Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Di genggamanmu


__ADS_3

"Akankah kamu akan melanjutkan gugatan mu?" Tanya Rasya kemudian membuat suasananya menjadi sedikit asing kembali.


"Jika boleh aku berkata jujur. Sesungguhnya aku menyesal telah berbicara seperti itu. Namun apa dengan semuanya kamu maafkan rumah tangga kita akan baik baik saja. Padahal aku dengan sengaja mengucap kata kotor itu." Jawab Andini panjang lebar.


"Sebenarnya jika suami yang berkata sekali saja akan menceraikan istrinya. Maka itu sudah jatuh talak untuk si istri." Timpal Rasya membuat Andini ketakutan dan kali ini merasa sangat cemas sekali.


"sebagaimana sabda Rasulullah." Siapa saja perempuan yang meminta (menuntut) cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan maka diharamkan bau surga atas perempuan tersebut" HR Abu Dawud." Lanjut Rasya,


membuat Andini semakin merasa penuh dengan penyesalannya.


"Lalu bagaimana?" Tanya Andini kemudian.


"Aku menyesal dengan semuanya Rasya. Aku ingin kembali ke jalan yang benar." Kini Andini tengah bersedih dan berusaha menyembunyikan tangisannya.


"Menurut para ulama, cerai yang dijatuhkan oleh orang yang sedang marah dianggap tidak terjadi cerai atau belum jatuh talak. Sebab, orang itu dianggap dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw dari Aisyah RA.(Tidak ada cerai dan tidak ada pembebasan budak dalam keadaan tidak sadar (ighlaq)) (HR Ahmad, Abu Daud, dan Hakim). Ighlaq dapat dipahami sebagai marah (ghadhab)." Jawab Rasya menjelaskannya.


"Bila tidak ada niat yang serius untuk bercerai, maka pernyataan cerai dianggap hanya main-main belaka atau tidak bersungguh sungguh. Maka dalam hal ini, tidak terjadi cerai. Pendapat ini didasarkan pada firman Allah SWT: (Dan jika mereka berketetapan hati untuk cerai, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) (al-Baqarah: 227).


Berdasarkan ayat di atas, para ulama sebagian berpendapat, cerai memerlukan niat atau kesengajaan yang mantap untuk menceraikan. Adapun orang yang main-main, tentu tidak ada niat dan tidak ada kehendak yang sungguh-sungguh untuk menceraikan atau bercerai. Oleh karena itu, menurut mereka, pernyataan cerai dari orang yang main-main atau tidak dengan keseriusannya dipandang tidak terjadi cerai atau belum jatuh talak." Lanjut Rasya panjang lebar.


Kemudian Andini yang lansung reflek memeluk suaminya itu. Menangis dalam pelukannya. Dan Rasya pun membalas pelukan Andini.


Menenangkan dan penuh dengan kesyukuran.


Hari ini hari pertama ia bisa memeluk istrinya itu. Perlu kesabaran yang besar dan kuat tidak menyerah menuju saat ini. Begitu banyak sakit dan luka yang ia lalui untuk sampai ke titik ini.


"Jangan pernah lepaskan genggaman ini suamiku." Ucapnya lirih menggenggam jari jemari Rasya sambil memeluknya.


Kemudian Rasya yang tengah mendekap terus mendekap seolah membuat tubuh Andini mundur kebelakang.

__ADS_1


Tubuh Rasya yang seolah mendorong tubuh Andini membuat suasana gugup dan canggung namun harapan bagi keduanya.


"Mama dan almarhum Ayah benar. Kamu lah yang terbaik untukku." Ucapnya menghilangkan kegugupan di antara mereka.


"Berkat Allah telah menyatukan kita dan memberikanmu hidayah Andini. Aku menyayangimu karena Nya."


"Aku juga sudah menyayangimu."


Mereka kini saling berpelukan lagi dan lagi, kemudian Rasya yang tengah membelai rambut istrinya itu. Rambut panjangnya yang kini kian membuatnya tergoda.


Tidak bisa di pungkiri istrinya itu sangatlah cantik menawan dan menggoda. Apalagi saat ini memakai pakaian baju tidur yang sedikit terlihat minim menampakkan aura nya. Di tambah kejadian yang seolah memberi celah untuk semuanya.


"Kamu sudah siap?" Tanya Rasya mendekap wajahnya Andini.


Andini yang hanya mengangguk sedikit membuat Rasya menjadi liar.


Rasya yang membalikkan tubuh Andini yang sekarang berada di bawahnya membuat Andini semakin gugup namun tidak dapat di pungkiri Andini sekarang merasa senang. Ia mulai memejamkan matanya menyerahkan seluruh hak suaminya.


"Ha. Tidak kenapa." Jawab Andini membuka matanya terlihat jelas wajahnya yang kini memerah karena rasa malu kini menyelimutinya.


Rasya mulai mengecup kening Andini dan mulai kebawah ke bibirnya. Keduanya sangat menikmati hingga terus kebawah sampai membuat hasrat di antara keduanya terbuka lebar. Bukan hanya sekedar meluapkan nafsu belaka namun mencari pahala yang besar. Karena semuanya ini adalah ibadah yang indah. Kenikmatan dunia yang menjadi pahala dan ibadah bagi keduanya.


...Bismillah Allahumma Jannibnis Syaithan Wa Jannibis Syaithan Ma Razaqtana...


...Artinya :...


...Dengan menyebut nama Allah, ya Allah, jauhkanlah syetan dari saya, dan jauhkanlah ia dari apa yang akan Engkau rizki kan kepada kami (anak, keturunan)....


Sampai akhirnya tiba di pemuncak kenikmatan Rasya mengakhiri dengan kembali mengecup kening istrinya itu.


"Terima kasih istriku, doaku selama ini secepat ini Allah kabulkan. Kamu datang ke pelukanku dengan semua yang membuatku kagum dengan mu istriku."

__ADS_1


"Terima kasih sudah memilihku dengan setiap kemungkinan yang ada. Namun kamu memilihku dan melewatinya dengan beribu duka dan kepahitan."


"Itu tidak pahit. Itu ujian untukku dan rumah tangga kita. Kamulah ladang ibadahku."


"Aku bersyukur bisa di jodohkan denganmu."


"Bersyukurlah kepada Allah sudah mempertemukan kita."


Keduanya saling menikmati dan merasa sangat bahagia saat ini.


***


...'Sekeras apapun hati, sekeras apapun pemikiran. Akan tetap luluh jika Allah sudah berkehendak. Alhamdulillah sekarang dirimu sudah mau untuk berubah istriku' Rasya berbicara dalam hatinya....


Pagi ini dengan cuaca dan suasana yang berbeda.


membuat penuh dengan kebahagiaan. Membangunkan dua manusia yang telah hanyut dalam kenikmatan dunia.


Bangun dari tidurnya dan masih dalam keadaan sedang memeluk istrinya Rasya membangunkan istrinya dengan lembut. Ini pertama kalinya ia membangunkan istrinya itu dengan sangat berbeda. Seperti ada sesuatu di balik semua itu.


"Sayang. Bangunlah!" Ucapnya terus mengecup kening pipi bahkan bibir Andini. Dengan tanpa sengaja di saat Rasya yang masih terus mengecup bibirnya Andini, Andini yang sudah terbangun dan sangat kaget namun lebih kagetnya lagi Andini yang membalas kecupan bibir Rasya membuat keduanya kembali melakukan kecupan hangat.


"Mari sholat berjamaah sayang." Ucap Rasya.


"Ayok sayang." Jawab Andini


Keduanya mengambil air wudu dan sudah sama berdiri selesai Rasya mengazankan kemudian mulai melaksanakan sholat. Dengan diikuti Andini di belakangnya.


Moment yang lebih berharga dibanding apapun. Semenjak lama Rasya rindukan kali ini benar adanya. Terjadi seperti apa yang ia harap dan doakan selama ini.


Istrinya yang keras hati, kepala bahkan mati rasa seolah tak pernah menganggap Rasya suaminya bahkan tidak menganggap ada. Meskipun sekamar hanya saling belakangan, tak pernah merasa seperti istri dan suami. Namun berkat Allah telah menetapkan rasa ini Andini datang selayaknya istri sesungguhnya.

__ADS_1


...“Tidak akan mendapatkan manisnya iman sehingga ia mencintai seseorang dan ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan sehingga ia lebih suka dimasukkan ke dalam api dari pada kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, dan sehingga Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari pada yang lain.”...


__ADS_2