
"Aduh sayang. Rasanya perut aku kembung. Padahal sudah makan. Tapi selalu mual bahkan muntah dari tadi. Sungguh membuat aku tidak nyaman sayang." Keluh Andini kepada Rasya ketika Rasya sudah sampai dirumah sehabis pulang kerja.
"Kenapa sayang. Masih mual?" Tanya Rasya.
"Sekarang sudah agak mendingan. Perasaan mulut aja yang kurang enak. Soalnya habis muntah beberapa kali." Jawabnya.
"Itu hal biasa sayang. Kamu istirahatlah. Bagaimana kalau besok aku minta Ibu kesini? Atau kamu mau Mama?" Tanya Rasya.
"Nggak usah sayang. Aku nggak kenapa sendirian." Jawabnya.
"Tapi aku tidak tenang Andini sayang. Atau aku jangan pergi kerja besok?" Tanya Rasya lagi.
"Jangan. Lagian kita butuh pekerjaan itu di saat saat sulit seperti ini." Jelas Andini.
"Tapi.." Ucapan Rasya terputus dengan Andini tiba tiba memotong pembicaraannya Rasya.
"Sudah sayang. Biar kita kerumah Ibu atau Mama besok. Kita kerumah Ibu saja duluan." Jelasnya Andini menurut saja lagi. Sebab ia tau pasti jika terus menolak maka Rasya akan terus membujuk.
"Baiklah. Nah kan itu bagus sayang." Jawab Rasya menciumi kening istrinya itu.
"Iya sayang aku nurut apa kata suamiku." Ucap Andini.
"Benar sayang. Selain menjadi istri baik itu adalah pahala yang besar patuh kepada suaminya sayang." Jelas Rasya.
"Iya sayang. Pernikahan itu banyak ibadahnya ya. Bahkan hal sekecil apapun bisa mendapatkan pahala yang besar dengan jaminan surga." Lanjut Andini.
"Jangankan itu sayang. Kalau perempuan. Sholat lima waktu dan patuh kepada suaminya. Mereka dipersilakan masuk surga dari pintu mana saja yang mereka inginkan. Begitu mulianya seorang wanita. Sebenarnya mudah baginya masuk surga melainkan lelaki. Namun penghuni neraka juga pada umumnya kebanyakan wanita. Sebab mereka tidak paham tujuannya hidup didunia. Kita ibaratkan menjual seluruh diri dan harta apapun yang kita punya kepada Allah. Dengan jaminan surga. Allah hanya ingin kita bertakwa kepadanya seperti anjuran dari nabi kita sayang." Jelas Rasya lagi panjang lebar.
***
Rina ke depan menuju ruang tamu kemudian mondar mandir panik sebab Rafki belum saja pulang bahkan sampai larut seperti ini. Tidak biasa biasanya baginya pulang terlalu telat seperti ini.
"Assalamualaikum Ibu." Sapa Rasya kemudian mendekati Rina dan menciumi punggung tangannya.
"Waalaikumussalam Nak. Bagaimana nak. Kenapa baru pulang?" Tanya Rina lansung ke intinya.
"Nggak Bu. Tadi ada sedikit insiden dulu." Jelasnya Rafki yang baru pulang dari rumah sakit. Sebab berkat sudah lulus kuliahnya dan mengambil profesi Rasya bekerja di Rumah Sakit ternama di Jakarta Pusat sebagai Dokter Ahli Bedah.
Rafki baru bekerja dua bulan disini. Dan gajian pertamanya sudah libas ia bagi bagi kepada Ibu dan Kakaknya Rasya. Semula memangnya di tolak Rasya mentah mentah. Namun Rafki bersikeras ingin memberi Rasya. Selain Rasya lah yang membiayai kuliahnya Rafki sebelumnya juga karena Rasya ingin berbakti kepada kakak semata wayangnya itu.
__ADS_1
Ketika teleponan terputus dengan Andini kemudian Rina bersiap untuk menyambut kedatangan Andini.
Keesokan harinya, dan sebelumnya Rasya sudah menghubungi Rina karena sore ini mereka akan kerumah untuk menginap satu malam atau lebih. Tergantung bagaimana kondisi dan situasinya.
"Assalamualaikum Ibu." Panggil Andini dari luar pintu.
"Waalaikumussalam. Masuklah nak!" Perintah Rina mempersilakan Andini dan Rasya masuk ke dalam rumah.
Dengan diikuti oleh Rina dari belakang.
Kemudian Rina meminta izin kepada Andini untuk menghubungi Sinta Mamanya.
Disetujui oleh Andini sebab menurut pada mertuanya.
Tak lama kemudian Sinta datang membawakan buah tangan sekaligus seperti buah dan makanan cemilan lainnya.
Ketika Sinta juga sudah duduk.
"Masya Allah. Rasanya sudah lama kita tidak berkumpul ya Bu, Ma." Ucap Andini mengawali.
"Benar nak. Meskipun baru sebulan yang lalu. Bagaimana keadaan kalian?" Tanya Sinta.
"Alhamdulillah baik Ma, Bu." Jawab Rasya.
Setelah ART Rina mempersiapkan hidangan makan malam dan Rina pun mempersilakan semuanya untuk menuju meja makan.
Selesai mengambil tempat semuanya Rafki sedikit penasaran.
"Sepertinya kita akan mendengar kabar gembira dari Kak Rasya dan Kak Andini nih Bu." Ucap Rafki.
"Alhamdulillah. Kenapa kamu bisa berkata itu nak?" Tanya Rina.
"Terlihat jelas raut wajah Kak Andini yang sangat gembira." Jelasnya lagi kemudian menoleh melihat Andini sesekali melihat Rasya.
"Kamu bisa saja Ki." Jawab Rasya.
"Alhamdulillah Bu, Ma. Andini sembuh dari penyakit yang sudah Dokter vonis beberapa tahun silam. Sekarang Allah mempercayai Andini bisa untuk hamil. Meskipun dengan kondisi yang harus sangat ekstra." Jelas Rasya kemudian.
Andini senyum penuh gembira.
__ADS_1
Lansung tiba tiba sebelah kanan maupun kiri Andini ada suasana pelukan hangat dari Ibu dan Mamanya.
Sungguh suatu kebahagiaan yang selalu amat ia rindukan bertahun tahun lamanya.
"Masya Allah nak. Selamat sayang. Sekarang kalian harus tinggal dengan Ibu atau Mama Sinta. Agar kami bisa menjaga mu nak." Jelas Rina dan diberi anggukan oleh Sinta.
"Benar sekali sayang." Timpal Sinta kemudian melepas pelukannya.
"Ya sudah nak. Sekarang kita makan dulu. Kamu harus makan makanan yang sehat." Jelas Rina.
Andini mendapatkan respon sangat positif kepada Andini.
Rafki hanya memeluk Rasya sedikit menepuk punggungnya memberikan kata selamat.
Selesai makan malam Andini diantar oleh Rina ke dalam kamarnya setelah sebelumnya meminta izin Sinta untuk itu dan Sinta pun menginap malam itu dirumah Rina. Dengan penuh perhatian untuk keselamatan Andini dan calon bayinya. Karena kondisinya juga harus sangat diperhatikan sebab usianya untuk hamil tidaklah muda lagi.
Suasana penuh haru untuk semua ujian demi ujian kemudian nikmat dan hikmah dari setiap kejadian.
Mendewasakan Andini begitupun Rasya.
Tak kalah menjadi sebuah peristiwa merubah cara pikir Rina juga Sinta. Yang semula tidak bisa menerima keputusan putri dan putra mereka. Seolah tak percaya jika mereka akan mampu melewatinya berdua. Namun siapa sangka sekarang Andini dan Rasya bahkan bisa lebih sabar dan ikhlas menerima setiap keputusan demi keputusan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT untuk keluarga kecil mereka.
Ujian penyakit hingga membuat suasana hitam pekat bahkan tak bernoda. Penantian demi penantian dan sekarang pun Allah beri hikmah dan anugerahnya.
Kita manusia hanya bisa berharap dan berdoa. Bahkan meskipun sudah di dalam rahim tidak tahu sampai kapan Allah akan titipkan.
Layaknya seperti Andini yang mendapatkan suami titipan dari Allah. Titipan yang mampu merubah cara dan perilaku juga semua hal tentangnya.
***
"Dek. Umurmu sekarang sudah bisa dikatakan dewasa. Sudah siapkah kamu menjadi seorang istri?" Tanya Kevin lansung ke intinya.
"Kak. Aku belum siap." Jawabnya singkat.
"Tapi kenapa Dek?" Tanya Kevin lagi.
"Aku ingin melanjutkan karir aku dulu Kak." Jawabnya.
"Menikah bukan berarti berhenti berkarir Dek. Kakak akan lebih tenang melihatmu kalau sudah ada yang jagain kamu Dek." Jelasnya.
__ADS_1
"Kan selama ini ada Kak Kevin dan Kak Jena juga yang jagain aku Kak. Bagiku itu sudah cukup." Jawab Wilona.
"Maksud Kakak seorang pemimpin, Imam bagi kamu Dek. Yang akan menjagamu dunia dan akhirat." Jawab Kevin lagi dan lagi Wilona hanya terdiam menunduk tiada jawaban.