Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Putus Asa


__ADS_3

Hari hari Andini begitu suram.


Tidak disangka sang ayah pergi begitu cepat. Bahkan disaat dirinya belum siap kehilangan dan ditinggalkan ayahnya itu. Meskipun Andini selalu membangkang namun ayahnya adalah sosok terhebat baginya yang selalu ada ketika apapun yang terjadi padanya. Andini yang tengah putus asa dengan takdir yang ia jalani selama ini.


Tak hanya merenggut kekasihnya, perjodohan ini, sekarang ayahnya yang telah di ambil tak akan kembali lagi.


Akankah masih ada kekuatan atas diri Andini.


Sesungguhnya di balik kesusahan itu ada kemudahan. Selama takdir yang kita hadapi itu hanyalah atas dasar kesanggupan kita. Jika sesuatu itu terjadi pada kita itu artinya kita mampu menghadapinya. Kadang kita sendiri tidak mengerti bagaimana kekuatan kita. Sekalipun kita berkata tidak kuat sesungguhnya itulah kekuatan bagi kita. Berserah dirilah hanya kepada Allah.


***


"lihatlah suamimu nak! Tanyakan kabarnya!" Ucap Sinta setelah melihat Rasya masuk ke kamarnya usai pulang kerja


"Terimalah dia suamimu nak. Belajarlah menjadi istri yang baik." Lanjutnya


"Aku tidak mencintainya mama."


"Bukan tidak nak tapi belum."


Dengan wajah terpaksa akhirnya Andini masuk ke kamarnya. Karena memang Andini yang terpuruk kehilangan Ayahnya selama beberapa minggu belakangan ini ia tidak mau diganggu siapa saja. Jangankan untuk hal lainnya bicara saja Andini males.


"Hei." Sapa Andini kepada suaminya.


"Iya." Jawab Rasya singkat.


Kemudian Andini berbaring ke tempat tidurnya lagi dan lagi mengabaikan suaminya itu.


"Andini. saya mau pergi keluar ada urusan sebentar." Pintanya ke Andini.


"Silakan." Jawabnya.


***


"Andini. Mari duduk disini denganku." Ajak Rasya yang berada di sofa tamu.


"Kenapa?" Tanya Andini namun tidak lansung duduk mengikuti ajakan suaminya itu.


"Setahun kita menikah. Kenapa kamu masih sedingin ini?"


"Maaf karena saya belum mencintai anda."


"Saya akan sabar menanti cintamu. Tapi hargailah aku sebagai suamimu."


"Anda ingat tentang gugatan cerai yang akan saya ajukan?" Tanya Andini membuat Rasya pun kaget mendengar pertanyaan Andini.

__ADS_1


"Ingat. Apa kamu akan tetap melanjutkannya?"


"Tentu."


"Baiklah. Saya serahkan saja kepada Allah bagaimana nasib rumah tangga kita. Setidaknya saya sudah berusaha untuk semuanya. Namun jika Allah tetap mengeraskan hatimu untuk saya. Saya pun tidak bisa berkata."


"Bagus kalau anda tau diri."


Rasya yang jujur saya meskipun tidak beralasan rasa itu tumbuh perlahan. Setahun membina rumah tangga rasanya kalau tidak mempunyai ikatan apapun itu mustahil. Bersama dalam satu atap cukup membuatnya menaruh harap pada istrinya itu untuk rumah tangganya tetap terjadi dengan perubahan Andini menerimanya dengan segenap hatinya. Tidak benar dalam rumah tangga nya sekalipun namun bukan berarti tidak ada harapan sama sekali.


...'Entah kenapa. Rasanya sakit saat aku mengucap tentang gugatan cerai pada dia. Apa ini? Kenapa aja yang mengganjal di benakku?' ...


Ucapnya lirih dalam hatinya ketika Andini masih duduk termenung di kursi dekat jendela kamarnya.


Diluar.


"Bagaimana kabarmu nak?" Tanya Rina kepada Rasya yang sudah sama sama duduk di sofa.


Andini yang terdengar samar mencoba untuk melihat keluar siapa yang datang.


"Alhamdulillah ibu. Baik baik saja." Jawab Rasya dan sudah terdengar jelas oleh Andini yang tengah berdiri di sudut ruangan.


Andini yang sudah mengetahui bahwa ibu mertuanya yang datang mencoba untuk membalik arah kembali ke kamar. Rasanya tidak nyaman untuk ia duduk bersama mereka. Karena selama ini termasuk cuek yang ia perbuat sikap kepada mertuanya itu.


Andini yang dengan terpaksa membalik badan kembali ke arah mereka.


"Oh ada Ibu. Sudah dari tadi bu?" Tanya Andini kemudian menyalami ibu mertuanya. Mencoba untuk berbuat baik. Baru kali ini ia menyalami tangan mertuanya.


"Belum nak. Duduklah!" Pinta Rina.


"Tidak bu. Aku akan buatkan minuman sebentar." Jawab Andini dan lansung pergi menuju dapur.


"Apa sudah ada perubahan tentang rumah tangga kalian?" Tanya Rina.


"Begitu juga bu. Tapi Allah akan selalu tunjukkan yang terbaik bu. Tenanglah." Ucap Rasya dengan santainya.


"Ibu berharap semoga semuanya baik baik saja nak." Harapan ibu Rina.


"Aamiin." Keduanya mengaminkan.


***


"Maafkan aku Mas. Yang masih saja gagal mendidik putri kita. Ia masih keras kepala seperti biasanya. Rasanya aku sudah lelah untuk mempertahankan rumah tangganya mas. Aku malu dengan Rina dan Rasya. Entah akan kemana akan ku buang muka ketika berada bersama mereka mas. aku bingung dan iba dengan semua derita yang diciptakan oleh putri kita kepada keluarga mereka mas. aku harus bagaimana lagi." Celoteh Sinta di depan makam Zidan almarhum suaminya.


"Aku capek mas. Aku sangat kecewa dan frustasi melihat anak kita yang tidak pernah memperlakukan suaminya dengan baik. Bahkan ia selalu membangkang suaminya mas. Tidak hanya itu mas. Andini terlalu bersikap dingin juga ke ibu mertuanya Rina mas. Apa dosa kita sehingga putri kita sedemikian rupanya mas." Lanjutnya lagi.

__ADS_1


Hingga tak sadar kini air mata Sinta bercucuran dengan deras.


"Apa yang akan aku katakan pada Rina dan Rasya mas. Kenapa mas tidak ada disini. Aku benar benar butuh mas saat ini." Lanjut Sinta dengan terus dalam keadaan menangis sejadi jadinya.


***


Brakk


Tidak dapat dihindari lagi. Tabrakan tubuh tersebut terjadi. Karena Andini yang terburu buru masuk untuk membeli sesuatu dan Kevin yang terburu buru pergi meninggalkan mall tersebut.


"Kevin."


"Andini. Maafkan aku." Ucapnya.


"Tak mengapa. Lagian aku juga salah. Maaf." Lanjut Andini dan meninggalkan Kevin disana.


Namun tiba tiba Kevin menahan tangan Andini. Seolah ingin masih bersama melepas rindu yang ia tahan selama ini.


"Ada apa?" Tanya Andini.


"Kenapa kamu malah menjauh?"


"Aku sudah istri orang Kev. Lupakan aku." Ucapnya lirih.


"Aku masih sayang denganmu."


"Sayang kita itu salah Kev. Mengertilah. Aku tidak bisa. Setelah ku pikir lagi rasanya aku tak sanggup menyakiti mendiang ayah dengan berpisah dari suami pilihan ayah."


"Kenapa kamu berubah?"


"Keadaan yang memaksaku untuk berubah."


"Ikutlah denganku Andini. Akan ku buat kamu bahagia. Aku tau kamu tidak pernah bahagia bersamanya. Meskipun sudah setahun terjadi kamu masih tidak menerimanya."


"Aku tidak bisa bersama denganmu lagi Kev."


"Tapi kenapa Andini. Begitu mudahnya dirimu melupakan."


"Aku rasa setahun aku menikah kamu bisa mengerti posisiku Kev. Pergilah. Carilah wanita yang lebih baik dariku Kev."


"Jangan bicara seperti itu. Aku sayang padamu." Ucap Kevin akan memeluk Andini namun dengan tiba tiba Andini menolak pelukan Kevin. Entah kenapa. Rasanya setiap teguran dari Rasya sesekali masuk ke benaknya.


"Ada apa Andini. Kenapa tidak boleh?"


"Maaf. Aku tegaskan aku adalah istri orang lain. Jangan lagi sentuh aku." Ucap Andini dan berlari meninggalkan Kevin disana. Meskipun kali ini masih meneteskan beberapa bulir air mata.

__ADS_1


__ADS_2