
...'Cobaan hidupmu bukanlah untuk menguji kekuatan dirimu, tapi menakar seberapa besar kesungguhan mu dalam memohon pertolongan Allah.' - Ibnul Qayyim....
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Rasya dan diikuti oleh Sinta dan Rina.
Rafki hanya berdiam diri mengingat betapa sungguh sudah banyaknya musibah demi musibah yang di hadapi Kakak iparnya itu.
"Silahkan keruangan saya Pak!" Ujar Dokter Wilona.
Sesampainya di ruangan Wilona, Rasya yang lansung duduk tanpa diperintah sebab rasa penasarannya berharap istrinya baik baik saja.
"Begini Pak. Bagaimanapun saya harus memberi tahu Bapak bagaimana keadaan Bu Andini Pak." Jelasnya Wilona.
"Saya akan memahaminya Dok. Bicaralah apapun keadaannya." Ucap Rasya dengan lemas karena ia berfirasat buruk tentang tatapan dan cara bicara Dokter Wilona.
"Bu Andini harus segera kita operasi Pak. Dikarenakan kondisinya yang sudah tidak memungkinkan untuk mengandung. Dengan berat hati kira harus mengeluarkan bayi yang ada dalam perut Bu Andini dalam keadaan tidak selamat." Ucap Dokter Wilona.
'Dunia seakan runtuh. Mendengar jika aku harus menyetujui untuk menghabisi nyawa calon anakku sendiri. Bahkan disaat iya belum dilahirkan ke dunia ini. Kenapa sepahit ini yang harus aku telan. Bagaimana dengan Andini yang sudah sangat mengharapkan kedatangan buah hatinya. Selama ini ia tutupi rasa sakitnya untuk mempertahankan calon anaknya. Hingga akhirnya kabar pahit bahkan lebih pahit dari empedu ini harus diterimanya.' Ujar Rasya dalam hatinya sambil meneteskan air matanya. Sungguh inilah titik tidak kesanggupan seorang ayah.
Apa yang harus ia perbuat.
"Bapak silakan bicarakan dulu dengan pihak keluarga. Memang berat Pak. Sungguh suatu kondisi yang kita sendiri pun tidak bisa memilihnya. Jika tetap kita pertahankan maka keduanya sama sama tidak akan selamat. Kemungkinan selamatnya hanya beberapa persen." Jelas Wilona.
Rasya yang tanpa berpamitan dengan Wilona lansung meninggalkan ruangan tersebut. Dengan wajah yang tidak menentu. Dan dalam langkah yang tidak bisa ia kendalikan. Ingin rasanya ia menggantikan nyawa calon anaknya itu. Jika diperbolehkan maka ia akan menggantikan nyawa anak dan istrinya dengan nyawanya sendiri.
Wilona yang sudah mengerti dengan kondisi Rasya hanya mengeluarkan air mata. Seolah merasakan bagaimana hancurnya perasaannya kini.
...'Alhamdulillah ala kulli hal.'...
..."Segala Puji hanya milik Allah atas setiap keadaan." HR.Ibnu Majah....
...Seorang mukmin itu. Bersyukur ketika mendapatkan kebahagiaan. Bersabar ketika mendapat cobaan....
......"Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Semua perkara (yang menimpanya) adalah kebaikan baginya dan tidaklah hal ini terjadi kecuali hanya pada diri seorang mukmin. Jika dia mendapat kebahagiaan dia bersyukur maka hal ini baik baginya. Dan jika tertimpa musibah dia bersabar maka itu juga baik baginya." HR. Muslim.......
"Mama, Ibu." Panggil Rasya.
__ADS_1
"Andini harus segera di operasi. Kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk mempertahankan kandungannya." Jelas Rasya lesu.
Sinta dan Rina menangis tersedu sedu.
Memikirkan nasib putri dan menantunya itu.
"Terus apa yang akan kamu lakukan Nak?" Tanya Rina kemudian.
"Aku ingin untuk sholat istikharah dulu Bu. Biar aku tidak salah ambil langkah. Sebab rasanya bagaikan nyawaku yang melayang harus mengizinkan seseorang membunuh calon anakku bahkan ketika ia belum dilahirkan." Jelasnya.
Membuat mereka kembali menangis dalam duka nestapa ini.
Rasya yang pergi meninggalkan ruang inap Andini menuju mushola yang disediakan pihak Rumah Sakit.
Mengambil wudhu dan melangsungkan sholat istikharah.
...Sholat Istikharah mempunyai banyak manfaat salah satunya adalah sebagai bentuk Tawakal Kepada Allah....
...Melakukan sholat istikharah memiliki manfaat memupuk rasa tawakal kepada Allah. Karena apapun yang menjadi keputusan Allah nantinya. Harus bisa diterima oleh orang mukmin. Sholat istikharah bisa membuat orang mukmin menyerahkan segala perkara ataupun permasalahan yang dihadapinya hanya kepada Allah. Kepada Allah semata lah tempat nya berlindung dan berharap. Jika terus dipupuk bisa menambah iman atau keyakinan orang mukmin terhadap kekuasaan Allah SWT....
Setelah sampai disana. Wilona pun sudah keluar dari ruangan Andini kemudian berkata lagi.
"Pak Rasya. Istri Bapak benar benar harus di operasi saat ini juga. Silakan tanda tangan berkasnya Pak. Sebab calon bayi yang di dalam kandungan Bu Andini tidak bernafas lagi Pak. Jika terus dibiarkan maka Ibunya juga tidak bisa diselamatkan." Jelas Wilona.
Membuat Rasya masih dalam keadaan tegang dan masih bergetar seluruh anggota tubuhnya. Sungguh ini benar benar berat ia rasakan.
Ia ambil pulpen yang diberi Perawat kemudian membuka lembaran demi lembaran berkas perizinan Operasi.
Dan akhirnya Rasya pun menanda tangani berkas tersebut. Berharap inilah jalan yang baik.
"Ya Allah. Apakah ini yang terbaik untuk kami? Berilah selalu kekuatan kepada keluarga hamba Ya Robb. Jauhkan lah kami dari perasaan perasaan yang tidak sepatutnya kami rasakan. Perkuat lah keimanan dan ketakwaan kami. Luas kan sabar dan jadikan kami ikhlas dalam menerima ketetapan Mu Ya Allah." Lirih Rasya dalam hatinya.
Semuanya ia pasrahkan kepada Allah. Apapun yang menjadi ketetapan Allah itulah yang terbaik sesungguhnya baginya maupun yang lainnnya.
"Assalamualaikum Bapak. Kenapa nomor Ibu tidak menjawab?" Ucap Arumi diujung telepon.
__ADS_1
"Waalaikumussalam. Ibu sedang di Rumah Sakit Nak." Jawab Rasya.
"Ada apa lagi Pak? Apakah Ibu baik baik saja?" Tanya Arumi kemudian.
"Ke marilah Nak!" Ucap Rasya lagi.
Arumi yang mendengar semuanya bumi ini terasa berputar. Entah bagaimana keadaan Ibu angkatnya saat ini. Ia berlari lagi kemudian memberhentikan taksi lagi dengan masih menenteng belanjaannya untuk Andini. Semacam buah buahan dan makanan kesukaan Andini lainnya.
Setiba di Rumah Sakit dan melihat Rasya kemudian membawa Arumi ke depan Ruangan Operasi.
"Ada apa ini Pak?" Tanya Arumi.
Rasya tidak menjawab. Sinta dan Rina pun juga tidak berani menjawabnya. Begitupun Rafki yang terperangah dengan situasi disudut kursi tempat duduk yang disediakan.
"Pak. Jangan bilang Ibu ada di dalam sana." Ucap Arumi lagi.
"Bagaimana keadaan calon Adikku Pak? Baik baik saja kan?" Arumi terus bertanya tanya namun tidak seorang pun menjawabnya.
Kemudian Sinta mendekat dan memeluk Arumi. Mengeluarkan tangisannya yang pecah tak tertahan lagi.
Hatinya benar benar dalam kondisi hancur.
Arumi membalas pelukan neneknya.
"Apa ada Nek? Mana Ibu?" Tanyanya lagi.
"Ibu sedang di Operasi karena calon bayinya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Jika dibiarkan maka Ibumu akan menyusul anaknya itu." Jelas Sinta.
"Astagfirullah. Ibu." Pekik Arumi.
Dan Arumi pun tak sadar telah menjatuhkan barang bawaannya. Buah buahan berupa jeruk dan yang lainnya kini berserakan dilantai. Arumi syok kemudian tak sadarkan diri.
Rafki yang lansung memanggil Perawat dan membawakan tempat tidur roda kemudian memapah Arumi tidur berbaring diatasnya.
Rina menangis sejadi jadinya. Tak sanggup dengan kondisi yang ia alami sekarang.
__ADS_1
Rafki pun tak kalah syok melihat penderitaan Kakak dan Kakak iparnya, namun lain halnya dengan masalah yang sedang ia hadapi sendiri dan belum berani memberi tahu keluarga. Tentang ucapannya terhadap Lina.