
"Tuhan, ada apa dengan hatiku? Haruskah aku lanjutkan pernikahan ini? Atau aku tinggalkan demi cintaku." Rintihan Rafki di dalam hatinya.
Sudut ruangan di kamar itu, menjadi saksi bisu kepedihan kisah percintaan Dokter ini.
Hatinya yang menyadari ini, dan kondisi serta keadaan menuntunnya menikahi perempuan lain.
Sungguh perasaan yang kian membuatnya menjadi gelisah dan terpuruk.
"Ya Allah. Semoga ini adalah jalan yang baik untuk hamba dan calon keluarga baru hamba ya Allah." Ucap Rafki lagi.
Tiba tiba terdengar suara ketokan pintu dari luar.
"Iya masuk!" Perintah Rafki.
Dan Andini masuk ke dalam kamarnya Rafki.
"Ki. Kakak boleh bicara?" Tanya Andini.
"Tanya apa Kak?" Jawab Rafki kemudian.
"Kakak tau kamu ada masalah saat ini. Kakak paham perasaan kamu seolah tidak menerima pernikahan mu itu dengan Lina dengan sepenuh hatimu. Jika memang benar begitu. Mari kita kerumah Lina. Bicarakan semuanya dengan Lina juga Ayahnya." Ucap Andini.
"Tapi Kak. Bagaimana dengan pembicaraan ku waktu itu kepadanya?" Rafki mulai membuka hati untuk bicara kepada Andini iparnya itu.
"Tapi jika kamu tidak benar benar yakin maka semuanya nanti akan berisiko kepada rumah tangga kalian." Jelas Andini.
"Aku yakin dengan ucapan ku waktu itu kepadanya Kak. Sebab nyawa dan hati seorang ibu adalah jaminan untuk menyelamatkan mereka Kak. Namun disisi lain aku ternyata menyukai perempuan lain." Jelas Rafki.
"Siapa itu Ki?" Tanya Andini penasaran.
"Wilona Kak. Dia pun ternyata menyukai aku Kak." Jelas Rafki.
"Terkadang insan yang mencintai tidak harus saling memiliki. Kadang puncak pembuktian cinta terbesar juga bisa melalui saling mengikhlaskan." Jelas Andini.
"Benar itu Kak. Namun hati ini masih belum bisa lapang menerima kenyataan ini Kak." Ucap Rafki lagi.
Meskipun hanya sebagai ipar namun Rafki sudah sangat nyaman membicarakan isi hatinya melalui Andini dari pada Rasya Kakak kandung nya sendiri.
"Begini saja Ki. Kamu wudu dan laksanakan lah sholat. In syaa Allah akan selalu ada jalan di setiap kegelisahan hati hamba Nya. Berdoa di beri petunjuk yang terbaik untuk kamu dan juga Lina begitu juga dengan Wilona." Jelas Andini lagi kemudian.
"Terima kasih banyak Kak. Bicara dengan Kakak rasanya penderitaan aku sudah banyak berkurang." Jelas Rafki menyunggingkan senyum sumringahnya.
"Sama sama Dek." Jelas Andini kemudian dan berpamitan dengan Rafki kemudian meninggalkan Rafki dan melanjutkan kegiatannya yang lain.
__ADS_1
Setelah kepergian Andini, Rafki yang lansung melaksanakan sholat seperti apa yang kakak iparnya saran kan tadi.
Selesai sholat Rafki yang sedikit lega dan pemikirannya yang kian menjadi jernih.
Keheningan itu terhenti ketika suara telepon berdering di ponselnya.
"Hallo Assalamualaikum." Sapa Rafki menerima panggilan masuk dari Lina.
"Waalaikumussalam Rafki. Maaf saya tiba tiba menghubungi. Sibuk kah?" Tanya Lina.
"Tidak. Saya tidak sibuk. Ada apa Lin?" Balas Rafki kemudian.
"Saya cuma mau bilang kalau baju yang kita fitting kemaren sudah datang di rumah aku." Jelas Lina.
"Oh baguslah. Kapan datangnya?" Tanya Rafki lagi.
"Tadi pagi." Jawab Lina.
"Ya sudah. Aku lanjut kerja ya Lin. Ada pasien baru datang." Ucap Rafki karena seseorang perawat datang memberi tahu Rafki.
"Baiklah. Selamat bertugas." Jawab Lina menyemangati Rafki dalam pekerjaannya.
"Terima kasih Lin." Jawab Lina dan selesai mengakhiri pembicaraannya kemudian menutup telepon.
Rafki melanjutkan aktifitasnya menuju ruangan pasien yang di maksud oleh Perawat tadi.
"Tenang lah Bu. Saya akan berusaha semaksimal mungkin. Sebaiknya Ibu tunggu diluar." Jelas Rafki dan seorang Perawat membawa menggandeng lengan Ibu pergi keluar.
Ibu itu menangis dan terus berdoa keselamatan anaknya.
Seorang putri masih muda yang mengalami kecelakaan tabrak lari oleh pengendara mobil di seberang rumah sakit.
Kejadian manusia yang tak berhati nurani meninggalkan korban begitu saja melepaskan tanggung jawab yang seharusnya.
Rafki Dokter spesialis bedah mengambil alih penanganan pasien gawat darurat itu. Sebab Dokter yang seharusnya bertugas dalam keadaan demam tinggi dan Rafki lah yang mendapat mandat menggantikannya. Keahlian Rafki yang tiada tandingan, tiada kegagalan pasiennya sudah sekian ratus pasien yang ia sudah selamatkan.
"Ini Dok." Seorang Perawat memberikan alat pembersih luka kepada Rafki.
"Tisu satu Sus." Ucap Rafki dan lansung diberikan oleh Perawat lain.
Sembari yang lainnya membersihkan keringan yang bercucuran di kening mulus milik Rafki.
Pekerjaan itu selesai di sambung untuk memakai beberapa aksesoris penyembuhan kepada tubuh milik Angelina. Ya nama gadis itu Angelina. Berusia masih 16 tahun. Seorang pelajar dan tidak memiliki Bapak lagi di dunia ini. Seorang gadis yang hidup sederhana bersama ibunya.
__ADS_1
"Bagaimana Dok?" Tanya Ibu itu lagi.
"Anak Ibu sudah kami kasih perawatan yang baik. Kita sama sama berdoa semoga Anak Ibu segera siuman dan sembuh." Jelas Rafki.
"Terima kasih Dok." Ucap Ibu itu.
"Ini sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab kami Bu. Sekarang Ibu boleh melihat putri Ibu. Dan kalau ada sesuatu apa pun segera hubungi kami." Jelas Rafki memperingati Ibu itu.
Dibalas hanya anggukan dan Ibu itu lansung masuk melihat kondisi anak gadisnya itu.
Menangis ditepi tempat baringan Angelina.
Meratapi nasibnya seorang diri tanpa ada lagi suami yang ia cintai dan anaknya pun mengalami musibah seperti saat ini.
Suaminya meninggal satu tahun yang lalu karena kasus tabrak lari juga. Jadi wajar Ibu Lara trauma dan khawatir melihat kondisi anaknya itu. Akankah kejadian satu tahun lalu akan terjadi juga pada anaknya.
Sudah cukup rasanya penderitaan yang ia lalui.
Pasrah, itulah perasaan sesungguhnya yang di rasakan oleh hati ibu ini.
***
"Andini." Panggil Kevin.
Andini menghentikan langkahnya dan meletakkan kembali heels yang ia pilih barusan.
Toko Shoes Cendana.
Toko sepatu dan sendal heels kekinian disana. Harganya juga ramah di kantong. Ditambah harga promo hari ini yang membuat pembeli tertarik mampir. Banyak pelanggan yang memburu. Tak ketinggalan Andini pun juga ikut dalam aksi tersebut karena juga Rasya yang memintanya Andini membeli sesuatu untuknya.
"Eh Kevin." Jawab Andini kemudian.
"Sedang apa disini Andin?" Tanya Kevin lagi.
"Tidak. Aku hanya sedang melihat promo toko ini." Jelas Andini.
"Aku juga berniat untuk membelikan sesuatu untuk Jena. Boleh aku minta tolong pilihkan." Ucap Kevin.
"Tentu." Ucap Andini kemudian.
"Oh iya Rasya mana?" Tanya Kevin.
"Ada di luar. Katanya mau cari minum dulu tadi." Jelas Andini.
__ADS_1
Mereka sama sama memilih hells bermerek yang terlihat sangat mewah dan elegan.
Selama dalam memilih Kevin dan Andini berbincang bincang sesekali mengingatkan akan kejadian beberapa tahun silam. Kejadian yang membuat ingatan Andini juga Kevin pulih akan kisah di beberapa tahun yang lalu kian teringat hari ini di tempat yang sama dengan orang yang sama, namun dengan keadaan dan status yang berbeda.