
"Sayang. Kamu sudah bangun. Aku sangat cemas karena kamu sudah dalam koma disini." Ucap Rasya memeluk Andini dan sambil menangis tersedu sedu.
Andini kaget dan sontak melepaskan pelukannya Rasya.
"Saya dimana? Dan kamu siapa?" Tanya Andini ragu dan memegang kepalanya yang rasanya amat nyeri dan sakit itu.
"Andini. Ini aku suamimu. Kenapa tidak tahu sayang." Jelas Rasya.
Dan Rina lansung saja memanggil Dokter karena kondisi Andini yang begitu tidak jelas.
Rasya hanya menangis saat ini, dan Dokter telah memeriksa keadaannya.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Rasya masih dengan wajah kusutnya yang tidak dapat dibendung.
"Ibu Andini sudah lepas dari masa komanya Pak. Namun dengan berat hati kami harus memberi tahukan bahwasanya pada saluran jaringan di kelapanya ada beberapa jaringan yang tidak bekerja dengan semestinya Pak. Karena benturan yang sangat keras Ibu Andini kemungkinan mengalami Amnenisia." Tutur Dokter.
Rasya tersentak kaget dengan kejelasan yang barusan keluar dari mulut sang Dokter.
"Amnesia Retrogade. Akibatnya seorang yang mengidap amnesia jenis ini akan kesulitan untuk memperoleh kembali ingatan di masa lalunya. Disebabkan karena cedera pada otak." Jelas Dokter itu lagi.
Tiada jawaban dari mulut Rasya. Hanya berharap ucapan ini adalah sebuah mimpi buruk yang akan segera hilang dan membangunkan tubuhnya.
"Tapi berdoalah Pak. Penyakit ini kemungkinan bisa sembuh lebih cepat dan bisa jadi lebih lama. Kita semua akan berusaha membantu mengembalikan ingatan Ibu Andini. Perlu tahapan yang ekstra dan juga dukungan dari pihak keluarga." Jelasnya lagi.
Rasya keluar dari ruangan Dokter itu menuju kamar inap Andini dan disana telah ditunggu Rina dan Rafki juga Lina kabar tentang Andini.
"Bagaimana Nak?" Tanya Rina.
"Ibu. Andini melupakan aku dan kita semua." Ucapnya sambil menahan linangan air matanya yang memerah kemudian gagal ia tahan.
"Maksudnya bagaimana Kak?" Kini Rafki yang penasaran akut.
"Andini mengalami amnesia Ki." Jelasnya.
"Astagfirullah." Semuanya kaget begitu mendengar ucapan Rasya yang seperti badai topan menghampiri.
Rina kemudian mendekati Rasya dan memeluk putranya itu. Rina sangat terpukul dengan bencana ini, namun Rasya anaknya akan jauh lebih terpukul lagi.
"Ibu." Panggil Rasya lagi berada di dalam pelukan Rina.
__ADS_1
"Sabarlah Nak. Ini ujian untuk keluarga kecil kalian sayang. Semuanya akan berlalu. Kita hanya perlu ikhlas dan sabar." Jelas Rina.
"Ibu benar. Namun apakah aku akan sanggup dengan kenyataan Andini yang melupakan aku.
Bertahun tahun semuanya kami lewati Bu. Haruskah seperti ini." Rasya masih dalam tangisannya.
"Hallo assalamualaikum Nak. Ini Bapak sayang." Ucap Rasya di teleponnya itu.
"Waalaikumussalam Bapak. Ada apa? Apa semuanya baik baik saja?" Ucap Arumi terlihat aneh dengan suara dan mimik bicara yang asing dari Bapaknya itu.
"Datanglah ke Rumah Sakit Xxxxxxx sekarang Nak. Kami menunggumu." Jelas Rasya.
"Baiklah Pak." Ucap Arumi yang mencoba memahami maksud dari Bapaknya itu yang tidak biasanya.
Sesampai dirumah sakit yang dimaksud Rasya Arumi bertanya kepada salah seorang perawat disana.
Belum saja perawat itu menjawab Rasya sudah berada di dekat Arumi.
"Kemari lah Nak!" Ajak Rasya.
"Siapa yang sakit Pak? Kenapa disini?" Tanya Arumi bertubi.
Sesampainya di ruangan itu.
"Nek. Siapa didalam? Ibu Mana?" Tanya Arumi lagi kini ia menyembunyikan air mata yang berlinang itu.
"Mari masuk Nak. Tapi kamu harus kuat." Ucap Rina lagi.
"Astagfirullah. Ibu. Kenapa dengan Ibu." Arumi syok melihat Andini tengah terbujur di tempat tidur itu dan ditubuhnya begitu banyak slang yang belum dilepas.
Andini yang tertidur. Dan Arumi ingin saja membangunkan, namun Rasya kini tengah menahan Arumi.
"Jangan Nak." Tahan Rasya.
"Kenapa Bapak?" Tanya Arumi lagi.
"Kita bicara diluar ya Nak. Nanti Ibumu merasa terganggu istirahatnya." Jelas Rasya lagi.
Arumi tidak menjawab ia hanya mengalami perasaan yang berkecamuk dan hanya menuruti Bapaknya keluar.
__ADS_1
"Ibu mengalami gangguan ingatannya Nak. Jadi jangan merasa sedih jika Ibu tidak mengenali kita sayang. Ibu sayang kita semua. Hanya saja kondisi penyakitnya kian harus mengalami semua ini." Jelas Rasya.
Arumi menangis mendengar tuturan Rasya menjelaskannya.
"Jangan menangis Nak. Kita harus kuat. Karena kitalah yang akan menjadi kekuatan Ibu buat sembuh." Ucap Rasya lagi. Meskipun di hatinya ia amatlah rapuh. Namun Arumi harus kuat saat ini.
"Kita harus berjuang demi Ibu."Jelas Rasya lagi.
"Bapak." Ucap Arumi.
"Nenek Sinta mana Pak? Kenapa aku tidak melihatnya." Tanya Arumi tiba tiba.
Rasya gelagapan menjawab pertanyaan putrinya itu.
"Nenek Sinta telah tiada Nak. Dan baru saja dikebumikan sayang. Kamu harus kuat. Nenek dan Ibu mengalami kecelakaan tadi pagi sayang. Namun Allah sangat sayang nenek makanya Allah ambil nenek lebih awal." Jelas Rasya.
"Innalillahiwainalillahi rojiun. Bapak ada apa ini? Kenapa badai ini begitu dasyat pada keluarga kita. Mengapa nenek meninggalkan aku Bapak. Mengapa Ibu juga melupakan kita semua. Kenapa Allah begitu memberikan kita ujian berat lansung bertubi seperti ini." Arumi syok dengan kenyataan ini semua.
"Allah bukan karena membenci kita memberikan ujian ini sayang. Melainkan Allah sayang dengan kita. Lewat ujian ini Allah memberikan kita pahala dan hadiah istimewa jikalau kita mampu ikhlas dan bersabar dengan ujian ini sayang. Allah memberikan kita ujian bertubi karena Allah tau kita akan kuat dengan semua ini sayang." Jelas Rasya lagi.
"Tapi aku tidak kuat Bapak."
"Allah lebih mengetahui diri kita melainkan kita sendiri Nak. Kita lewati semua ini bersama sama Nak. Yakinlah suatu saat Ibu akan sembuh dan kita akan bertemu lagi dengan Nenek di surga Allah yang jauh lebih baik dibanding dunia ini Nak. Tiada tandingan keindahan daripada surganya Allah Nak." Jelas Rasya.
"Aku tidak tahu lagi akan bagaimana Bapak. Semuanya sangatlah dalam. Sakit ini sungguh tidak terbendung Bapak." Arumi terduduk pasrah dan lesu dengan air matanya yang masih begitu derasnya keluar dari pipi cantik yang mungil itu.
"Aku tidak mau kehilangan Nenek juga Ibu Bapak. Tapi Nenek telah meninggalkan aku. Nenek tidak sayang padaku." Ucap Arumi lagi.
"Nenek sayang pada kita semua Nak. Apalagi kamu, cucu kesayangannya Nak. Namun Allah lebih sayang Nenek." Jelas Rasya.
Arumi sungguh tidak dapat mencerna dengan baik kejadian ini yang kian membuatnya trauma dengan semua ini.
Kehilangan Nenek rasanya seperti mimpi, apalagi dengan kenyataan bahwasanya Ibunya tidak mengenalinya lagi.
Sungguh ini semua bagaikan badai kiamat yang datang pada nasib seorang putri malang itu.
..."Mengeluh tidak akan pernah bisa memperbaiki keadaan, bersemangat lah dalam menjalani hidupmu dengan ikhlas dan kesabaran."...
..."Tidak semua musibah adalah azab. Beberapa di antaranya adalah karena rahmat Allah untuk membawa kita kembali kepada-Nya."...
__ADS_1
..."Allah menguji setiap orang dengan ujian yang berbeda-beda, karena setiap orang memiliki tingkat kesabaran, toleransi, dan keimanan yang berbeda."...