Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Musibah


__ADS_3

"Hijrah bukanlah sesuatu hal yang mudah,


Ia memerlukan pengorbanan yang besar,


Tapi percayalah hijrah itu akan selalu membawamu pada kebaikan." terdengar jelas ucapan Rasya kepada Kevin. Disaat keduanya sama sama duduk dalam suatu ruangan.


Ruangan yang paling indah. Yaitunya Masjid Rumah Allah yang sangatlah agung.


"Iya. Lo benar Rasya. Banyak hal yang baik datang kepada saya setelah jalan taubat yang saya ambil." jawab Kevin


"Jangan pernah menyerah. Sekalipun sesuatu itu benar benar pahit bagi kita. Tetaplah berjuang demi mengejar ridho nya Allah."


"In Syaa Allah. Saya akan terus belajar menjadi manusia yang lebih baik."


"Itu bagus."


Pembicaraan mereka terputus sebab akan mulai acaranya. Acara pengajian agama islam bagi muslim. Dan pembawa kajiannya itu adalah Rasya.


Rasya lah yang selalu membawakan pengajian di Masjid ini. Karena mendengar kabar baik dari Kevin dan sudah kembali ke Jakarta Rasya bermaksud mengajaknya menjadi jamaah seperti yang lainnya.


Karena Rasya paham benar sekalipun bagi kita ilmu kita sudah sangat banyak namun menjadi suami yang sholeh perlu lebih banyak lagi persiapan untuk mempertanggung jawabkan nya di akhirat kelak.


Rasya memulai langkahnya menuju mimbar dan membuka acara nya dilanjutkan dengan pengajiannya mengenai "Rumah Tangga".


Ya itulah tujuan sebenarnya kita sebagai suami menjadi suami yang sholeh yang mampu membawa keluarga kita ke surga nya Allah.


...Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:...


...وَا للّٰهُ جَعَلَ لَـكُمْ مِّنْۢ بُيُوْتِكُمْ سَكَنًا وَّجَعَلَ لَـكُمْ مِّنْ جُلُوْدِ الْاَ نْعَا مِ بُيُوْتًا تَسْتَخِفُّوْنَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ اِقَا مَتِكُمْ ۙ وَمِنْ اَصْوَا فِهَا وَاَ وْبَا رِهَا وَاَ شْعَا رِهَاۤ اَثَا ثًا وَّمَتَا عًا اِلٰى حِيْنٍ...


...wallohu ja'ala lakum mim buyuutikum sakanaw wa ja'ala lakum ming juluudil-an'aami buyuutang tastakhiffuunahaa yauma zho'nikum wa yauma iqoomatikum wa min ashwaafihaa wa aubaarihaa wa asy'aarihaaa asaasaw wa mataa'an ilaa hiin...


..."Dan Allah menjadikan rumah-rumah bagimu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagimu rumah-rumah (kemah kemah) dari kulit hewan ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya pada waktu kamu bepergian dan pada waktu kamu bermukim dan (Dijadikan Nya pula) dari bulu domba, bulu unta, dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan kesenangan sampai waktu (tertentu)."...


...(QS. An-Nahl 16: Ayat 80)...


Selesai pengajian dan Rasya menutup acaranya kemudian kembali ke tempat duduk semulanya.


"Ini Ustadz ambillah!" ucap seorang jamaah memberikan amplop berisi uang.


mungkin

__ADS_1


"Maaf pak. Ini apa?" tanya Rasya


"Sedikit yang semoga bisa bermanfaat bagi ustadz. Ini hanya bagian kecil yang bisa kami berikan." jelasnya


"Maaf Bapak. Bukan ini tujuan saya. Saya tidak bisa menerima ini Pak. Saya mengisi pengajian seperti biasanya Pak. Hanya karena Allah. Tidak lebih." Rasya terus menolak karena baginya tak pantas untuk menerimanya sebab di hatinya sudah tertanam jelas bahwa tidak ada yang namanya memperjual belikan ayat Allah. Sungguh hina rasanya jiwanya untuk mendapatkan imbalan yang lebih dari perbuatannya.


"Tapi Ustadz. Terimalah untuk kali ini saja. Nanti jamaah semuanya kecewa. Karena memang ini tulus dari hati jamaah tanpa maksud membayar Ustadz." Jelas orang itu.


"Baiklah Pak. Terima kasih banyak. Semoga pemberian ini juga bisa menjadi ladang ibadah untuk kita semua. Lain kali ini tidak perlu Pak. Saya ikhlas karena Allah." jelas Rasya lagi.


"Aamiin. Baiklah Ustadz." jawab seseorang tersebut.


***


"Ini sayang. Bukalah!" Rasya memberikan amplop tadi kepada Andini.


Mengingat kejadian itu. Trauma yang begitu dalam membuat Andini masih merasa penuh ketakutan.


Setelah menimpa musibah yang beberapa waktu lalu rumah dan fasilitas berupa mobil dan sebagian lainnya hangus terbakar.


Namun Allah masih memberikan Andini dan Rasya kesempatan untuk membuat ibadah.


Ketika Andini dan Rasya selesai melaksanakan sholat tahajud itu berkisar jam 2.30 WIB. Tiba tiba ada yang berbau hangus penuh asap hingga perlahan ******* habis seisi rumah termasuk mobil di bagasi. Setelah Rasya menggendong Andini keluar menyelamatkan diri kemudian meminta bantuan tetangga dan melaporkan kepada pemadam kebakaran. Belum lagi pemadam datang semuanya sudah mulai hangus terbakar.


"sayang aku takut." ucap Andini


"Tenanglah sayang! Ingat kita masih punya Allah yang akan selalu bersama dan menjaga kita."


"Iya sayang. Apinya terlalu besar. Akankah kita akan meninggal mengenaskan seperti ini." Andini menangis tiada henti.


Meninggal sungguh belum bisa ia bayangkan. Masih belum sempurna persiapannya.


"Jikapun meninggal. Janji Allah pasti sayang. Diciptakan oleh Nya dan akan kembali kepada Nya"


Andini yang penuh kesedihan ketakutan tiada henti.


Beda hal nya dengan Rasya yang sudah begitu mendalam imannya sehingga ia yakin dengan penuh bahwa kejadian ini tak luput hanya karena ujian dari Allah SWT. Rasya menguatkan dan meyakinkan Andini namun Andini seolah belum benar benar ikhlas menerimanya.


Rasya masih punya uang sedikit pas pasan untuk menyewa kontrakan untuknya berdua. Sebab tidak ingin merepotkan Mama dan Ibunya.


Andini yang setuju dengan keputusan Rasya mereka tinggal disebuah kontrakan yang kecil namun cukup.

__ADS_1


***


"Apa ini sayang?" tanya Andini


"Bukalah. Aku juga belum lihat." Rasya


"Masya Allah. Apa ini mimpi." Andini kaget melihat isi amplop itu berisi check nominal dua ratus juta.


"Kenapa sayang?" Rasya yang penasaran menghampiri Andini


"Astagfirullah. Aku akan kembalikan. Ini berlebihan." jelas Rasya mengambil amplop tersebut


"Siapa yang memberinya sayang?" tanya Andini lagi


"Jamaah di Masjid tempat biasa aku pengajian sayang."


"Tapi kenapa mereka membayarnya?"


"Kata mereka ini ikhlas dan bukan untuk membayar aku."


"Jadi tetap akan kamu kembalikan sayang?"


Rasya mulai bingung atas keputusannya


"Mereka juga akan kecewa melihat pemberiannya kamu tolak." lanjut Andini


"Kamu ada benarnya sayang. Tapi ini tidak pantas aku dapatkan sayang. Aku ikhlas mengisi pengajian tetap disana."


"Sayang. Mungkin ini hadiah dari Allah atas kesabaranmu menghadapi musibah kita."


Rasya mulai berpikir apa yang akan ia ambil tindakan berikutnya. Bimbang bingung dan sungguh berat.


Menerima lebih dari sepantasnya.


Andini kemudian memberikan secarik kertas yang bertulisan


...'Assalamualaikum Ustadz Rasya. Kami turut berduka atas musibah yang menimpa Ustadz dan istri kemaren. Ini ada sejumlah uang dari kami semua semoga bisa membantu sedikit meringankan beban Ustadz dan istri. Kami mohon jangan menolaknya Ustadz. Salam dari kami manusia hina yang telah Ustadz bina menjadi insan lebih baik. Kami bersyukur atas ilmu yang sudah Ustadz tanamkan di diri kami. Ini bukan apa apa dibanding kebaikan Ustadz'...


Andini temukan di dalam amplop berisi check tadi.


"Apa itu sayang?" tanya Andini melihat ekspresi Rasya tegang dan haru

__ADS_1


"Ini sayang." Rasya memberikannya kepada Andini dan ia pun membacanya.


__ADS_2