Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Kegagalan Lina


__ADS_3

"Hallo." Ucap seseorang di telepon.


"Assalamualaikum. Maaf bicara dengan siapa?" Jawab Rasya.


"Mas Rasya. Ini saya Lina." Ucapnya lagi.


"Oh. Ada perlu apa?" Jawab Rasya lagi kemudian.


"Hari ini mas sibuk? Kalau tidak kita pergi ke restaurant cabang cibinong aku yang baru buka mas. Tolong anterin aku kesana mas" Ucap Lina sedikit memohon.


"Maaf ya mbak Lina. Saya tidak bisa. Sudah dulu ya bicaranya mbak. Saya ada perlu yang lain." Jawab Rasya mengakhiri.


***


Suara azan memecahkan kegalauan, hingga membuat banyak masyarakat di dekat Masjid berkerumunan menuju Masjid itu. Tak ketinggalan Andini dan juga Rasya. Berhubung rumahnya tempat ngontrak dekat dengan Masjid sudah menjadi rutinitas setiap harinya untuk pergi ke Masjid mengikuti sholat berjamaah. Terlebih di waktu subuh dan magrib.


Magrib kali ini berbeda.


Biasanya Andini begitu penuh semangat dan bahagia, namun tidak dengan hari ini.


Semangatnya lesu, ketika melihat Lina di hadapannya. Senang, tentu. Melihat perubahan Lina sudah bisa menuju Masjid. Jarak antara rumah Lina dan Andini juga Masjid berkisar 3 - 5 kiloan. Tak terlalu jauh sehingga bisa selalu bertemu dan bertatap muka.


Jika niatnya baik mungkin Andini akan mendukung. Namun tujuannya tidaklah sama dengan yang lain mencari berkah dan pahala dari Allah. Melainkan mencari cari waktu untuk dapat bisa bertemu Rasya. Karena Rasya sendiripun sudah menghindari dan menjauhi Lina. Jika diladeni akan menimbulkan fitnah dunia.


"Mas Rasya." Panggil Lina. Andini geli dan menyahut.


"Seperti emas dalam peti. Kecil namun berarti. Tidak semua orang bisa menyentuhnya. Hanya orang berkelas tinggi yang mampu menyentuh dan melihatnya. Itulah wanita. Perumpamaan emas. Jangan menjadi sehelai baju. Yang setiap pengunjung datang melihatnya bahkan mencobanya namun tidak jadi membelinya." Ucap Andini tanpa melihat wajah lawan bicaranya.


"Pintar sekali kamu bicara. Sok baik dan segalanya. Emang kamu siapa?" Judes.

__ADS_1


Ya, Lina selalu menyahut dengan judes apa yang Andini selalu pernah katakan.


"Baik? Tidak semua yang menggoda itu tidak baik. Namun yang baik itu sudah pasti tidak akan mau menggoda. Karena rasa harga menghargai diri, juga disertai dengan rasa malu sebagai mahkota wanita." Celetuk Andini lagi.


"Lalu anda pikir, anda sudah baik?" Tanya Lina membelalakkan matanya.


"Setidaknya saya tidak menggoda lawan jenis apalagi itu lelaki beristri atau suami orang." Jawabnya lagi.


"Sudah sayang. Mari kita pulang!" Ajak Rasya menghentikan perdebatan tak bermakna itu.


Andini membalas uluran tangan Rasya menggandeng dirinya kemudian lansung meninggalkan Lina dengan perasaan masih penuh kesal.


...Tidak mudah untuk menjadi wanita baik. Namun juga bukan berati tidak bisa. Semua butuh proses apalagi itu tentang mengubah sebuah sikap dan kebiasaan yang menjadi taruhan tentang penilaian diri....


...Abu Hurairah Radhiyallahu. Beliau mengatakan jika, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam pernah bersabda “Barang siapa menipu dan merusak (hubungan) seorang hamba dari tuannya, maka ia bukanlah bagian dari kami. Dan barang siapa merusak (hubungan) seorang wanita dari suaminya, maka ia bukanlah bagian dari kami.”...


...Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Iblis menempatkan singgasananya di atas air, lalu menyebar anak buahnya ke berbagai penjuru, yang paling dekat dengan sang Iblis adalah yang kemampuan fitnahnya paling hebat di antara mereka, salah seorang dari anak buah itu datang kepadanya dan melapor bahwa dirinya telah berbuat begini dan begitu, maka sang Iblis berkata: ‘kamu belum berbuat sesuatu, lalu seorang anak buah lainnya datang dan melapor bahwa dia telah berbuat begini dan begitu sehingga mampu memisahkan antara seorang suami dari istrinya, maka sang Iblis menjadikan sang anak buah ini sebagai orang yang dekat dengannya, dan Iblis berkata: tindakanmu sangat bagus sekali, lalu mendekapnya.” [H.R. Muslim [5032]....


Hingga membuatnya tidak bisa tidur malam ini. Bangun, keluar, berdiri, duduk, tidur lagi dan bangun lagi. Selalu begitu sampai keadaan hari pun sudah semakin larut.


'Aku jadi takut untuk menghancurkan rumah tangganya. Namun perasaan ini sudah terasa amat dalam.' Lanjut Lina lagi menggerutu menggaruk bagian kepalanya yang tidak gatal.


'Aku cinta padanya. Namun sudah sekalian kali ku coba dengan cara yang berbeda namun tak sekalipun ia bisa melirik ku dengan harap dan haus. Mantra apa yang istrinya berikan sehingga Rasya tidak mampu berpaling.' Tanya dia lagi di dalam hatinya.


Lina kecewa bahkan sangat frustasi melihat usahanya yang selalu saja gagal.


***


"Sayang. Kamu cemberut begitu?" Tanya Rasya mendekati Andini.

__ADS_1


"Bagaimana aku tidak cemberut. Aku kesal lihat Lina itu. Genit sekali jadi wanita. Murahan." Ucap Andini.


"Sudahlah sayang. Jangan bicara buruk lagi. Tidak baik itu jadinya. Lagian tidak ada manfaatnya juga kamu bicara buruk tentang dia. Yang pastinya tidak denganmu kan sayang." Ucap Rasya menciumi pipi kiri Andini.


"Ya habis aku tetap tidak suka suami aku digoda seperto itu." Lanjut Andini.


"Doakan sayang semoga Allah selalu menjaga mata aku sayang." Jawab Andini.


"Jadi kamu mau untuk tergoda wanita itu?" Tanya Andini membelalakkan matanya.


"Tidak sayang. Mana mungkin. Jelas aku punya istri secantik dirimu. Bagaimana mungkin tergoda yang lainnya sayang. Sedangkan Allah sudah menghadiahkan istri seperti mu untuk aku." Jelas Rasya membuat Andini terpukau dan selalu kagum.


"Janji ya sayang jangan pernah lepaskan kesetiaan itu. Jangan pernah hilangkan aku dari dirimu suamiku." Pinta Andini.


"Demi Allah sayangku. Bagiku istri cukup satu. Itu juga sudah menjadi janji ketika ijab qabul kita dulu. Tenanglah!" Jelasnya lagi.


"Terima kasih sayang." Ucap Andini memeluk kecil suaminya itu.


"Ya sudah sayang. Ayok kita makan! Aku sudah lapar." Ajak Andini.


"Baik sayang. Aku masak apa tadi?" Tanya Rasya.


"Sup bakso ayam dan lainnya sayang." Jawab Andini.


"Wah pasti enak seperti biasa." Jawab Rasya lagi kemudian melangkahkan kaki ke meja makan. Disana sudah tertata rapi berbagai menu masakan. Dan kalah nikmat kelihatan dan juga aromanya yang menggugah selera.


Meskipun sekian cobaan yang menimpa mereka. Tapi tiada henti mereka mengucap syukur atas nikmat yang masih Allah beri. Tidak pernah sekalipun mengeluh tentang nasib yang ia jalani.


Kesederhanaan tidak berarti tidak bahagia. Melainkan bagi Andini dan Rasya sungguh kebahagiaan yang tiada terkira. Mereka hidup dengan nyaman dan tentram. Ekonomi bukanlah ajang perlombaan untuk siapa yang paling bahagia. Buktinya hidup secara sederhana sudah membuat Andini dan Rasya hidup bahagia.

__ADS_1


"Tidak ada kekurangan. Yang adanya itu cukup. Bagaimana mereka bisa berkata miskin sedang masih bisa bernafas dan makan?" Ucap Rasya di sela makan siangnya.


"Iya sayang. Toh jika nafas dibeli ibarat tabung oksigen. Satuannya saja berkisar ratusan yang hanya cukup menampung nafas sehari bahkan tidak sampai. Jika diperhitungkan saja semingguan. Maka kita manusia tidak akan mampu membayarnya." Jelas Andini membuat Rasya bertambah kagum.


__ADS_2