duduk dengan sopan dan segera menyantap makanan yang sudah terhidang di depan mereka. Tidak lupa dengan asisten rumah Hana.
__ADS_1
Mereka juga ikut makan bersama Hana dan kedua sahabat Hana. Mereka begitu senang dengan undangan makan bersama yang diajak Hana, nona muda sunitra.
"Jadi, loh berdua udah ada ide gak untuk bujuk kak Remon? jangan sampai loh berdua datang kesini tapi gak membuahkan hasil" ungkap Hana yang penasaran dengan rencana kedua sahabatnya.
"Aman! gue tadi pergi ke kantin sekolah, bawa makanan kesukaan ka Remon, nih!!" tunjuk Melanie yang sedari tadi memegang tas ranselnya. Seakan akan tidak ingin jauh dari ranselnya, seperti aku dan kamu tidak akan pernah terpisahkan (wkwkwkwkwk.... canda).
"Wah!! kok bisa? emang masih buka? jangan bilang loh?...." tanya Hana ragu.
"Hehehe.... iya gue memohon, gue bilang gue akan bantuin, jadi gue gak akan gerak dari sana sampai di bantuin buatnya" jawab Melanie terkekeh mengingat kelakuannya tadi.
"Wah.... kamu sangat hebat! patut dijadikan kakak ipar" puji Hana memberi lampu hijau.
"Hahahaha..... terima kasih adik ipar!!" jawab Melani senang.
Rena yang menjadi manusia pendengar merasa geli dengan tingkah kedua sahabatnya. Rena hanya bisa geleng geleng kepala, terkadang melototkan mata karena wajah sok lugu dari kedua sahabatnya. Para asisten hanya bisa tertawa bersama, merasa terhibur dengan adegan di meja makan.
"Hahah..... mau gimana lagi bi! Sang Maha Kuasa sudah menyatukan kami!" jawab Rena sambil tersenyum lebar. Mulutnya bahkan masih terisi makanan.
"Gimana loh Ren? ada ide tidak?" tanya Melanie ke Rena yang duduk di sampingnya.
"Yah gue juga bingung mau gimana? paling gue gunakan jurus rayuan maut gue, asal loh gak cemburu aja" jawab Rena santai, membuat Hana tertawa geli dengan respon yang di berikan Melani.
"Terserah deh, karena loh sahabat gue, loh gue maafin. Awas klo gak ada hasil!" ancam Melanie.
Kepala asisten dan bawahannya segera bergerak membersihkan meja makan setelah melihat semua orang sudah selesai makan.
"Udah sana! loh bedua harus segera bertindak! Jangan sampai kak Remon masuk kamar, bisa gawat" suruh Hana. Hana hanya mengikuti langkah kedua sahabatnya dari belakang.
__ADS_1
"Kak Remon!! ini aku tadi beliin KFC dari kantin sekolah, khusus buat kakak !!" menyodorkan bungkusan yang sudah dia ambil dari tas.
"Wah... makasih, tumben baik! kebetulan kakak lapar lagi nih, pas ni momentya" jawab Remon sembari menerima bungkusan dari Melani.
Melani pelan pelan mulai duduk di sofa dengan Remon, berbeda dengan Hana dan Rena yang sudah duduk di sofa samping sofa tempat Remon duduk.
Mereka saling menatap secara perlahan, melihat apakah Remon sudah melahap KFC nya.
" Kak Remon...... itu, kak Remon ikut ya sama kami! please!!!!" pinta Rena dengan wajah memelas. Telapak tangannya menyatu seakan akan memohon. Matanya di penuhi dengan hawa hipnotis untuk Remon.
"Kak pleaseee......" tambah Hana yang juga ikut duduk mendekat ke arah Remon. Mereka tepat duduk di depan Remon yang sibuk dengan makanan di tangannya.
"Gue udah tebak ada maunya ini! gue jadi nyesal makan KFC nya" jawab Remon berkomentar.
Hana dan kedua sahabatnya langsung semakin mendekat ke arah Remon. Memasang wajah memelas, ingin meminta belas kasih dari Remon.
"Kakak tega ya! kan bentar lagi ulang tahunku, anggap saja ini jadi hadiah untuk ulang tahunku" pinta Hana yang tidak mau kado ulang tahun selain ijin ke pantai.
"Wah.... pintar ngancam kamu ya! Yaudah deh, kakak ikut! Puasss!!!" jawab Remon akhirnya yang tidak tahan lagi dengan wajah memelas dari ketiga gadis di depannya.
"Yehhhhhh......, packing!!!" ketiga gadis itu bersorak gembira dan langsung berlari ke kamar Hana.
"Gue seperti orang bodoh jika sudah berurusan dengan mereka" gumam Remon dan kembali fokus dengan siaran yang hampir tertinggal karena ulah ketiga gadis itu.
Remon sesekali berteriak karena tim yang dia dukung mencetak gol. Terkadang di kesal karena tim yang dia dukung hampir mencetak gol tapi di halangi tim lawan. Begitulah Remon sibuk dengan duninya sendiri, tidak peduli dengan kesibukan yang dilakukan ketiga gadis di lantai atas.
Meskipun memang terkadang teriakan ketiga gadis itu sedikit menganggu, tetapi Remon memilih tetap fokus dengan benda pipih besar di depannya.
__ADS_1