Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Arumi Shesya Anastasya


__ADS_3

"Assalamualaikum." Panggil Sinta mengetok pintu rumah Rina.


"Waalaikumussalam. Masuk Bu." Jawab pembantu Rina.


"Rina mana Bi?" Tanya Sinta.


"Dikamar Bu. Duduk sebentar biar saya panggilkan." Ucap pembantu itu.


"Baiklah." Jawab Sinta dan si pembantu ART Rina lansung meninggalkan Sinta dan menuju ke kamar Rina.


"Sinta." Panggil Rina mendekati Sinta.


"Rina. Maaf saya mendadak datang. Apakah kamu sibuk?" Tanyanya.


"Tidak Sin. Saya sedang santai saja."


"Maaf sebelumnya Rina. Sebenarnya ini bukan hak saya memberi tahu mu. Namun karena berhubungan dengan putri saya. Saya jadi tidak enak hati dengan mu Rina. Takut kamu benar benar kecewa dengan menantu mu itu." Jelas Sinta.


Rina yang merasa begitu kaget terlihat Sinta dengan nada dan raut wajah serius dan tegang menjelaskannya kepada Rina.


"Ada apa sebenernya Sin. Tenanglah! Bicarakan perlahan." Jawab Rina.


Sinta kemudian akan menjelaskannya namun air matanya lansung turun begitu saja.


Rina memeluk tubuh Sinta membuatnya sedikit agak tenang.


"Andini Rin. Andini tidak bisa memberi kamu cucu." Ucapkan setelah agak tenang dan masih dalam keadaan menangis.


Rina kaget dan sontak melepas pelukannya ke Sinta. Sangat kagetnya dengan ucapan Sinta.


"Memangnya kenapa Sin? Ada apa dengan Andini?"


"Andini menginap penyakit endometriosis dan divonis dokter sungguh sulit untuk bisa mengandung." Jelasnya.


Rina memeluk tubuh Sinta kembali. Mengusap mengusap punggung Sinta dan berkata


"Astagfirullah. Sudah kehendak Allah Sinta. Kita hambanya cuma bisa apa?"


"Maafkan putriku yang tidak sempurna. Aku mengerti bahwasanya kamu benar menginginkan seorang cucu. Tapi kamu mempunyai menantu seperti Andini yang tidak akan mampu mengabulkan keinginanmu." Jelas Sinta masih dalam isak tangisnya.


"Allah sudah men takdir kan ujian ini kepada keluarga kita Sinta. Berdoalah kepada Allah agar kita sama sama kuat menerima ujian ini. Terutama bagi anak anak kita." Ucap Rina lagi kemudian.


"Terima kasih Sahabatku. Meskipun sudah menjadi besanan namun rasanya bicara denganmu masih serasa saudara. Kepedihan itu sedikit hilang." Jawab Sinta membuka senyuman dalam air matanya itu.


***


Panti Asuhan Kasih Ibu


"Assalamualaikum Buk." Andini dan Rasya melangkah masuk setelah mendapat izin dari pihak tersebut.


"Waalaikumussalam Bu Pak. Duduklah!" Pinta Ibu pengurus panti tersebut.

__ADS_1


"Terima Kasih Buk."


Ibu itu hanya mengangguk pelan


"Sebelumnya perkenalkan nama saya Rasya dan ini istri saya Andini." Ucap Rasya memperkenalkan diri dan menunjuk Andini yang duduk disebelahnya.


"Saya Anggun pengurus Panti disini." Kemudian Andini menjabat tangan Anggun tersebut. Usianya sedikit lebih tua dari Andini.


"Lansung saja Buk. Kami kesini berniat untuk mengadopsi seorang bayi." Ucap Andini.


"Benar itu Buk." Lanjut Rasya mengiyakan.


"Kebetulan Bu Pak. Sekarang hanya ada satu orang saya bayi disini. Selebihnya sudah berusia lebih dari 3 tahun." Jelasnya.


"Bisa kami lihat dulu Buk."


"Mari Bu Pak." Ucap Anggun mempersilakan Andini dan Rasya melihat ke kamar bayi tersebut.


"Ini Bu Pak. Usianya masih berkisar 4 bulan. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan maut 2 bulan yang lalu." Jelasnya.


"Astagfirullah."


Andini dan Rasya turut bersedih mendengar kabar tentang bayi ini.


"Baiklah Buk. Bayi ini kami akan adopsi sebagai anak kami. Dan kami akan bersungguh sungguh menjadi orang tua seperti orang tua kandungnya sendiri. Begitu juga sebaliknya bayi ini akan kami rawat seperti anak kandung kami sendiri." Jelas Rasya.


"Baiklah Pak. Mari kita urus administrasi pengadopsian nya dulu." Ucap Anggun.


Selesai pengurusan administrasinya Rasya kembali ke Andini selesai pelepasan sang bayi dan pihak Panti Asuhan Andini dan Rasya kembali menuju rumahnya dengan membawa bayi itu dan sedikit perlengkapan untuk sementara.


Setiba dirumah Rasya kembali keluar membelikan keperluan si bayi yang lainnya.


"Kesini lah Ma." Ucap Andini di penghujung ia menelepon Sinta.


Dan kemudian Andini menelepon Rina mertuanya.


"Assalamualaikum Ibu."


"Waalaikumussalam nak." Jawab Rina


"Apakah Ibu sibuk hari ini?" Tanyanya kemudian


"tidak nak. Ada apa?"


"Datanglah kerumah Bu." Pintanya.


Membuat Rasya hanya menggelengkan kepala saja karena tingkah Andini yang seperti anak TK mendapatkan mainan barunya.


Sebelumnya Andini sudah meminta izin kepada suaminya itu untuk mengabari orang tua mereka.


Beberapa saat kemudian dengan bersamaan tibanya Rina dan Sinta sama sama sudah berada di depan halaman rumah Andini.

__ADS_1


Setelah pembantu ART dirumah Andini membukakan pintu mempersilakan Sinta dan Rina masuk.


Setiba di dalam Sinta dan Rina terkejut dengan sejadinya. Melihat sekeliling rumah penuh dengan balon balon berwarna warni memakai dekorasi yang agak mewah. Dengan bertulisan " Arumi Shesya Anastasya"


Dan setelah membaca tulisan itu kemudian Rasya dan Andini yang menggendong bayi di pangkuannya membuat Sinta dan Rina penuh kekagetan.


"Nak." Panggil keduanya dengan mata yang masih terbelalak.


"Mama Ibu duduklah dulu!" Pinta Rasya.


"Siapa itu nak?" Tanya Sinta.


"Cucu Mama dan Ibu." Jawab Rasya mewakili.


"Masya Allah nak." Jawab Rina kegirangan melihat anak dan menantunya itu.


Setelah membicarakan keinginannya terhadap Andini Rasya mengabari harapannya untuk mengadopsi seorang anak dari panti asuhan kepada Rina dan Sinta tanpa Andini mengetahuinya.


Sinta dan Rina bergantian melihat cucunya itu. Penuh kegembiraan semuanya terlihat begitu sempurna tiada celah.


"Jadi Mama dan Ibu sudah tau sayang?" Tanya Andini kepada Rasya.


"Maaf sayang aku yang memberi tahu sebelum kita ke panti." Jawab Rasya.


"Kejutannya gagal dong." Andini merasa sedih.


"Tidak nak. Berhasil kok. Buktinya kami kaget ketika cucu kami sudah berada dirumah." Jelas Rina.


Andini kemudian tersenyum sedikit namun masih ada sedikit rasa gagal di pikirannya.


Rina menggendong Arumi dan ia pun menangis kemudian, Andini dengan cekatan lansung memberikan susu formula ke Arumi. Karena bukan ibu kandung air susu Andini tidak akan ada.


"Rasanya memang seperti menjadi seorang ibu. Benar ucapan Rasya. Tidak melahirkan namun bisa membesarkannya dengan penuh kasih sayang." Ucap Andini membuat semuanya tersenyum gembira.


Kesedihan tentang penyakit Andini kian hilang dengan hadirnya Arumi di dalam rumah tangganya. Ditambah orang tua mereka sama sama menyukai dan menyayangi bayi itu.


Berharap semoga ketika bayi ini tumbuh besar ia tidak merasakan sedih ketika menyadari bahwa selama ini bukan lah orang tua kandungnya yang mengasuhnya.


Andini dan Rasya akan selalu merawat Arumi seperti putri kandungnya sendiri.


****


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam. Masuklah pak." Jawab Rasya, kebetulan Rasya lah yang membukakan pintu dan ternyata yang datang itu kerabat kerjanya.


ada sejumlah 15 orang ustadz datang kerumah mereka.


Andini yang merasa salah tingkah tiada persiapan kian canggung untuk menjamu tamu suaminya itu.


Namun dengan lansung Rasya memesan catering sejenis makanan untuk saat itu membuat Andini merasa lega dengan sikap cekatan suaminya itu saat ini.

__ADS_1


__ADS_2